Sandakan – Kinabangan Journey (1)

Christiana Budi

 

Dari kota pelabuhan, seafood, kelapa sawit, orang hutan, kuburan kuno, festival burung sampai ke pacet

September 2014, saya mendapat kesempatan untuk mengunjungi wilayah Borneo utara – Sabah di bagian negara tetangga Malaysia, walaupun tidak semua terjelajah saya akan sedikit menceritakan tentang wilayah Sandakan dan sungai Kinabatangan.

Tugu kota Sandakan di jantung kota Sandakan

Tugu kota Sandakan di jantung kota Sandakan

Kota Sandakan

Puanase rek….nylomot rai tenan…

Komentar itu terucap saat turun dari pesawat di lapangan terbang Sandakan-Sabah Malaysia, panas sinar matahari terpapar di muka karena setelah 3 jam terkurung di pesawat yang duingin banget. Setelah melalui imigrasi dan mengambil bagasi saya bertemu dengan seorang teman dari Nestle; Kertijah. Dengan membuat nama “NESTLE” Guede banget…memang baru kali ini kami bertemu – sebuah komunikasi yang pas karena saya belum pernah ketemu muka dengan Kertijah dan tidak mempunyai no HPnya juga dan saya akan berkunjung ke project Nestle di Kinabatangan.

Karena ini kali kunjungan pertama saya di Sandakan, Kertijah berbaik hati dengan memutar dahulu mengunjungi kota Sandakan yang berjarak sekitar 12 kilometer dari Lapangan terbang Sandakan, sebab tujuan utama kita adalah di Kinabatangan yang berlawanan arah dengan kota Sandakan. Dan Juga kita harus berbelanja beberapa keperluan untuk posko di Sukau.

Kota Sandakan merupakan salah satu kota pelabuhan terbesar kedua di wilayah Sabah setelah Kota Kinabalu, Sandakan kota yang cukup menarik dan tenang di pinggiran laut dengan gedung-gedung lama dan transportasi dengan bis yang cukup kuno, cukup nyaman juga untuk keliling menikmati pemandangan yang cukup indah. Berikut foto-foto suasana dari kota Sandakan:

sandakan-kinabatangan (2) sandakan-kinabatangan (3)

Bas berhenti-henti…mungkin ada Bas yang tak berhenti-henti

Bas berhenti-henti…mungkin ada Bas yang tak berhenti-henti

sandakan-kinabatangan (5) sandakan-kinabatangan (6)

Bis Jadul yang tetap dipertahankan di Sandakan atas permintaan masyarakat setempat

Bis Jadul yang tetap dipertahankan di Sandakan atas permintaan masyarakat setempat

sandakan-kinabatangan (8) sandakan-kinabatangan (9) sandakan-kinabatangan (10) sandakan-kinabatangan (11) sandakan-kinabatangan (12)

 

Buah Tarap

Setelah cukup puas keliling sebagian kota Sandakan kita meluncur ke wilayah Sukau di pinggiran sungai Kinabatangan. Perjalanan memakan waktu sekitar 2-3 jam menggunakan mobil dengan kondisi jalan sebagian bagus dan sebagian masih dalam tahap perbaikan.

“Kertijah saat ini musim buah apa?” aku bertanya karena memang tukang makan buah…

Ada Durian masih namun tak banyak – ada buah tarap buah khas di sini you harus cobalah…kata Kertijah dengan logat Malaysia yang kental –Logat Malaysia di wilayah Sabah masih bisa aku pahami walaupun sedikit beda sekali dengan logat Malaysia yang berada di wilayah Peninsula.

Apa tu Buah Tarap?

Buah sefamili dengan cempedak nanti liat saja kita beli di jalan

Di sepanjang jalan memang masih terlihat buah durian yang dijual karena September masih di penghujung musim durian namun saya tidak tertarik dengan buah durian saat itu, dan karena informasi dari Kertijah tentang buah tarap, saya ingin mencoba. Buah tarap merupakan buah satu family dengan cempedak namun baunya tidak setajam buah cempedak, rasanya manis dan lembut saat sudah matang kita tinggal menggunakan tangan untuk membukanya dan tidak perlu bersusah payah menggunakan pisau.

