Ibu

Anwari Doel Arnowo

 

Benar benar menakjubkan, mengejutkan dan terpana saya dibuatnya. Sebagian besar manusia penghuni Planet Bumi ini, waktu berkesal hati dan memaki orang lain menggunakan dua kata yang diucapkan dengan suara keras, juga dengan bersikap amat garang, hampir selalu saja menggunakan dua kata yang disatukan: kata IBU dan Seks atau Alat Kelamin manusia. Itu ada di dalam bahasa Manado, bahasa Jawa dan juga bahasa Inggris serta bahasa-bahasa Negara lain baik Nasional maupun bahasa Daerah/lokal. Coba ingat saja: Cuki mai (Manado) Si Embokne Diancuk (Surabaya dan Jawa Timur) Mother Fu**er di mana-mana di Amerika atau pada orang-orang lain yang berbahasa Inggris. Kata-kata itu saya berikan simbol italics semata-mata oleh karena bukan kata-kata berasal dari bahasa Indonesia.

Saya sendiri tidak berpikir dengan cara demikian sejak saya masih kanak-kanak meningkat menjadi anak sekolah yang setingkat Sekolah Rakyat. Hal begini terjadi kepada diri saya karena saya menyaksikan adik perempuan saya lahir dan ditolong oleh nenek saya, Ibu dari Ibu kandung saya, pada tahun 1947. Bukan ditolong oleh Bidan. Ternyata setelah saya mempunyai anak kandung saya sendiri, saya baru mendapatkan fakta baru bagi diri saya sendiri, ternyata kelahiran bayi yang berupa saya ke dunia ini juga ditolong langsung oleh Nenek saya itu, Ibu dari Ibu kandung saya, bukan oleh Bidan, alih alih Dokter.

Inilah titik penting di dalam dunia saya yang membuat saya tidak sembarangan seperti mereka yang marah seperti telah saya gambarkan di atas. Sungguh menyedihkan, karena yang amat menonjol di benak saya adalah: DARI SITULAH kami, hampir semua manusia di dunia ini telah dilahirkan. Bagi saya kandungan dan Vagina adalah tempat YANG MULIA dan SEHARUSNYALAH kami hormati dengan tingkat yang tinggi dan pantas. Bukan dipakai sebagai olok-olok. Saya dan tentu semua orang juga tau bahwa menyatakan marah dengan makian, menggunakan kata-kata yang mengutip nama-nama binatang yang ada di kebun binatang saja sudah amat mencukupi baik jumlah dan jenisnya. Apakah masih kurang? Sampai-sampai dengan hati yang amat tega menggunakan kata yang mewakili  TEMPAT LAHIR YANG MULIA SEPERTI ITU dipakai untuk memaki orang atau pihak lain. Apalagi berperi laku kasar pula.

Mari saya ajak anda melihat bagai mana peran Ibu saya dan anggota keluarga lain di sekitar saya selama peri kehidupan saya berlangsung. Dari himpunan cerita dan kisah Ayah saya dan Ibu yang sepotong-sepotong selama satu abad lamanya, saya mencoba merangkum bagaimana Ibu saya berperan di dalam keluarga Ayah saya.

Ayah saya lahir di kota Surabaya (1904) dan Ibu saya lahir di kota Malang (1915). Pendidikan Ayah saya “hanya” di STM di jalan Sulung, dekat daerah Pasar Besar, di arah belakang Kantor Gubernur Jawa Timur sekarang di dekat Tugu Pahlawan. Beliau melakukan kegiatan dagang apa saja termasuk menjajakan minuman Temulawak dengan menggunakan sepeda (kereta angin). Sambil mencari nafkah seperti itu Ayah mulai ikut-ikutan kegiatan politik yang melawan penjajah belanda yang telah ratusan tahun men”duduk”i kepulauan Nusantara. Kawan-kawan seperjuangan sejak pemuda adalah Boeng Karno dan juga Roeslan Abdulgani. Bertiga mereka berkawan akrab sejak remaja. Berdua dengan Boeng Karno beliau sering juga nangkring di Jembatan Genteng, yang menghubungkan Undaan, Plampitan dan Genteng Kali. Ayah saya tinggal di Gang Genteng Arnowo (ini nama Ayahnya Ayah saya) di Jalan Genteng Kali. Boeng Karno tinggal di rumah H. O. S Tjokroaminoto di seberang kali di salah satu gang di Jalan Plampitan (sekarang Achmad Djais).

Di situ mereka juga menggoda nona-nona termasuk noniek-noniek (yang Jawa maupun yang setengah belanda dan juga yang belanda totok) yang lalu lalang berlalu di jembatan itu. Pak Roeslan karena usianya muda, berbeda cukup “jauh” tahun kelahirannya, maka dalam urusan noniek-noniek ini, tidak terikut bersama. Itu semua sebelum Soekarno pindah ke kota Bandoeng dan menuntut ilmu teknik di TH (Technische Hooge School) sebagai Insinyur bangunan sipil.

Ibu saya dilahirkan di daerah mBareng di kota Malang dan bersekolah di daerah situ juga, entah sampai tingkat apa saya tidak punya catatan ingatan sendiri. Saya perkirakan almarhun kakak-kakak saya dua-duanya juga tidak mempunyai catatan jelas mengenai hal ini. Kami putra dan putri kandung dari Ayah Ibu terlahir yang pertama perempuan pada tahun 1933 dan yang bungsu terlahir pada tahun 1956 juga perempuan. Saya anak ketiga terlahir pada tahun 1938 dan seluruh bersaudara saya ini berjumlah 11 orang. Adik perempuan saya urutan setelah saya, meninggal dunia ketika masih bayi. Saya sama sekali tidak mempunyai ingatan kenangan atau bayangan perihal adik yang satu ini, mungkin karena waktu itu terjadi ketika Bala Tentara Jepang menyerbu Tanah Air kita dan membuat para bangsa belanda kocar kacir kabur lari tunggang langgang untuk menyelamatkan diri. Era berikut adalah kehidupan yang dinamis dimasuki oleh ayah saya sebagai orang pejuang Nasionalis melawan penjajah-penjajah.

Mereka bangsa asal belanda dan Jepang dan belanda lagi (NICA – Nederlands Indie Civil Administration). Di era belanda Sebelum era Jepang ayah saya sudah masuk penjara dua kali masing-masing sekitar masa hukuman penjara dua tahunan lebih, satu di Kalisosok Soerabaia dan yang kedua di Soeka Miskin di Bandoeng. Pada era pendudukan Jepang masuk lagi di dalam tahanan KenPeiTai, mengalami siksaan fisik. Di era / masa agresi belanda tahun 1947an beliau ditangkap di gunung Kelud ketika dalam daerah Repoeblik Indonesia yang diserbu tentara NICA.

Karena jabatan ayah saya adalah Wakil Gubernur Jawa Timoer, yang berkedudukan sebagai tahanan politik, maka setelah ditahan di sebuah kandang sapi, bercampur dengan sapi-sapi beberapa lamanya, dijaga oleh serdadu-serdadu NICA berkulit hitam (asal Ambon) dan coklat (asal Madura). Kemudian sekali datanglah petinggi NICA bernama Van der Plas, melepaskan ayah saya dan dimasukkan kedalan sebuah rumah tahanan tersendiri di Gunungsari Soerabaia. Entah berapa bulan lamanya beliau menghuni rumah tahanan itu dan dijaga oleh serdadu-serdadu belanda berkulit putih sampai sebelum penyerahan kedaulatan dari NICA kepada Repoeblik Indonesia Serikat.

Ayah saya bisa sekuat itu berjuang, menderita berpisah dari keluarga, istri dan anak-anak. Siapakah ayahku bila beliau sedang ditahan belanda, ditahan Jepang dan ditahan belanda lagi, ditangkap sewaktu bergerilya di hutan-hutan dan di gunung-gunung?

Ayahku itu adalah IBUKU yang menjelma menjadi ayah sewaktu diperlukan perannya selaku ayah. Kami lalu mengungsi karena serbuan Sekutu (belanda, Inggris dan tentara Gurkha) dari Soerabaia ke Malang ke rumah tinggal mBah Gede (nama asli kakekku ini adalah S. M. Sjarbini asal Kudus dan menetap di daerah Djodipan kota Malang). Beberapa lama kami tinggal di Djodipan kami mengungsi lagi ke kota Blitar dan berdiam di sebuah rumah di jalan SGP nomor 11, Blitar.

Ayah saya berdiam di rumah ini dengan jabatannya tetap sebagai Wakil Gubernur dengan pejabat Gubernurnya pak RM Soerjo yang pada masa penjajahan belanda adalah Bupati di Bodjonegoro. Begirtulah ayah saya yang diminta oleh banyak orang agar mau menjadi Gubernur tetap ditolak oleh ayah saya karena beliau itu merasa tidak memiliki pengalaman mengelola ke-TataPraja-an. Jadilah beliau masih terpaksa menjabat sebagai Wakil Gubernur. Pak Gubernur dan Wakilnya sering kali melakukan perjalanan dinas ke Djokdjakarta di mana pemerintahan pusat berada, Presiden Soekarnopun bertempat tinggal di sana. Pada suatu ketika Pak Soerjo mengajak ayak pergi kembali ke Jawa Timur dari Djokdja, akan tetapi ayah saya mencegahnya karena ada pem”berontak”an oleh Musso, seorang komunis yang baru pulang dari Rusia. Ayah saya tetap berada di Djokdja dan naaslah nasib pak Soerjo yang dicegat gerombolan yang “kata”nya adalah para pengikut Muso itu dan membunuh Pak Soerjo.

Saya mengenang beliau sebagai seorang yang ramah meskipun tampangnya sedikit jantan terutama sekali karena ke mana-manapun  beliau selalu membawa keris yang cukup besar ukurannya. Beliau meninggal dunia akibat kekerasan (membanting sebuah batu besar ke dada Pak Soerjo yang posisinya sudah terbaring) yang dilakukan gerombolan tadi, secara bersama-sama juga  menghilangkan nyawa pak Polisi pengawalnya.

Patung beliau yang cukup besar sekarang berdiri di desa Mantingan tidak terlalu jauh dari kota Madiun. Dalam posisi Wakil Gubernur beginilah ayah saya sering bepergian ke luar kota termasuk perjalanannya ke kota Jombang, di mana ada perundingan dengan Van der Plas yang mewakili NICA. Uniknya ayah saya menggunakan mobil dengan nomor Polisi kota Soerabaia L – 2 sebuah sedan Dodge sedang si Van der Plas juga menggunakan nomor Polisi L – 2 juga. Dengan kesibukan ayah saya seperti itulah bukan sedikit kerja Ibu yang sering menjadi ayah kami juga. Meskipun ayah saya seorang Wakil Gubernur saya tidak memiliki sepasang sepatupun. Ke sekolah saya berjalan kaki dengan kaki telanjang tanpa alas ke jalan Penataran di kota Blitar, melalui jalan singkat, sebagian besar melalui pematang sawah. Pernah sekali saya terjatuh ke dalam sawah yang baru selesai digaru (dibajak), berlumur tanah basah seluruh tubuhku nyaris seperti monster barangkali. Saya jatuh seperti itu karena ada dua pesawat tempur belanda yang terbang secara rendah, mungkin memang ingin menakut-nakuti bangsa Indonesia.

Sambil melepaskan tembakan acak, ke mana-mana suka. Saya terpaksa kembali pulang ingin berganti baju, tetapi ternyata sudah selesai dicuci dan belum kering, tentu saja. Terpaksa tidak bisa bersekolah oleh karena hanya dua pasang itu saja bajuku. Buku tuliskupun yang kertasnya terbuat dari merang hancur luluh lantak. Waktu itu saya belajar di kelas 2 Sekolah Rakjat.   Waktu itu jumlah anak-anak Ayah dan Ibu hanya 5 orang, akan tetapi saya lihat dari masa sekarang fungsi Ibu saya selaku Kepala Keluarga memang luar biasa berat.

Di masyarakat  luar keluarga ayah dipandang sebagai keluarga yang papan atas karena jabatan ayah, tetapi secara ekonomi malah amat meprihatinkan. Waktu belanda sudah menguasai Ibu Kota Djokdjakarta, kami di bawah kendali Ibu, menjalankan rumah tangga dengan segala sesuatunya bersuasana darurat. Bahan makanan meskipun ada uang setumpukpun bukan mudah didapat, dijual di pasar. Kami makan nasi dicampur jagung yang direbus di atas piring kecil yang biasa dipakai sebagai alas cangkir minum teh. Itulah jatah kami masing-masing. Dari mana kami bisa membeli bahan makanan seperti itu? Oh, itu adalah hasil barter, tukar menukar barang. Ada jas ayah saya atau celana atau apapun  yang bisa ditukarkan secara barter. Sekianpun penderitaan yang kami terima dengan kadang-kadang melucu juga: He ha ha he he ini nasi jagung celana, misalnya. Ataupun lauk jas. Nah ketika ayah saya tertangkap di gunung Kelud itu kami pun menerima beritanya secara lisan dan berantai.

Maklum belum ada yang namanya Blackberry Messenger. Dengan tertangkapnya ayah saya itu, Ibu memutuskan untuk kembali saja ke kota Malang dan kami bergegas merencanakannya bersama beberapa orang lain serta beberapa keluarga bergerombol. Naik kendaraan apa?

Ah kami kan lebih merana dari kebanyakan orang, tidak mempunyai apa-apapun kecuali beberapa pakaian yang gombal. Putusannya bulat kita akan berjalan kaki pulang ke Malang, terutama sekali karena kita sudah diberitau bahwa ayah ditangkap dan dibawa ke Surabaya. Berapa jarak antara kota Blitar dan kota Malang? Seingat saya itu sekitar 84 kilometer, saya lupa persisnya. Jalan kaki? Iya benar: jalan kaki!!

Merenung sekali lagi, saya pikir itu pasti lebih dari 100 kilometer. Apa sebab? Ternyata kami tidak berani berjalan sepanjang jalan kendaraan normal karena sering dilalui kendaraan pasukan NICA, yang serdadu kelas bawahnya adalah bangsa kita sendiri. Jadi kami selalu jauh dari jalan kendaraan dan menjaga agar tidak terlihat oleh pasukan NICA. Jadi bila yang seharusnya bisa berjalan lurus, di mana-mana terasa perlu maka bisa saja terpaksa harus menyeberang jalan ke sana dan ke sini ke kanan dan ke kiri. Tidak lupa mengirim orang dulu untuk mengintai, apakah keadaan aman. Itulah, sambil bisa bersyukur bisa diberi tempat berteduh di mana-mana malah juga diberi makanan / minum dari penduduk yang bersimpati kepada kita. Setelah  kota Kepanjen, mungkin Pakisadji (?) kami sudah melewati pos perbatasan.

Di batas daerah kekuasaan NICA dan Repoeblik ini, kami sudah dijemput beberapa pemoeda yang sudah mengetahui kedatangan keluarga pak Doel Arnowo. Kami bisa naik Opelette (angkot) ke kota Malang. Sampai di Djodipan, semua mengucurkan air mata tanda bersyukur kepada Allah karena telah sampai dengan selamat. Mulailah bertukar kisah masing-masing. Berapa lama kita menjadi pejalan kaki seperti itu? Kami mulai menghitung dan ternyata semua setuju jumlah harinya ada sepuluh hari. Saya tidak ingat tanggal berapa waktu itu, tetapi yang saya ingat mBah Gede yang posturnya tinggi besar (Gede) dengan kumisnya yang melintang gagah, sedang sakit dan terbaring. Tetapi beliau tersenyum lebar terlihat gembira. Beliau berkata sebentar lagi kita merdeka dari belanda laknat itu. Ternyata dua atau tiga hari kemudian adalah penyerahan kedaulatan dari NICA ke Rpoeblik pada tanggal 27 Desember, 1949. Beberapa hari kemudian beliau meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Peran Ibu masih belum selesai karena dengan daya upaya yang luar biasa kami bisa ke Surabaya dan menemui ayah saya di tempat tahanan. Kami tidak bisa bebas masuk, harus mengitip-intip dahulu menunggu penjaga agak kendor pengawasannya, kami menyelinap menemui beliau. Tadi waktu mengintip saya lihat ayah saya pakai celana dalam dan baju kaos saja, berwarna putih dari katun, mendekati pagar untuk menerima makanan jatah siang hari.

Sedih juga saya memandang dari kejauhan. Entah berapa lama kami bisa berada di sana, saya tidak ingat lagi. Waktu berjalan cepat dan kemudian setelah ayah saya bebas, kami sekeluarga bisa pindah ke sebuah rumah yang cukup besar di Jalan Ondomohen nomor 84 di Surabaya. Saya masuk Sekolah Rakyat di jalan Ambengan, sedikit mengalami kelas 5 dan naik ke kelas 6. Guru saya pak Kahar dan Kepala Sekolahnya pak Sihombing.

Pada suatu sore saya lihat di teras depan,  ayah saya sedang membaca De Vrije Pers sebuah harian surat kabar berbahasa belanda, dengan sedikit tersenyum beliau mengatakan kepada saya: “Lumayan juga ,,,” Saya bertanya ada apa, jawab ayah: Ini aku diangkat menjadi burgemeester! Apa pula itu, kata batin saya. Ketika ayah memberitau Ibu juga menyambut tanpa ekspresi kegembiraan yang berlebih, suaminya menjadi Walikotamadya Soerabaia, Walikota Pertama Republik Indonesia menggantikan Drs. Radjamin yang adalah Walikota NICA. Seperti biasa Ibu selalu tenang seperti air danau yang luas, diam gelombangnya kecil tidak berarti, seperti riak-riak kecil saja. Ibuku selalu terlihat tenang bijak dan berwibawa. Mendalami cerita-cerita kecil kisah nyata seperti ini, tegakah saya memaki seperti dilakukan oleh banyak orang yang pemarah seperti tertulis di awal tulisan ini?

 

Anwari Doel Arnowo – 18 Desember, 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.