Pablo Mesh San Jose San Pablo

Ki Ageng Similikithi

 

Saya begitu terkesan akan penampilannya yang  tenang dan berwibawa. “My name is Pablo Mesh San Jose San Pablo”. Berkaca mata hitam.  Rambut berombak tersisir licin, ketat  dan rapi ke belakang.  Memakai jas warna biru, dan di bawahnya  memakai kaos panjang dengan leher tinggi. Mengingatkan saya akan penampilan Carlo Ponti, produser film Italia, suami  Sophia Loren, atau tycoon Aristotle Onassis, yang pernah mempersunting Jackqueline Kennedy.  Itu awal perkenalan  saya dengan Pablo Mesh, seorang guru sekolah dari  Belize, yang sedang menjalani pendidikan tambahan sebagai guru di New Castle, Inggris. Sudah beberapa hari saya melihatnya di ruang makan, asrama Castle Leazes Hall of Residence di pertengahan Januari 1980 yang dingin. Tetapi baru pagi itu, di suatu Sabtu pagi, kami sempat berkenalan dan bertegur sapa.

Terasa aneh mendengar dia menyebut namanya, Pablo Mesh San Jose San Pablo. Nama sebenarnya Pablo Mesh. San Jose San Pablo adalah nama distrik dimana dia tinggal dan bekerja sebagai kepala sekolah dasar di sana. Nggak tahu alasan mengapa dia senang menyebut nama distrik tempat tinggalnya saat memperkenalkan diri. Mungkin hanya kebiasaan saja. Tetapi mungkin juga karena jabatan kepala sekolah sangatlah disegani di sana.Ternyata saya juga punya kebiasaan seperti itu secara tidak saya sadari. “My name is Santoso from Yogyakarta”, saat berkenalan seolah menganggap semua orangtahu mana itu Yogyakarta.

Saya baru beberapa hari tiba di Newcastle upon Tyne untuk menjalani program doktor dengan beasiswa Rockefeller. Pablo Mesh seperti kebanyakan mahasiswa memulai term pada bulan Oktober tahun 79. Saya sengaja minta mundur 3 bulan oleh karena masih harus menyelenggarakan Southeast Asian and Western Pacific Regional Meeting of Pharmacologists pada bulan Oktober 79, sebagai sekretaris eksekutif. Saya  lulus dokter di akhir tahun 75 dan bekerja sebagai asisten sejak 1977, dan langsung mempersiapkan pertemuan tersebut. Tidak mungkin saya tinggal pergi.

Tiba di New Castle pertengahan Januari 1980, pas musim dingin yang menggigil, sore hari. Malamnya menginap di suatu hotel kecil di Jesmond. Paginya mendaftar ke Registrar di Fakultas Kedokteran dan menemui Ms. Bagnell, student advisor, yang mengurusi akomodasi mahasiswa. Saya ditawari  kamar di Post Graduate House, Castle Leazes. Cuma ketika saya melihat ke sana, ada bau yang sangat menyengat berasal dari kamar mandi. Saya paham betul bau itu pasti berasal dari seseorang yang  menderita gangguan genetik dalam metabolism, tidak mempunyai enzim yang berfungsi untuk  konjugasi senyawa asing.

Baru kemudian saya tahu, orang tersebut adalah guru yang berasal dari Tanzania. Melihat keraguan saya, Ms. Bagnel menawarkan kamar kosong di gedung seberang,  di lantai dasar, persis di pojok yang strategis. Di depan kamar saya ada kolam yang asri. Castle Leazes adalah kompleks asrama yang besar dengan penghuni hampir 1000 orang mahasiswa.

Sesudah perkenalan dengan Pablo pagi itu, saya masih ingat kami bersama jalan-jalan ke pusat kota yang hanya berjarak kurang dari satu kilometer  dari asrama tempat kami tinggal. Dia selalu bersama dengan dua orang temannya dari Amerika Latin, yang tegap-tegap, memberikan kesan seolah mereka adalah para pengawal pribadi Pablo yang selalu berpakaian jas rapi. Masih ingat reaksi kagetnya  ketika saya membeli cerutu di Marks Spencer. Anda seorang dokter, mestinya tidak usah merokok. Budaya merokok masih merajalela waktu itu. Supervisor saya juga perokok cerutu yang setia.

Saya mempunyai kesan kuat bahwa Pablo adalah seorang yang religius dan alim. Sering cerita tentang keluarganya, putra putri enam orang, masih kecil-kecil. Di suatu akhir pekan, saya ingat kami berempat nonton film ‘The Deer Hunter”, film yang menceritakan sahabat sahabat yang menjalankan dinas militer di Viet Nam. Kemudian dia banyak bicara tentang agama, humanisme dan teologi pembebasan. Nggak begitu jelas buat saya.

Kaca mata gelapnya memberikan kesan angker dan berwibawa.Tetapi dia memakai kacamata itu karena ada sedikit cacat di matanya. Ada bercak keputihan yang menutup korneanya. Kesan angker dan wibawanya sedikit berubah ketika di suatu akhir pekan, sesudah masa ujian, para penghuni asrama menyelenggarakan pesta musik dan tari. Pablo yang semula malu-malu ternyata sangat menikmati dan tenggelam dalam hingar bingar pesta itu. Kami berkenalan dengan seorang penghuni  asrama putri dari Hongkong. Lupa namanya. Tidak terlalu istimewa. Hanya Pablo begitu tergila-gila padanya. Sering menyanyikan lagu lagu cinta dalam bahasa Spanyol, yang saya tidak begitu tahu maknanya.

Suatu Minggu siang yang sejuk dan  tenang di musim semi. Kira kira jam 3.  Saya baru membaca baca surat dari Yogya, ketika ada ketukan di pintu. Ternyata Pablo Mesh. Nampak sangat necis dengan setelan jas warna gelap, dan kaos berleher tinggi warna hitam. Nampak sangat ceria, bersiul siul. “Come with me Budi”. Dia minta saya menemaninya untuk menemui gadis Hong Kong di gedung seberang. Masih satu kompleks, beda gedung. Apakah sudah janjian? Dia mengiyakan. Wah mantap juga dia berani janjian sama gadis. Nggak ada niat, nggak ada nyali dari saya. Tiap malam selalu mengenang anak-anak di Yogya, Aryo sama Wisnu, yang baru berumur 4 dan 2 tahun.

Sampai di gedung seberang kami mudah menemukan kamar gadis itu. Saya sangat deg-degan saat itu, meski sebenarnya nggak langsung terlibat.Tetapi Pablo begitu tenang, bernyanyi kecil sambil memasukkan ke dua tangan dalam saku celana. Ketika kami temukan nomer kamarnya, kami langsung mengetuknya. Agak lama mendapat jawaban. Saya usul ke Pablo sebenarnya untuk mengajaknya turun ngobrol di ruang tamu saja. Ketika pintu terbuka, gadis itu ternyata masih berpakaian pakaian tidur, baru saja terbangun dari tidur siangnya.

Pablo terlibat dalam percakapan yang mengasyikkan di muka pintu. Gadis itu berdiri sambil memegangi daun pintu, rambut tergerai bebas. Pakaian tidurnya tipis menerawang. Nampak seksi meski rambutnya awut-awutan. Percakapan yang nampaknya asyik ternyata tidak berlangsung lama. Saya juga tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Tiba-tiba saja Pablo mengambil harmonika dari dalam sakunya, memainkannya sambil mendendangkan bait-bait lagu secara selang seling. Lagu Spanyol yang indah.  Saya bisa melihat, gadis itu terkesima dan memerah wajahnya. Saya tidak kalah terkejut. Ketika penghuni tetangga kamar mulai terusik dan membuka pintu kamar masing-masing, si gadis itu nampak malu sekali. Dia tutup pintu sambil bilang “I am sorry”.

Wajah Pablo berubah mendadak dan kami kembali turun ke kamarsaya. Baru dia bercerita, kalau kebiasaan di Amerika Latin, jika seseorang mengagumi seorang wanita secara tulus, dia harus mau menyanyikan lagu pujaan. Istilahnya serenade yakni lagu yang dinyanyikan di luar di bawah jendela wanita pujaan di waktu malam, terutama bulan purnama. Ini makna dari serenade:

serenade

“Music sung or performed in the open air at nights; — usually applied tomusical entertainments given in the open air at night, especially by gentlemen,in a spirit of gallantry, under the windows of ladies” (http://artikata.com/arti-163846-serenade.html) . Pablo nampak terpukul sekali. Bukan karena serenadenya ditolak semata-mata.Tetapi karena dia melanggar tiga aturan tradisi. Nyanyi  di dalam ruangan, harusnya di luar. Nyanyi di muka pintu, harusnya di bawah jendela. Dan yang ketiga nyanyi sore hari, harusnya malam hari. Lokasi asrama di gedung tinggi memang tidak memungkinkan menuruti aturan itu seperti di San Jose San Pablo waktu itu.

Hari-hari berikutnya  nampak normal-normal saja. Pablo kembali diam seperti dulu saat saya mengenalnya pertama kali. Berita serenade  itu juga beredar ternyata. Beberapa teman dari Hongkong tanya ‘What stupid thing has happened?’. Saya tidak bisa menjelaskan apa-apa. Gadis itu yang sebenarnya juga saya kenal, juga menumpahkan kejengkelannya ke saya. Tidak mau menyapa lagi seperti biasanya.

Menjelang  akhir program di bulan Mei, Pablo banyak di kamar saya. Dia minta saya membantunya membetulkan tesisnya karena ada koreksi dari pembimbingnya. Dia tidak bisa mengetik, naskah tesisnya diketikkan di tukang ketik.  Insiden serenade itu ternyata sudah dilupakannya. Jika tidak salah dia pulang akhir bulan Juni. Saya mengantarkannya ke bandara. Matanya berkaca ketika memeluk saya. “Moga-moga kita bisa bertemu lagi Budi, kamu mungkin akan  punya kesempatan datang ke San Jose, San Pablo. Saya sama sekali tidak akan punya kesempatan ke Yogyakarta”. Adios amigo, adios Pablo Mesh, San Jose, San Pablo. Sudah berlalu hampir tiga puluh lima tahun.

 

Salam damai dan selamat Natal

Ki Ageng Similikithi

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.