Buah Tarap yang banyak dijual di pinggir jalan

Buah Tarap yang banyak dijual di pinggir jalan

Kertijah siap memakan Buah tarap

Kertijah siap memakan Buah tarap

Buah Tarap yang harum dan lembut...yummmy...

Buah Tarap yang harum dan lembut…yummmy…

Dalam perjalanan kita tidak lupa mengisi bensin pom bensin terakhir sebelum kota Kinabatangan, karena setelah masuk wilayah Kinabatangan dan Sukau tidak ada pom bensin, jika tidak ingin mendorong harus isi full dulu dan beberapa jerigen untuk isi boat, di sini kita sudah mengisi bensin sendiri tanpa bantuan dari petugasnya.

Petugas SPBU dadakan dengan senyum manisnya…..hehehe...

Petugas SPBU dadakan dengan senyum manisnya…..hehehe…

Setelah perjalanan kurang lebih dua jam kita masuk kota Kinabatangan, aku pikir ah sudah sampai ternyata Kertijah masih melaju dengan mobilnya…

Kok tak berhenti kita kataku…

Eits masih satu jam lagi kita jalan, kan masih belum masuk Sukau, Posisi Sukau di ujung Jalan beraspal ini,” kata Kertijah

Ops ternyata kita belum sampai okelah kita nikmati dulu suasana pemandangan yang disuguhkan sepanjang jalan walaupun itu semua didominasi oleh perkebunan sawit.

Benar setelah kita sampai diujung jalan beraspal dan mulai dengan jalan yang begelombang dan sebagian hancur akhirnya kita sampai di Sukau..

 

Sukau di Riparian – Kinabatangan

Desa Sukau merupakan salah satu wilayah desa yang termasuk di pinggiran sungai (Riparian) Kinabatangan –Sabah –Malaysia Sungai Kinabatangan terkenal sebagai daerah konservasi pertahanan terakhir dari kehidupan liar di wilayah ini karena banyaknya pembukaan hutan untuk loging kayu dan penananman tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit. Riparian/tepian sungai Kinabatangan dihuni oleh penduduk asli yang terkenal sebagai orang sungai dan daerah ini menjadi wilayah konservasi untuk binatang liar seperti buaya, orang hutan, burung, monyet dll. Wilayah ini sangat dilirik oleh lembaga-lembaga konservasi alam yang melindungi kehidupan liar.

Riparian Sungai Kinabatangan yang dilihat dari ketinggian

Riparian Sungai Kinabatangan yang dilihat dari ketinggian

Wilayah desa Sukau dan sekitarnya sudah banyak ditanami dengan tanaman kelapa sawit, sepanjang mata memandang akan terlihat perkebunan kelapa sawit baik milik perusahaan dan petani kecil. Ada ketakutan dari beberapa pihak ketika petani sudah mulai merambah wilayah Riparian sungai Kinabatangan yang merupakan wilayah konservasi. Maka baik dari pemerintah ataupun swasta dan penggerak lingkungan mencoba untuk melindungi daerah aliran sungai Kinabatangan yang merupakan daerah pertahanan terakhir dari kehidupan liar.

Wilayah desa di sekitar Riparian

Wilayah desa di sekitar Riparian

“Budi, you harus naik cruise boat lah…belum sah kamu kesini kalau belum naik cruise” kata Kertijah

Jawabku let we see ya karena ada kerjaan menunggu, senang-senang nanti dulu

Memang, suasana di wilayah Sukau sangat tenang, wilayah ini menyajikan cruise boat untuk melihat kehidupan liar dengan menyusuri sungai Kinabatangan dengan jadwal pagi, siang, sore dan malam, berdasarkan informasi waktu yang paling pas untuk melihat binatang keluar adalah sore hari. Namu ternyata kali ini saya melewatkan karena hujan di sore hari dan kegiatan utama saya di sana lebih membutuhkan waktu yang cukup banyak seharian, mungkin kunjungan berikutnya bisa mengikutinya. Jadi kali ini selamat tidak ketemu buaya……membayangkan betapa senangnya buaya ketemu aku …..bisa puasa berbulan-bulan buayanya….

Berikut adalah foto salah satu penginapan di wilayah Desa Sukau yang menyediakan layanan cruise ke sungai Kinabatangan.

sandakan-kinabatangan (19) sandakan-kinabatangan (20) sandakan-kinabatangan (21)

Suasana tenang dan nyaman sangat menyenangkan untuk istirahat, namun sayangnya saya tidak bisa menikmati ketenangan tersebut dengan nyaman karena tugas utama untuk bekerja bukan berlibur.

Jang (nama panggilan Kertijah) bisa kita beli ikan untuk kita masak kataku…

Kertijah menjawab, ”tak ade ikan di sini kalaupun ada nelayan yang fishing, sudah diambil middle man dibawa ke pasar”

Walaupun Sukau merupakan wilayah yang cukup subur dan di pinggir sungai jangan harap kita dengan mudah mendapatkan sayuran segar dan ikan segar. Masyarakat di sini tidak banyak yang mau bertanam tanaman sayuran dan tanaman semusim lainnya karena kalah bersaing dengan binatang liar dan jika ada yang memancing ikan akan segera dijual ke pedagang yang dibawa ke wilayah lain. Kalau suka dengan ikan lebih baik membawa ikan dari Sandakan yang merupakan surga seafood di wilayah ini.

 

Tanam Pohon dan pacet

Mitra kita Nestle yang berada di Kinabatangan mempunyai program relief untuk penanaman pohon di sepanjang Riparian sungai Kinabatangan.

“Budi kamu harus ikut tanam pohon ya karena sudah sampai di sini, besok pagi-pagi sekali sebelum ketemu petani kita pergi” kata Kertijah

Kujawab “oke no problem”

Saya menjawab tanpa mengetahui sesuatu yang banyak di wilayah itu. Pagi-pagi kita sudah siap-siap untuk melakukan kegiatan, diawali dengan tanam pohon dulu karena petani yang mau ditemui adanya di siang hari. Kami menuju ke dermaga yang ada di sungai Kinabatangan yang menjadi titik pertemuan dengan teman-teman.

“Boleh saya tidak ikut tanam pohon,” kata Dean, teman kami setelah sampai di dermaga

Saya melihatnya dengan curiga kenapa? Karena muka dia agak ngeri-ngeri mengatakannya….

Dean jawab…a lot of leech …

Mataku dengan cepat melebar dan berkata oh NO! Aku tak mau juga….

Mendadak keringat dingin meluncur dan merinding badanku…karena binatang yang paling kutakuti adalah pacet dan lintah…

Setelah mendengar itu aku tak mau turun dari mobil sampai akhirnya harus dipaksa turun dan dibilang kita kasih sepatu anti lintah…

Walaupun pakai sepatu anti lintah tetap badan rasanya merinding semua…

Wilayah Riparian sungai Kinabatangan merupakan surga pacet karena masih banyak binatang liar yang ada di wilayah tersebut, jadi kemungkinan setiap jengkal ada pacet adalah 100% …. Energy yang terkuras untuk melawan ketakutan itu lebih besar, membayangkan pacet melenting dari pohon kemudian nempel di tubuh dan menghisap darah…hiks.. untuk antisipasi saya meminta sebatang rokok ke Dean dan ternyata tanpa disadari rokok itu terbawa tetap di jaket saya sampai di Kuala Lumpur.

