[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Beri Aku Kesempatan

Liana Safitri

 

DOKTER memeriksa denyut nadi Tian Ya, detak jantung, kelopak mata, suhu tubuh, dan mencubitnya beberapa kali. Lydia berdiri mengawasi di samping dokter dengan penuh harap.

“Apakah dia menangis tiba-tiba?” tanya dokter.

Lydia menjawab dengan gugup, “Saya memutarkan musik dan… memegang tangannya…” Jelas sangat tidak mungkin kalau Lydia berterus terang menjawab, Aku menciumnya!

Dokter mengamati bekas air mata di wajah Tian Ya. “Ini kemajuan yang sangat bagus… kita tidak tahu kapan dia sadar. Tapi mungkin tidak lama lagi…”

Setelah dokter dan perawat meninggalkan ruangan Lydia terduduk lemas, kepalanya menelungkup di samping kepala Tian Ya..

Karena besok adalah hari libur, Fei Yang bersedia menggantikan Lydia menjaga Tian Ya. Ketika Fei Yang keluar, Frida muncul dari tempat persembunyiannya dan masuk ke ruangan Tian Ya.

Frida berdiri di sisi pembaringan Tian Ya, melihat pemuda itu terbaring tak berdaya, hidupnya bergantung pada alat-alat yang dipasang di tubuh.

“Kau harus segera sadar… Kalau kau mati, bagaimana denganku? Aku sudah bosan hidup susah, aku lelah bekerja terus-menerus tanpa hasil dan tidak pernah dihargai. Kalau bisa bersamamu… hidupku mungkin akan berubah lebih baik… Walau harus mengkhianati teman sendiri dan dibenci banyak orang memangnya kenapa? Mereka tidak pernah tahu kegetiran yang aku alami. Jika mereka jadi aku dan bertemu denganmu, mungkin mereka juga akan melakukan hal yang sama.”

Frida melihat barang-barang yang ada di atas meja. Ada beberapa DVD film, novel, majalah, serta sebuah sapu tangan. Wajahnya menunjukkan rasa tidak senang. Ia mengambil barang-barang itu dan memasukkan ke dalam tas dengan terburu-buru. “Kau tidak memerlukan semua ini. Tidak ada gunanya! Sekarang sudah malam, aku harus pulang. Aku akan berusaha datang besok…” Frida menatap Tian Ya sekilas, kemudian keluar ruangan.

Frida tidak tahu, tepat setelah pintu tertutup Tian Ya membuka mata.

Frida berpapasan dengan Fei Yang yang kembali dari ruangan dokter. Fei Yang baru sekali melihat Frida ketika datang ke apartemen Tian Ya. Fei Yang tidak suka dengan Frida karena menurutnya Frida sangat licik.

“Kau…”

“Aku hanya menjenguk Tian Ya sebentar… Maaf, aku harus pergi…” Frida berjalan dengan terburu-buru.

“Tunggu!” Fei Yang merasa curiga. Ia mendekati Frida dan melihat sesuatu yang menyembul dari dalam tasnya. “Apa yang kau bawa itu?” Fei Yang merebut tas Frida. Novel, majalah, DVD, dan sapu tangan dikeluarkan lalu diletakkan di atas kursi. Fei Yang menatap Frida dengan tajam, “Barang-barang ini sebelumnya ada di dalam, bagaimana bisa masuk ke dalam tasmu? Apa mungkin mereka berjalan sendiri?” Frida tak menjawab. “Kau tidak tahu kalau kita tidak boleh mengambil sesuatu yang bukan milik kita?” Fei Yang mendengus, “Pergi kau!”

Pagi-pagi sekali Lydia kembali ke rumah sakit. Sudah ada banyak orang yang menyesaki kamar Tian Ya. Dokter, perawat, Tuan Li, Nyonya Li, Fei Yang, dan Xing Wang. Jantung Lydia berdebar keras. Ia hanya bisa berdiri di depan pintu untuk melihat apa yang terjadi.

Dokter tersenyum dan berkata, “Selamat, pasien sudah melewati masa kritis!”

Tidak ada yang lebih diinginkan Lydia pada saat itu selain berlari mendekati Tian Ya dan memeluknya erat-erat.

Mama! Biarkan aku di sisi Tian Ya sampai ia sadar. Setelah itu aku akan pulang ke Indonesia…

Dan yang menghalangi langkah Lydia adalah janjinya sendiri.

Semua orang larut dalam keharuan hingga tak menyadari jika Lydia juga berada di sana. Perasaan Lydia bercampur-aduk. Ciuman yang diberikan untuk menyadarkan sang pangeran ternyata adalah ciuman selamat tinggal.

Asalkan aku tahu kau baik-baik saja sudah cukup!

 

Franklin heran karena belum ada satu jam Lydia pergi ia sudah kembali lagi. “Kenapa cepat sekali?”

“Tian Ya sudah sadar…”

Franklin mengamati wajah Lydia yang tampak aneh.

Lydia memaksakan diri tersenyum, “Karena Tian Ya sudah sadar, ayo kita pulang ke Indonesia! Aku tidak sabar lagi ingin melihat seperti apa kamarku sekarang…” Lalu Lydia cepat-cepat meralat, “Ah, tapi aku sudah tidak bisa pulang! Kakak, bukankah kau bilang akan mencari rumah untuk kita tinggali bersama? Apa kau sudah mendapatkannya? Atau…”

“Lydia! Tidak usah berpura-pura di hadapanku!”

Lydia langsung menutup mulut.

“Tian Ya sudah sadar, berita yang baik. Tapi kau tidak sesenang itu. Kau harus meninggalkannya setelah ia membuka mata, kau sangat merindukannya tapi tak bisa berbicara dengannya, kau berharap dapat melewatkan lebih banyak waktu bersamanya, sayangnya waktumu sudah habis…”

“Cukup!” tiba-tiba Lydia marah. Ia marah karena Franklin dapat membaca isi hatinya dengan sangat jelas. “Kalau kau tahu, ya sudah! Maka dari itu aku mengajakmu segera pulang ke Indonesia! Kalau kami terpisah oleh jarak yang jauh aku lebih mudah menghindarinya, tapi akan sangat sulit untuk menahan diri agar tidak menemuinya sementara kami masih berada dalam satu tempat…” Lydia menangis, kesedihannya tidak dapat dibendung lagi. Sambil menggertakkan gigi berkata putus asa, “Kenapa aku tidak dapat melupakannya?”

Franklin menarik Lydia dalam pelukannya. “Kita akan pulang! Tapi sebelum itu, bukankah ada banyak yang harus disiapkan?” Ia menarik napas dalam-dalam, “Maaf aku telah menyulitkanmu… Seharusnya aku jangan sampai menyeretmu ke dalam masalah keluargaku…”

Lydia tidak tahu apa maksud Franklin, apalagi yang harus dipersiapkan? Membeli tiket pesawat dan mengurus surat-surat, apakah prosesnya sulit? Apakah harus memakan waktu yang begitu lama? Lydia sering memandang Franklin diam-diam dengan wajah muram sambil berbisik,

Aku harap tidak harus melukaimu lagi…

 

Setelah sadar dari koma Tian Ya harus menjalani terapi agar tubuhnya dapat kembali melakukan aktivitas dengan normal. Dalam waktu dua minggu Tian Ya sudah menunjukkan banyak kemajuan. Tuan dan Nyonya Li setiap hari datang ke rumah sakit membawakan bermacam-macam makanan bergizi (yang harus dihabiskan walau Tian Ya tidak menyukainya. “Perutku bukan terbuat dari karet!” demikianlah ia memprotes). Xing Wang dan Fei Yang juga datang kalau tidak sibuk.

Namun Tian Ya berubah menjadi sangat pendiam, sering melamun, kadang tidak dapat langsung merespon pertanyaan dari lawan bicaranya, dan menggumamkan sesuatu yang tidak jelas. Tian Ya tidak mau mengatakan apa yang dirasakan dan membuat Nyonya Li sangat khawatir. “Mengapa anak saya jadi aneh? Apakah otaknya terganggu setelah koma?” ia bertanya pada dokter. Dokter menenangkan Nyonya Li, meyakinkan bahwa tidak ada masalah dengan Tian Ya.

Fei Yang sengaja menemui Tian Ya ketika tidak ada siapa-siapa, ia ingin membicarakan sesuatu. “Apa kau merasa lebih baik hari ini?”

