Risalah untuk Jhony

Chandra Sasadara

 

Sahabatku Lae Jhony

Di Balige

Semoga Kau tetap berlimpah Berkah Tuhan, aku minta maaf karena baru bisa membalas suratmu. Butuh waktu untuk menjawab pertanyaan Lae yang tidak ringan sebab dalam agama kami, bagian ini juga memiliki beragam argumentasi dan perspektif. Aku hanya menjawab apa yang aku tahu, sisahnya bisa Lae tanyakan kepada yang lebih ahli.

Syariat pada hakikatnya berpijak pada kemaslahatan manusia..Karena itu setiap persoalan yang tidak berlandaskan keadilan, kasih sayang, kemaslahatan dan hikmah bukanlah bagian dari syariat (Imam Ibnu Qayyim Al-jauziyah).

Lea Jhony kawanku…

Pluralisme merupakan pengakuan atas perbedaan terhadap keyakinan, nilai, cara dan rujukan untuk mencapai nilai tertingg kemanusiaan,ini berbeda dengan inklusivisme. Konsep yang disebut terkhir ini ingin mencari dimensi kesamaan substansi dan nilai dalam keragaman sedangkan pluralism justru mengakui perbedaan/keragaman sebagai realitas agama-agama dan berkeyakinan.

Menurut Diana L. Eck dalam buku A New Religion America : How a Cristian Country : Has Become the World’s Most Religiously Diverse Nation. Ada tiga point penting yang terkandung dalam pluralism.

Pertama, pluralisme sebagai bentuk keterlibatan aktif (active engagement) di tengah keragaman dan perbedaan. Dalam konteks ini pluralism tidak sekedar mengakui perbedaan dan keragaman namun juga merangkai keragama untuk tujuan kemanusia dengan melibatkan banyak latar belakang dan asal usul agama.

Kedua, pluralisme lebih dari sekedar toleransi. Dalam toleransi melahirkan kesadaran tentang pentingnya menghargai orang lain. Namun pluralism melampaui hal tersebut sebab pluralism merupakan upaya untuk memahami perbedaan dengan pemahaman yang konstruktif (constructive understanding). Dalam konteks ini pluralism bisa dimengerti sebagai bentuk toleransi active yang bertujuan untuk meningkatkan kesepahaman di tengah perbedaan dan keragaman (mutual understanding).

Ketiga, pluralisme bukan relativisme sebab pluralisme bermaksud untuk menemukan komitmen bersama (encounter commitments). Di sini keragaman tetap dipertahankan dan tidak hendak dihilangkan karena paham ini menghargai komitmen kebenaran pada setiap agama dan teologi yang dianut. Dengan begitu pluralism bisa menjadi “mesin pendorong” bagi kerukunan, toleransi, kebersamaan dan kemanusiaan.

Namun apa yang ditulis oleh Diana di atas bukan tanpa tantangan. Menurut Isiah Berlin dalam On Pluralism, dalam praktiknya pluralism mengahdapi dua kendala. Pertama, monism yaitu paham yang menganggap “hanya ada satu nilai kebenaran” sedangkan nilai lain dianggap salah. Kedua, relativisme yaitu paham yang menganggap setiap nilai adalah benar.

Menurut penulis buku On Pluralism, kedua paham tersebut bukan pluralism karena keduanya menafikan aspek sosiologis masyarakat tentang adanya perbedaan ide, budaya dan tabiat masayarakat. Agama-agama yang terjebak dalam kedua paham tersebut tidak akan melahirkan pandangan kemanusiaan.

Jadi pendeknya pluralism adalah bentuk penghargaan terhadap perbedaan untuk mendorong terciptanya kehidupan yang saling menghargai, berkeadailan, maslahat dan penuh kasih sayang seperti yang dikatakan oleh Imam Ibnu Qoyyum di atas. Itulah mengapa di awal tulisan ini diiutip pernyataan imam besar tersebut dalam kitab I’lam Al-muwaqqi’in an’ Rabb Al-Alamin.

 

Lae Jhony sabahatku…

Dalam Al-Maidah 48 disebutkan bahwa untuk setiap-tiap umat di antara kamu, kami berikan syir’ah dan manhaj. Ayat ini di jelaskan oleh Al-Thabari dalam Kitab Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ayi al-Quran bahwa masing-masing umat ditetapkan sabil (jalan/aturan) dan sunnah (tradisi) yang berbeda-beda. Pendapat Al-Tahbari tersebut dikutif dari tafsir generasi Tabi’in yaitu Imam Qatadah. Imam Qatadah sendiri mengatakan bahwa “Al-Addin wahid wa al syari’ah mukhtalifah” (Din itu hanya satu sedangkan syari’ah itu berbeda-beda).   Pertanyaanya apa perbedaan al-Din dan al-syariah?

Dalam kitab yang sama Imam Qatadah yang dikuatkan oleh Imam al-Thabari menjelaskan bahwa al-din adalah keyakinan tauhid (monoteis) yaitu pengakuan terhadap keesaan Allah. Padangan ini sejalan dengan penjelasan Al-Syarastani dalam Kitab Al-Milal wa Al Nihal bahwa al-din merupakan ketaatan dan ketundukan (al-inqiyah), pembalasan dan perhitungan pada hari akhir. Pendeknya al-din merupakan keyakinan terhadap keesaan Allah sedangkan al-syari’ah adalah jalan, metode, cara dan aturan. Syaikh Mahmud Syalthout mengatakan bahwa dua kategori tersebut bisa katakan sebagai aqidah dan syari’ah.

Elaborasi di atas ingin menjelaskan bahwa ada sesuatu yang pokok yaitu al-din dan ada bagian yang beragam (plural) yaitu syari’ah. Dalam pengertian ini kita bisa meletakkan perbedaan cara, metode, jalan dan aturan sebagai sesutu yang niscaya dan menjadi dasar bagi berbagai bentuk upaya membangun kerukunan, penghargaan dan kemanusiaan.

Al-Quran Surah Al-Alma’idah ayat 48 mengakatan “sekiranya Allah mengehendaki niscaya kamu dijadikan satu umat, tapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya. Maka berlombalah dalam kebajikan..”. Dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 juga menyebut hal yang kurang lebiih sama yaitu Allah menciptakan berbangsa, bersuku supaya saling mengenal dan orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Surah Al-Rum ayat 22 juga menyebutkan bahwa salah satu bukti kebesaran dan kebijakan Allah adalah menciptakan langit-bumi, keragaman bahasa dan warna kulit. Muhammad Thahir Ibnu Asyur dalam Kitab al-Tsawabut wa al-Muthagayyirat mangatakan bahwa “perbedaan bahasa” yang dimaksud dalam ayat itu adalah perbedaan dalam berpikir dan berekspresi.

 

Lae Jhony Saudaraku…

Tiga ayat dari tiga surah yang berbedah tersebut mengajarkan empat hal kepada manusia. Pertama, bahwa perbedaan merupakan cara Allah untuk mendorong agar manusia berlomba melakukan perbuatan baik bukan kerusakan (Al-Alma’idah ayat 48 ). Penjelasan ini juga menegaskan bahwa perbedaan agama dan keyakinan tetap diberikan peluang oleh Allah untuk berbuat baik. Oleh karena itu kebaikan dan kebajikan bukan klaim sepihak agama dan keyakinan tertentu, sebab untuk apa Allah mendorong “berlomba dalam kebaikan” kalau Allah tidak bermaksud untuk membalas kebaikan tersebut .

Kedua, bahwa perbedaan merupakan “arena lomba” di hadapan Allah tentang “siapa yang paling mulia dan bertaqwa” (Al-Hujurat ayat 13). Kita tidak mendapati pengertian yang diskriminatif dalam ayat tentang “orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa” di antara laki-laki, perempuan, bangsa-bangsa dan suku-suku.

Ketiga, bahwa perbedaan merupakan cara Allah untuk mendorong manusia saling memahami (mutual understanding) dengan pemahaman yang membangun (constructive understanding) (Al-Hujurat ayat 13). Oleh karena itu perbedaan tidak seharusnya menjadi pemantik permusuhan tapi menjadi amunisi penciptaan hubungan kemanusiaan dalam kehidupan.

Keempat, bahwa perbedaan seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang yang mengerti (Al-Rum ayat 22). Hanya manusia yang memiliki pengertian konstruktif (li al-alimin/ulu al-ilmi) terhadap terhadap saja yang bisa memahami bahwa hal tersebut merupakan tanda-tanda kemahabesaran dan Kemahabijaksaan Allah.

Sebagai penutup dikutipkan Al-qur’an Surah Al-Hajj ayat 40, “sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia tentu telah dirobohkan biara Nasrani, gereja-gereja, rumah ibadah Yahudi dan masjid-masjid di mana di dalamnya disebut nama-nama Allah..”. Ayat ini mengajarkan bahwa perbedaan harus tetap dijaga (termasuk symbol keagamaan dan keyakinan) tanpa terjebak dalam pikiran merasa paling benar (monism) dan menganggap semua benar (relativisme). Perbedaan adalah bagian dari tanda Kebesaran Allah sedangkan kebenaran hakiki merupakan Hak Mutlak-Nya dan kita hanya berlomba untuk mecapai derajat mulia di Sisi-Nya.

Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2015 Kawan.

Sampaikan salam hangat keluarga besar kami buat keluarga besarmu di Simalungun. Semoga tetap dalam Kasih Tuhan.

Sahabatmu di Yogyakarta;

Thoriq Abbas

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *