It’s Not an Easy Journey (3): Shasqi dan Sekuntum Frangipani

Dian Nugraheni

 

Empat hari menjelang keberangkatannya kembali ke negeri keduanya, di belahan bumi utara nun jauh separuh jarak bumi, tiba-tiba Shasqi menerima pesan singkat dari Surya. Surya adalah temannya yang dikenal lewat dunia maya, dan mereka sudah menjadwalkan untuk bertemu ketika Shasqi meluangkan waktunya ke Bali. “Masih ada waktu, segeralah terbang ke Bali, jangan ragu, hanya satu jam perjalanan dengan pesawat dan kamu sudah di sini…”

Shasqi, “kemaren aku sudah sempat ke Bali, tapi mas Surya sedang tidak di tempat…”

Surya, “Iya, maaf aku yaa, aku ada urusan beberapa hari di Australia, ini aku sudah pulang kok…”

Shasqi, “Jadi..?”

Surya, “That’s the moment, Shasqi…kau harus kemari..jangan ragu, kataku. Setelah ini kau balik ke negerimu, entah kapan lagi kau akan kunjungi lagi pulauku…(dan aku, tentu saja..)”

Shasqi, “Knapa nggak mas Surya saja yang ke Jakarta..? Aku harus packing dan lain-lain buat siap balik ke sana..”

Surya, “dua hari lagi adikku menikah, aku tak bisa kemana-mana, dan sekaligus aku akan ajak kamu untuk menyaksikan pernikahan adat di sini, kamu pasti sangat tertarik, aku tau kamu juga akan segera menuliskan apa yang kau lihat, as always…”

Shasqi ragu, pengen, tapi waktunya mepet. Tapi tetap pengen ke Bali lagi, dan bertemu mas Surya.

Surya, “Shasqi..? Okay..? Berangkat jam berapa, aku jemput segera setelah kau mendarat di Ngurah Rai. Ayo cepatlah cek penerbangan paling awal yang kamu bisa dapat…”

Shasqi, “thinking…”

Surya, “Tak bisa thinking-thinking lagi, just do it…Packinglah barang-barang yang akan kau bawa balik ke sana, bawa sedikit pakaian saja ke sini, gampanglah nanti, banyak baju juga di rumah, baju adikku, seukuran denganmu. Nanti aku akan antar kau sampai Cengkareng di malam kamu berangkat. Jadwal terbangmu ke sana, malam, kan..?”

Surya terus mendesak, akhirnya, “Okay, ini aku selesaikan packing, lalu segera ke Cengkareng untuk cari penerbangan terawal ke situ…”

Surya, “Good job, Shasqi…aku siap-siap tunggu kamu yaa…texting aku, naik apa, jam berapa. Okay..?”

Shasqi, “Okay…”

***

Jam empat sore, Shasqi sudah tiba di bandara Ngurah Rai. Jantung Shasqi berdegup lebih kencang, antara ingin bertemu dengan Surya, dan juga hatinya yang sama sekali tidak siap bertemu dengan lelaki itu…

Ragu, tapi dikirimnya juga pesan pendek lewat handphonenya kepada Surya, “Aku sudah mendarat, mas…”

Surya, “Aku sudah di parkiran, keluarlah, tunggu di ujung lorong dekat Counter Garuda, aku ke situ. Wajahmu, sama dengan foto-foto yang kamu pampang di Facebookmu, kan..?” Surya jelas bercanda…

Shasqi, “Iyalah, mas..tapi ga tau juga sih, kadang mukaku berubah-rubah kalau lagi foto..ha..ha..ha..”

Shasqi, dengan backpack ungu hitamnya, berjalan menuju lorong keluar  di terminal kedatangan Bandara Ngurah Rai, setelah tengok kiri kanan, akhirnya ditemukannya sebuah kios dengan lambang penerbangan Garuda di sebelah kanan di mana dia sedang berhenti. Ditariknya nafas dalam-dalam, gugup menunggu Surya.

