Belajar dari Akar

Mastok

 

Cangkoreh (Dinochloa scandens) mempunyai keistimewaan, karena buluhnya sering mengandung air. Di Kalangan masyarakat Sunda, khususnya di sekitar Taman Nasional Gunung Halimun, air dari bambu ini digunakan untuk obat tetes mata, atau kurap. Bahkan ada yang menggunakan air ini untuk obat TBC. Sedangkan rebungnya, seperti pada jenis lain bisa dimakan sebagai sayuran.

cangkoreh01

Bambu cangkoreh termasuk jenis bambu yang memanjat. Batangnya kecil menjalar di antara pohon-pohon lain. Rumpunnya jarang. Buluhnya bahkan sering tidak berlubang di tengahnya. Warnanya hijau dan sering bermiang kasar. Bila masih muda, buluh ini berlapis lilin.

Buku-bukunya membengkak, dan pada bekas pelepah buluh yang jatuh berwarna coklat. Cabang-cabang tumbuh pada buku bagian tengah buluh. Cabang primer tumbuh tegak, dan besarnya sama dengan buluh utama. Bila cabang primer tidak tumbuh, cabang sekunder yang banyak akan tumbuh, kecil-kecil dan sama besar.

cangkoreh02 cangkoreh03 cangkoreh04

Pelepah buluh biasanya mudah jatuh, dan mempunyai daun yang sedikit melebar. Terdapat kuping pelepah buluh, tetapi mudah jatuh. Daun-daun pada rantingnya mempunyai ukuran yang bermacam-macam, biasanya berwarna agak keungu-unguan.

Saat kami menjumpai Bambu cangkoreh (Dinochloa scandens) Rambat / bambu jalar ini ada di ketinggian kurang dari 50 meter – Dpl di semenanjung Alas Purwo (Blok Pancur) yang banyak di sebutkan di buku-buku lain hidup di ketinggian di atas 200 meter dpl – 1000 Dpl. Tidak banyak informasi tentang bambu cangkoreh (Dinochloa scandens) dan ada beberapa petujuk tentang penulis dan ilmuwan yang membahas bambu ini.

cangkoreh05 cangkoreh06 cangkoreh07

Saat menjabat Kepala Bidang Wilayah III, Balai Besar KSDA Jawa Barat, Pandji Yudistira heran mengapa di Ciamis ada Cagar Alam (CA) Koorders? Padahal sepengetahuannya tempat itu bernama CA Nusa Gede Panjalu. Siapa dan apa sih Koorders itu? Ia bertanya kesana-kemari soal misteri Koorders? Jawaban pertama didapat dari peneliti Litbang Kehutanan yang memberitahukannya bahwa CA Koorders itu nama lain dari CA Nusa Gede. “Berawal dari situ, saya mulai berburu informasi mengenai Koorders sambil mengisi waktu”, kata pria yang pensiun sejak 2009.

Ia jelajahi perpustakaan PHKA, Pustlibang Kehutanan, Kebun Raya Bogor, dan Pertanian. Satu per satu, ia koleksi jurnal-jurnal ilmiah tua seperti Tectona, De Tropische, Bulletin du Jardin Botanique dan dokumen-dokumen hukum jaman Kolonial Belanda yang terkait perlindungan alam. Ia meminta bantuan koleganya menerjemahkan literature/dokumen berbahasa Belanda dan Jerman itu. Selama tiga tahun, ia larut dengan tumpukan dokumen tua sehingga sepertinya arwah Koorders merasuki alam pikirannya. Ia nyaris hafal di luar kepala segala hal terkait Koorders, seolah-olah ia hidup sejaman dengan Koorders.

Jerih payahnya itu diterbitkan Direktorat Kawasan Konservasi dan Bina Hutan Lindung, Kementerian Kehutanan dalam Buku “Sang Pelopor: Peranan Dr. S.H.Koorders dalam Sejarah Perlindungan Alam di Indonesia” (2012). Total halamannya xxi + 291 halaman, mencakup VII bab, 40 gambar hitam-putih, dan 17 lampiran.

Sejarah hidup Koorders, karir dan penelitiannya dituturkan di bab II dan III, plus bab IV berupa catatan obituary delapan ilmuwan untuk mengenang wafatnya Koorders. Bagian lain dari buku ini merupakan pelengkap bagi peminat sejarah dan taksonomi tumbuhan. Seluruh isi Bab I (prolog konservasi alam, hlm. 3-9) “kembar identik” dengan Bab I (hlm. 7-15) buku “Berkaca di Cermin Retak” karya Wiratno dkk (2004).

Mungkin ada alasan tersendiri dari editor dan penulisnya, tapi cara sitasinya kurang tepat karena berkesan copy & paste. Terlepas dari itu, pengantar di Bab I itu memang perlu diketahui pembaca. Sijfret Hendrik Koorders lahir di Bandung, 29 Nopember 1863. Dibesarkan di Haarlem Belanda, lalu belajar ilmu kehutanan di Berlin. Tahun 1884, ia ditugaskan ke Jawa sebagai pejabat kehutanan, tapi lebih minat dengan tumbuh-tumbuhan.

Antara 1884-1918, Koorders melakukan banyak ekspedisi di Jawa, sebagian Sumatera dan Minahasa. Dari ekspedisi itu, ia mengoleks 40.000 spesimen herbarium, lalu ia menulis 240 artikel ilmiah dan mendeskripsikan 596 jenis tumbuhan dengan kode “kds”. Jika kita membaca nama ilmiah “Pandanus bantamensin Kds”, artinya Koorders adalah orang pertama yang mendeskripsikan Pandanus bantamensin melalui publikasi ilmiah. Di sela-sela kerja dan penelitiannya, ia selesaikan disertasi doktornya tahun 1897 di bidang botani dari Universitas Bonn, Jerman.

Bagi seorang peneliti, mendeskripsikan jenis baru adalah prestasi dan kebanggaan karena prosesnya yang rumit. Sebagai penghormatan atas prestasinya, 25 ilmuwan mengabadikan Koorders menjadi nama marga tumbuhan (Koordersiodendron dan Koordersiochloa), 37 jenis dan 2 variasi jenis tumbuhan. Kalau sekarang, asal bisa bayar ke penemunya, nama kita bisa diabadikan sebagai nama jenis. Tapi dulu, pemberian nama merupakan penghargaan atas prestasi seseorang. Selain di bidang botani, Koorders juga membidani lahirnya Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda pada tanggal 22 Juli 1912. Perkumpulan itu dibentuk karena prihatin atas kerusakan hutan yang ada pada saat itu. Koorders menjadi ketua perkumpulan hingga meninggal tahun 1919.

Saya pikir, perkumpulan ini adalah LSM pertama di bidang konservasi di Indonesia, walaupun dari 19 anggota hanya satu pribumi asli, Pangeran Poerbo Atmodjo (Bupati van Kutohardjo). Dalam kepemimpinannya, Perkumpulan ini berhasil mendirikan dan mengelola Monumen Alam (MA) Depok (1913), MA Rumphius di Ambon (1913), mengajukan sejumlah kawasan menjadi monumen alam, dan mengusulkan Ordonansi Monumen Alam (1916) kepada pemerintah. Natuurmonumenten Ordonantie itu akhirnya terbit tahun 1916, disusul penunjukan 55 monumen alam (1919), 7 monumen alam (1920), dan 6 monumen alam (1921).

Koorders meninggal tanggal 16 Nopember 1919 akibat penyakit paru-paru. Ia dimakamkan di Cikini (Weltervreden). Sayangnya, ketika ditanyakan ke Dinas Pemakaman DKI soal lokasi makam Koorders,
jawabannya “maaf, nama itu gak ada dalam daftar kami”. Normal ya? Wafatnya Koorders, pejabat kehutanan yang ahli botani itu mendorong 11 ilmuwan ternama seperti Alfred Russel Wallace, menuliskan kenangannya dalam jurnal ilmiah Tectona dan Bulletin du Jardin Botanique.

Sebagai penghormatan atas jasanya, Perkumpulan mengusulkan kepada Pemerintah Hindia Belanda mengubah nama MA Pulau Nusa Gede di Danau anjalu (sekarang Situ Lengkong) menjadi Pulau Koorders dan MA Koorders. Usulan itu disetujui pada tahun 1921. Terjawablah misteri Koorders. Dengan semangat 45, Pandji menggoreskan penanya di atas kertas, dengan tulisan sambung gaya orang jaman dulu. Koleganya membantu menuliskannya di komputer, men-scan peta dan foto-foto lama dari berbagai literatur.

Satu-satunya catatan saya adalah beberapa kesalahan kecil yang tidak perlu pada buku sejarah. Misalnya, di sampul depan dan judul bab II tertulis Kooders, yang seharusnya Koorders. Salah penulisan tahun misalnya 1897-1999 (hal.26), 1921-1919 (hal.48), daftar karya tulis Koorders melompat dari nomor 77 ke 224 (hal.278). Pengulangan materi Prasasti Malang di halaman 50 dan 192 juga rasanya tidak perlu. Seharusnya ini tugas editor ketika membaca dummynya.

Bagaimanapun, Pandji telah berhasil menghidupkan kembali Koorders, sebagai pelopor perlindungan alam di Indonesia, mengingatkan kembali lintasan sejarah perlindungan alam di Indonesia. ” Yang membuat saya kagum sekaligus malu, karena dengan tulisan tangan beliau menghasilkan buku”, sedangkan saya hanya bisa membaca dan mengomentari. Salam hormat saya pada H.Pandji Yudistira.

cangkoreh08

Note: Buku ini tidak tersedia di toko buku, jadi harus minta ke Direktorat Konservasi Kawasan & Bina Hutan Lindung, PHKA, Gedung 7 Lantai 7, Manggala Wanabakti, Kementerian Kehutanan

Sekarang banyak para penelititi / ilmuwan Yang harus bisa langsung diterapkan di kebijakan dan masyarakat bukan malah membenturkan dan ikut berjamaah korupsi… Mungkin KPK Versi lingkungan juga perlu… siapa yang akan mengawasi Hutan Indonesia yang tinggal kurang dari 100 Juta Hektar?

Saya pribadi setelah 40 Hari berkeliling Pulau Jawa punya jawaban tersendiri selain saya “MALU” karena kebanyakan makan Rebung (bambu muda) hingga di dalam sindirin di Jawa Timur disebut “Rai Gedek” (tidak punya malu), egosentris yang berkembang saat ini dipengaruhi oleh tingkat konsumtif dan gaya hidup…

Ini adalah refleksi Lingkungan yang selama ini disalahgunakan dan menyalahgunakan….. tanpa mempertimbangkan dampak dari ekologi yang berkelanjutan.

 

 

About Mastok

Penampakannya mengingatkan para sahabatnya akan Panji Tengkorak yang berkelana ke seluruh dunia persilatan. Mastok berkelana dengan menggembol buntelannya yang lusuh...eits...jangan salah, dalam buntelannya tersemat segala gadget canggih terakhir: iPad, laptop mutakhir, koneksi wireless, smartphone model terakhir. Bertelanjang kaki ke mana pun melangkah menunjukkan tekadnya yang membara untuk back to nature, kembali merengkuh Mother Earth.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.