[Kehidupan di Nirwana] Kedipan Mata

Wesiati Setyaningsih

 

Matahari sudah condong ke barat dan berwarna jingga ketika aku memasuki gerbang perumahan bertuliskan “Nirwana”. Di situlah aku tinggal dua bulan ini setelah akhirnya mertuaku rela aku dan suami tinggal di rumah sendiri. Melewati pos satpam, tak ada petugas di situ dan entah kenapa aku merasa lega karena tak harus menyapa. Beberapa kali aku lewat pos satpam di sore hari begini memang tak ada orang sana. Barangkali mereka patroli keliling perumahan, pikirku.

Aku sendiri tidak terlalu kuatir karena kupikir di rumah aku tidak punya apapun yang berharga selain televisi layar datar. Rumah kami juga termasuk yang paling sederhana kecuali tanahnya yang lebih luas dari yang lain karena kami mendapat sisa tanah. Rumah kami memang di pojokan ujung gang buntu. Itu saja yang kadang membuat orang lain jadi iri karena kami bisa menanam beberapa pohon. Selebihnya tak ada yang istimewa.

Melewati rumah-rumah lain, aku selalu menengarai kalau tiap rumah selalu ada mobil di car port mereka. Karenanya mereka membuat pagar yang kalau perlu tiap hari digembok. Sementara aku dan suami bahkan hanya membiarkan motor kami di luar.

Sampai di cluster tempatku tinggal, aku melewati tenda mewah menghalangi ujung jalan tepat di depan rumah Bu Haryo. Ah, mungkin ada acara mantu atau apa, pikirku tak peduli. Yang penting aku tidak terhalangi karena tidak lewat di depannya tapi di samping rumahnya yang memang ada di pojok pertigaan jalan.

destin8x.deviantart.com

destin8x.deviantart.com

Ketika belok di jalan menuju ke rumah, aku sempat melihat Pak Toni yang tinggal di ujung deretan rumahku membersihkan tanaman liar di taman depan rumah kami. Aku membunyikan klakson untuk menyapa dan dia berteriak mengiyakan.

Sampai di depan rumah suamiku membukakan pintu.

“Ngelesi hari ini?” tanyanya.

“Enggak. Tadi ada rapat aja di kantor. Kepala Sekolah manggil orang tua murid kelas dua belas. Tanya jawabnya lama. Banyak yang dibahas. Sampai jam segini, deh.”

Kulirik jam dinding, sudah hampir setengah enam.

“Makan apa malam ini?” tanyaku seraya membasuh tangan dan kaki di kamar mandi yang ada di dekat ruang tamu sementara suamiku duduk di depan televisi.

Rumah ini kecil, tipe 36 yang hanya ditambah ke belakang karena kami ingin menyisakan tanah di samping untuk taman. Karena tidak terlalu luas dan kami membiarkan antar ruang terbuka satu sama lain tanpa terhalang tembok atau pintu, aku dan suami jadi bisa berbincang dari mana saja. Bahkan aku bisa ngobrol dengan dia dari dapur sedangkan dia ada di ruang tamu.

“Memangnya di kulkas ada apa saja?”

Aku membuka pintu kulkas.

“Tempe.”

“Ada lombok, nggak? Sambel tempe saja.”

Aku melongok lebih dalam dan menemukan sebungkus lombok merah.

“Iya, nanti aku bikinkan, tapi aku mandi dulu ya… Sumuk rasanya.”

Aku bergegas mandi. Dari kamar mandi aku mendengar orang menggoreng di dapur. Pasti suamiku tidak sabar menunggu aku mandi jadi dia menggoreng tempe sendiri. Benar saja, ketika aku selesai mandi dia memintaku membuat sambal.

“Tempenya sudah matang,” katanya.

Aku tersenyum. Malam itu kami makan sambil berbincang tentang pekerjaan masing-masing. Suamiku yang PNS di kantor pemerintah kota menceritakan atasannya yang baru saja ganti.

“Gila aja. Orangnya nggak tau apa-apa. Ngapain coba dia jadi kasi di Dinas Pendidikan kalo nggak tau apa-apa tentang pendidikan?”

“Memangnya naruh orang di satu tempat gitu nggak pake pertimbangan latar belakang pendidikan, ya?” tanyaku.

“Enggak lah. Mana ada yang kosong, siapa yang golongannya sudah sampai dan yang jelas dia sudah ngantri, ya ditaruh gitu aja.”

“Bayar?”

Suamiku mengangkat bahu.

“Kaya nggak tau aja,” katanya. “Minimal kenal atau berusaha dikenal orang atas, lah.”

Aku melanjutkan makan. Hal seperti ini memang tak perlu dibicarakan lagi.

“Di sekolah tadi gimana? Ada yang nakal lagi?” tanya suamiku.

Dia memang selalu ingin tahu apa saja yang kukerjakan di sekolah karena pengalaman jadi guru itu menyenangkan menurut dia.

“Kaya nggak tau aja..” aku mengulang kalimatnya.

Suamiku tertawa tahu kalau aku sedang mencandai dia. Dia menyendok nasi lagi dari magic jar.

“Lha wong aku dulu aja SMA selalu kena marah guru…”

Dia selalu membanggakan kenakalannya dan herannya, aku tak pernah bosan mendengarkannya. Mungkin karena terlalu banyak kisah kenakalannya jadi selalu ada yang baru.

“Makanya. Yang namanya anak SMA, pas nakal-nakalnya. Tapi kelasku tahun ini nggak pada nakal, sih. Cuma ya itu. Pada malas mikir. Heran aja. Dikasi tugas nyari materi dari internet lalu di-print, lha kok malah ngopy dari temannya!”

Makanku sudah selesai, kubawa piring ke dapur sambil membersihkan tangan yang lengket karena nasi. Lalu kembali ke samping suamiku.

“Kamu tau dari mana kalo dia foto copy?”

“Lah materinya aja sama. Kan aku baca satu per satu. Dari huruf sampai kata-katanya sama semua. Okelah, kalo dia ngambil dari web yang sama, aku maklum. Tapi ini ada bekas tip-ex di bagian atas. Tempat temannya tulis namanya! Kan aku tau…”

Suamiku tertawa. Untung makannya sudah selesai.

“Ah, kurang cerdas itu..”

“Makanya aku bilang. Nggak mau mikir. Di depan kelas aku ngomel-ngomel. Kalo mau curang mbok mikir dikit. Ngopy-nya pas belum dikasi nama apa gimana. Atau namannya di tutupin apa biar nggak keliatan. Lha ini…”

Aku geleng kepala. Suamiku tertawa seraya menyerahkan piringnya yang kosong padaku. Aku membawanya ke dapur dan mencuci piring sebentar. Selesai itu kami berdua duduk di depan televisi sambil masing-masing memegang hape. Aku asyik dengan Facebook, dia juga. Sementara televisi menyiarkan acara berita. Begitulah yang selalu kami lakukan tiap malam sekarang.

Adzan Isya terdengar ketika suara mobil mendengung di depan rumah. Tetangga sebelah kami, Pak Wibi, baru saja pulang. Terdengar suara bergelontang gembok pintu gerbang dibuka lalu suara perempuan memberikan aba-aba pada orang yang sedang memarkir mobil.

“Kiri dikit, yang.. Terus, lurus. Ya. Terus, yang..”

Mereka masing-masing saling memanggil ‘yang’. Dalam hatiku terbersit iri. Aku dan suamiku tak pernah memanggil panggilan sayang seperti itu. Dia lebih suka kami memanggil nama masing-masing. Aku pernah mencoba memanggil ‘yang’ tapi dia tak suka.

“Jam segini baru pulang,” gumam suamiku.

“Kerja di bank. Biasa lah baru pulang jam segini. Makin malam pulang makin banyak uang. Mas pulangnya sore mulu, sih… Lembur gitu, kek. Biar duitnya banyak.”

“Kamu mau aku pulang malam?”

Aku tertawa.

“Enggak, lah. Sore aja. Kalo terlalu malam aku takut sendirian di rumah.”

“Ya sudah..”

Aku kembali main hape. Tiba-tiba aku merasa sangat mengantuk padahal baru jam delapan malam.

“Aku ngantuk,” kataku.

“Ya sudah. Tidur dulu sana.”

Aku sedikit kesal karena sebenarnya aku ingin dia memelukku dalam tidur. Tapi nyatanya hal itu jarang aku dapatkan. Setelah menggosok gigi aku membaringkan diri di tempat tidur. Terbayang dalam benakku pasti tetangga sebelah yang romantis itu sedang asyik bercinta. Mereka yang selalu saling memanggil ‘sayang’ itu pasti sedang saling memeluk sambil duduk sofa, lalu saling berciuman. Lantas bisa saja di sofa itu mereka bercinta. Sesuatu yang tidak mungkin aku lakukan bersama suami karena dia tak pernah berkenan melakukannya di ruang selain kamar tidur.

Aku mendesah resah. Sesekali aku ingin melakukannya di sofa, di kamar mandi, di dapur, di mana saja kami suka. Aku membayangkan sesuatu yang spontan. Bukan sesuatu yang selalu direncanakan, diatur dan ditata sedemikian rupa. Tapi dia maunya begitu, aku bisa apa?

Meski sebenarnya aku sudah mengantuk dan lelah karena seharian berjalan ke sana ke mari hingga sore, ternyata ketika sudah berbaring begini aku malah tak bisa tidur. Aku berguling ke sana ke mari. Benakku penuh dengan bayangan tentang tetangga sebelah. Si laki-laki yang tampan dan gagah itu pasti sedang menciumi istrinya yang cantik meski lebih gemuk karena sedang hamil.

Makin aku gelisah, makin aku tak bisa tidur. Aku ingin dipeluk dan diciumi saat ini. Tapi memintanya dari suami aku enggan. Bukannya dia mestinya tau kalau aku ingin dipeluk, rutukku dalam hati. Sudah tiga tahun kami menikah dan belum juga aku hamil. Suamiku tidak mau aku ajak periksa, tapi juga jarang menjamahku.

Aku makin kesal karena pikiran-pikiranku sendiri. Kupejamkan mata dan berusaha meredakan isi kepalaku yang seperti saling berpilin. Pelan tapi pasti aku mulai berpindah dari alam sadar ke alam tidur. Tiba-tiba aku sudah bermimpi bertemu tetangga sebelah yang ganteng itu.

Serasa kami sedang ngobrol di cafe, aku minum capuccino panas dan dia minum kopi hitam pekat. Percakapan baru saja mulai ketika si istri datang. Tampaknya dia tak suka, tapi Pak Wibi tak peduli. Lama-lama Bu Wibi marah dan berteriak-teriak. Aku ketakutan dan terjaga.

Suara teriakan perempuan masih terdengar. Aku mengerjapkan mata sambil terus mendengarkan apa yang sebenarnya terjadi. Sepertinya itu suara orang berteriak dari sebelah dan tak lain rumah Pak Wibi karena tetangga sebelah kami ya memang cuma dia.

Seraya mengumpulkan kesadaranku, kulirik jam dinding, jam sebelas malam. Suara dari sebelah makin ramai. Selain suara Bu Wibi yang berteriak-teriak, sekarang Pak Wibi juga ikut berteriak. Tak lama kemudian terdengar bayi melengking-lengking. Aku membuka mata lebar dan berusaha mendengarkan apa yang mereka ributkan. Sepertinya Bu Wibi curiga suaminya ada main dengan perempuan lain sementara Pak Wibi marah dituduh begitu.

Aku menghela nafas panjang. Banyak hal yang tidak seperti kelihatannya.

“Terbangun, ya?” tiba-tiba suamiku sudah nongol di pintu.

Aku pura-pura cemberut.

“Ngapain nggak tidur dari tadi?” tanyaku. “Malah dengerin orang bertengkar. Nidurin istrinya, kek…”

Entah karena sudah kesal atau apa, tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja. Malu dan menyesal sudah mengucapkannya, aku membalikkan badanku. Suara ramai di sebelah sudah reda. Suamiku keluar lagi dan terdengar pintu depan dikunci.

Aku memeluk guling dan berusaha tidur kembali sambil berharap suamiku paham maksudku. Tak lama kemudian suamiku memang tidur di sebelahku, memelukku dari belakang, dan beberapa saat kemudian sudah kudengar dengkurnya.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian “kesasar” menjadi guru. Mencoba mendobrak “pakem baku” proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya.

Sering dianggap “off-track” bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *