Surat Terbuka kepada Yesus

Handoko Widagdo – Solo

 

Selamat ulang tahun Yesus. Meski saya tahu bahwa sebenarnya tanggal 25 Desember bukanlah hari ulang tahunMu. Namun karena penduduk dunia, khususnya umat Kristiani sudah terlanjur mengatakan demikian, maka tetap saja saya ucapkan selamat ulang tahun untukMu. Tanggal 25 Desember sebagai tanggal ulang tahunMu jelas tidak tepat. Sebab mana mungkin bapak dan ibuMu melakukan perjalanan saat salju turun deras? Jadi, pastilah tanggal lahirMu adalah saat musim panas di Bethlehem, dan itu bukan Bulan Desember. Tapi baiklah. Dunia sudah terlanjur meyakini bahwa tanggal lahirMu adalah 25 Desember. Dulunya perayaan tanggal 25 Desember adalah perayaan penduduk lokal di tanah Eropa.

happy_birthday_jesus

Yesus, meski aku tetap menyampaikan ucapan selamat ulang tahun untukMu, namun sebenarnya aku sedih. Sebab tanggal 25 Desember yang ditetapkan sebagai hari ulang tahunMu itu telah membuat KASIH, KESEDERHANAAN dan KEMERDEKAAN yang Engkau ajarkan menghilang. Inilah yang terjadi gara-gara penetapan tanggal ulang tahunMu tersebut.

Setiap Bulan Desember saudara-saudara kami yang Muslim mempertengkarkan apakah mereka boleh mengucapkan “Selamat Natal” kepada kami – umatMu, atau tidak. Pertengkaran ini sering sampai membuat mereka saling memaki. Satu kelompok mengatakan bahwa menyampaikan ucapan selamat natal adalah pelanggaran terhadap akidah. Sementara kelompok lainnya mengatakan bahwa hal tersebut tidak melanggar akidah dan tetap harus disampaikan dalam rangka menjaga toleransi dan persaudaraan. Dan untuk memertahankan pendapatnya masing-masing mereka saling menghujat.

merry-christmas

Yesus, saya bersedih karena perseteruan saudara-saudara saya Muslim tersebut. Bukankah seharusnya kehadiranMu ke dunia ini membawa damai? Mengapa penetapan hari kelahiranMu justru membuat saudara kami tidak damai? Jadi, saya usul supaya Engkau tidak mengakui tanggal kelahiranMu di bulan Desember ini. Dan juga tidak mengakui ada hari tertentu yang diperingati sebagai hari ulang tahunMu. Biarlah hari kelahiranmu di dunia tetap menjadi misteri. Dengan demikian tak ada lagi alasan bagi saudara-saudariku yang Muslim untuk bertengkar setiap tahun.

Hari kelahiranMu, bahkan bulan kelahiranMu telah dipelintir sedemikian rupa oleh para pedagang. (Bukankah Engkau pernah marah kepada para pedagang yang menggunakan Bait Suci untuk berdagang?) Mereka merangsang nafsu belanja dari umatMu dengan segala cara. Mall-mall, hotel-hotel, tempat-tempat belanja dan wisata berhias sedemikian rupa untuk menggelitik nafsu keranjingan berbelanja dari umatMu dan umat manusia lainnya. Berbagai barang didiskon besar-besaran sehingga kami terbawa membeli barang yang sebearnya tidak kami perlukan. Gengsi kami diusik sedemikian rupa sehingga melupakan bahwa sesungguhnya kelahiranMu membawa pesan kesederhanaan. Kesederhanaan yang Kau teladankan telah berganti dengan keserakahan.

Yesus, satu lagi yang harus aku laporkan kepadaMu tentang bulan kelahiranMu. Di bulan kelahiranmu banyak saudaraku yang berbeda keyakinan mesti memakai seragam lucu dengan topi merah berkuncir. Meski topi merah berkuncir itu sebenarnya juga bukan tradisi yang Engkau ajarkan, namun seragam tersebut sudah terlanjur menjadi trade mark umatMu. Tidak mudah bagi mereka untuk menolak memakai seragam tersebut di tempat kerja. Sebab mereka bisa kehilangan pekerjaan kalau menolak menggunakan seragam tersebut. Padahal sesungguhnya mereka tidak nyaman menggunakannya karena ada yang imannya terusik. Lagi pula sering ada pemandangan yang lucu tapi menyakitkan, saat perempuan yang berjilbab masih harus bertopi merah berkuncir. Ini sungguh keterlaluan. KedatanganMu yang seharusnya memerdekakan ternyata malah menjadi penjara bagi saudara-saudaraku.

Yesus, inilah usulan konkritku. Umumkan kepada umatMu untuk melupakan bulan dan hari kelahiranMu. Sebab bulan dan hari kelahiranMu telah menjadi semacam berhala yang menutupi tujuan utama kedatanganMu ke dunia. Saya yakin Engkau tidak keberatan kedatanganMu ke dunia tidak diperingati seperti yang telah terjadi selama 1700 tahun ini.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *