Liburan ke Reo (4): Little More Time in Ketebe

Anastasia Yuliantari

 

Sepanjang jalan dari kampung Robek menuju Reo tak banyak kendaraan yang berpapasan dengan kami. Terik matahari seakan tak sabar menuju tengah hari, padahal berdasarkan ponsel yang sempat saya ambil dari kantong celana, waktu baru menunjukkan angka 10:35 WITA. Pepohonan lebat di kedua sisi jalan membuat panasnya cuaca agak teredam. Bahkan tiupan angin pantai sanggup mengeringkan keringat kami.

Begitu asyiknya kami bercakap-cakap, sehingga tak memperhatikan jalan setapak menuju pantai Ketebe. Saya menegur Max ketika portal menuju tempat penambangan mangaan terlihat di antara kerimbunan pohon. “Belum, dear. Tadi pintu portal setelah jalan ke Ketebe.” Jawabnya. Tapi setelah tiga kali melewati jalan itu saya ingat bahwa tanah lapang berisi bahan galian hasil tambang berada sebelum lokasi pantai bila berjalan dari Reo, dan kami telah melewatinya. Bahkan mercusuar bagi kapal yang akan memasuki pelabuhan Kedindi pun telah tampak di kejauhan.

Wah, udah lewat kali, ya? Tapi sekali lagi Max tak percaya sampai tampak deretan pohon bakau di pinggir jalan yang telah dekat dengan pantai Torong Besi. Apalagi saat kami menoleh ke arah bukit yang menjulang di sisi lain jalan, tampak pertambangan mangaan. Mau tak mau kami berbalik arah. Untunglah tak lama kemudian kami berhasil menemukan jalan setapak di balik kelebatan ilalang yang menuju pantai Ketebe.

Berbeda dengan hari sebelumnya, tak ada pengunjung saat itu. Hanya anak-anak sekitar Ketebe yang sedang bermain-main dengan dua buah sampan. Mereka berenang-renang atau berusaha menaiki sampan sambil bermain perang-perangan. Beberapa di antaranya datang mendekat untuk menyapa Max. “Ni mai ite, Pak?” Mereka bertanya tentang asal-usul kami.

“Awo Reo.” Jawab Max mengatakan bahwa kami berasal dari Reo. Agaknya salah seorang dari mereka yang lebih dewasa tak percaya begitu saja demi melihat wajah luar Flores pada diri saya. Dia bertanya dengan bahasa Manggarai yang agak beda dialeknya dengan dialek Ruteng, namun masih dapat saya pahami. “Dari Reo.” Jawab saya menggunakan bahasa Indonesia. Dia tak lagi mendesak dan berlalu kembali ke laut untuk berenang-renang dengan anak-anak lainnya.

Max mengajak saya untuk berenang atau sekedar berendam di laut, namun mengingat ketiadaan tempat bilas yang memadai, saya menolak. Biarlah saya duduk menatap keindahan pantai sambil online di media sosial.

liburan-ke-reo-4 (1)

Keindahan pantai membuat saya beranjak dari bawah deretan pepohonan dan berjalan sepanjang pantai. Tak ada nelayan yang sedang berlayar atau mencari lele laut seperti kemarin saat kami datang ke tempat ini bersama rombongan Romo Charly Crova, Pr. Tak ada pula anak-anak yang menawarkan pesiar menggunakan perahu untuk mengarungi pinggiran pantai. Mungkin karena saat itu liburan panjang hampir berakhir sehingga tak ada lagi orang yang datang berwisata ke sana.

Sepinya pengunjung membuat saya lebih bebas mengabadikan sebagian sisi pantai. Pasirnya yang putih, gradasi biru airnya, dan sebagian makhluk laut yang sedang terdampar ke pantai seperti seekor bintang laut yang kecoklatan. Banyak pula kerang yang merayap di atas putihnya pasir.

liburan-ke-reo-4 (2) liburan-ke-reo-4 (3) liburan-ke-reo-4 (4)

Saat kembali ke bawah deretan pohon ketapang, sebuah truk pengangkut dua sampan tiba di tepi pantai. Supirnya memarkir kendaraan di bawah pohon kelapa, tak benar-benar di bawahnya karena kemungkinan kejatuhan buahnya selalu ada. Seperti yang tampak di kanan bawah foto, sebutir kelapa teronggok di dekat kendaraan, dan hal itu cukup sering terjadi.

liburan-ke-reo-4 (5)

Tiga orang lelaki muncul dari dalam truck. Dua di antaranya berjalan beberapa puluh meter sebelum kembali dengan lelaki keempat. Mereka tidak berbicara dalam bahasa Manggarai, melainkan bahasa lain yang tak saya pahami. Kemungkinan mereka menggunakan bahasa Bima, mengingat banyak penduduk keturunan Bima yang bermukim di daerah-daerah pantai di Manggarai.

