Lubang-lubang di Tubuhku (2)

Rini Widya Sumardi

 

Aku memperhatikan semut-semut itu melubangi kayu. Entah mulai kapan mereka bekerja, lubang satu cm yang tempo hari kuukur, kini menjadi makin dalam penuh kelok dan rumit. Satu lubang yang kutemui hari itu, kini menembus dadaku. Tak ada darah di sana. Tak ada rasa sakit atas perbuatan mereka. Malam tadi aku melihat, semut-semut bermunculan dari dalam tubuhku. Membawa remahan jantung, hati dan berbagai organ tubuh manusia. Anehnya, aku tak merasakan apa-apa. Satu lubang lagi muncul di kepalaku. Semut-semut itu masuk lewat sana. Membawa remahan-remahan asing. Aku berusaha menerimanya. Kadang, ada yang terlintas dalam pikiranku. Bagaimana jika kepalaku jadi penuh, terisi penuh. Dalam kurun waktu tertentu pasti kepalaku tak kuat menampungnya. Bagaimana dengan isi dadaku? Oh aku hampir tidak memikirkannya. kekuatiran mulai menyergap. Aku membayangkan berbagai kemungkinan; kehilangan isi dada dan kelebihan beban di kepala.

lubang1

Sekian waktu aku termenung memikirkannya. Ketika aku melihat diriku di cermin, aku tak mengenalinya. Tak mengenali bayangan di dalamnya. Kepalaku, ya kepalaku makin besar dan rumpang. Dari lubang-lubang itu berguguran benda-benda. Alat-alat musik, kalimat demi kalimat gagal, nama-nama jalan, nama-nama kawan yang datang menaruh hati, lalu mereka membuat lubang sendiri di antara lubang lainnya. Di kepala. satu lubang mulai terbentuk, satu nama lelaki mulai masuk. Menggantikan nama-nama benda yang berloncatan dari kepala. Kepala. Melulu kepala. Aku mulai tak memikirkannya.

Lambat laun apa yang aku kuatirkan terjadi. Isi dadaku mulai habis. Semut-semut itu hanya datang dan pergi, sekedar melubangi bagian tubuhku. Maksudku hanya bagian kepala dan dadaku.

Tengah malam aku terjaga. Aku melihat lubang dadaku membuka lagi. Semut-semut itu berbaris memikul remah-remah. Oh! Remahan organ tubuhku. Tapi, kali ini terasa sekali mereka keluar masuk. Permukaan kulitku seperti digelitik, nyeri bagian dalam sana. Entah apa yang mereka bawa ke dalam sana. Keluar tanpa membawa apa-apa.

Hampir pagi, tepatnya. Mereka pun entah ke mana. Tahu-tahu lenyap. Seperti hantu, tapi mereka bukan hantu. Mereka itu semut. Lewat lubang yang belum menutup, Aku mengintip ke dalam dadaku. Sebuah jantung, paru-paru, oh! Itu hatiku. Lebih merah dari yang ku tahu. Dan, aku melihat namanya. Masih terpateri di sana.

Aku kembali mengambil cermin. Ku perhatikan diriku. Kepala rumpangku, jalan-jalan tergambar seperti tatto. Dan di dadaku, aku menemukan namamu. Ya, hanya namamu.

Kerap kali kuperhatikan tubuhku, seperti sebuah kota. Garis-garis terbentuk. Seperti jalanan. Menghubungkan lubang demi lubang yang ditimbulkan kenangan. Tentang nama-nama. Tentang kau.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.