Lubang-lubang di Tubuhku (1)

Rini Widya Sumardi

 

Di dadaku, timbul sebuah lubang kecil. Di tengah-tengah di antara payudara. Ada hal yang tidak aku ketahui, lambat laun lubang itu timbul di mana-mana. Sebuah lubang timbul di kepala. Tidak besar, tapi seperti sangat dalam.

Dari lubang dadaku, keluar huruf-huruf. Acak. Sebuah nama berhasil kususun; nama ibuku. Kemudian dari lubang dadaku, segala sesuatu keluar, merembet masuk ke lubang kepala. Kerap kali aku perhatikan benda-benda aneh keluar masuk dalam tubuhku. Lewat lubang-lubang di sekujur badan.

Benda-benda itu memilih sendiri lubang yang dituju. Ada yang menuju lubang di kepala, ada yang menuju ke lubang dada.

Seperti sesaat tadi, aku melihat sepeda di masa kanak. Kecil, beroda tiga. Satu roda di depan, dua lainnya ada di belakang. Pedal menempel pada roda depan. Warnanya hitam bergaris biru, sepeda peninggalan pamanku.

Sepeda yang lengkap dengan ‘hon-hon’. Aku sangat menyayanginya. Bahkan, pernah suatu waktu, aku membawanya naik ke ranjangku. Ibu marah dan mencubit paha kananku. Selalu paha sebelah kanan. Entah mengapa ibu lebih suka yang kanan. Aku belum sempat menanyakan.

Sepeda itu berjalan pelan menuju lubang dadaku. Seperti ada benang yang menariknya masuk. Benang dari dalam dadaku. Ketika aku mengintip, dari lubang lengan kiriku, aku melihat benda-benda masa kanak tertata rapih. Ayunan bekas ban vespa ayah, aneka tembikar mainan, juga gaun bekas kakak perempuanku. Warnanya biru langit. Ada renda-renda di bagian bawah dan ke dua lengannya.

Dari lubang jari yang menyentuh kertas-kertas pagi ini, keluar aneka kalimat. Aku kurang menyukai kalimat itu, tapi entah mengapa justru merambat cepat masuk pada lubang kepalaku. Aneh sekali.

Kerap kali benda-benda bertukar tempat. Dari lubang dada masuk ke lubang kepala; benda-benda dan nama-nama. Aku kadang gelisah, memikirkan keanehan yang terjadi pada tubuhku. Kerap kali di depan cermin, kuperhatikan lubang-lubang itu. Mereka tampak sibuk hilir mudik dari lubang ke lubang, menaruh dan mengambil sesuatu.

lubang1

Kadang lubang-lubang itu tampak jelas, terkadang hilang tanpa bekas. Entahlah. Aku mulai terbiasa. Justru, kini sangat terhibur karenanya.

 

Note Redaksi:

Rini Widya Sumardi, selamat datang dan selamat bergabung di BALTYRA. Semoga betah dan kerasan ya…ditunggu tulisan-tulisannya yang lain. Terima kasih kepada Dewi Aichi yang memperkenalkan BALTYRA kepada Rini Widya Sumardi.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.