Keempatnya menurunkan dua sampan dari atas truck beserta beberapa bilah kayu. Ternyata sampan tersebut perlu dirakit dahulu sebelum diluncurkan ke laut. Salah seorang di antara mereka kemungkinan adalah perajinnya. Lelaki itu mengeluarkan peralatan, gambar, dan berdiskusi dengan calon pemilik kapal. Tak lama kemudian dia mulai melakukan perakitan pada salah satu sampan.

liburan-ke-reo-4 (6) liburan-ke-reo-4 (7)

Aktivitas pemilik perahu dan teman-temannya menarik perhatian anak-anak yang sedang bermain di pantai. Mereka bergegas mendekat, mengeringkan badan, dan segera mengenakan kaos jersey salah satu klub bola internasional. Meskipun anak-anak kampung kiranya tatakrama cukup dimengerti sehingga mereka menghormati orang yang lebih tua dengan tak menghampiri tanpa mengenakan pakaian.

Mereka bertanya pada pemilik perahu tentang orang yang ditunjuk menjagai dan mengoperasikan sampan itu. Si pemilik menyahut bahwa dia belum memutuskan siapa yang akan diserahi menghandle propertinya.

“Biar saya saja, ya Pak.” Salah seorang di antara mereka menawarkan diri.

“Tapi kau harus bertanggungjawab.” Jawab lelaki itu.

“Iya.” Salah seorang lainnya berkata. “Nanti saya akan membantunya menjaga perahu ini.”

Tak perlu perjanjian untuk menjadikan kesanggupan itu sesuatu yang resmi, mereka tahu sama tahu. Dan berpindahlah tanggungjawab menjaga dan merawat perahu itu pada anak lelaki yang mungkin baru menginjak kelas terakhir di sekolah dasar.

liburan-ke-reo-4 (8)

Setelah sebagian perangkat terpasang, mereka membawa perahu itu ke pantai. Si pemilik perahu mengetes apakah sampan tersebut dapat melaut dengan sempurna. Dicobanya dengan mengendarai beberapa meter dibantu anak-anak yang semakin excited setelah terjadinya perjanjian di antara mereka. Setelah semua beres, lelaki itu menancapkan sebilah bambu yang diikat dengan tali tambang plastik untuk menjaga agar sampan tetap berada di tempatnya.

Mereka kembali ke bawah pohon di dekat saya sambil berbincang-bincang. “Siapa namamu?” Ah, ternyata meskipun telah diserahi sampan, mereka belum saling memperkenalkan diri.

“Si A, Pak.” Jawab anak lelaki itu tanpa ragu.

“Baiklah. Kau harus menjaga perahu ini baik-baik. Bila menawarkan jasa pesiar kepada wisatawan harus sesuai dengan harga standart.” Pesannya.

“Benar.” Kata perajin kapal yang masih mengerjakan perahu lainnya. “Sekali jalan untuk satu penumpang ongkosnya lima ribu.” Katanya.

“Selama ini saya juga selalu minta bayaran lima ribu per orang.” Jawab anak itu berusaha meyakinkan dua orang dewasa di depannya bahwa dirinya sudah berpengalaman.

Setelah Max selesai berbilas usai berenang, saya ingin mencobai perahu yang baru saja dirakit. Sayangnya tak ada keberanian menaikinya karena keseimbangannya belum sempurna. Dua buah palang yang seharusnya berfungsi sebagai pelampung di sisi-sisinya belum terpasang. Lebih lagi, saya tak pandai berenang, jadi meski tak lebih dari semester dalamnya, namun potensi tercebur ke laut sungguh membuat ngeri. Karena itu cukuplah membayangkan bagaimana rasanya pesiar dengan sampan sekecil ini.

liburan-ke-reo-4 (9)

Siang semakin terik. Kami memutuskan kembali ke Reo untuk makan siang. Meski tak punya banyak pilihan tempat makan, namun satu yang pasti, kami bisa memilih menu ikan bakar dengan harga miring. Tanpa menunda lagi kami berkendara menuju Pasar Reo. Perut telah keroncongan setelah puas menikmati udara pantai yang bersih dan segar.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.