Tian Ya menatap Fei Yang sekilas lalu kembali melihat ke arah lain.

“Tian Ya… sebaiknya kau tidak lagi berhubungan dengan Frida…” Fei Yang tidak tahu apakah Tian Ya mendengarkan kata-katanya atau tidak, tapi ia terus berbicara, “Dia itu berbahaya dan jahat. Sangat jahat!” Fei Yang mengeluarkan novel, majalah, DVD, dan sebuah sapu tangan dari dalam tasnya.

“Lydia…” Fei Yang sempat mengira sebagian diri Tian Ya menghilang atau berubah setelah ia sadar dari koma. Tapi begitu Fei Yang menyebut satu nama ini, Tian Ya yang tadinya bersikap tidak peduli langsung menegakkan tubuh dan melebarkan matanya. Fei Yang tersenyum sekilas dan melanjutkan, “Selama kau sakit Lydia lah yang merawatmu. Dia menjagamu sepanjang hari nyaris tanpa istirahat, Lydia melakukan apa saja agar kau dapat sadar kembali. Berbicara denganmu sampai berjam-jam, membacakan novel, memutarkan musik, menonton film, menulis, semua kegiatan sehari-hari ia lakukan di dekatmu.”

Tangan Tian Ya meraih barang-barang milik Lydia yang masih sangat dikenalnya, dan juga sapu tangan bersulam tulisan LILY.

“Aku memergoki Frida keluar ruangan dengan membawa barang-barang ini. Membuatku semakin yakin kalau dia memang ingin memisahkan kau dari Lydia. Aku pernah bertanya pada Lydia mengapa ia memutuskan meninggalkanmu. Dia tidak suka kau terlalu memperhatikan Frida. Lydia mengeluh soal kau yang tidak peduli jika ia merasa bosan sendirian di rumah, kau yang tidak mau diajak nonton film tapi malah mengobrol dengan Frida di tengah malam. Lydia menjemputmu di halte bus dengan payung agar kau tidak kehujanan tapi kau justru pergi naik taksi bersama Frida. Lydia membeli pizza untuk dimakan bersama, ternyata kau sudah makan duluan. Kau tidak pernah mau mendengar apa yang ia katakan dan selalu membenarkan pendapat Frida, seolah-olah jika ia cemburu karena kau memeluk Frida, itu bukan masalah besar.”

“Aku tidak tahu harus berbuat apa… untuk membuatnya kembali padaku…” Tian Ya membuka suara.

“Tidak tahu harus berbuat apa?” Fei Yang mengernyitkan dahi. “Kau sungguh tidak tahu? Lydia ingin kau lebih memperhatikan dirinya, kau harus lebih peduli padanya! Aku paling memahami bagaimana perasaan Lydia dibanding siapa pun karena kita pernah bersama…” Fei Yang mengingatkan Tian Ya akan hubungan mereka. “Menjalin hubungan denganmu tidak mudah. Dulu kau tidak mau berbicara denganku karena aku membatalkan janji yang sudah kau siapkan. Aku ingin menjelaskan alasannya tapi kau tidak mengangkat telepon. Waktu itu aku merasa jauh lebih baik jika kita bertengkar. Kau tahu, diabaikan dan tidak dipedulikan jauh lebih menyakitkan daripada dibenci atau dimarahi. Kalau seseorang membencimu atau marah padamu, setidaknya dia masih menganggapmu ada. Aku kira Lydia juga merasa diabaikan hingga memilih pergi. Dan bagaimana bisa kau membuang sapu tangan pemberiannya…”

“Aku tidak membuang sapu tangannya!” bantah Tian Ya.

“Tapi Lydia mengatakan menemukan sapu tangan ini di dalam plastik sampah. Dia sedih karena sapu tangan yang menyimpan kenangan kalian selama sepuluh tahun bisa terbuang karena sapu tangan yang baru dibeli beberapa hari…” Fei Yang lalu bertanya, “Apakah sapu tangan baru yang dimaksud Lydia adalah sapu tangan bergambar bunga mawar itu? Kau membelinya bersama Frida?” Tian Ya tidak menjawab, tapi Frida sudah memahami semuanya. “Aku harap kau lebih berhati-hati. Bunga mawar memang indah dan harum, tapi durinya bisa melukai tanganmu.”

Tian Ya ingin segera pulang tapi dokter belum memperbolehkan karena luka tembak di tubuhnya belum benar-benar pulih. Bosan berbaring seharian di tempat tidur, Tian Ya berjalan-jalan di taman rumah sakit sambil membawa botol infus. Ia duduk di salah satu bangku taman. Beberapa pasien juga sedang melewatkan sore hari di sana. Ada kakek tua yang duduk di atas kursi roda dan didorong oleh seorang wanita muda, mungkin cucunya atau anaknya. Ada juga seorang perempuan belajar berjalan menggunakan tongkat dibantu seorang laki-laki. Di tempat agak jauh, seorang ibu menggendong anak perempuan yang sedang menangis dan berteriak-teriak, “Aku tidak mau diperiksa! Aku tidak mau disuntik!” Suasana di rumah sakit selalu muram, tapi dalam keadaan demikian jika ada seseorang yang mendampingi kita melawan rasa sakit pasti akan jauh lebih baik.

Hanya aku yang sendirian…

Pada saat Tian Ya sedang berpikir demikian, sepasang kekasih lewat di depannya. Tangan si pria digips dan digendong di bahu. Si wanita berjalan berjalan di samping si pria sambil memberi nasihat yang tak ada habis-habisnya. “Jangan lupa minum obat! Tidak peduli betapa pun tidak enaknya yang dimakan, kau harus menghabiskannya!”

“Kau jauh lebih cerewet daripada dokter!” gerutu si pria.

“Aku cerewet karena peduli padamu! Kalau kau sakit aku ikut repot!”

Si pria memohon pada si wanita, “Jangan pergi ke Perancis! Tunggu setelah menikah, kita akan ke sana bersama-sama…”

“Maaf… karena mengejar taksi yang kunaiki, kau jadi tertabrak…”

“Tidak apa-apa tanganku patah, asalkan kau tidak pergi.” Lalu menggunakan sebelah tangannya yang tidak digips, si pria memeluk si wanita.

Adegan ini terjadi tepat di depan mata Tian Ya. Benar-benar tidak sopan! Membuatnya ingin juga! Tian Ya menyingkir sambil membayangkan jika dirinya dan Lydia yang berada di posisi mereka. “Jangan pulang ke Indonesia! Tunggu setelah menikah kita akan ke sana bersama-sama…”

Apa kira-kira jawaban Lydia?

Maaf… aku tidak bisa karena tak mungkin meninggalkan Kakak…

Begitukah?

Tian Ya kembali ke kamar. Ia berhenti di depan pintu setelah mendengar ada yang ribut-ribut di dalam, seorang laki-laki dan seorang perempuan sedang bertengkar. Tian Ya mengenali suara mereka.

“Aku mau pergi menemui siapa bukan urusanmu!”

“Bukan urusanku? Berarti tidak apa-apa kalau aku mengatakan pada Tian Ya kalau kau sengaja mendekatinya hanya karena menginginkan hartanya? Dengan begitu Tian Ya akan mengusirmu dan kau tak punya pilihan selain kembali padaku!”

“Diam! Aku berbuat begitu karena bunga yang kau minta terlalu tinggi! Ketika dia pergi dari apartemen aku langsung menghubungimu! Kau bilang akan membereskan dia, tapi apa? Karena perempuan itu masih berkeliaran aku jadi kesulitan menarik perhatian Li Tian Ya! Ditambah lagi ada kejadian Tian Ya tertembak dan masuk rumah sakit, semua gara-gara kau!”

“Aku membawanya ke tempat Zhou Mei Ling! Kalau bukan karena kakaknya, aku sudah berhasil menjadikannya seorang pelacur! Dan Tian Ya tertembak karena salahnya sendiri!”

“Aku tidak akan memberikan uang padamu, aku juga tidak akan bekerja padamu! Daripada harus tersiksa di bawah bayang-bayangmu lebih baik mati!”

Lalu terdengar suara tawa melengking, “Kau mau mati? Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah! Waktu itu siapa yang berlari di sepanjang jalan dan minta tolong diselamatkan dari majikannya yang jahat agar tidak dipukuli? Kau berkata rela melakukan apa saja asalkan bisa bebas darinya! Hutangmu dengan Guo Xiao Long belum dibayar tuntas!”

