Beras

Anwari Doel Arnowo

 

Kita mulai saja dengan humor kecil yang pernah saya baca, di mana, entahlah saya lupa. Begini: Kalau ada fosil hewan ditemukan maka akan diteliti banyak bagian dari tubuhnya, maka akan kelihatan juga peralatan tempat memamah makanannya, antara lain yaitu gigi di dalam mulutnya. Terlihat dari susunan giginya inilah maka jenis hewan bisa digolongkan termasuk pemakan daging seperti hewan berkaki empat, atau pemakan tepung-tepungan atau dedaunan sayur-sayuran seperti unggas.

Itu bisa dilihat dari giginya tadi, gigi asu atau taring, gigi kapak yang pada manusia terletak di bagian depan mulut. Yang bisa dipakai sebagai alat penghancur makanan sebelum layak ditelan ke arah lambung. Gigi taring biasanya dimiliki  pemakan daging untuk merobek-robek daging yang dimakannya. Gigi geraham untuk menghancurkan daun-daunan sayur-sayuran dan tepung-tepungan. Pertanyaan yang menonjol adalah mengapa orang Indonesia kok membuat beras menjadi makanan utamanya. Bukankah beras adalah termasuk tepung-tepungan dan kedua jenis gigi yang tersebut di atas dua-duanya itu adalah gigi-gigi yang dimiliki oleh makhluk bernama manusia, manusia Indonesia juga.

Tepung-tepungan adalah bahan makanan yang biasa dikonsumsi oleh unggas yang bertembolok, termasuk ayam dan bebek kwek kwek. Mestinya kita orang (yang tidak bertembolok) Indonesia tidak terikut memangsa dan mengutamakan beras sebagai makanan utama. Bukankah bagi seorang yang sudah berumur senior seperti saya ini, tanpa nasi, tepung dan sebangsanya bisa tetap hidup bahagia? Saya sendiri mampu bertahan lebih dari sepuluh hari makan tanpa nasi beras. Saya meyakini itu bisa dilakukan oleh semua orang Indonesia atau orang bangsa lain. Lelucon seperti ini bukan mau memeberi penamaan yang mendiscreditkan beras, yang nota bene telah memberi kesempatan manusia Indonesia energi sebagai asupan pakan untuk tetap hidup. Kan  lelucon?

Berikut adalah yang baru saja saya baca di bagian ke dua Tajuk Rencana harian Kompas pagi ini di halaman 6: Indonesia adalah salah satu Negara pengonsumsi beras terbesar di dunia. Namun, besaran pasti konsumsi per orang masih belum pasti. Menurut Survei Sosial Ekonomi Nasional 2009 – 2013, konsumsi beras per capita tahun 2013 sebesar 85,5 kilogram, sementara mantan Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan menyebut pada awal September lalu, konsumsi 139 kilogram per capita.

Mengingat luar kepala sebuah wawancara Peter Gontha dengan Siswono Yudhohusodo, yang waktu itu adalah Ketua Himpunan Petani Indonesia.

Disebutkan ada undang-undang yang melindungi luas tanah pertanian di negeri belanda. Juga ada upaya yang sejenis di Jepang dan Thailand. Undang-undang tersebut  berbunyi yang menyiratkan bahwa luas tanah pertanian amat harus dijaga agar tidak berkurang agar bisa bagi  kecukupan kebutuhan Negara.

Contohnya: Bila ada seorang petani mempunyai anak sebanyak 5 orang, maka ketika ayahnya yang seorang petani, tidak boleh membuat warisan yang dipakai akan membagi luasan tanahnya menjadi lima bagian. Yang dianjurkan adalah salah satu dari lima orang anak tadi tetap menjadi petani dan membiarkan, kalau memang  dikehendaki, empat anak yang lain mencari pekerjaan lain di luar pertanian di lahan itu.

Di Jepang saya sendiri sempat tau bahwa sawah dianggap penting dan menjaga mutu beras menjadi perhatian yang utama. Kaisar Hirihito sendiri adalah peneliti dan menemukan sejenis beras unggul waktu usianya sudah lanjut. Thailand pernah memproklamasikan sebuah target untuk kurun tahun berikutnya, setiap petani per capita akan meMILIKi sendiri tanah pertanian per capita seluas 2 hektar sawah. Pada waktu wawancara itu terjadi  Negara Indonesia per capita petani hanya memiliki nol koma tiga hektar saja. Itupun masih diragukan angka keakuratannya, karena banyak di antara para petani itu hanya petani penggarap saja, bukan pemilik tanahnya. Saya tidak memiliki data yang bisa dikutip dengan percaya diri bagaimana saat ini di Indonesia.

Yang amat saya sesali adalah pernyataan BJ Habibie yang mengatakan bahwa sebaiknya kita mengurangi makan nasi asal beras, kalau tidak mau impor beras, karena tanahnya akan lebih produktif bila digunakan untuk industri saja. Dia sendiri memberi contoh bahwa dia itu melakukan ritual puasa Senin Kamis yang antara lain tujuannya adalah  mengurangi makan nasi (?).

Waktu itu dia adalah Menteri Ristek dan Teknologi yang mengucapkan huruf g –nya dengan suara orang belanda yang khas sengau di tenggoroknya. Huh! Menurut saya sebaiknyalah dia mendorong teknologi menghasilkan beras kualitas unggul dan ikut menyediakan lahan-lahan pangan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional serta tidak berkonsentrasi di kapal terbang Tetuko saja,  yang kapan sih terbangnya? Saya naik CN 235 saja, sepuluh menit pertama tidak bisa melihat dua baris kursi tempat duduk penumpang di depan saya, karena asap pendingin udara putih dan  tebal masuk ke mana-mana di dalam ruang penumpang, seperti pemandangan pagi sekali di puncak Gunung Bromo. Heh.