Foto-foto persiapan antisipasi pacet…

Siap-siap memakai sepatu anti pacet

Siap-siap memakai sepatu anti pacet

Ready untuk menanam pohon…hilangkan muka ngeri dulu …

Ready untuk menanam pohon…hilangkan muka ngeri dulu …

Kita harus menggunakan boat kecil untuk menyeberang sungai Kinabatangan dan menanam sedikit menjauh dari wilayah penduduk. Jenis pohon yang ditanam adalah tanaman lokal yang bisa menjadi makanan manusia dan binatang.

Berikut adalah foto-foto dermaga, boat dan perjalan menyusuri sungai menuju titik penanaman.

sandakan-kinabatangan (24) sandakan-kinabatangan (25) sandakan-kinabatangan (26) sandakan-kinabatangan (27) sandakan-kinabatangan (28) sandakan-kinabatangan (29)

Sebelum menanam kita memonitor pohon-pohon yang sudah ditanam terdahulu masih hidup atau tidak. Saat kita merapat di wilayah yang sdh ditanami kita juga menemukan beberapa jejak gajah dan kotoran-kotorannya.

sandakan-kinabatangan (30)

Penjelasan tentang titik-titik penanaman di Riparian Kinabatangan

Penjelasan tentang titik-titik penanaman di Riparian Kinabatangan

Salah satu jenis tanaman yang ditanam di sepanjang Riparian

Salah satu jenis tanaman yang ditanam di sepanjang Riparian

Saya mendengarkan teman kami Kertijah menceritakan kegiatan penanaman, jenis pohon yang ditanam, wilayah penanaman dll dengan mata lirik sana lirik sini untuk memastikan tidak ada pacet di sekitar kita. Dari semua orang di rombongan hanya Dean dengan saya yang ngeri-ngeri sedap dengan pacet.

“Apa ini yang ada di mukaku” teriak salah satu teman

Sontak semua yang sedang serius serentak kami menoleh, terutama Dean dan saya teriak ngeri…

“Bunuh itu kataku”

Karena melihat pacet menempel di muka salah satu teman kami. Badan panas dingin saya langsung kabur menuju perahu…

Kami menyeberang kembali mencari wilayah yang terbuka untuk menanam pohon. Saat wilayah penanaman dibersihkan, kami minta dibersihkan sekali karena takut ada pacet di rumput yang tinggi-tinggi. Jelas mataku tetap lirik sana lirik sini untuk melihat keberadaan si pacet apalagi ketika Kertijah minta baju pelampung dilepas sebelum menanam…mukaku ngeri kalipun….karena membayangkan pacet bisa saja nempel di baju setelah pelampung dilepas.

Berikut adalah foto-foto penanaman pohon di wilayah Riparian sungai Kinabatangan beserta wajah ketakutan karena pacet…

sandakan-kinabatangan (33) sandakan-kinabatangan (34) sandakan-kinabatangan (35) sandakan-kinabatangan (36) sandakan-kinabatangan (37)

Akhirnya penanaman pohon selesai dan kita kembali ke dermaga, sesampainya di dermaga saya langsung copot sepatu dan jaket untuk memastikan tidak ada pacet yang menempel hehehehehe, walaupun setelah di mobil saya masih merasa ngeri-ngeri sedap membayangkan pacet. Saya tidak peduli semua mengolok-ngolok saya takut pacet, boleh ketemu binatang yang lain tapi kalau pacet kabuuuuuuurrrr……

Perjalanan dilanjutkan menuju wilayah lain untuk hari itu dan masih ada hal yang menarik di wilayah Sukau…

 

to be continued…

 

Christiana Budi

September 2014, Kinabatangan-Sabah Malaysia

 

 

One Response to "Sandakan – Kinabangan Journey (1)"

  1. Duaposen  30 May, 2018 at 15:27

    Menariknya buah tarap! Tak sangka kan kat Sandakan banyak aktiviti boleh buat? Saya mula tertarik dengan sandakan bila saya mula menulis di blog ni pasal tempat2 menarik kat sandakan ni. ini saya sharekan linknya

    https://www.duaposen.com/tempat-menarik-di-sandakan/

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.