[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Pilihan Hati

Liana Safitri

 

LYDIA berhenti melangkah dan menoleh ke belakang.

“Ada apa?” tanya Franklin.

“Sepertinya seseorang memanggilku.”

“Aku tidak mendengar apa-apa. Mungkin itu cuma perasaanmu saja.” Franklin menggandeng tangan Lydia, kembali berjalan.

Namun tak berapa lama kemudian mereka berdua melihat orang-orang berkerumun ke satu titik. Saat itu perasaan Lydia sangat tidak enak. Setelah berjalan lambat-lambat Lydia melepaskan tangan Franklin. “Aku ada urusan sebentar, Kak!”

“Hei, Lydia! Kau mau ke mana?”

Lydia tidak memedulikan panggilan Franklin. Gadis itu berbalik menuju tempat yang telah menarik perhatian banyak orang. Kemudian Lydia melihat Dunia-nya… Tian Ya duduk berlutut di lantai seperti orang kalah telak. Wajahnya pucat pasi, tapi mata Tian Ya masih dapat melihat tulisan I ♥ U di t-shirt Lydia. Pandangan keduanya bertemu.

Tian Ya kembali duduk di kursi belakang taksi yang sama, tapi sekarang ada Lydia di sampingnya. Tian Ya menggenggam tangan Lydia erat-erat tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Lydia beberapa kali melihat ke arah Tian Ya dengan pikiran kalut. Franklin berada di taksi berbeda bersama Xing Wang dan Fei Yang. Ya… akhirnya Lydia menunda kepulangannya ke Indonesia. Meski demikian Tian Ya tetap menolak dirawat di rumah sakit. Dia ingin membawa Lydia ke istana kecil mereka, apartemen. Memastikan bahwa Lydia benar-benar ada bersamanya, bukan Franklin!

Lydia berjalan sambil menggamit lengan Tian Ya, hal yang sama yang sering ia lakukan ketika berjalan di samping Franklin. Franklin tak dapat berkata, “Lepaskan tangannya!” atau kalimat semacam itu. Sepertinya hati Lydia kembali berubah. Franklin meremas tiket pesawat dalam genggamannya demi menahan rasa pedih yang mendera.

Sampai di apartemen, ternyata Tuan dan Nyonya Li sudah menunggu di depan pintu. Mereka memutuskan datang ke apartemen setelah tidak menemukan Tian Ya di rumah. Semua orang terkejut. Terutama saat Nyonya Li melihat Franklin. Ia bermaksud mengatakan sesuatu, tapi Tian Ya sudah mendahului, “Kita berbicara di dalam!”

Pintu terbuka dan Frida muncul dari dalam. Melihat wanita itu, amarah Tian Ya tersulut. Dipelototinya Frida, “Kau masih berani muncul di hadapanku? Dasar wanita tidak tahu malu!”

“Tian Ya…” Lirih Frida menggumamkan nama itu. Kini Frida menyadari jika keberadaannya di tempat itu benar-benar sudah tidak diinginkan. Ia bukan siapa-siapa dan tentu saja, tidak dapat menggantikan posisi Lydia di hati Tian Ya. Mungkin harus mempersiapkan diri kembali ke kehidupan yang serba sulit seperti dulu.

Selain sangat menyayangkan persahabatan mereka yang menjadi rusak, Lydia juga belum bisa menghilangkan perasaan benci di dalam hati. “Tidak usah pedulikan dia! Ayo masuk!”

Suasana di ruang tamu sangat tegang. Nyonya Li menatap Lydia dalam-dalam. Katanya dingin, “Bukankah kau sudah berjanji padaku… akan menjauhi Tian Ya?”

“Apa?” Tian Ya mengernyitkan alis. “Kenapa Mama menyuruh Lydia menjauhiku? Kenapa, Ma? Selama ini kukira kami bisa mendapat dukungan dari kalian, ketika semua orang menentang kami…”

“Semua kulakukan demi dirimu! Aku tidak mau kau celaka!” Nyonya Li berteriak menahan tangis.

Lydia menundukkan kepala dalam-dalam. Ia ingin pergi dari tempat itu karena tidak sanggup menyaksikan perselisihan antara Tian Ya dengan orangtuanya, juga tidak mampu menerima tatapan mata Kakak yang memilukan. Tapi Tian Ya menggenggam tangannya begitu erat sampai terasa sakit.

Franklin maju ke depan, “Maksud Anda, Tian Ya bisa celaka kalau berhubungan dengan Lydia? Setahuku Lydia tidak punya kemampuan untuk mencelakai orang! Seharusnya Anda-lah yang mengendalikan putra Anda agar dia jangan sampai melarikan anak gadis orang!”

Nyonya Li menuding Franklin dengan jarinya. “Karena kau adalah kakak Lydia, itu kesalahannya! Mula-mula aku tidak peduli siapa kau, karena yang dicintai Tian Ya adalah Lydia. Tapi setelah masalah beruntun menimpa keluarga kami, aku baru percaya kalau dendam yang tersimpan di hati seseorang ternyata sangat berbahaya! Apalagi dendam antar hubungan keluarga! Aku tidak mau kehilangan anakku!”

Tuan Li memarahi istrinya, “Jangan menuangkan minyak ke dalam bara api! Keadaan sudah cukup kacau, bisakah kau tenang sedikit?”

“Tidak bisa!”

“Ma, aku tidak peduli siapa kakak Lydia, tidak peduli dia berasal dari keluarga mana! Aku hanya peduli karena Lydia adalah Lydia, tidak ada yang lain! Cinta kami lebih kuat daripada dendam!”

“Jangan kau kira aku setuju Lydia berhubungan denganmu!” sergah Franklin.

“Biar kau tidak setuju, aku juga tidak akan melepas Lydia kepadamu!” balas Tian Ya.

“Kau masih ingat kasus Peter di tempat kursus? Kau tahu kenapa Tian Wang membatalkan kerjasama denganmu? Aku tidak suka menjahati orang, tapi terhadap orang sepertimu, yang berulang kali menyakiti Lydia, aku bisa berubah menjadi sangat kejam!” Franklin memperingatkan. “Sebaiknya turuti nasihat mamamu!”

“Coba saja kalau berani! Asal kau tahu, aku tidak pernah berniat menyakiti Lydia, atau membuatnya bersedih! Tapi dalam hubungan antara pria dan wanita semua itu tidak dapat dihindari. Aku tidak percaya kau sama sekali belum pernah membuat Lydia meneteskan air mata!”

Lydia memandang kedua pemuda yang bersitegang ini berganti-ganti, hatinya cemas bukan main. “Tian Ya! Kakak!”

“Mama! Papa!” Suara Tian Ya merendah. “Kalian takut Lydia membawa masalah ke dalam hidupku, tapi tanpa dia hidupku justru akan semakin hancur! Aku tidak pernah meminta apa-apa kepada kalian. Hanya sekali ini… kumohon… izinkan aku menentukan pilihanku sendiri.” Kemudian Tian Ya berkata pada semua orang, “Aku mau bicara berdua dengan Lydia!”

Spontan Franklin maju selangkah. “Lydia!”

“Kakak, hanya sebentar… masalah di antara kami harus diselesaikan. Kau mau menungguku, kan?” Lydia melemparkan seulas senyum.

Franklin terpana sejenak kemudian mengangguk dengan berat hati, “Baiklah!”

Aku akan menunggumu sampai kapan pun.

“Tian Ya! Lukamu…” Nyonya Li berusaha menghalangi, tapi Tian Ya sudah menghilang di balik pintu kamar bersama Lydia.

“Biarkan saja!” kata Tuan Li.

“Kau selalu bersikap tegas pada Tian Ya, kenapa sekarang tiba-tiba berubah menjadi lembek?” Nyonya Li menunjukkan pandangan tak setuju.

“Sama sepertimu, aku tidak ingin kehilangan Tian Ya! Kita hanya punya satu itu! Tidak mungkin karena berbeda pendapat dan berbeda pemikiran lalu tidak mengakuinya sebagai anak! Turuti apa yang menjadi kemauan Tian Ya. Sekarang lebih baik kita pulang dulu!” Nyaris tidak ada yang memperhatikan ketika Tuan dan Nyonya Li pergi meninggalkan apartemen.

 

Lydia melihat keadaan kamar sangat kacau seperti hatinya.

“Mengapa kau mau meninggalkanku?” Tian Ya membuka suara.

“Kita tidak mungkin bisa bersama.”

“Karena Franklin?”

Sebenarnya aku juga tidak mau meninggalkanmu!

Lydia teringat janjinya pada Nyonya Li, yaitu akan meninggalkan Tian Ya setelah dia sadar dari koma. Jadi Lydia berusaha menghindari Tian Ya, dan masalah antara keluarga Li dengan keluarga Franklin adalah alasan yang paling tepat. Walau Lydia merasa bersalah telah menjadikan Franklin sebagai alat, karena ia yakin Franklin tidak memiliki niat untuk benar-benar membalas dendam… Tapi sepertinya Kakak tidak keberatan digunakan sebagai tameng, asalkan Lydia mau bersamanya. “Karena kau sudah tahu… seharusnya biarkan aku pergi… Kau harus mengerti, hubungan kita tidak bisa dilanjutkan lagi!”

“Kau tidak peduli padaku lagi? Jika aku memohon padamu dalam keadaan tidak sedang sakit, apa kau akan membatalkan kepergianmu?”

“Justru karena aku peduli padamu maka aku meninggalkanmu! Mama dan papa juga tidak ingin hubungan kita dilanjutkan…”

“Kalau kau benar-benar memedulikan aku seharusnya kau tetap di rumah sakit! Kalau kau memedulikan aku seharusnya kau tidak mendengarkan kata-kata orang lain! Kalau kau memedulikan aku seharusnya masa lalu Franklin tidak memengaruhi hubungan kita! Aku tidak pernah mengaitkan dirimu dengan masalah yang terjadi di antara keluarga kami dan keluarga Franklin! Kau harus bisa membedakan mana yang menjadi masalahmu, mana yang bukan!” Sebelumnya Tian Ya pernah berjanji pada diri sendiri, jika bertemu Lydia ia akan meminta maaf atas sikapnya yang buruk, mengungkapkan penyesalannya, memintanya untuk tetap tinggal, dan mengatakan apa pun yang disukai Lydia. Tapi setelah Lydia ada di depan mata, tidak tahu kenapa yang Tian Ya lakukan justru berbanding terbalik.

“Bagaimana mungkin tidak berpengaruh, tidak berkaitan? Sedangkan yang menjadi musuh keluargamu adalah kakakku sendiri? Aku berbuat begini karena tidak ingin ada yang terluka di antara kita,” Lydia membela diri.

“Kalau begitu kau lebih memilihnya daripada aku!”

“Kau tidak bisa memandang hanya dari satu hal! Kau punya tempat khusus di dalam hatiku, tapi aku juga tak mungkin mengabaikan Kakak…”

“Dia bukan kakakmu!” Tian Ya berteriak marah. Ia mendorong Lydia dan mendesaknya ke dinding. Dicengkeramnya kedua bahu Lydia kuat-kuat. “Berapa kali harus kukatakan? Dia bukan kakakmu dan dia laki-laki! Aku tidak suka!” Lydia belum pernah melihat sorot mata Tian Ya berkobar seperti sekarang, begitu menakutkan.

“Ini tidak adil… Kau tidak memperbolehkan aku dekat dengan kakak sementara kau…” Lydia melanjutkan dengan suara bergetar menahan tangis, “masih tinggal bersama Frida…”

“Kau mau melihatku mengusirnya sekarang?” Tian Ya menantang. “Aku bisa menyuruhnya pergi kapan saja aku mau! Sangat mudah! Jika dulu aku menolak menyuruhnya pergi, itu hanya sebuah alasan! Aku ingin melihat seberapa besar kesungguhanmu mempertahankan hubungan kita! Apa kau bisa melepaskan ketergantungan dari kakak palsumu dan menjadikan aku sebagai satu-satunya tempat untuk didatangi, sebagai tempat bergantung! Kau hanya perlu berbagi kehidupan denganku, tanpa ada pria lain kecuali aku!” Ujar Tian Ya serius, “Franklin… suruh dia pulang ke Indonesia, kau tetap tinggal! Kita menikah besok!”

Lydia menggeleng-gelengkan kepala, air matanya berhamburan keluar. “Tidak bisa!” Ia agak terkejut dengan reaksi Tian Ya. Selama ini Tian Ya selalu baik padanya dan menuruti semua keinginannya, meski sering bertingkah menyebalkan. Tapi sisi keras pemuda itu, Lydia baru melihatnya sekarang.

“Kenapa?”

“Kakak sudah menolongku…”

“Tapi aku tertembak dan koma karena menyelamatkan dia!” balas Tian Ya.

“Kau tidak tahu…”

“Aku tahu!” potong Tian Ya. “Franklin menyelamatkanmu ketika kau hampir dicelakai Xiao Long! Semua salahku! Aku tidak bisa melindungimu, menjagamu dengan baik! Lydia… asal kau memberiku kesempatan sekali lagi, aku jamin kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali!”

Lydia tersentak. Sejak awal Lydia berusaha merahasiakan agar Tian Ya jangan sampai tahu kalau ia pernah menginjak tempat kotor itu. Entah bagaimana caranya bisa sampai ke telinga Tian Ya. Lydia sangat malu. Ia mendorong Tian Ya sekuat tenaga dan berlari menuju pintu, tapi Tian Ya menghalangi di depannya dan memeluknya erat-erat. Gerakan Tian Ya sangat cepat sehingga tanpa sengaja menjatuhkan sebuah cermin di atas meja.

Pyaarrr!

Bunyi itu mengejutkan semua orang yang ada di luar kamar. Franklin menegakkan tubuh, menghambur ke depan pintu kamar dan mengetuknya keras-keras. “Apa yang terjadi? Suara apa itu? Lydia!”

Lydia meronta-ronta, tapi Tian Ya memeluknya sekuat tenaga.

“Lydia! Tian Ya! Kalian dengar aku? Tolong buka pintunya!”

Fei Yang dan Xing Wang juga mendengar suara benda pecah dari kamar Tian Ya, mereka berdiri bersamaan.

