Persembahan untuk Ibu

Emi Suyanti

 

1. Surat Cinta untuk Ibu

Pagi ini aku masih menghirup aroma embun yang baru saja pergi meninggalkan daun
Ada jejak kerinduan dalam hatiku, kerinduan yang entah sampai kapan tiris dari ruang jiwaku

Rindu memeluk ibu lebih lama, rindu memijit pundak ibu yang dulu lelah menggendongku
Rindu memijit kaki ibu yang dulu lelah berjalan menemaniku berlari-larian
Rindu menyeka kaki ibu dengan air hangat
Rindu tidur di pangkuan ibu merasakan usapan tangan ibu yang lembut

Ibu bukakan pintu maaf selebar-lebarnya untukku
Hingga kini aku belum mampu membahagiakan ibu dengan sempurna
Ibu hujani aku dengan doamu agar langkah-langkah ini terasa mudah
Ibu aku mencintaimu sampai akhir nafas ini
Jangan pernah berhenti menguntai doa untukku

Saat terik mulai menyapa dedaun
Perlahan tampias hujan di mataku mulai mengering
Waktu terus melaju tak pernah ada ruang tunggu seperti gerbong kereta itu
Seperti hari-hari yang kujalani

Dari lubuk hati terdalam aku sayang ibu
Aku ingin pulang memelukmu
Sekedar meneguk teh hangat buatan ibu
Ibu engkau matahari bagiku
Pun embun untukku

 

 

2. SELAMAT HARI IBU

Ibu…
Hari ini hanyalah simbolis saja
peringatan formalitas atas cinta
sejatinya mencintai ibu
adalah setiap hari
kasih sayang kepada ibu
setiap saat yang kita lewati

Tanpa Ibu,
tentu kita tak akan seperti saat ini.
Terima Kasih Tuhan.
Terima Kasih para Ibu,
Juga para Ayah sebagai pendamping Ibu.

Ibu adalah pahlawan sejati tanpa tanda jasa. Tak pernah mengukur kasih sayangnya kepada anak-anaknya.
Hingga bergelar nenek, buyut-pun Ibu tetap mencintai anak-anaknya hingga akhir masa.

Serupa sutera,
Kasih ibu lembut tiada tara

Pangkuan Ibu
Rumah paling nyaman
Tempat pulang pada kehangatan

Seperti bunga paling cantik
senyum ibu yang selalu menarik
Meredam segala terik
Dalam jiwa yang terusik
Penat yang mencekik

Tak ada jalan yang begitu berbunga-bunga seperti jalan dihentak langkah kakimu bu
Kau adalah alasan aku ada
Keajaiban dalam hidup adalah terlahir dari rahimmu
cinta suci dan pengorbanan tulusmu

Selamat Hari Ibu bukan hanya hari ini saja
Tetapi setiap kedip mata
Ada cinta yang meretas
Merekah tak terbatas
Seperti jalan setapak tanpa ujung

 

 

3. Telapak kaki itu syurgaku

bagi : Ibunda tercinta Pamudji

Ba’da magrib hujan luruh
membasah sajadah merah
Bibirku kelu seketika
Saat bacaan ayat ke enam puluh tiga

Usai melantun ayat-ayatMu
Kakiku bergegas mengambil sebaskom air hangat
Menuju ruang tengah
Di mana ibuku menikmati senja bersama kedua cucunya

“Ibu bisa duduk di atas kursi itu?” Pintaku.

Kuraih kedua kaki ibu
Kurendam dalam air hangat
Kubasuh satu persatu
Kucuci sambil hujan air mata
Memohon maaf atas semua khilaf
Belum mampu mencipta bahagia atas ibu
Belum mampu membuat hati ibu tersenyum

Suara tangis ibu memecah senja
Diiringi hujan dari langit
Deras tarian tampias membasahi hati kami
Tak kuasa kutangisi semua dosaku pada ibu
Terucap semua doa-doa suci dari bibir ibu
Mengelus pundakku, dan membiarkan air mataku membasahi pipinya
Dalam dekapan paling erat
Setelah tiga puluh lima tahun ini

Ibu kulihat cinta di matamu yang talup
Kurasakan kasihmu yang tulus tak berbatas
Ibu kau tuhan kecilku
Telapak kakimu adalah syurga bagiku
Kutuliskan dua bait puisi untukmu, Ibu

Senja tak pernah tinggal lebih lama
selalu saja tergesa-gesa
serupa air mata yang teriris
menangisi riwayat dosa
selepas senja kubasuh kaki tuhan kecilku
minta maaf segala khilaf
senjaku paling sakral petang ini

Di antara hujan ada hujan ketika kubasuh telapak kaki syurga
tuhan kecil yang bertaruh nyawa
demi kelahiranku ke dunia
tigapuluh lima tahun
senja beranjak petang meninggalkan air mata yang tak jatuh sia-sia

 

Jakarta, Desember 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.