Lamunan Pagi Hari

Wesiati Setyaningsih

 

Hari Senin sudah datang lagi. Minggu depan anak-anak sudah harus menjalani ulangan akhir semester jadi semua materi mesti segera diselesaikan. Guru lain juga pasti begitu. Bu Yaya dan Bu Budi, keduanya guru Matematika dan tempat duduknya di ruang guru di depan saya, mengeluh karena masih satu bab lagi yang belum sempat dibahas.

Hampir tiap hari mereka mengeluhkan betapa susahnya anak-anak diajari materi Matematika. Saya maklum karena materi Matematika SD saja sudah jauh lebih sulit dari materi yang saya terima di SD dulu.

Saya masih ingat Pak Panto, Kepala Sekolah saya di SD dulu, sering masuk di kelas saya waktu saya kelas enam. Guru kelas saya sibuk mengurus administrasi sekolah karena di SD tidak ada tenaga tata usaha jadi urusan administrasi sekolah dikerjakan para guru. Kelas saya jadi sering kosong ditinggalkan maka Pak Panto yang masuk kelas saya.

Pak Panto yang kalau bicara keras itu suka memberi ulangan dadakan mencongak yaitu soal lisan yang jawabannya harus ditulis segera. Beliau mengucapkan soal perkalian, lalu kami harus segera menuliskan jawabannya hanya dalam beberapa detik. Ketika waktu habis, beliau memukulkan penggaris kayu ke meja. Jelas kami semua kaget-kaget. Belum habis kekagetan kami, beliau menyebutkan soal berikutnya. Begitu seterusnya. Tapi buat saya itu lebih asyik daripada materi yang dijelaskan guru saya tentang bangun ruang.

Jaman sekarang, mana ada kelas enam SD diberi soal perkalian dengan mencongak seperti itu? Materinya sudah maju sangat jauh daripada sekedar perkalian. Dan lagi memberikan soal mencongak begitu sepertinya dianggap makan waktu. Lebih banyak guru yang memberikan soal banyak-banyak lalu menyuruh siswa mengerjakan. Kemudian dicocokkan. Selesai.

Saya menghela nafas panjang sambil menatap anak-anak yang sedang sibuk mengerjakan soal ulangan yang saya berikan. Sebagai guru saya tidak yakin apakah materi yang saya ajarkan ini akan berguna bagi hidup mereka. Saya justru lebih suka memberi nasehat, ngobrol ngalor ngidul, atau memberi tugas yang bisa dibuat senang-senang seperti Dream Book.

Anak-anak selalu tenang mendengarkan kalau di awal pelajaran saya bilang, “sebelumnya saya mau cerita dulu ya…” dengan girang mereka berteriak, “yaaa…!”

Lalu saya menceritakan kisah yang bisa diambil hikmahnya untuk kehidupan mereka. Ketika saya mengakhiri cerita saya, mereka menggumam kecewa. “Cerita lagi aja, Bu…” pinta mereka. Karena kalau saya berhenti cerita, itu artinya saya akan mulai menjelaskan materi.

Bagaimanapun saya punya tanggung jawab materi yang harus saya sampaikan. Andai saja saya bisa berbuat lebih baik dari saat ini, keluh saya dalam hati, saya ingin mereka belajar dengan suka cita. Tidak dengan cara saya yang membosankan seperti selama ini.

Saya melangkah ke pintu dan memandang lapangan upacara yang cukup luas. Sekolah ini memang memiliki lahan yang luas. Pohon-pohon yang rindang  di sana sini biasa menjadi tempat untuk ngobrol di bawahnya.

Saya mengajak anak-anak ke sana duduk melingkar di bawah sementara saya duduk di tengah. Saya membacakan puisi dan menjelaskan makna puisi tersebut. Sesekali anak-anak tertawa atau komentar. Lalu saya bagikan kertas berisi puisi-puisi yang berbeda. Saya minta mereka membaca dan memahami puisi masing-masing. Kami jadi berdiskusi tentang makna kata yang tersirat dalam puisi. Kemudian mereka bergantian membaca puisi yang ada di tangan mereka. Tak terasa 2 x 45 menit berlalu begitu saja.

Di sisi lain lapangan, seorang guru Fisika sedang menjelaskan dengan menggunakan alat peraga. Entah dia menjelaskan apa, saya tak tahu tapi anak-anak sangat antusias melihat saat dia memberi contoh di tengah sementara sekitar lima belas anak mengelilinginya. Lalu masing-masing anak mencoba dengan gembira.

Di kelas lain anak-anak sedang menyaksikan video tentang pembelahan sel. Setelah itu mereka bertanya pada gurunya tentang hal-hal yang tidak mereka pahami dari video tadi. Gurunya menanyakan apakah ada anak lain yang bisa menjawab pertanyaan temannya, lalu dia merangkum dengan panjang lebar.

Di kelas lain anak-anak sedang mendiskusikan bagaimana memilih pemimpin dengan menggunakan games. Mereka sedang belajar tentang demokrasi. Semua anak semangat memberikan pendapat namun saling menghargai dan tertib. Tidak ada yang saling potong pembicaraan, tapi meminta waktu untuk bicara baru kemudian menyampaikan pendapatnya

Saya tersenyum. Beginilah situasi sekolah yang saya inginkan. Tidak ada guru yang menganggap murid sebagai warga kasta sudra sementara mereka adalah kastra brahmana. Semua guru merasa mereka adalah teman yang menemani perjalanan siswanya dalam mencapai pemahaman sebaik yang mereka bisa.

Tidak ada guru yang tertekan karena masalah materi karena sebelum tahun ajaran dimulai dewan guru sudah menetapkan kurikulum untuk sekolah mereka sendiri. Semua materi ditentukan oleh gurunya sendiri dan bukan oleh pemerintah. Setiap tahun ada evaluasi dari pemerintah yang sama untuk semua daerah di seluruh negeri sehingga baik daerah yang terpencil maupun di daerah maju, semua mampu mengerjakan evaluasi tersebut dengan baik tanpa ada bocoran soal dan jawaban.

Karena pelajaran yang menyenangkan dan materi yang tidak terlalu membebani, murid-murid tidak lagi memerlukan bimbingan belajar. Semua pelajaran di kelas sudah mampu diserap dengan baik sehingga anak-anak merasa tenang. Orang tua mereka juga tidak panik lagi mencarikan guru les atau bimbel yang bagus.

Tiap tahun guru mendapat penyegaran semacam workshop untuk memperbaiki cara mengajar mereka. Tidak hanya dari segi pengayaan materi, namun juga secara mental mereka dibina agar menjadi pribadi yang tangguh sekaligus menyenangkan dan mencintai pekerjaan mereka sepenuh hati.

Bel ganti pelajaran berdering. Saya tersadar bahwa waktu untuk mengerjakan ulangan sudah habis. Beberapa anak sudah berdiri untuk mengumpulkan soal yang tadi saya berikan. Ternyata saya tadi sedang melamun.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.