“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” suara Lydia tenggelam di balik tubuh Tian Ya.

Ada seseorang yang akan membawa pergi Lydia-nya. Ini sudah bukan situasi di mana Tian Ya dapat mengendalikan diri.

Mana mungkin aku melepaskanmu? Sekarang walau kau mengatakan tidak mau, aku akan menguncimu dengan sepasang tanganku. Meski terdengar agak kejam lalu kenapa? Aku hanya terlalu takut kehilanganmu lagi dan lagi…

“Buka pintunya! Cepat buka pintunya!”

Walau Xing Wang tidak tahu apa yang dikatakan Franklin, tapi ia pun merasa ada yang tidak beres. Xing Wang ikut menggedor-gedor pintu sambil memanggil Tian Ya, sementara orang yang ada di dalam seolah-olah berubah tuli.

“Seharusnya hari itu aku tidak membiarkanmu keluar dari kantorku! Seharusnya aku tidak membiarkanmu meninggalkan apartemen. Seharusnya aku mencarimu sampai dapat! Dan seharusnya aku mengusir Frida lebih cepat!” Tian Ya menekankan kepala Lydia ke dadanya. “Lydia, kumohon tetaplah di sini…” Akhirnya Tian Ya dapat mengucapkan kalimat itu. “Lupakan semuanya dan kita mulai dari awal… Aku ingin selalu bersamamu, apa pun yang terjadi aku ingin kau terus berada di dekatku! Aku ingin ingin melihat matamu saat kau memandangku, tanpa perlu melihat orang lain! Aku ingin mendengar suaramu ketika kau berbicara denganku, merasakan hembusan napasmu ketika kau menghirup udara dari tempat yang sama denganku! Aku akan menemanimu setiap hari, pergi jalan-jalan, makan, menonton film, dan menuruti semua yang kau minta. Aku tidak akan pulang malam, tidak akan minum sampai mabuk, tidak akan membiarkan orang asing tinggal bersama kita!”

Semua yang dikatakan Tian Ya terdengar begitu indah, sekaligus mengungkapkan apa yang juga menjadi keinginan Lydia. Tapi bagaimana kalau suatu saat badai kembali menerpa hubungan mereka? Franklin tidak akan mendatangi Lydia dua kali, dan pada saat itu mungkin saja Franklin sudah memiliki kehidupannya sendiri! Lydia berusaha mendorong Tian Ya menjauh, pada saat itu darah yang merembes dari perban ke baju Tian Ya teraba olehnya. Lydia menatap noda berwarna merah itu dan memekik, “Lukamu… aku mengenai lukamu! Oh… Tian Ya! Sudah kubilang kau masih harus dirawat!”

Tian Ya menahan Lydia, “Aku tidak mau rumah sakit, tidak mau dokter, tidak mau obat! Aku hanya mau kau!”

“Kalau begitu… biarkan aku melihat lukamu…” kata Lydia dengan suara bergetar.

Tian Ya duduk di pinggir ranjang, Lydia berjongkok di hadapan pemuda itu. Setelah melepas kemeja Tian Ya, Lydia membuka perban di dadanya yang sudah basah. Perlahan-lahan ia menyeka darah di sekitar luka Tian Ya menggunakan kain bersih, lalu dibalut lagi dengan perban baru. Lydia tidak berkata apa-apa. Tapi selama proses itu berlangsung air matanya mengalir tanpa henti. Setelah selesai Lydia mengangkat kepala. “Apakah sakit?

Tian Ya menggeleng. “Sepertinya justru kaulah yang kesakitan!”

“Aku ikut sakit kalau kau sakit…” Perasaan memang tak bisa dibohongi. Semarah dan sekesal apa pun mereka, tapi karena masih memiliki rasa cinta, jika ada salah satu yang terluka pasti yang lain juga merasakan sakitnya.

“Hubungan kita sudah sampai sejauh ini. Sudah pernah terpisah sepuluh tahun, sudah mendapat tentangan banyak orang, kabur ke sana kemari, tersangkut dendam keluarga, hampir mati bertemu penjahat… rasanya konyol kalau sampai hancur hanya gara-gara orang seperti Frida! Tentang masalah keluarga kakakmu dengan keluarga kami, tidak ada seorang pun yang menginginkannya terjadi. Karena aku sudah tertembak, anggap saja sebagai hukuman.” Tian Ya melanjutkan dengan suara parau, “Aku tahu kau datang ke rumah sakit setiap hari mengajakku bicara. Aku tahu kau menggenggam tanganku, aku tahu kau menangis. Aku tahu kau tidak rela aku pergi. Itulah yang memberiku kekuatan untuk bertahan dan tetap hidup. Tapi kalau kau pergi, berarti sama saja dengan membunuhku secara perlahan-lahan.”

burning-heart

Lydia memeluk Tian Ya dan menangis di pangkuannya. “Aku tidak ingin kau mati! Aku tidak mau melihatmu mati! Jangan sakit lagi, jangan tidur lama-lama, dan jangan terluka! Aku bohong, aku tidak ingin meninggalkanmu! Tidak akan pulang ke Indonesia…” Bayangan hidup tanpa Tian Ya tampaknya jauh lebih menderita daripada hidup bersama Tian Ya di dalam penderitaan itu sendiri!

Tian Ya membelai kepala Lydia. Tenggorokannya seperti tersumbat batu besar, tapi Tian Ya merasa terlepas dari beban berat karena tahu jika perasaan mereka berdua belum berubah. Kemudian Tian Ya mengangkat wajah orang yang sangat dikasihinya itu dan menyeka air matanya dengan sehelai sapu tangan. Lydia memegang tangan Tian Ya. Sapu tangan bersulam bunga lili itu masih ada. “Aku tidak pernah membuangnya, hanya saja tidak tahu kenapa… dia sering menghilang sendiri. Dan aku percaya dia akan selalu menemukan jalan untuk kembali… Bu yao ku le…” (不要哭了。。。 —Sudahlah, jangan menangis…).

Mereka berciuman sangat lama.

Tian Ya menarik Lydia berbaring di sisinya.

Di luar Franklin masih berteriak, “Lydia! Tian Ya! Buka pintunya! Buka pintunya!” Tapi nadanya merendah, mulai menunjukkan rasa putus asa.

Tian Ya menutup kedua telinga Lydia dengan tangannya. “Jangan dengarkan suara apa pun, kau hanya perlu mendengar suaraku.”

Di antara rasa canggung yang menyelimuti, keduanya dapat merasakan detak jantung satu sama lain saling berpacu tak terkendali. Tanpa menyadari malam merangkak semakin ke atas. Alangkah indahnya jika dapat terus seperti ini…

“Kau harus ke rumah sakit besok…” Lydia berkata lirih. Ia waswas setelah melihat luka Tian Ya dan menjaga jarak agar jangan sampai menyentuhnya lagi.

Sepertinya Tian Ya tidak peduli. Ia memeluk Lydia seolah takkan pernah melepaskannya. “Tidak mau! Terkurung di rumah sakit sangat menyebalkan!”

“Lukamu bisa tambah parah…”

Tian Ya menatap Lydia dalam-dalam, “Aku sudah sembuh! Kau adalah dokter terbaik yang pernah aku temui!”

“Kau sungguh aneh!” Lydia berusaha menghindari mata Tian Ya, perasaannya kembali bergejolak. Namun kemudian sesuatu melintas di benaknya, membuat Lydia terdiam begitu lama.

“Ada apa?” tanya Tian Ya.

“Bagaimana dengan mama dan papa? Mereka sekarang juga menentang kita, posisi kita lebih sulit daripada sebelumnya…”

“Tidak usah dipikirkan, biar aku yang urus! Pada dasarnya mama bukan benar-benar membencimu. Mama hanya khawatir… Franklin menjadikan aku sebagai pelampiasan dendam.” Kemudian ia menambahkan dengan serius, “Ingat, jangan katakan apa-apa pada mama dan papa!” Tian Ya bersyukur masalah Lydia yang terjebak di tempat itu tidak sampai ke telinga Tuan dan Nyonya Li. Jika mereka tahu, walaupun percaya bahwa kejadian itu tidak disengaja dan Lydia hanya sebagai korban, entah akan bagaimana jadinya.

“Kakak tidak akan berbuat begitu, karena kau sudah menyelamatkannya.”

“Berarti tidak sia-sia aku tertembak sampai mengalami koma.”

Cahaya matahari samar-samar menyusup dari celah tirai jendela. Lydia tersentak, “Aku harus pulang!”

“Pulang?”

Lydia melepaskan kedua tangan Tian Ya yang melingkar di tubuhnya kemudian berdiri.

“Memangnya kau mau pulang ke mana? Sekarang di sinilah rumahmu!” Tian Ya juga bangkit, duduk di pinggir tempat tidur. Sepertinya malam berlalu terlalu cepat.

“Aku harus mengatakan sesuatu pada Kakak… agar dia tidak cemas…”

Terlihat jelas jika Tian Ya kurang senang dengan ide ini.

“Jangan cemberut begitu!”

“Kau harus memberi jaminan yang bisa membuatku percaya!”

Lydia mengerutkan alis, “Kenapa kau jadi posesif sekali?”

“Atau aku harus mengantarmu bertemu Franklin? Memintanya agar membiarkanmu tinggal di apartemen?”

“Tian Ya…”

Tian Ya mendesah, “Aku khawatir… kau mudah goyah…”

“Karena aku tidak punya apa-apa…” Lydia tersenyum, “Kugunakan diriku sebagai jaminan!”

“Dirimu?”

“Aku, hatiku, sudah tertambat padamu! Bagaimana mungkin tidak kembali?” Lydia meninggalkan secercah kecupan di kening Tian Ya lalu tersenyum sambil berkata, “Beristirahatlah!” Tian Ya mengawasi Lydia berjalan ke luar kamar, mati-matian memaksa diri percaya bahwa gadis yang dicintainya itu akan kembali seperti apa yang dia ucapkan beberapa saat sebelumnya.

 

Masalahnya sekarang, Lydia tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Franklin.

Aku dan Tian Ya sudah berbaikan, jadi batal pulang ke Indonesia. Kakak pergi sendiri saja, ya?

Begitukah?

Franklin menatap pintu kamar yang terkunci. Lydia di dalam sana bersama Tian Ya, berdua saja. Perasaannya sulit dijelaskan dengan kata-kata. Semula harapan itu masih ada, harapan bahwa Lydia akan mengikutinya pulang ke Indonesia. Namun ketika pagi tiba dan pintu itu masih belum terbuka, Franklin tahu jika dirinyalah yang harus pergi.

Lydia kebingungan saat tidak menjumpai Franklin di ruang tamu. Xing Wang berkata kalau Franklin baru saja pergi.

Apakah Kakak benar-benar akan pulang ke Indonesia sendirian?

“Kak, kau ada di mana?” Lydia buru-buru menjawab panggilan telepon.

“Aku sedang sarapan di restoran yang ada di seberang jalan. Kemarilah!”

Lydia berulang kali mencuri pandang ke arah Franklin. Kenapa Franklin tidak bertanya, apa yang ia bicarakan dengan Tian Ya? Apa yang mereka lakukan? Mengapa tidak menjawab panggilannya? Mengapa pintu kamar tertutup semalaman? Tapi Franklin tampak tenang sekali.

Setelah melihat piring Lydia kosong ia langsung berdiri. “Ayo kita pergi!”

Pergi ke mana?

Kalau langsung ke bandara sepertinya tidak mungkin.

Mereka berdua naik taksi. Franklin berseru Stop! saat mereka sampai di sebuah toko perhiasan, lalu menarik Lydia masuk ke tempat itu. Setelah berputar-putar Franklin berhenti di bagian cincin. Perasaan Lydia semakin tidak enak.

Kakak mau membeli cincin? Untukku?

Kemudian Lydia melihat tulisan yang tertulis di dinding, Wedding Ring. Ia tersentak. Cincin pernikahan!

“Menurutmu mana yang lebih bagus?” Franklin menunjukkan beberapa pasang cincin yang modelnya berbeda-beda. Lydia memilih dengan asal-asalan. Franklin menarik tangan Lydia lalu memakaikannya di jari. Kekecilan, kebesaran, sampai menemukan ukuran yang pas. Lydia ingin mengatakan tidak, tapi mulutnya seperti terkunci. Franklin memberi isyarat pada wanita penjaga toko untuk membungkus cincin yang sudah dipilih, kemudian menyerahkan kotak cincin pada Lydia.

“Pegang dulu!” Franklin mengambil dompet dan membayar cincinnya.

Penjaga toko mengatakan thank you so much, lalu tersenyum pada Franklin dan Lydia.

Mereka keluar dari toko perhiasan dengan diam. Di benak Lydia terlintas bayangan Tian Ya yang sedang menunggu, ia tak dapat menahan diri lagi. “Kakak…”

Franklin menoleh.

“Aku tidak bisa…”

“Apa maksudmu tidak bisa?” tanya Franklin. Lalu ia melanjutkan, “Tian Ya harus memasangkan cincin itu di jarimu!”

Ternyata setelah meninggalkan apartemen, tanpa sepengetahuan siapa pun, Franklin pergi ke rumah keluarga Li. Nyonya Li sangat terkejut melihat Franklin berdiri di depan pintu. “Kau! Untuk apa kau datang kemari?” Tapi setelah teringat jika Tian Ya masih di apartemen bersama Lydia, ia tak dapat menahan diri bertanya, “Bagaimana Tian Ya… dan Lydia?”

“Ada masalah penting yang ingin aku bicarakan dengan Paman dan Bibi Li,” ujar Franklin dengan sangat sopan.

Meski ragu, Nyonya Li kemudian memanggil Tuan Li.

“Mereka berdua sudah tak dapat disembuhkan. Sebaiknya kita segera mengatur pesta pernikahan untuk Lydia dan Tian Ya!” Franklin mengatakan kalimat tersebut tanpa pendahuluan.

Tuan dan Nyonya Li saling bertukar pandang, tak tahu bagaimana harus menanggapinya. “Kenapa kau tiba-tiba mengajukan ide ini? Bukankah sebelumnya kau sangat menentang hubungan Lydia dengan Tian Ya?”

“Pikiran seseorang bisa berubah kapan saja, begitu juga aku. Setelah menemukan Lydia di Taiwan dan melewati berbagai masalah, aku melihat mereka berdua sudah tidak bisa dipisahkan…”

“Kau benar-benar menginginkan mereka menikah? Bukan karena hal lain?” tanya Nyonya Li penuh selidik.

“Aku tahu kalian tidak suka melihatku. Mungkin kalian mengira aku memiliki niat buruk. Tapi tolong jangan membawa-bawa Lydia, kita semua sama-sama menyayanginya. Aku juga sangat berterima kasih karena kalian memperlakukannya dengan baik. Demi Lydia, bisakah kita menghapus kebencian dan menggantinya dengan cinta?”

“Tapi keluarga Lydia tidak setuju…”

“Aku setuju dan termasuk keluarga Lydia! Aku walinya!” Franklin berkata sangat meyakinkan. “Atau jika Paman dan Bibi masih belum puas, biar aku yang akan bicara pada ayah ibu.”

Nyonya Li tampak pasrah, “Sudahlah, sudahlah! Kita mengaku kalah saja pada anak-anak ini! Mau menikah di Taiwan atau di Indonesia pun boleh. Aku hanya tidak ingin ada masalah atau ketegangan lagi!”

Tuan Li mengangguk-anggukkan kepala. “Mau bagaimana lagi? Ini sudah kehendak takdir!”

Tindakan Franklin melebihi apa yang bisa terpikirkan oleh Lydia. Ia sangat terharu, tanpa memedulikan keadaan di sekitar, mengulurkan tangan dan memeluk Franklin erat-erat. “Terima kasih…” Kata ini tidak cukup, namun apalagi yang bisa Lydia ucapkan?

Fei Yang dan Xing Wang masih di aparteman karena mereka tidak tenang meninggalkan Tian Ya sendiri. Bagaimana jadinya jika Lydia tidak kembali dan Tian Ya melompat dari balkon? Tian Ya tidak sebodoh itu, tapi orang yang sedang jatuh cinta tidak ada yang waras!

Dalam waktu tak terlalu lama Lydia kembali bersama Franklin. Di hadapan Fei Yang dan Xing Wang, Franklin mengeluarkan sepasang cincin yang baru saja dibeli. Ia berkata pada Lydia dan Tian Ya, “Cincin ini adalah hadiah pernikahan dariku untuk kalian berdua!”

Lydia dan Tian Ya merasa seperti sedang bermimpi, dapat melihat Franklin duduk bersama dengan Tuan dan Nyonya Li. Atas desakan semua orang Franklin pindah ke rumah keluarga Li. Akan lebih mudah melakukan persiapan pesta pernikahan jika Franklin dekat dengan mereka daripada tinggal di hotel. Franklin adalah satu-satunya keluarga yang mewakili pihak Lydia, sehingga tidak mungkin tidak terlibat dalam persiapan pesta pernikahan.

 

Lydia mendapat SMS dari nomor yang tidak dikenal.

 

Lydia, aku ucapkan selamat karena kau akan segera menikah dengan Tian Ya. Sayang sekali aku tidak bisa datang. Salah… orang seperti aku memang tidak pantas untuk datang, benar kan? Aku minta maaf atas segala hal yang pernah kulakukan padamu. Kalau kau tidak mau memaafkan juga tidak apa-apa, aku memahaminya. Tolong sampaikan ucapan terima kasih pada kakakmu, ya. Berkat bantuannya aku bisa pulang ke Indonesia. Aku tidak tahu nomor ponselnya.

Frida

 

Begitu menerima pesan tersebut Lydia langsung mencari Franklin di kamarnya, kamar yang disediakan keluarga Li khusus bagi tamu.

Franklin terkejut karena Lydia masuk tiba-tiba tanpa mengetuk pintu. “Lydia! Ada apa?”

Lydia duduk di tempat tidur dan menunjukkan ponselnya pada Franklin. “Apa Kakak yang membiayainya pulang ke Indonesia?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Aku kasihan padanya!”

“Dia bukan orang yang bisa dikasihani!” Lydia memprotes tidak setuju.

“Lydia… waktu itu ketika keluar dari apartemen aku melihat Frida duduk di pinggir jalan seperti gelandangan. Aku dekati dia. Katanya ia sedang bingung, tak tahu harus pergi ke mana. Uangnya tinggal sedikit, visanya mati, dan tidak mungkin bekerja dengan keadaan seperti itu. Aku lalu mengusulkan agar dia pulang ke Indonesia, membelikan tiket pesawat. Meski awalnya menolak tapi kemudian Frida mau menerima karena sudah tidak ada jalan lain. Baguslah kalau dia sudah sampai di Indonesia dengan selamat. Hari ini aku mentrasfer sejumlah uang ke rekening Frida agar dapat digunakan untuk modal usaha di kampung.”

“Tapi bagaimana kalau dia memanfaatkanmu? Frida itu jahat!”

“Aku tahu! Kita semua marah dan membencinya. Tapi… bagaimana jika seandainya kau yang mengalami nasib seperti Frida? Bagaimana jika tidak ada orang yang mau menolongmu?” Pertanyaan yang sulit dijawab karena dirinya bukan Frida! Lydia menggerutu dalam hati.

“Kau masih lebih beruntung karena memiliki aku dan Tian Ya. Sedangkan dia?” Franklin merendahkan suaranya, “Kalau aku bisa melupakan dendam terhadap keluarga Li, kenapa kau tidak bisa memaafkan Frida? Dan bukankah lebih baik dia pulang ke Indonesia daripada di sini? Kita sudah tahu seperti apa Frida, jadi tidak mungkin masuk perangkapnya untuk yang kedua kali. Apalagi sepertinya dia sudah mendapat pelajaran berharga.” Meski tidak mengatakan apa-apa, wajah Lydia tampak masam.

“Oya, aku jadi ingat sesuatu.” Franklin mengambil beberapa lembar kertas dari dalam tas dan diberikannya pada Lydia. “Tanda tanganmu dibutuhkan…”

“Apa ini?”

“Surat perceraian!”

Mata Lydia terbelalak lebar-lebar. Ya Tuhan! Bagaimana ia bisa melupakan hal ini? Secara hukum dirinya dan Franklin masih terikat hubungan pernikahan!

“Sejak awal pernikahan kita hanyalah kebohongan yang dilegalkan! Karena tidak pernah memiliki, seharusnya aku tidak pernah kehilangan… Tapi entah kenapa rasanya tetap…” Franklin tersenyum getir, “menyakitkan!”

Lydia tidak pernah ingat dengan status mereka sebagai suami istri, karena mereka memang belum pernah menjalani kehidupan seperti suami istri yang sesungguhnya! Lydia menatap Franklin lekat-lekat, Franklin mengangguk. Lydia mengambil pulpen dengan gemetar, Franklin menunggu. Ada jeda waktu sekitar satu menit sebelum Lydia akhirnya menggoreskan tanda tangan.

Setelah selesai Franklin mendesah dan berkata keras untuk menutupi kesedihan yang menyelubungi hatinya, “Kembalilah ke kamarmu! Jangan sampai Tian Ya mencurigai kita!”

Lydia berjalan keluar dari kamar Franklin dengan langkah berat, sementara itu lagu milik Sam Lee (Li Sheng Jie), Chi Xin Jue Dui (痴心绝对 — Kegilaan Mutlak) yang diputar di kamar Tian Ya terdengar dengan sangat jelas.

Wei ni fuchu na zhong shangxin ni yongyuan bu liaojie

Wo you heku mianqiang ziji aishang ni de yiqie

Ni you henhen bi tui wo de fangbei

Jingjing guanshang menlai mo shu wo de lei

 

Ming zhidao rang ni likai ta de shijie bu keneng hui

Wo hai sha sha dengdao qi ji chuxian de na yi tian

Zhidao na yi tian ni hui faxian

Zhenzheng ai ni de ren duzi shouzhe shangbei  

 

为你付出那种伤心你永远不了解

我又何苦勉强自己爱上你的一切

你又狠狠逼退我的防备

静静关上门来默数我的泪

明知道让你离开他的世界不可能会

我还傻傻等到奇迹出现的那一天

直到那一天你会发现

真正爱你的人独自守着伤悲

 

Demi kau aku membayar luka hati yang selamanya tidak akan kau pahami

Mengapa aku lagi-lagi memaksakan diri mencintaimu sepenuhnya?

Kau lagi-lagi bersikeras menolak perlindunganku

Diam-diam menutup pintu sambil membisu menghitung air mataku

 

Jelas mengetahui jika tak mungkin bisa membuatmu meninggalkan dunianya

Aku masih dengan bodoh menunggu keajaiban muncul di hari itu

Sampai pada hari itu kau dapat menemukan bahwa

Orang yang benar-benar mencintaimu sedang sendiri menyimpan kesedihan

 

Sebenarnya ada apa? Mengapa rasanya sangat sakit?

Lydia tidak tahu kenapa ia merasa sedih, sedih sekali. Sebelumnya Lydia sempat berpikir, jika Franklin merestui hubungannya dengan Tian Ya, ia akan bersorak dan melompat kegirangan. Tapi ternyata tidak.

 

直 到 那 一 天 你 会 发 现

zhi dao na yi tian ni hui fa xian

 

真 正 爱 你 的 人 独 自 守 着 伤 悲

zhen zheng ai ni de ren du zi shou zhe shang bei

 

Sampai pada hari itu kau dapat menemukan bahwa

orang yang benar-benar mencintaimu sedang sendiri menyimpan kesedihan

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.