Dari jarak beberapa meter, dilihatnya seorang laki-laki dengan pakaian adat Bali, nampak seperti sarung, dengan kemeja lengan pendek warna putih, lengkap dengan udeng, ikat kepala yang biasa dipakai lelaki Bali, tersenyum, berjalan bergegas ke arahnya, seolah pasti, dirinyalah yang sedang dituju.

Shasqi menilai dengan cepat, dan menyimpulkan, bahwa itu Surya, meski di airport ini banyak orang lelaki yang juga berpakaian serupa dengan Surya, memakai baju adatnya  dalam kehidupan sehari-hari, tapi Shasqi menandai dari wajah Lelaki itu, serupa dengan foto yang dipasang di Facebook Surya. Shasqi memilih diam dulu, tak beranjak, tak bereaksi, menunggu lelaki itu benar-benar tiba di hadapannya, kalau benar itu Surya.

Lelaki itu menyeberang, dan segera tiba di hadapan Shasqi, “Shasqi..?”

Shasqi tersenyum, “Mas Surya..?”

Mereka bersalaman, kemudian tanpa ragu, Surya yang tinggi tegap mendekap Shasqi dengan erat, kepala Shasqi dielusnya dengan sayang. Shasqi tak menolak, malah tiba-tiba dia merasa sedih…

Setelah melepaskan pelukannya, Surya menatap Shasqi, “Kamu nampak lelah, Shasqi. Kenapa murung..? Ayolah, segera kita ke rumah. Aku barusan selesai melakukan sembahyang tadi ini untuk persiapan pernikahan adikku besok…”

Shasqi menatap Surya, di telinganya terselip sebuah bunga, Frangipani. Shasqi tersenyum…Suka..

***

Dalam perjalanan,”jauhkah rumah mas Surya dari sini..? Apakah tidak apa-apa aku menginap di rumah mas Surya..? Gangguin keluargamu nanti..? Apa carikan aku kamar hotel saja..?”

Surya menengok pada perempuan di sebelahnya, “kamu ini kok pikir begitu sih, kamu ini tamuku, Shasqi, keluargaku akan sangat gembira kedatangan tamu jauh seperti kamu. Mereka sudah kukasih tau, seorang Perempuan istimewa akan datang bertamu…”

Shasqi hanya diam, mengerling sedikit pada Surya, dan tersenyum.

Surya, “hai.., kamu ternyata pendiam yaa.., mana haha hihimu yang selalu kamu cantumkan di setiap komen di dinding facebookmu..? Ayolah…ha..ha..ha..”

Shasqi, sekali lagi, hanya tersenyum.

Surya, “Kamu nampak capek, Shasqi…sesampai di rumah, kamu istirahat yaa, aku akan temani, sambil wira-wiri urusin ini itu bantuin Bapak Ibu siapkan upacara besok pagi. Upacara akan dimulai jam 8 pagi tepat…”

Shasqi mengangguk, “jangan sampai aku merepotkan lho mas Surya..”

Surya, “tak ada itu, Shasqi…tak akan pernah ada…, aku, terutama, sangat berharap bisa bertemu denganmu…

Berkata begitu, suara Surya berubah menjadi datar, berat, dan berwibawa. Shasqi menengok pada lelaki di sebelahnya yang sedang mengemudikan mobil berwarna putih tersebut. Tak ada senyum. Shasqi merasa tambah salah tingkah, tak tau harus bagaimana.

****

Dari jalan besar, mobil berbelok masuk ke jalan kecil. Jalan yang hanya bisa dilewati dua mobil berdampingan dengan hati-hati kalau tak mau saling senggol. Kemudian berhenti pada bangunan yang dikelilingi tembok tinggi warna kuning, “ini rumah kami…Maksudku, kami, keluarga Bapak Ibuku, dan saudara-saudara dari Ibuku, tinggal dalam satu cluster…”

Surya menggandeng tangan Shasqi memasuki gang kecil menuju salah satu rumah yang ada di lingkungan itu. Sebuah rumah bercat oranye, dengan pintu depan kayu coklat yang berukir penuh. Indah…

Shasqi, “katanya akan ada pesta pernikahan, kok sepi..?”

