[Cerita Rakyat Buttasalewangang] Bulusipong

Hajrah Kadir

 

Kata Bulusipong terdiri dari dua kata, yakni bulu dan sipong. Bulu artinya gunung, sedangkan sipong artinya satu atau sendiri. Jadi, bulusipon adalah gunung yang berdiri sendiri. Bulu sipong dapat ditemui desa AlatengngaE. Bulusipong sendiri menyimpan cerita yang dipercaya oleh masyarakat yang ada di sekitarnya.

Sebuah rumah panggung berdiri tegar dan kokoh di kaki sebuah gunung. Dilihat dari bahan yang digunakan, seluruh bagian rumah terbuat dari kayu-kayu pilihan. Atapnya terbuat dari genteng, anak tangganya berjumlah      13 buah, dindingnya terbuat dari kayu yang telah diplitur. Dari jauh, rumah itu seperti sebuah rumah seorang bangsawan. Rumah itu terpisah dari rumah penduduk lainnya. Di rumah itu. tampak seorang perempuan sedang melakukan aktifitasnya, yakni menenun. Perempuan itu tinggal di rumah itu sendirian.

Menurut cerita, dia diasingkan oleh kedua orang tuanya karena penyakit kulit. Dia adalah anak semata wayang seorang raja yang berkuasa di kerajaan Bunga Ejayya. Tidak diketahui penyebab penyakit kulit itu. Atas desakan penduduk desa Bunga ejayya, maka kedua orang tuanya sepakat untuk mengasingkannya. Menurut mereka, jika sang putri tidak diasingkan, maka penyakit tersebut akan berjangkit pula ke masyarakat yang lain.

Sang raja memerintahkan untuk membuatkan sebuah rumah panggung yang besar untuk putrinya di kaki gunung. Akhirnya rumah itupun selesai. Dengan berat hati, kedua orang tuanya harus melepaskan sang putri. ”Hati-hatilah di daerah itu” kata sang bunda. ”Semua kebutuhanmu telah disiapkan, jika masih kurang, kamu bisa menyuruh pengikut setiamu”, Kata Sang Raja kepada putrinya sebelum meninggalkan istana. Pengikut setia yang dimaksud adalah seekor anjing belang tiga yang merupakan jelmaan seorang laki-laki yang dikutuk karena melanggar susila di kerajaannya. Anjing itu bernama La Bellang. ”Jika La Bellang datang, kami sudah tahu bahwa kamu butuh bantuan”, lanjut Sang Raja.

Akhirnya, Sang putri meninggalkan kerajaan yang penuh kemewahan, menuju daerah yang masih asing baginya, dan tak diketahui berapa lama sang putri menjalani pengasingannya. Dengan tetesan air mata, Sang putri bergerak semakin jauh meninggalkan istana dan semakin dekat dengan daerah pengasingan. Semakin dekat dengan daerah pengasingan, semakin derasan linangan air matanya. Akhirnya sampailah sang putri ke tujuaannya.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, sang putri menjalani hidupnya hanya ditemani oleh La Bellang. Dengan setianya La Bellang menunggui dan menjaga tuannya. Sang putri tidak pernah menuruni tangga rumahnya. Karena semua perlengkapan dan kebutuhan sehari-harinya telah disiapkan. Untuk menghindari kejenuhannya, maka sang putri menenun. Tentunya hasil tenunan itu dipakai sendiri bukan untuk dijual. Setiap kali menenun, La Bellang menjaganya.

Karena asyiknya menenun, sang putri tak menyadari kalau gulungan benangnya terjatuh. Sang putri kebingungan. Ia tak tahu mau meminta tolong kepada siapa. Yang ada di sekitarnya hanyalah seekor anjing, yang tak mungkin dapat mengambilkan gulungan benangnya. Dalam kebingungannya, sang putri berucap: ”Ambilkan gulungan benangku”. La Bellang menganggap pasti dirinyalah yang diperintahkan untuk mengambil gulungan benang itu.

Setelah berkata demikian, La Bellang segera berlari turun untuk mengambil gulungan benang tersebut. Namun, tanpa sepengetahuan La Bellang, tuannya tiba-tiba berubah menjadi batu. Sungguh suatu keanehan.

Ketika La Bellang kembali ke tempatnya semula, ia tidak lagi mendapatkan tuannya, yang ada hanyalah sebongkah batu yang berbentuk manusia. La Bellang terus mencari dan mencari namun tua tak kunjung ditemui.

Karena tuannya tak kunjung ditemukan, maka La Bellang pun berlari menuju istana memberitahukan kejadian tersebut kepada Sang Raja dan Permaisuri. La Bellang terus berlari dan terus berlari. Akhirnya sampailah La Bellang di istana. Dia melaporkan semua kejadian yang dialami dan dilihatnya.

Betapa pedih dan sedih hati Raja dan permaisurinya. Anak semata wayangnya berubah menjadi batu. Rombongan kerajaan Bunga Ejayya pun berangkat menuju kediaman Sang Putri di kaki gunung. Sesampai di rumah sang putri, permaisuri dan raja langsung memeluk bongkahan batu tersebut sambil menangis. Mereka tak percaya semua yang dilihatnya.

Sang raja langsung memerintahkan kepada pengawalnya untuk memotong kerbau sebagai tanda berduka yang sangat dalam atas meninggalnya sang putri. Mereka memotong ”tedong bolong” yang berarti kerbau hitam. Ketika kerbau itu dipotong, mereka menyuruh kerbau itu berlari, kerbau itu pun berlari. Kepala kerbau tertinggal di bulusipong, ususnya di Cabelong, sedangkan kepalanya di bukit Tamanngura.

bulusipong

Sampai sekarang dapat ditemui kepala kerbau yang sudah membatu tersebut berada di bulusipong. Sedangkan badan kerbau yang juga telah membatu, ditemukan juga di Tamanngura.

Seiring perputaran waktu, rumah sang putri pun berubah menjadi batu. Rumah sang putri yang telah berubah menjadi batu, berdiri sendiri di tengah-tengah persawahan. Penduduk memberikan nama BULUSIPONG, yang berarti gunung yang berdiri sendiri. Dalam gunung itu ada sebuah gua, dan di dalam gua tersebut ada bongkahan batu yang berbentuk seorang perempuan yang sedang menenun, dialah sang putri raja yang telah berubah menjadi sebuah batu.

~Sekian~

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.