Pintu terbuka. Frida dan Xiao Long sama-sama terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.

“Tian Ya…” pekik Frida.

Xiao Long melemparkan senyum mengejek pada Tian Ya, “Li Tian Ya! Cepat sekali kau sembuh! Dokter di rumah sakit ini sangat hebat, ya! Kukira kau tidak akan bangun untuk selamanya! Ngomong-ngomong, seperti apa rasanya tertembus timah panas?”

Ekspresi Tian Ya sangat dingin. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia berjalan mendekati Xiao Long, lalu meninju wajahnya. Entah bagaimana Tian Ya seperti mendapat tambahan tenaga berlipat-lipat. Ia tak memberi kesempatan pada Xiao Long untuk bernapas, mengirimkan pukulan bertubi-tubi sampai lawannya babak-belur. Hidung Xiao Long mengeluarkan darah. Setelah Xiao Long terkapar di lantai, Tian Ya menginjak dadanya keras-keras. Xiao Long mengerang. Tian Ya mencabut slang infus di tangannya sendiri dan menggunakannya untuk mengikat kedua tangan Xiao Long.

“Besar sekali nyalimu berani mencelakakan Lydia! Seandainya tidak ada hukum aku tak akan segan-segan untuk menghabisimu!” Tian Ya mengatakan kalimat tersebut dengan sangat tenang seolah tanpa emosi. Frida yang menyaksikan semua kejadian itu di menutup mulut dengan kedua tangan dan menatap Tian Ya dengan pandangan tidak percaya. Tian Ya lalu menekan bel darurat. Dokter dan perawat segera datang ke kamar Tian Ya. Mereka mengira pasien sedang sekarat, siapa sangka ada orang lain yang tergeletak hampir mati di bawah sementara Tian Ya berdiri tegak sehat sekali.

“Dokter, ada orang asing datang ke kamarku mencari gara-gara, aku terpaksa melawannya! Tolong bawa dia pergi dan panggil polisi!” Walau masih sedikit bingung, dokter memerintahkan petugas security rumah sakit untuk mengamankan Xiao Long. Mereka pikir karena Tian Ya adalah orang sakit, dia tidak mungkin menyerang orang. Apalagi jika dilihat sekilas wajah Xiao Long jauh lebih mirip penjahat daripada Tian Ya.

Setelah Xiao Long dibawa pergi Tian Ya menoleh pada Frida. Frida berkata tergagap-gagap, “Tian Ya… aku hanya… ingin melihat keadaanmu… Tapi ternyata Xiao Long membuntuti sampai kemari… aku…”

“Pergi kau! Aku tak mau melihatmu lagi! Kalau sekali lagi aku mendengarmu mencelakai Lydia, kau harus tinggal di sel yang sama dengan Xiao Long!”

Frida mengangguk-anggukan kepala, “Baiklah… aku tahu, aku memang tidak pantas menerima kebaikanmu… Seharusnya aku sadar sejak awal jika aku tak mungkin menandingi Lydia… Aku akan mengemasi barang-barang di apartemen, tolong biarkan aku tinggal di sana satu malam lagi… Aku sungguh tidak punya tempat untuk pergi.”

Tian Ya tidak memberi tanggapan apa pun.

“Bagaimanapun juga terima kasih… karena kau sudah memperlakukanku dengan sangat baik…”

Tian Ya merasa muak, ia keluar dari kamar meninggalkan Frida menangis sendirian.

Setengah jam kemudian Nyonya Li datang ke rumah sakit. Ia panik karena tidak menemukan Tian Ya. Dokter menjelaskan jika sebelumnya ada seorang laki-laki dan seorang perempuan yang datang ke kamar Tian Ya membuat keributan, tapi orang itu sudah ditangkap. Saat petugas datang mereka masih melihat Tian Ya. Beberapa orang dikerahkan untuk mencari Tian Ya. Tian Ya tidak mengangkat ponsel dan mereka khawatir Tian Ya pingsan karena lukanya belum sembuh.

“Menurutmu ke mana Tian Ya pergi?” tanya Xing Wang pada Fei Yang.

“Hanya ada satu kemungkinan, ke tempat Lydia!”

 

Memang benar, Tian Ya pergi mencari Lydia. Setelah tanpa sengaja mendengar percakapan antara Frida dengan Xiao Long, Tian Ya seperti menemukan titik terang. Ia baru tahu mengapa Lydia tidak mau berpisah dari Franklin, mengapa Franklin sangat marah ketika melihat Tian Ya muncul di hadapan Lydia, dan maksud Fei Yang saat memperingatkan bahwa Frida berbahaya. Tian Ya berulang kali menghubungi Lydia tapi gadis itu tidak mau menjawab panggilannya. Di dalam taksi Tian Ya mengutuk diri sendiri.

“Saya mencari seseorang bernama Lydia!”

Resepsionis hotel melihat data beberapa saat lalu menggeleng. “Tidak ada tamu bernama Lydia.”

“Oh, maaf! Maksud saya Franklin, dari Indonesia!”

“Dia sudah check-out satu jam yang lalu.”

Apalagi yang bisa dilakukannya sekarang?

Ketika Tian Ya mulai putus asa, ia mendengar seseorang memanggil, “Tian Ya!”

Fei Yang dan Xing Wang.

“Tian Ya, kenapa kau keluar dari rumah sakit? Dokter belum mengizinkan!” kata Xing Wang.

“Benar! Mamamu sangat kebingungan. Dokter, perawat, petugas keamanan, semuanya dimarahi! Ayo kita kembali ke rumah sakit!” Fei Yang menarik tangan Tian Ya.

Tanpa memedulikan mereka Tian Ya malah berkata, “Xing Wang, antarkan aku ke bandara!”

“Bandara? Untuk apa?”

“Lydia dan Franklin sudah keluar dari hotel, pasti mereka akan pulang ke Indonesia! Aku harus mencegah Lydia pergi!”

Tentu saja Fei Yang dan Xing Wang tidak setuju.

“Tapi kau sakit, Tian Ya! Lihatlah dirimu, berkeliaran di tempat umum mengenakan baju pasien,” Fei Yang memandang Tian Ya dari atas ke bawah.

“Ya, pikirkan kesehatanmu…

“Aku tidak peduli! Aku harus bertemu Lydia! Kalau tidak ada yang mau mengantar, aku akan pergi sendiri!” Tian Ya menjauh dari Fei Yang dan Xing Wang lalu berjalan ke pinggir jalan raya.

Xing Wang menyerobot maju. Ia memegang lengan Tian Ya erat-erat dan berkata pada pengemudi taksi yang mengantar Tian Ya, “Pak, bawa kami ke rumah sakit! Teman kami terluka!”

“Apa yang kau lakukan?” Tian Ya berusaha melepaskan diri dari Xing Wang tapi malah terjatuh dengan tubuh membentur taksi, tepat mengenai dadanya. Tian Ya berteriak kesakitan.

“Celaka! Pasti kena lukanya!”

Fei Yang dan Xing Wang menolong Tian Ya bangun. Tian Ya mendorong mereka, “Jangan perlakukan aku seperti orang tua penyakitan! Apa kalian tidak mengerti betapa genting situasinya? Lydia akan pulang ke Indonesia!”

“Kau harus diobati…”

“Aku tidak butuh obat!” Tian Ya berteriak-teriak sampai kehabisan napas. Ia sangat lelah, namun tak dapat membiarkan gadis yang dicintainya pergi begitu saja tanpa berbuat apa-apa. Berbagai kendaraan lewat dengan kecepatan tinggi, menyemburkan asap tebal, panas, dan menyesakkan. Tian Ya duduk di atas aspal dengan tubuh penuh keringat, sangat mengenaskan. Pikirannya hanya dipenuhi satu oleh nama, Lydia! Kalau Tian Ya melihat Lydia sekarang, ia tidak akan memedulikan apa pun.

Aku akan membawanya pergi hingga ke ujung dunia, hingga tidak ada seorang pun yang dapat memisahkan aku dengannya!

Xing Wang mendesis, “Dia sudah gila…”

Fei Yang berjongkok dan berkata, “Xing Wang akan ke bandara mencari Lydia, tapi kau tidak usah ikut, ya! Kau tidak kuat menempuh perjalanan jauh. Kembalilah ke rumah sakit dan tunggu Lydia di sana.”

“Aku tidak mau! Aku ingin pergi sendiri ke bandara dan membawa pulang Lydia!” ujar Tian Ya keras kepala.

Aku yang menyebabkan Lydia pergi, jadi aku juga yang harus membawa Lydia kembali. Bukan orang lain!

Fei Yang dan Xing Wang saling berpandangan. Mereka akhirnya menyerah.

Tian Ya, Xing Wang, dan Fei Yang duduk di dalam taksi yang sedang meluncur menuju bandara.

“Lydia pasti masih ada di bandara bersama Franklin,” Fei Yang berkata menghibur. “Kalau tidak…”

“Kalau tidak aku akan menyusul ke Indonesia sekarang juga!” potong Tian Ya.

Fei Yang terdiam seketika. Xing Wang yang duduk di depan hanya menatap Tian Ya melalui kaca spion.

“Kalian berdua jangan menghalangiku! Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri dengan Lydia. Aku bersalah padanya, aku menyesal…”

Fei Yang menangkap kepedihan dalam setiap kata-kata yang diucapkan Tian Ya. Ia mengulurkan tangan menggenggam tangan Tian Ya. “Kau sudah berubah… jauh lebih baik daripada Tian Ya yang kukenal dulu. Jika kau ke Indonesia menyusul Lydia, aku akan menemanimu.”

Bandara sangat ramai. Xing Wang dan Fei Yang sempat ragu, bagaimana bisa menemukan Lydia di antara sekian banyak orang. Tapi mereka tidak mengatakan apa-apa karena takut membuat Tian Ya marah.

“Kau duduk di sini saja! Biar aku dan Fei Yang yang…”

“Sudah kubilang aku akan ikut mencari Lydia! Untuk apa aku bersusah payah datang ke bandara kalau hanya untuk menjadi penonton!” Tian Ya berteriak. Beberapa orang langsung melihat ke arah mereka. Tidak mau menarik perhatian dengan membuat keributan, Xing Wang dan Fei Yang pun membiarkan Tian Ya melakukan apa saja yang ia inginkan.

...do not wait the opportunity, instead, create one...

…do not wait the opportunity, instead, create one…

Tian Ya mengelilingi bandara dengan ditemani Fei Yang, sedangkan Xing Wang pergi sendiri mencari ke arah yang berbeda.

Tian Ya menoleh ke kanan dan ke kiri, dengan gelisah mencari Lydia di antara ribuan orang. Ada yang membawa koper, tas, menggendong anak, melambaikan tangan pada anggota keluarga yang akan pergi jauh… Mereka memiliki tujuan berbeda dan kepentingan masing-masing. Dalam hati Tian Ya menyebut nama Lydia berulang-ulang seperti membaca mantera.

Lydia… Lydia… Lydia… Di mana kau? Kumohon tunjukkan dirimu padaku! Lydia! Aku memanggilnya, tapi dia tidak mendengarnya, mungkinkah kami telah berada di dua dunia yang berbeda?

Entah pada hitungan keberapa Tian Ya menyebut nama Lydia, saat itu sebuah sosok berkelebat di depan matanya. Tubuh yang dibalut t-shirt ketat warna pink, dengan tulisan dan simbol besar, I ♥ U.

Itu dia!

Tanpa memikirkan apa-apa lagi Tian Ya segera berlari memburu apa yang baru saja dilihatnya.

Fei Yang berseru, “Tian Ya, tunggu!”

Sepertinya jarak antara dirinya dengan Lydia sangat dekat, tinggal beberapa langkah lagi Tian Ya dapat menggapai gadis itu. Tiba-tiba Tian Ya diserang rasa sakit tak tertahankan. Ia jatuh berlutut sambil memegangi dada.

“Tian Ya, kau kenapa?” Fei Yang juga berhenti berlari, bertanya cemas pada Tian Ya.

Begitu dekat, namun begitu jauh

meskipun selalu teringat, namun tangan tak dapat menyentuh…

Keringat dingin mengalir dari dahi Tian Ya. Ia menggertakkan gigi lalu berteriak sekeras-kerasnya, “Lydiaaa…!”

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.