Surya, “kamu akan aku tempatkan di salah satu villa yang kami miliki, adanya di sayap kanan dari cluster rumah kami.., Nahh, setelah capekmu reda, baru kamu akan aku bawa ke hadapan sanak familiku. Sekarang kamu istirahat dulu, okay..?”

Shasqi, “jangan merepotkan, mas..”

Surya, “aku sudah bilang, tak akan pernah ada itu, Shasqi..”

Di sebuah bangunan yang disebut villa, Surya membuka pintu kecil dari kayu yang nampaknya sudah sangat tua, dengan hiasan berperadah emas yang sudah pudar. Ragu, Shasqi mengikuti di belakang Surya. Surya menyadari hal itu, kemudian dia menengok ke belakang, “ayolah, Shasqi, masuklah ke rumah kami…”

Shasqi tersenyum, “Sure..he..he..”

Ternyata di balik pintu kayu tua itu, terhampar sebuah taman kecil yang dipagari dengan berbagai macam tanaman bunga. nampak bunga Sepatu warna-warni bermekaran di pinggir lapangan rumput kecil. Juga beberapa batang pohon Frangipani menjatuhkan bunga-bunganya yang luruh menghiasi bumi. Cantik…

Lebih masuk ke dalam, ada kolam renang kecil dengan airnya yang bersih, beberapa bunga Frangipani pun berjatuhan di kolam tersebut. kemudian, masuk lagi, baru terlihat ada beberapa bangunan, yang terdiri dari tiga kamar dan sebuah ruang tamu yang sangat artistik. Khas Bali.

***

Sorenya, menjelang senja, Surya, “Mari aku kenalkan pada keluargaku, Shasqi..”

Shasqi yang sudah selesai mandi, sedang duduk termangu menghadapi laptopnya yang terbuka, “haruskah sekarang..?”

Surya, “Kenapa..? Malas..?”

Shasqi, “Aku.., nggak ngerti harus bagaimana…”

Surya, “Apakah ini suatu yang berat buatmu..? Cuma bertemu mereka sekilas, trus..mau kemana kita..? Jalan-jalan malam di pantai, menikmati makan malam dengan candle light. Pantainya cuma dekat, 15 menit jalan kaki ke situ… Atau, kamu suka ke bar, diskotek.., minum sedikit wine..?”

Shasqi terdiam, “apa aja deh, mungkin semuanya akan menjadi suatu hal yang menarik bagiku, mas Surya..”

Surya mengangsurkan tangannya pada Shasqi, Shasqi menyambutnya tanpa emosi, biasa-biasa saja, cuma tersenyum, dan bilang, “terimakasih..”

Sejenak kemudian, Shasqi sudah memasuki ruang tamu rumah keluarga Surya, nampak ramai, seperti hampir semua kerabat ada di situ. Muka Shasqi memanas, pastilah memerah, dia tak sempat membayangkan keramaian itu.

Kemudian, Surya, dengan sopan meminta perhatian keluarga, dan memperkenalkan Shasqi pada mereka, dalam bahasa Bali yang Shasqi hanya bisa meraba artinya. Ahh, kenapa harus pakai bahasa yang dia tak mengerti.., pasti ini disengaja oleh Surya, tampak para kerabat bersahut-sahutan gembira menyambut pidato singkat Surya.

Shasqi berbisik, “Apa yang mas Surya bilang..? Kenapa mereka tertawa riang penuh semangat gitu..?”

Surya memandang wajah Shasqi, mesra, “Aku bilang, ini tamuku dari Amerika, calon istriku, dan akan tinggal di villa untuk beberapa hari…”

Shasqi, “Whaat..?!!”

Surya memeluk pundak Shasqi, tanpa kata, dia lebih menanggapi pertanyaan-pertannyaan kerabatnya yang berebut ingin tau.

Kira-kira setengah jam, Shasqi harus merasa asing dan kaku di antara anggota keluarga Surya, meski mereka sangat ramah, orang baru tetaplah terasa asing bagi Shasqi.

Setelah itu, Surya pamit pada mereka, dalam bahasa Bali juga, mungkin bilang, pamit, akan jalan-jalan. Shasqi melambai-lambai kecil, “Saya pergi dulu ya…?” pamitnya.

Surya, “Pantai hanya seperempat jam dari sini, suka jalan kaki, atau naik mobil..? Naik mobil pun ga bisa sampai benar-benar tepi pantai, masih harus jalan dari parkiran. Bagaimana..?”

Shasqi, “jalan kaki saja, mas Surya..”

Surya menggamit jemari Shasqi, digenggamnya erat, “Kenapa kamu murung begini, apakah apa yang kau tampilkan di Facebook, keceriaan itu, hanya kamuflasemu saja, sedangkan sebenarnya kamu Perempuan pendiam dan pemurung begini..?”

Shasqi tetap terdiam. Udara malam masih panas menurut ukuran Shasqi yang sudah biasa bersahabat dengan suhu udara yang mendekati titik nol derajat Celsius tiap harinya. Tapi angin cukup keras berkibar, membuat Shasqi merasa sedikit tertolong dari suhu udara yang menyiksanya itu. Baju atasan yang tak berlengan sengaja dipakainya agar tidak terlalu tersiksa oleh udara panas pulau itu.

Semburat jingga nampak di kaki langit. Meskipun Shasqi tak yakin benar arah mata angin di tempat itu, tapi mestinya, itu sebelah barat kaki langit, tempat di mana Matahari bersiap untuk tertidur di malam hari. Aroma pantai sudah tercium, tiba-tiba Shasqi berkata, “aku tak mau ke pantai, baliklah..ayo, please..”

Surya terkaget, “Wow, kenapa Shasqi..? Aku kira kamu suka menikmati pantai…”

Shasqi gusar, “Enggak, aku nggak suka pantai senja atau malam hari..baliklah…”

Surya memandang wajah Shasqi, memegang wajahnya, dan mengelus pipinya, Shasqi menunduk, “Kenapa, Sayang..?”

Shasqi terisak, “Aku sudah sering mencobanya, mencoba menikmati matahari tenggelam di pantai seperti ini. Tapi aku nggak mampu, please, aku mau pulang…”

Surya, “Pulang..? Pulang kemana, Sayang..? Ke rumah villa..?”

Shasqi, “aku enggak tau…”

Surya, sambil memeluk pundak Shasqi, “Okay, tenang Shasqi… Kita naik taksi ke tengah kota, atau pulang ambil mobil, lalu kita makan, kamu yang tentukan di mana sukamu, okay..?” Surya mencoba menyimpulkan, bahwa mungkin saja, Shasqi punya pengalaman buruk tentang pantai di senja hari. Tapi, ahh.., sudahlah, tak bisa langsung membahasnya sekarang dengan Shasqi yang sedang nampak tak gembira itu.

Shasqi, “Pulang ke rumah villamu…”

Surya, dengan tenang dan hati-hati mencoba mengorek keterangan dari Shasqi, berkata, “Baiklah…Kenapa menangis Shasqi..?”

Shasqi, “Nggak apa-apa…aku lapar, mau makan nasi yang dibungkus daun, yang ada sambal dan ikan asin, sayur kangkung…”

Surya tertawa gelak, “begitukah..? Itu yang bikin kamu menangis..? Bukan kan..? Okay, ada pasar kecil dekat rumah, kalau malam banyak orang jualan makanan tradisional.., mau ke sana..? Tak takut sakit perut..?”

Shasqi menggeleng, kembali mereka bergandengan tangan keluar dari kompleks tepi pantai, sebentaran kemudian mereka sudah sampai pasar kecil yang dimaksud, Shasqi bersemangat mengunjungi satu kedai ke kedai lain, dibelinya sate, nasi bungkus, tempe goreng, ikan asin yang dibumbu pedas..Hmm..air liurnya tertahan-tahan di mulutnya.

Tersenyum, Sahsqi berkata, “Ayo pulang mas Surya, sudah banyak ini..”

Surya kembali tergelak, “Ayolah, Sayang..kita makan di meja depan kolam di villa ya..”

****

Surya memperhatikan Shasqi yang sedang sibuk membuka satu demi satu bungkusan makanan yang dibelinya tadi, sempat didengarnya Shasqi menawar pada Ibu penjual nasi bungkus, “jangan pakai kertas, Bu, bungkusnya, daun aja…”

Setelah semua siap, Shasqi menyalakan beberapa lilin yang ada di meja makan terbuka yang berada di ujung kolam renang kecil depan kamar, yang hanya diterangi lampu kecil.

“Siap, mari makan..,” ajak Shasqi. Wajahnya nampak jauh lebih gembira.

Surya, “makanlah…, aku masih kenyang tadi makan makanan di rumah keluarga…”

Shasqi makan, sambil berkata-kata, “kenapa mas Surya bilang aku calon istri mas Surya waktu kenalin aku tadi..? Aku kan bukan pacar mas Surya..”

Surya menghela nafasnya, sedikit berat, menyulut sigaretnya, dan memandang pada Shasqi, “Teruskanlah makanmu, Sayang…”

Shasqi menurut, satu demi satu, pelan, sangat menikmati, dia coba semua makanan yang dibelinya. Setelah selesai, “Biarkan saja, nanti ada yang bereskan..jangan buang waktumu untuk beberes atau apa…, mari sini aku ceritakan sesuatu..”

Mereka berdua  duduk di bangku santai tepat di depan kolam renang. Surya menyalakan sigaretnya, Shasqi pun demikian juga, sedikit tradisional wine disajikan oleh orang yang bekerja di situ.

Surya, “Shasqi, tak usahlah pulang ke negerimu di belahan bumi utara itu.., Indonesia ini terlalu indah untuk kau tinggalkan dan kau tukar dengan negeri asing itu.., kau bisa berkarya di sini..”

Shasqi membuang asap rokok dari mulutnya dengan hembusan agak keras, sedikit memalingkan muka untuk menyembunyikan ekspresi yang tiba-tiba tercipta, sedikit kesal.

Shasqi, “Buat apa aku tinggal di Indonesia, mas Surya.. aku betah di sana, empat musim yang selalu berganti…, nampaknya itulah yang mengundangku untuk tetap tinggal di sana. Orang-orangnya nice, dan tidak suka campuri urusan orang lain, dan banyak lagi…”

Surya, “Tapi kau bilang hidupmu sunyi dan sendiri di sana..?”

Shasqi, “aku sudah biasa dengan sunyi dan sendiri, mas Surya. Kadang, bahkan itu yng terasa paling indah dalam hidupku…aku tak perlu menguras enerji untuk bermain hati dan perasaan..”

Surya, “Bukannya hidupmu menjadi kosong, Sayang..?”

Shasqi, “..kind of…, tapi kadang aku lebih suka memilihnya demikian. Aku.., sudah capek kalau harus memulai suatu hubungan lagi dengan, laki-laki, begitu kan maksudmu, mas Surya..?”

Surya, “Jadi, kamu nggak mau bertahan di sini..?

Shasqi, “Untuk apa..? Bukankah sudah aku katakan alasannya..? Kecuali ada hal-hal yang worth it yang bisa aku bela-belain untuk kembali tinggal di Indonesia..”

Surya, “Seperti apa hal yang menurut kamu worth it untuk membuatmu bisa tetap tinggal di sini..?”

Shasqi, “aku nggak tau…”

Surya, “Kamu tau, Shasqi, katakanlah…”

Shasqi, kali ini terbahak, “Ha..ha..ha.., come on.., jangan paksa-paksa aku bicara yang aku tak tau.. Besok, jam berapa upacara adat dimulai..?”

Surya, “Jam 8 pagi, Sayang. Tadi aku lihat setumpuk baju dan kain serta selendang sudah disediakan di kamarmu, tinggal pilih yang kau suka…”

Shasqi beranjak, mendekat ke kolam renang, dan memungut beberapa bunga Frangipani yang mengapung, mengalir terbawa air kolam yang sedikit bergelompang karena menerima aliran kecil dari jacuzi di ujung kolam. Pohon Frangipani menaungi kolam kecil itu, sehingga bunga-bunganya yang berjatuhan akan langsung diterima oleh segarnya air yang nampak jernih itu.

Shasqi, “apakah aku boleh memakai bunga ini di telingaku..?”

Surya, “Ya, Sayang, kemarilah, aku pasang untukmu…”

Kemudian Shasqi mendekat pada Surya yang sedang duduk di kursi rotan, Shasqi berjongkok, tangannya diletakkannya di pangkuan Surya, dan Surya memasang sekuntum Frangipani di selipan telinga kiri Shasqi. “Cantik, kamu Shasqi..”

Berkata demikian, Surya mengelus rambut Shasqi.”Nggak usah balik ke negerimu, ya, Shasqi.., kalau di sana kamu hanya akan hidup sendiri begitu. Kamu menyia-nyiakan waktumu. Bukankah kau bilang kau tak pernah punya seseorang yang istimewa setelah berpisah dengan mantan suamimu..?”

Shasqi terdiam, hatinya pedih bercampur kesal, kenapa, lagi-lagi,  mas Surya harus mengungkit masa lalunya. Matanya panas, air mata sudah menggantung siap terjatuh. “aku pun mengalami hal yang serupa, Shasqi, Istriku lebih memilih mengikuti bule yang dikenalnya di sini, dan mereka sekarang tinggal di Perancis…bukankah pengalaman kita sudah cukup panjang..? Menikahlah denganku…”

“Ahhhhh…, ” keluh Shasqi membuang kesalnya, air matanya tak tertahan lagi, tangisnya meledak, Surya membungkuk, memeluk kepala Shasqi yang sedang jongkok di hadapannya.

Surya, “Kenapa menangis Shasqi, maaf aku kalau kata-kataku tak membuat kamu senang ya.., tapi aku juga butuh bicarakan ini denganmu, secara langsung, bukan di inbox seperti biasa kita bicara…”

Shasqi masih menangis, sambil sedikit teriak, “aku nggak tau…”

Surya, “Okay, baiklah..aku gak akan memaksamu menjawab ini.., jangan nangis, Sayang, mari sini, aku peluk…”

Surya memandu Shasqi bangkit, dan didudukkan di sebelahnya, sambil dipeluknya Shasqi yang masih terisak-isak.

Beberapa saat kemudian, Shasqi, “aku ngantuk, mau tidur…, bangunkan aku besok pagi, atau aku akan kesiangan, aku ga terbiasa bangun pagi..”

Shasqi teringat masa kecilnya, bila dia menangis, maka sebentar kemudian dia akan merasa mengantuk dan tertidur, kali ini pun, rasanya demikian.

Surya, “Kamu tidur sore-sore to, belum lagi jam sepuluh, Sayang..”

Shasqi menggeleng, wajahnya masih muram, “aku ngantuk.., tapi aku nggak mau tidur sendiri di kamar itu, luas banget, banyak lukisan…aku mau tidur di ruang tamu saja, di sofa situ, biarkan lampunya menyala semua, aku nggak biasa tidur dalam gelap…

Surya, “Begitu..? Baiklah, aku temani kamu ya.., kamu tidur di sofa putih itu, aku tidur di sofa coklat di seberang meja.., ambil selimut dan bantal, Sayang…”

Shasqi beranjak ke kamar yang disediakan untuknya. Berganti pakaian tidur, memungut beberapa bantal dan guling, serta selimut, dan diboyongnya ke ruang tamu. Berdua dengan Surya, keduanya berbaring-baring di sofa sambil menyalakan TV.

Tak lama kemudian, Shasqi sudah tertidur. Setelah Shasqi tertidur, Surya, pelahan melangkah keluar, kembali duduk di kursi rotan depan ruang tamu, kembali menyalakan sigaretnya. Sudah sejak lama, hatinya terpaut pada Shasqi, meski mereka selama ini hanya bicara per inbox, atau sesekali Surya menelepon Shasqi. Dan sekarang ketika benar-benar bertemu, perasannya dengan kuat mengatakan, bahwa dia tak salah menujukan hatinya pada perempuan itu.

****
Pagi hari ketika matahari sedikit menebar cahayanya, Shasqi sudah bersiap, dikenakannya kebaya warna hijau lumut, yang dipadu dengan kain batik bermotif Truntum, tak lupa, disematkannya sebuah selendang warna orange di pinggangnya, meniru para Perempuan Bali sehari-hari ketika mereka berbusana. Kemudian, di depan meja rias, dirapihkannya rambutnya, dibelah pinggir, kemudian rambut di samping kiri kanan dipilinnya, ditarik ke belakang, dan dijepit rapih, lalu dipasangnya sanggul kecil, yang dipatri dengan beberapa buah jepet hitam kecil.

Shasqi tau, penampilannya ini gado-gado, campuran antara motif kain Truntum dari Jawa dari mana dia berasal, kebaya dan selendang di pinggang ala Bali, dan pilinan rambut kiri kanan yang biasa dilakukan para perempuan bule di Amerika ketika membuat rambutnya rapih, tapi tak terlalu berkesan resmi.

Sentuhan terakhir, dipolesnya sedikit bedak dan lipstik warna “nude”, hanya untuk menyegarkan penampakan wajahnya.

Surya yang sedari tadi duduk di sebuah kursi rotan sambil memperhatikan Shasqi bersiap, “Shasqi, kemarilah, Sayang…, aku pasangkan sekuntum Frangipani di sanggulmu.., aku tau kau akan memintanya, bukan..?”

Shasqi tersenyum, dia berjalan pelan ke arah Surya, berjongkok dengan anggun seperti seorang Perempuan di hadapan Lelaki yang dihormatinya, dan menundukkan kepalanya di hadapan Surya yang sudah berbusana adat rapih anggun bersahaja.

Pelan, Surya menyematkan sekuntum Frangipani di sanggul Shasqi, mengelus pundak Shasqi, dan berkata, “Pertimbangkan permintaanku, tak usah pulang ke negerimu, atau, baliklah kemari tahun depan, dan kita akan menikah…”

Shasqi terdiam, nyaris membeku mendengar kata-kata Surya barusan, “baliklah kemari tahun depan, dan kita akan menikah…”, membuatnya berpikir, bahwa Surya tidak main-main dengan keinginannya atas kebersamaan mereka.

Masih cukup pagi, tapi hawa panas pulau Bali menyiksa tubuhnya, sekaligus begitu menantangnya untuk mau bertahan di situ.

Frangipani yang bertebaran di mana-mana tersenyum gilang gemilang, seolah berkata, “akankah kau sia-siakan keindahan ini, dan kau tukar dengan hidup sunyimu di negeri bersalju itu..?”

Senja semburat jingga pantai yang membuatnya gentar seolah berkata membahana, “Jinggaku ini, jangan membuatmu takut, Sayang, karena aku sangat indah dan akan tetap kau rindukan…”

Dan Lelaki di hadapannya ini, sungguh membuatnya terhenti di tengah, tak ingin tinggal, juga tak ingin pergi…

 

Salam Cinta Frangipani,

Virginia,

Dian Nugraheni,

Minggu, 2 November 2014, jam 9.30 pagi.

(Angin berkebat-kebat berkecepatan 45mph membuatku batal piknik pagi ini…)

Sajian dan sarung Bali

Sajian dan sarung Bali

Sekuntum frangipani

Sekuntum frangipani

Frangipani and friends

Frangipani and friends

Frangipani kelopak enam

Frangipani kelopak enam

Sesaji

Sesaji

Salah satu tahapan dalam upacara pernikahan adat Bali

Salah satu tahapan dalam upacara pernikahan adat Bali

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *