Mput Must Be Crazy (3): From Am To Pm – Scene 1

Yang Mulia Enief Adhara

 

Jam 9.00 Am aku sudah on the road. Ni hari si Sukimin (Enih nama motorku adaptasi dari Suzuki) nggak ikutan piknik biar aje die di rumah, lha pan kagak ade SIM mane keder jalan ke rumah Mput, jadi yaaa males aje kalo kena tilang plus nyasar. Tujuan pagi ini ke rumah Mput, dan itu artinya aku kudu naik Lyn ‘J’. Sambil bengong aku suka mikir, Surabaya ini walo kota gede tapi soal Budaya dan Seni seolah menjadi nafas keseharian. Selalu aja ada pagelaran dari banyak Kabupaten di Jawa Timur yang tampil di Surabaya. Bu Risma pernah bilang ia ingin Surabaya dikenal sebagai Kota Budaya dan Seni, dan itu jelas bikin aku seneng.

Akhirnya sampe juga nih di tempat si Puput dan aku disambut Ayahnya dengan ramah. Sekeluarga ini sangat familiar, artinya aku cepet ‘mencair’ dan langsung ‘nge-blend’ gitu aja. Ayah Puput ini adalah pelukis yang karyanya sudah banyak, dikenal sebagai Yangbo alias Eyang Botak. Ni aku kasih lihat beberapa karyanya Ayah Puput alias Yangbo.

mput-eastjava (1) mput-eastjava (2)

Yangbo sempet hidup di Pasar Seni Ancol dan cukup eksis dalam pergaulan para seniman lukis. Banyak karyanya yaitu karikatur SBY di hari PMI, lalu lukisan Jusuf Kalla dan banyak lagi so udah banyaklah jam terbangnya. Karyanya yang lain adalah Maket di Tugu Pahlawan Surabaya. Intinya diem-diem Ayah Puput pelukis juga seniman yang lumayan banyak karya namun namanya belom ‘terangkat’. Siang itu kita asik ngobrolin lukisan, tapi aku sejatinya gak paham lukisan, Thomas yang lebih tau secara itu bidang dia. Tapi siang ia baru bisa nyusul karena harus di kelas terlebih dahulu.

Aku sempet disuguhi Jambu Monyet atau Jambu Mente dan Jamblang yang konon di Jakarta itu barang langka. Ini semua dipetik sendiri saat Puput dan keluarga ke tempat Neneknya. Jambu Monyet itu perasaan aku dah sangat sangat lama nggak lihat dan nggak makan. Ya mumpung ketemu aku comot dan segera menikmatinya dengan garam.

mput-eastjava (3) mput-eastjava (4)

Gak terasa waktu makan siang tiba, wah beneran lho, dari dapur yang sangat sederhana bermunculan masakan dengan cita rasa sempurna. Soal masakannya bisa jadi sudah banyak orang tahu, tapi yang ada tepat di depan mukaku ini emang enak dan segar. Tumis Daun Pepaya, yang dimasak agak pedas itu beneran menggugah selera makan, rasa pahit yang tipis begitu nikmat, bumbu yang meresap rasanya memang oke. Sttt ini daun pepaya ngambilnya cukup di depan rumah lho.

mput-eastjava (5)

Lalu ada Ikan Patin Goreng dengan Sambal Kulit Jeruk. Dan ini beneran luar biasa. Ikan yang digoreng dengan tepat, di luar agak kering namun lembut di dalam ini dihidangkan dengan sambal uleg dengan bahan kulit jeruk yang dirajang halus plus daun kemangi. Kulit jeruk diuleg tapi seadanya, tidak halus, agak kasar dan jangan lupa, rajang sehalus mungkin.

Kulit jeruk yang dipakai dari ukuran jeruk sejenis Sunkist, Kietna, Lemon, Grapefruit dan sejenisnya. Bila yang dipakai kulit jeruk Pontianak, Medan, Mandarin, Santang dan sejenisnya dan sebagainya maka akan ada rasa pahit yang muncul. Semua bisa dipakai sesuai selera, intinya nih yang aku makan adalah sambal campuran kulit jeruk. Sumpah enak sekale.

mput-eastjava (6)

Lalu ada Ikan Patin yang dimasak Brengkes atau Pepes. Ini juga memiliki cita rasa yang lezat dengan aroma daun kemangi yang begitu segar. Ohh bisa bengkak nih badanku kalo nemu makanan enak gini tiap hari. Just info Ikan Patin salah satu ikan yang berdaging lembut dan bila memasaknya salah ia akan menjadi lembek. Ikan ini diambil sehari sebelumnya sama Ibunya Puput yang kebetulan lagi puasa.

mput-eastjava (7)

Lalu ada Botok Daun Simbukan, ini juga so yummy, dimasak agak pedes namun tidak menyengat. Masakan khas ‘desa’ tapi cita rasanya so amazing. Secara nyata, Ibu si Puput memang jago masak. Aku sempet mikir, apa jadinya kalau Keluarga Sentir-ku ikut menikmati suasana ini, it would be nice, makan bareng, saling ngetawain diri sendiri, gak bangga sama title atau jabatan, yang kita tau cuma kita ini Sentir tapi di luar tau kaum perfect kita ini in exist.

mput-eastjava (8)

Maybe kalo aja ada modal, Ibunya Puput ini kudunya laris manis kalo buka tempat makan. Aku pun inget Mamak-ku yang jauh ada di Aceh, semodel dengan Ibu si Puput. Mamak-ku ini wanita yang sangat amazing. Hidupnya sederhana tapi ia mampu menciptakan masakan yang lezat, ia selalu siap berbagi dan segala sikap berlandaskan cinta yang setiap hari dijunjungnya (nggak cuma di seputar lambe doank ya?! Tapi beneran dibuktikan pada siapapun yang butuh) Andai ia ada di sini juga pasti dua Ibu itu sibuk bicara resep.

Kelar menyantap hidangan super tadi, aku dan Puput memutuskan pergi ke House Of Sampoerna (HOS) sesuai rencana. Kami naik lyn dengan jarak tidak terlalu jauh, lalu turun di Jalan Rajawali. Niat kami adalah masuk ke dalam Penjara Kalisosok sebagai awal blusukan. Ternyata penjara yang tidak jauh dari JMP (Jembatan Merah Plaza) ini sudah tidak boleh dimasuki. Namun ada plakat sebagai gedung cagar budaya. Kemungkinan akan direstorasi dan dibuka sebagai object wisata sejarah walau sepertinya juga masih sekedar khayalan.

mput-eastjava (9)

Penjara Kalisosok adalah bekas penjara yang terletak di kawasan utara Surabaya, Indonesia. Penjara ini dibangun pada masa pendudukan Belanda dan pernah digunakan menjadi tempat penahanan sejumlah tokoh kemerdekaan Indonesia seperti Soekarno, Wage Rudolf Soepratman dan Kyai Haji Mas Mansur. Tokoh yang terakhir bahkan wafat di penjara ini pada tahun 1946.

mput-eastjava (10) mput-eastjava (11)

Salah satu kisah lain terkait Penjara Kalisosok ini adalah pada 23-11-1947 saat 100 orang pejuang asal Bondowoso pada jam 3.00 Am dibawa dengan kereta oleh penjajah untuk dipenjarakan di Kalisosok, Surabaya. Tragedi ini disebut Gerbong Maut dan dibuat monumennya di kota Bondowoso. Nama Kalisosok diambil dari nama sebuah daerah di Surabaya Utara, tepatnya berada di sebelah utara Jalan Rajawali dan Kembang Jepun. Meski terlihat tak terawat, bagian pintu masuk Penjara Kalisosok terlihat masih sangat kuat. Di atasnya terdapat ruang kantor para sipir penjara. Sedangkan di sisi kiri pintu, terdapat plakat pemberitahuan: ‘Bangunan Cagar Budaya yang dilindungi oleh Pemerintah Kota Surabaya’.

mput-eastjava (12) mput-eastjava (13)

Sementara sisi kanan dan kiri dinding setinggi sekitar tiga meter itu juga terlihat masih sangat kuat, meski sudah berlumut. Selain itu, baik dari dalam maupun luar dinding, terlihat ditumbuhi pohon-pohon liar yang sangat lebat. Penjara ini dibangun pada masa kepemimpinan Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke 36, Herman Willem Daendels, tahun 1808-1811. Cagar Budaya dengan tahun pembuatan 1 September 1808. dibangun setelah Daendels mendarat di Batavia (sekarang Jakarta) pada 5 Januari 1808.

Di tahun 1960 hingga 1970-an, Kalisosok banyak menampung para tahanan politik dan kelas berat, terutama jika dikaitkan dengan situasi politik dalam negeri Indonesia semasa Orde Baru yang sedang panas-panasnya. Saat ini, Penjara Kalisosok sudah kosong membisu tidak dipergunakan lagi sebagai lembaga pemasyarakatan. Penjahat sadis nan legendaris bernama Kusni Kasdut yang dihukum mati juga sempat menjadi penghuni penjara ini.

Sedikit bicara Kusni Kasdut, siapa yang tidak mengenal tokoh ini pada era 70 an, salah satu pejahat legendaris, tertangkap dan divonis hukuman mati atas segala perbuatannya. Namun pada saat-saat akhir hayat nya ia bertobat dan dengan “tegar” menghadapi hukumannya. Dalam keterasingannya di penjara dan jauh dari orang-orang yang dicintai, ternyata sisi agamis Kusni Kasdut tumbuh semakin dalam. Apalagi ketika dia di penjara dan sebelum dieksekusi mati, dia sempat berkenalan dengan seorang pemuka agama Katolik.

Setelah berkenalan dengan pemuka agama tersebut, akhirnya dia memutuskan menjadi pengikut setia. Kusni Kasdut dibaptis sebagai pemeluk Katolik dengan nama Ignatius Kusni Kasdut. Saat menunggu hari eksekusi, dia menuangkan rasa cintanya terhadap agama yang telah dia anut dalam sebuah lukisan yang terbuat dari gedebog pohon pisang. Dalam lukisan tersebut, tergambar dengan rinci Gereja Katedral lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Dan sampai sekarang masih tersimpan rapi di Museum Gereja Katederal Jakarta. Ia menjalani hukuman matinya di depan regu tembak pada 16 Februari 1980.

mput-eastjava (14)

Back to the prison, menurut warga sekitar, meski telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya tahun 1995 oleh Pemkot Surabaya, Penjara Kalisosok sempat dibongkar habis atapnya oleh investor pada awal 2010. Pembongkaran selanjutnya berhasil dicegah berkat kepedulian masyarakat yang akhirnya membuat Pemkot turun tangan. Pembongkaran itu terjadi lantaran Penjara Kalisosok telah ditukar guling oleh Kementerian Hukum dan HAM kepada sebuah investor swasta.

Akhirnya aku dan Puput melanjutkan perjalanan ke HOS. Tentu saja kita mendaftar ulang untuk tour yang jam 3.00 Pm. City Tour ini gratis namun wajib telepon minimal sehari sebelumnya. Tersedia Selasa, Rabu, Kamis dengan short trip yaitu 1 jam, tiap session beda tujuan ya. Session 1. 09:00-10:00 Surabaya-The Heroes City ((Heroes Monument-PTPN XI) Session 2. 13:00-14:00 Surabaya-The Trading City (Hok Ang Kiong Temple-Escompto Bank) Session 3. 15:00-16:30 Surabaya during The Dutch Occupation (Kebonrojo Post Office-Kepanjen Church-Ex. De Javasche Bank)

Jumat, Sabtu dan Minggu long trip yaitu 1,5 jam tiap session dan akan mengunjungi, Session 1 09:00-10:30, Exploring Surabaya (Balai Pemuda-City Hall-Ex. De Javasche Bank)  Session 2, 13:00-14:30, Surabaya -The Heroes City (Heroes Monument-GNI-PTPN XI) Session 3, 15:00-16:30, Babad Surabaya (Kampung Kraton-City Hall-Cak Durasim)

Setelah selesai registrasi kita menuju bangunan utama yang posisinya di tengah. Kami agak leluasa lantaran sepi. Museum Sampoerna ini sebenernya kediaman pendiri dinasti rokok dengan merek dagang Sampoerna. Lim Seeng Tee membeli bangunan ini pada 1913 yang digunakan sebagai hunian keluarga dan pabrik pertamanya. Rumah di lahan luas dengan 3 bangunan utama yang saling terpisah ini dibuat tahun 1864. Bangunan utama di bagian tengah ini berlantai 2 dan sangat terawat. Bangunan ini bersambung dengan area pabrik yang bisa dilihat dari lantai 2 dan masih beroperasi.

mput-eastjava (15)

Koleksi yang dipajang adalah benda-benda yang berkaitan dengan bisnis rokok Keluarga Sampoerna, mulai replika warung pertamanya lalu sepeda onthel yang dibelinya untuk berjualan arang yang dibelinya dari hasil menabung sejak usia 11 tahun dari hasil asongan. Banyak juga souvenir berkelas hadiah dari kalangan elit dari manca negara, misalkan dari Ratu Elizabeth 1 yang berbentuk mangkok kristal dengan ukiran dari emas murni, Kebaya Encim, buku dan banyak lagi koleksi keluarga yang tertata dengan indah penuh selera. Di lantai 2 terdapat toko souvenir dan dinding yang penuh memorabilia. Secara keseluruhan bangunan Art Deco ini sangat terencana dan berkelas.

mput-eastjava (16) mput-eastjava (17) mput-eastjava (18)

Aku dan Putri sibuk adu narsis dan mumpung majikan kagak ada ya udeh ni rumah kite acak-acak aje buat gaya. Pan kalo ada majikan aku bisa mejeng sebatas dapur, garasi dan pavilliun…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.