Saya juga ingat bagaimana menonjolnya peran Bulog yang telah membuat Badan Logistik ini menjadi ATM (Anjungan Tunai mandiri atau Automatic Teller Machine) bagi para birokrat di negeri kita. Itu terjadi teruuuusss setelah Tuan Soeharto menjadi Persiden Republik kita ini. Waktu pada akhir tahun 1980an saya menyaksikan seorang teman pengusaha yang saya kenal, ikut tender pengadaan beras ke BULOG itu. Hasilnya?

Dia mengomel dan menggerutu karena kalah tender. Alasannya? Dia diberitau bahwa harga penawaran dia terlalu rendah. Dia terkejut lalu menggerutu itu tadi. Saya juga terkejut tetapi memaklumi. Apa sebab? Saya diberitau seorang kenalan yang bercerita dengan penuh semangat bagaimana  dia pernah menginap gratis di California, mungkin di San Francisco, di sebuah rumah mewah dan buesssarr yang pemiliknya adalah seorang temannya, yang terkenal jenderal bintang dua yang menjadi Kepala Bulog itu.

Bilamana Bulog itu hanya memonitor saja agar keseimbangan dari tata kelola kebutuhan pangan di Negara kita sudah seimbang saja, akan lebih mangkus. Tidak ikut-ikutan menentukan mutu dan harga di pasar. Serahkan kepada pasaran bebas saja. Yang mutunya bagus tentunya harganya sesuai dan yang jelek juga menyesuaikan diri. Kalau memang perlu melakukan pembelian, memantau harganya dan masalah distribusinya, maka lakukan saja untuk pegawai negeri yang mendapat jatah beras bulanan. Kami orang swasta biar saja menentukan pilihan sesuai kemampuan masing-masing.

Saya ingat ada ungkapan: Semakin Banyak Peraturan dan Undang-Undang, maka semakin JAUH SEKALI apa yang disebut dengan istilah keadilan. Pada suatu saat saya reuni Sekolah Menengah Atas, dalam suasana kangen dan menyanyi-nyanyi teman perempuan saya, seorang Ibu, bertanya kepada saya: Anda punya gula, enggaak? Saya menangkap maksudnya tentu saya berpenyakit gulakah atau saya punya cewek gula-gula?

Ternyata yang dia maksudkan apakah saya punya akses ke sejumlah ber-ton-ton gula, karena saat itu Bulog sedang kekurangan pasokan. Ah, reuni kok mau bisnis? Seorang Ibu rumah tangga pula?

Bilamana ini terjadi transaksi maka akan banyak bagian dari harga jual belinya jatuh ke tangan PERANTARA AMATIRAN seperti ini, dan harga pasar akan jatuh lebih mahal, dan itu ditanggung oleh pembeli akhir di pasar. Siapa? Teman-teman ibu tadi yang harus terpaksa akan membayarnya.

Sudah 16 tahun lamanya saya TIDAK berbisnis lagi tentu saya tidak mengenal lagi bisnis apapun juga. Mendengar  di sana dan di sini, tetapi melakukannya? Amat ragu saya bisa memasukinya dengan nyaman. Penuh lika liku karena banyak pengusahahahaha, malah lebih banyak dirangkap oleh para birokrat di pemerintahan. Jusuf Kalla mengatakan bahwa Kabinet sekarang tidak usah di brief tentang bisnis. Sebab utamanya adalah sebagian para menterinya adalah para pebisnis yang telah sukses selaku pengelola bisnis. Saya harap semuanya benar dan menjadikan Negara kita menjadi lebih baik.

Ada saatnya berat badan saya 83 kilogram karena suka sekali makan nasi. Sekarang 69 kilogram saja. Pada saat saya setelah dua minggu lamanya ke sana dan kemari, saya dalam perjalanan dari Toronto, Canada, saya menginap di Los Angeles menuju Auckland, New Zealand.

Selama itu makan sayur dan daging atau potato baik yang mashed maupun yang baked. Eh, saya rindu juga makan nasi beras. Saya tanya concierge Hotel dan mendapat keterangan bahwa yang paling baik adalah pergi saja ke China Town. Saya menemukan sebuah warung kecil yang  dikelola oleh seorang ibu yang tentu saja Chinese. Saya pesan fried rice dan sedikit sayur. Wah ada telur ceplok. Makan puas dan harga bayarnya US$27. Taxi fare yang saya bayar pergi pulang sekitar US$120 an. Jadi untuk sepiring nasi goreng dengan ceplok plus sayuran, saya bayar sekian itu, kan pada saat ini nilai tukarnya sekitar Rp.12000an per Dollar, bukankah itu sama dengan Rp.1.700.000an? Hooo baru sadar ya? Itu saya bisa puas tetapi bisa dapat buat makan puluhan orang di RT saya, lho …  Bukan mengeluh mahalnya harga makanan yang telah dengan puas saya makan, akan tetapi alangkah borosnya hanya karena kecanduan nasi. Sekarang saya sudah cukup tua, tanpa nasi sudah sering saya lakukan berhari-hari, saya masih biasa-biasa saja. Tidak perlu mengeluh.

 

Anwari Doel Arnowo

29 Desember, 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.