Mari Merayakan Rindu

Emi Suyanti

 

rindu

Rinduku biru
pada pemilik senja kelabu
aku rindu mengadu padaMu
di atas sajadah panjang abu-abu
terdiri dari renungan segunung dosa
sunyi tak mematung sia-sia
sepi rebah di pundak kata-kata
sebongkah diam dalam doa kian purba
Insafku teronggok di pojok beranda jiwa
Engkau ada di mana-mana
Engkau yang menyediakan udara
Mengijinkan organ nafasku bekerja
Engkau pemilik siang dan malam
lalu rindupun semakin lebam
dirayakan dengan hujan
sebuah pelukan paling manis
nyaris tak tiris-tiris
tampias mencipta kikis
pada permulaan petang
sebab matahari telah melenggang
seduhan dongeng rindu mengepul beraroma hening paling merdu
siap memelukku dengan dada lapang, mari bertandang
bersulang dengan ingatan sebagai kenang yang menggenang
Engkau satu-satunya rindu paling tenang
kekal memberi terang

Jkt, 26 Nov 2014

 

JIWA RAGA ini berkarya

Pada tiap kubiknya ada volume yang kita isi
memenuhi bejana-bejana jiwa,
dengan makna
terdiri dari daya upaya
untuk cipta rasa dan karsa.

kenangan menggenang dalam ingatan paling tenang
ingatlah,
waktu terus melaju seperti kereta itu, waktu tak pernah ada ruang tunggu seperti di stasiun itu,
duka dan air mata adalah senyuman yang tertunda,
segala kejadian adalah pacuan,
maka tersenyumlah…

Rasa takut berawal dari keinginan,
keinginan untuk memiliki, kemudian takut kehilangan,
takut untuk melepaskan
Sedangkan bayangan kita sendiripun
Kan meninggalkan kita

Indah Kesunyian
menikmati indah kesunyian bukan karena kesepian
menyatukan jiwa dengan keheningan
bahwa kita sejatinya terlahir dan mati
tidak membawa apa apa…
kecuali di jalanNya

Jakarta, November 2014

 

ANTARA KITA DAN CERITA

pada senja yang kian sutera
kugubah akhirnya, nyanyian april
yang nyaris dirampas ritmis hujan
lihatkah engkau?
angin mendesau tersipu
menghalau rindu yang tiba-tiba
berkejaran ke kotamu

lantas hikayat baru memilih tumbuh
di antara lengang perjalanan
adalah rautmu, kekasih
memanggil jejak-jejak tersisa
ke dalam romansa, tempat kita kini
bertukar gelak panjang
sebelum membagi ranum kecupan

Kita adalah sekotak ruang
yang terpisah oleh waktu,
terbentang jarak yang kusebut jeda, lalu terhubung oleh anak-anak hujan yang berjatuhan bahkan berkejaran
Kau dan aku hanya saling diam Memahat sebentuk bidang yang kunamai sepi,
berdinding tebal dan pekat yang kusebut kenangan

Jakarta, November 2014

 

PENGEMBARA

Kita adalah pengembara
pejalan kehidupan
Melewati jurang
Mendaki gunung

Kemudian,
Meniti jembatan panjang
Menyeberangi sungai
Juga,
Mengarungi samudra

Bahkan,
Menyusuri padang pasir
Bertemu fatamorgana
melintasi oase
Ditegur pelangi
Ditanya jingga

Bahkan,
Dihampiri kabut
Dijamah hujan
Itulah hidup
Berputar di atas roda zaman

Aku
Kau
Mereka
Kita semua
Melewatinya

Bisa saja
Bersimpangan
Lalu bersamaan
Atau lebih dulu
Bahkan lebih lambat

Jakarta , 9 Juni 2014

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.