Menikmati Nias (3): Alunan Tano Niha

Handoko Widagdo – Solo

 

Tano Niha banua somasido – Pulau Nias Pulau yang kucinta

Tano situmbu ya’o fona – Tanah tempat ku dilahirkan

He mukoli ndra’o bazarou – Walau ku jauh di rantau orang

Balo olifudo sa’ia – Namun kau tetap kukenangkan

Tano si tumbu do – Pulauku Niasku

Mohili wa’ebolo ndraso – Sawah ladang luas menghijau

So nugoni dano bambowo – Pohon nyiur sepanjang pantai

Fasui asi sebolo – Menambah keindahan.

Lagu Tano Niha mengalun dari guru-guru di tempat pelatihan. Ibu Telaumbanua memimpin teman-temannya menyanyikan lagu nan amat indah ini. Suara Ibu Telaumbanua yang jernih melengking ditimpa oleh suara sopran alto dan bas dari guru-guru lain membuat lagu ini bermetamorfose menjadi sebuah simponi nan indah. Ritmenya mengalun bagai ombak yang mengatar kapal menuju pulau. Sedangkan melodinya bagai air yang memercik di lambung perahu. Alunan lagu Tano Niha membawa pergi segala penat di badan saya. Saya bahkan meminta mereka untuk mengulang lagu indah tersebut saat upacara penutupan pelatihan. Lagu Tano Niha telah tertanam di bawah sadarku. Pagi, siang, malam, bahkan saat tidur lagu ini terus terngiang di kepalaku.

lompat-batu-nias (1) lompat-batu-nias (2) lompat-batu-nias (3)

Saya disambut dengan tarian Ma’owai Tomema, sebuah tarian selamat datang. Penarinya terdiri atas gadis-gadis dan pemuda-pemuda yang berpakaian adat. Seorang penari mendatangiku menyodorkan sirih pinang. Sebagai rasa hormat, saya segera mengunyah sirih pinang yang disajikan. Wajah saya menjadi segar karena aliran zat yang ada di sirih pinang yang mulai mengalir bersama darah ke pipiku.

lompat-batu-nias (4) lompat-batu-nias (5) lompat-batu-nias (6) lompat-batu-nias (7)

Setelah tarian selesai, kami disuguhi atraksi lompat batu. Mula-mula seorang ‘prajurit’ mengecek kesiapan batu tumpuan. Setelah semuanya beres, para prajurit lainnya segera melakukan lompatan ke atas batu yang tingginya kira-kira 170 cm. Mula-mula lompatan berjalan lambat, namun makin lama makin cepat. Bahkan saat seorang prajurit baru saja mendarat, prajurit lain sudah berada di atas batu. Saya khawatir mereka akan saling tunjang. Namun ternyata mereka adalah para prajurit yang sudah profesional dan terlatih. Atraksi lompat batu semakin seru saat ketinggian batu ditambah dengan seorang prajurit yang tidur menelungkup di atasnya.

Oh Nias dikau telah mencuri cintaku. Pantaimu telah memikat hatiku. Rumah adatmu telah mengikat mataku, tarian dan keramahan pendudukmu telah menambat bidukku sehingga tak bisa lagi pergi. Aku jatuh cinta.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.