[Wawancara] Uskup Bandung – Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (1) – Seputar Dirinya

Linda Cheang – Bandung

 

Pengantar:

Setelah reportase sampai 4 artikel bertema “Bandung Punya Uskup Baru”, kali ini atas penasarannya banyak teman dan para silent reader yang kepingin tahu lebih banyak akan Si Uskup kecil ini, karena saya jadi anggota di beberapa komunitas, suka dapat curhat colongan, ingin ketemu Bapa Uskup baru ini susah, maka sekalian aku mendaftarkan beberapa komunitas, saya coba saja mengajukan permintaan wawancara, ke berbagai cara yang bisa ditempuh. Mulai dari kirim surel (surat elektronik/e-mail) ke alamat surel resminya Keuskupan Bandung, yang ternyata tak pernah ada tanggapan, telepon, faksimili yang tidak juga bisa tembus karena kabarnya jalur komunikasinya lagi rusak, sampai saya dapat jalur yang terjamin keampuhannya untuk bisa tembus, yaitu tanya ke Sekretaris Uskupnya!

Benar, Sekretaris Uskup sudah memberikan jadwal, di sebuah hari dan jam yang sudah ditentukan, tapi untung saya bisa konfirmasi langsung ke Monsi Antonius di suatu malam sebuah acara kumpul syukuran ulang tahun suatu komunitas di Aula Katedral Bandung. Kepastian jadwal untuk saya digeser harinya karena jadwal dari Sekretaris Uskup itu pas di harinya Bapa Uskup mengajar. Setelah konfirmasi ulang lagi, yap!

Jadwal pasti untuk saya sudah didapat, tinggal saya persiapkan diri untuk pertanyaan dan alat-alat pendukung untuk wawancara, karena, toh, saya tak mungkin di sepanjang wawancara untuk memotret. Saya mendapat bantuan seorang juru foto dari Komunitas LayarKita Bandung, Nadia Nathania.

Inilah hasil wawancara tsb aku turunkan dalam dua bagian tulisan saja, supaya enak dan nyaman dibaca. Artikel wawancara ini dibuat dengan gaya bahasa a la saya, setelah melalui proses penyuntingan (editing) dan perbaikan di sana-sini, yang tidak mengurangi esensi isi wawancaranya.

1. Utama

Mari kita simak isi wawancaranya, seri kesatu.

L = Linda Cheang (mewakili Baltyra.com)

MA = Monsinyur Antonius.

 

L : Apa yang membuat Anda tertarik untuk menjadi pastor, terlepas dari alasan bahwa ibu Anda memang menghendaki satu anaknya untuk jadi imam?

MA : Memang muncul ketertarikan itu karena dulu sering ikut kegiatan menjadi putra altar sejak kelas empat SD, putra altar lalu di situ sering diajak oleh pastur parokinya , Pastor Made *), jalan-jalan, cross country, ke lingkungan-lingkungan, untuk berdoa, lalu melihat kehidupan pastur secara langsung, kemudian muncul ketertarikan itu.

*) Pastor Agustinus Made, OSC

Saya pikir, bagus juga, hidup seperti ini, hidup melayani. Namun pada waktu itu yang terpikir adalah… nanti…, ya… setelah selesai kuliah, karena cita-cita saya sejak kecil itu, sebetulnya ingin menjadi Arsitek.

L : Wow!

MA : Nah, setelah itu, waktu di SMP, semakin tertarik, tapi saya selalu mengatakan…. nanti!

Sewaktu di kelas 3 SMP itu, ditanya oleh Pastor Made,

“Apakah kamu mau ke Mertoyudan?”

Di Mertoyudan, Magelang itu ada sebuah sekolah seminari menengah yang bagus, kakak saya dulu ingin ke sana tapi tidak diizinkan oleh pastor paroki sebelumnya, maka kakak saya akhirnya di seminari Bandung saja, tapi akhirnya keluar.

Mendengar itu langsung saya jawab spontan, “Mau!”. Tapi saya pernah bilang pada Pastur Made,

”Pastor, saya mau jadi pastor, tapi tidak mau sekarang… nanti aja setelah kuliah.”

Pastor Made bilang, “Nanti, nanti hilang, lebih baik sekarang saja! Lebih baik sekarang, kalo nggak jadi, yah, nggak jadi! Tapi keputusannya sekarang!”

 

L : Memang itu, panggilan jiwa Anda?

MA : Iya, jadi memang ada keinginan… Panggilan, itu, mungkin cukup susah penggambarannya….. kapan seseorang dipanggil, tapi tandanya mulai tertarik pada kehidupan semacam itu, yaitu pelayanan di liturgi, sakramental, lalu pelayanan kepada orang, nah, itu yang membuatnya menarik untuk saya. Baru benar-benar tahu bahwa hidup panggilan itu seperti apa, setelah di seminari. Yah, tahu bahwa tidak boleh berkeluarga, tidak boleh menikah, hidup pastur semacam ini, hanya bahwa menyadari akan hidup seperti itu, … tahu persis konsekuensinya, ketika di sana (Mertoyudan).

Ketika saya bilang kepada Mama saya… Mama saya katakan, tak usah, karena memang, kakak saya itu, …baru saja keluar dari seminari di Bandung. Tapi saya bilang, ya, sudah, kembali ke Pastur Made,   Pastur Made akhirnya memberikan surat, formulir saya berikan, Mama saya setuju, tanda tangan, dan dia berkata,

“Ya, memang, Mama juga berharap, ada salah satu anak yang menjadi imam.” Selanjutnya, berkembang di sana, di Mertoyudan itu sangat luar biasa.

L : So that must be a though life, di Mertoyudan?

MA : Iya, ya, hidup doa, terutama, ya.. dari awal sudah diperkenalkan dengan hidup doa, perjumpaan, pengalaman doa pribadi yang secara khusus, nah, itu baru di sana mengalaminya. Refleksi, hidup seharian, hidup manusiawi juga, ya, seperti mencuci, bekerja…. Maka motto hidup saya ketemunya, tuh, di 1984 itu.

L : Termasuk Anda tidur di barak-barak, itu? Dormitory?

MA : Di barak-barak, Iya, di dormitory. Di situ saya menemukan motto, di mana saya berada, di sana saya mengabdi Tuhan, Ubi Ego sum, Ibi Deo servio, itu muncul di sana. Sejak saat itu, motivasi itu berkembang terus. Di Mertoyudan itu mantap, saya ingin membalas kebaikan Tuhan yang saya alami. Saya itu mengalami, Tuhan itu begitu baik.

 

L : Dengan mempersembahkan hidup Anda itu?

MA : Dengan cara seperti ini, ya. Saya itu terus mengalami, Tuhan itu baik. Saya itu menjalani pengalaman itu, di mana saya juga ingin berbuat baik bagi orang lain, melalui itu.

 

L : That’s nice! Ini saya punya sumber yang sangat bisa dipercaya tentang kenakalan Anda waktu masa kecil.

MA : Kenakalan?

 

L : Ya, karena saya baca di beberapa sumber, Anda itu anak nakal … dan saya juga punya sumber seorang kerabat Anda yang sangat layak bisa dipercaya.

MA : Kenakalan, paling di sekitar pastoran, itu, ya. Mengganggu koster yang tua, mengganggunya dengan pakai petasan. Itu saat pulang Legio, menjahili itu, ada seorang bapak tua yang suka marah-marah, dan kami (Monsi Antonius kecil bersama teman-temannya) menjahilinya. Itu, masa kecil di sekitar…

 

L : Di Odilia? *)

       *) Gereja St. Odilia, Cicadas – Bandung

MA : Di Odilia, ya.

Lalu kemudian waktu kecil itu pergaulan saya itu dengan orang-orang kampung, teman-teman yang dari gang-gang, itu, ya, lalu dengan Pastur Hendra *) ini, baru ketemu, seperti orang asing, pernah berkelahi, nah, itu, sekarang, jadi teman.

*) Pastur Hendra Kimawan, OSC

 

L : Bisa dikatakan, karena mungkin dulu Anda suka menjahili orang-orang di sekitar pastoran, sekarang Anda jadi pastor, … kuwalat, gitu?

MA : Iya, ya, betul… kayanya, mungkin… (MA cengengesan)

 

L : Jadi, hati-hati kalo mau nakal, ya?

MA : Iya… itu yang dulu suka menjahili, sekarang pada jadi pastur, koq.

 

L : Dan selalu anak nakal itu selalu masuknya OSC, ya? Rata-rata.

MA : Iya, mungkin. Tapi ini, karena pastornya, sebetulnya… karena pastornya dari OSC, dan ketika di saya sudah Mertoyudan pun, Pastur Made waktu itu, mengingatkan untuk kembalilah ke Bandung, jangan ke tempat lain, karena pernah saya mau ke ke OCSO, yang kontemplatif. Saya pernah beberapa kali ke sana, ke OCSO, itu yang di Rowo Seneng, lalu setelah itu saya merenungkan, mungkin, jalan saya bukan ke kontemplatif, tapi lebih aktif. Makanya saya masuk ke OSC. Jadi, karena memang tidak kenal banyak, ya, dari dulu. Projo juga, waktu itu yang dikenal hanya Pastur Sahid. Pada waktu itu saya hanya kenal Pastur Sahid dan saya tidak tahu banyak perbedaan itu, baru di seminari.

 

L : Mungkin juga karena campur tangan Tuhan juga, ya, makanya Anda ke OSC? Saya percaya itu.

MA : Saya kira itu, lalu yang berikutnya, saya bangga sebagai OSC karena saya dari muda, itu, punya niat mau memajukan OSC, ya, jadi punya komitmen yang sangat tinggi kepada OSC.

 

L : Anda dekat sekali dengan kaum mudanya, ya?

MA : Ah, ya, lumayan, lah. Itu mungkin orang-orang mudanya yang harus menjawab (MA sambil cengengesan)

8 9

 

L : Saya punya satu hal yang saya temukan dari cerita sejarah masa kecil Anda, saya ingin Anda ceritakan tentang ini

MA : Apa ini?

(Sekotak berisi tumpukan Hawker Flakes, manisan sanca bulat, dikeluarkan dan diserahkan kepada MA)

MA : Oh! Iya. Ini dulu, ketika saya (masih) kecil itu suka makan ini, saya suka dibelikan ini oleh Mama saya lalu dimakannya tidak semuanya, tapi satu-satu, ya, seperti komuni, gitu, membagi…

2 3

L : Dimasukkan mungkin, ke gelas yang dijadikan piala lalu (manisannya) dibagikan?

MA : Dulu karena masih jauh, gitu, ya, saya belum lihat persis, belum pernah misdinar, kan, saya hanya melihat dari jauh, kegiatan pembagian komuni itu, eh, tahunya…

 

L: Tapi Anda mengimitasi itu, kan?

MA: Iya. Mungkin karena melihat dari jauh, tak pakai apa-apa, ada pakai selimut, gitu, ya, nah, itu mungkin, jika saya cermati, maka kalau (ada) anak-anak seperti itu, mungkin itu tanda-tanda, (untuk menjadi imam kelak)

Seperti kemarin saya ketemu anak kecil, saya tanya,” Sudah besar mau jadi apa?

“Jadi uskup.”

“ Oh, ya, sudah, mudah-mudahan jadi uskup, ya,”

L : Semoga tercapai.

MA : Saya bilang,”Pas nanti 30 tahun lagi, makanya masuk Projo Bandung, ya.” (tertawa)

 

L : Kenapa tak diarahkan ke OSC?

MA : Sekarang memang saya sedang menekankan, mencari Projo Bandung juga, maka sekarang saya mempromosikan panggilan. Semua panggilan itu, silakan tapi kalo saya ditanya, ya, prioritas kepada Projo dan OSC, ya. Itu juga.

 

L : Kecuali seperti di Santo Mikael, SS.CC *)

*) Gereja Katolik St. Mikael – Waringin, Bandung. SS.CC = Sacrorum Cordium, Kongregasi Hati Kudus Yesus dan Maria, atau ada juga yang menyebutnya sebagai Seminari Damian.

MA : ya, itu, pokoknya semua saya dukung, jadi tidak ada yang saya beda-bedakan. Saya mendukung semua panggilan. Kalo ada yang mau masuk OSC, SS.CC, saya dukung, ada yang mau masuk OP, juga saya dukung, tapi saya akan mengatakan kepada para calon yang ada dari Bandung, bahwa Keuskupan Bandung, masih membutuhkan banyak imam. Kalau saudara, tertarik untuk tugas misi, bila Tuhan memanggil untuk misi, pasti akan berangkat ke misi walaupun ia itu seorang Projo. Sekarang ada di Kalimantan, satu, ya, itu bisa, itu yang dulu tidak pernah terpikirkan.

 

L : Jadi kalo OSC itu fokusnya misi, ya?

MA : OSC itu internasional, jadi tidak harus di Keuskupan Bandung

 

L : Saya perhatikan OSC banyak misi-misi, di beberapa tempat.

MA : Banyak! 2 tempat yang besar di Indonesia, misi yang paling susah, dan mahal, itu mahal karena, Ordo harus membayar, mendukung kehidupan, di Pulau Nias dan Asmat.

 

L : Pulau Papua?

MA : Iya, Pulau Papua di Keuskupan Agats. Itu kalau tak ada dana khusus yang dicadangkan dari Ordo, tidak bisa (kegiatan pastoral berjalan). Memang ada juga ke Kalimantan, walaupun Keuskupan, uskupnya tidak minta, tapi pastornya kami bantu sedikit keuangan, ya, untuk kehidupan sehari-hari, karena kalau tak ada dana, tidak bisa berjalan dengan baik.

 

L : Anda melanjutkan kuliah di S1 Filsafat di Unpar, kemudian lanjut di Belgia sampai ke Roma. Apakah memang Ordo Anda yang menugaskan Anda untuk belajar filsafat itu?

MA : Iya, Ordo.

 

L : Memang suka?

MA : Tidak. Awalnya, saya ditanya (oleh Provinsial OSC), waktu mau tahbisan imam, nanti mau tugas di mana. Saya bilang, saya itu dari seminari, dari kecil itu, maunya bertugas di paroki, punya umat, ya, melayani di paroki. Provinsial bilang,

“Tidak, kamu akan sekolah. Kalau kamu sekolah, kamu mau pilih (studi) apa?”

Saya bilang, kalau disuruh memilih, akan pilih spiritualitas atau psikologi. Terus Provinsial berkata,

“Tidak! Kamu sekolah filsafat.”

Saya jawab, “Ya!”

Saya tidak bercita-cita menjadi pengajar, tidak bercita-cita belajar filsafat, tetapi ketika ditugaskan, saya berangkat dengan semangat dan saya menikmati. Saya menikmati, maka saya kembali disekolahkan. Di Leuven 2 tahun, bahkan kalo dihitung dari harinya, sih, cuma 1 tahun 8 bulan, ya, lalu saya kembali mengajar dengan sungguh-sungguh.

 

L : Balik lagi (tugas belajar) ke Roma, kan, ke (Universitas Pontifikal) Lateran

MA : Saya masih mengajar sampai 1998, kembali lagi belajar pada 2004, dan itu juga ditugaskan oleh Provinsial. Pada waktu itu sedang pencalonan (untuk menjabat jabatan ketua) provinsial lalu Provinsial mengatakan, harus berangkat, maka saya mencabut diri dari pencalonan sebagai provinsial, lalu saya berangkat belajar, waktu itu masih diakhir sebagai wakil provinsial, jadi saya berangkat. Di tahun 2007 saya selesai (tugas belajar).

 

L : Sebetulnya Anda ini tidak suka juga dengan Filsafat, ya? Awal-awalnya?

MA : Biasa saja. Maksudnya tidak pernah ingin jadi ahli.

 

L: Jadi filsuf?

MA : Iya, tidak (ingin jadi filsuf), hanya memang ketika kuliah, ya, (hasilnya) baik, gitu, ya

 

L : Tapi yang Anda ikuti itu Filsafat Barat, sebetulnya?

MA : Filsafat Barat.

 

L : Sedangkan di sini (Indonesia), kan, lebih banyak Filsafat Timur?

MA : Barat! Timurnya sangat sedikit. Jadi ada Filsafat Indonesia dan sebetulnya dulu Filsafat Jawa dan Filsafat Timur itu ada Cina.

 

L : Cina, India?

MA : Cina. India dulu tidak diajarkan, hanya sedikit saja dalam pengantar, tapi yang bidang khusus sebagai mata kuliah, itu hanya Timur, Filsafat Cina.

 

L : Sedikit sebelum Anda jadi uskup, Anda pernah ditugaskan di Agats, Papua, dan itu tidak lama.

MA : Iya, itu pastoral sebetulnya.

 

L : Pastoral… Dan dapat oleh-oleh penyakit?

MA : Penyakit malaria, tahun 1992, sebetulnya itu Juni, eh, Juli sampai dengan Desember. Itu saja, satu semester, dulu orientasinya cuma 1 semester.

 

L : Apa yang berkesan dari Agats, selama Anda di sana?

MA : Berkesan itu di sana, maka laporan saya, saya beri judul “Asmat Tanah Rahmat”. Itulah yang mengubah hidup. Itu karena ada kedekatan dengan alam, kedekatan dengan diri sendiri, lalu kedekatan dengan Allah. Itu yang menyebabkan kedekatan dengan umat di sana, jadi saya menikmati selama itu. Maka waktu ditanya oleh Provinsial sebelum studi itu, kalau boleh, saya kembali ke Asmat, ya, saya akan kembali ke Asmat. Kalau boleh saya di paroki (Agats). Saya sebetulnya minta untuk kembali ke Asmat. Ini di 1996, sebelum ditahbiskan menjadi imam.

Saya mengalami itu, ada pengalaman (pribadi). Ada waktu untuk meditasi, ada waktu secara manusia yang ada dekat dengan mereka (umat yang warga setempat), mereka itu polos, ya. Bukan target, bukan obyek, kan, dulu kesan (umat di sana menjadi) obyek masih tinggi, ya. Sekarang, kan, sudah berubah paradigmanya. Tapi zaman dulu saya di sana, Tidak usah (ada) perencanaan, hanya kehadiran dengan mereka, duduk, cerita-cerita dengan mereka, kunjungan waktu sore.

Tahun 2001, itu sebetulnya ada usul Agats ditutup kembali oleh OSC. Saya waktu itu (menjabat) wakil Provinsial, saya ke sana, lalu berbicara. Saya mengatakan, “Agats tidak ditutup!”

Lalu saya mengatakan waktu Provinsial di kapitel (semacam rapat luar biasa), agar OSC jangan pernah menutup Agats.

 

L : Jadi seharusnya di Agats itu tidak perlu ada kata “tidak betah”, ya?

MA : Persoalannya kalau orang tidak betah, itu mungkin, badannya di sana, hatinya belum di sana, ya. Dulu itu, ketika saya di sana,itu tidak ada televisi, tidak ada macam-macam, tidak ada segala rupa.

 

L : Apalagi internet?

MA : Ya. Koran itu 1 bulan sekali, atau 2 bulan sekali, baru datang, dan tumpukan, ya. Saya berdua dulu dengan seorang teman, teman saya itu, tidak betah. Yah, takut kena penyakit, lalu, akhirnya apa? Bergaulnya dengan para pendatang.

 

L : Wah?

MA : Iya. Kalau tidak betah, kemungkinan besar, sahabat-sahabatnya para pendatang dan malahan… setelah pulang…. (teman saya) keluar, kan…. sebetulnya, mungkin bukan persoalan tidak betah. Persoalannya tentang panggilan.

 

L : Panggilan?

MA : Iman imamatnya itu! Jadi dia harus menegaskan motivasi panggilan sebagai imamnya, atau sebagai frater, bukan persoalan tidak betah, ya. Jadi soal panggilan itu sebetulnya. Maka saya tidak mau menuduh dan menilai siapapun, hanya berdasarkan situasi, kalau orang yang tidak betah, mungkin baiklah merefleksikan hidup panggilannya, bukan soal tempat atau apa.

 

L : OK, kemudian, Anda juga pernah jadi Pastor Mahasiswa, di Jatinangor. Itu adalah salah satu tugas yang paling Anda sukai, kan?

MA : Iya.

 

L : Apa yang membuat Anda suka di situ?

MA : Saya suka karena ini masa depan, ya. Masa depan masyarakat, ya, bangsa, gereja. Maka jika kita bisa mendampingi mereka dengan sungguh-sungguh, mereka kelak akan menjadi pemimpin-pemimpin. Itu yang paling saya sukai. Maka ini juga dirintis sebetulnya oleh Pastor Leemakers, Pastor Harry Leemakers, OSC. Itu tokoh besar di OSC, yang merintis GEMA (Gereja Mahasiswa), pasti waktu Beliau mendirikan ini (GEMA), pemikirannya luar biasa.

Nah, hanya pada waktu itu, rangkap jabatan saya terlalu, terlalu banyak. Dan saya juga tidak boleh (menjadi) terlalu sombong. Saya sakit! Sakit di rumah sakit, sering sakit malaria, kumat lagi, kumat lagi! Pada permenungan itu di rumah sakit, saya berpikir, saya harus mundur. Jadi saya mundur.

Saya mundur dari jabatan sebagai Pastor Mahasiswa, saya minta wakil saya untuk menggantikan saya. Saya telepon, saya bicara dengan Provinsial, waktu itu saya wakil Provinsial, saya bicara dengan Provinsial, OK, lalu saya telepon ke Uskup, Uskup tidak ada, yang ada Vikjen*), saya mengatakan saya minggu depan akan mundur, dan yang menggantikan adalah wakilnya. Langsung.

*) Vikaris Jendral, wakil Uskup, namun panggilannya/sebutannya tetap pastor/romo, bukan monsinyur

 

L : Dengan berat atau tidak berat hati, melepaskan jabatan itu?

MA : Melepas. Dan saat itu tidak ada yang tahu. Waktu (suatu hari) Minggu tiba-tiba misa berdua, dan saya mengumumkan, dan itu mengagetkan, dan saya mengatakan maka sejak saat itu, agar saya tidak diminta untuk misa atau acara, setidak-tidaknya setahun, atau 2 tahun, supaya ada jarak. Jadi saya biasanya kalau saya sudah meninggalkan itu, biar.. yang …..

 

L : Yang menggantikannya supaya bisa lebih eksis, ya?

MA : Iya. Karena saya menyadari, saya begitu kuat.

 

L : Apanya?

MA : Artinya, di di beberapa tempat (jabatan organisasi), selalu (ada) saya. Di Yayasan Salib Suci, juga, saya sangat kuat (pengaruhnya).

 

L : Jadi Anda fokus hanya di sebagai Wakil Provinsial, waktu itu?

MA : Tidak.

 

L : Masih ada jabatan-jabatan lain?

Masih ada. Dosen Fakultas Filsafat UNPAR, Dosen (Universitas Kristen) Maranatha, lalu Direktur Human Studies di UNPAD, dulu masih namanya MKU. Lalu masih wakil moderator Kerawam (Kerasulan Awam), lalu dewan MAM (Misa Angkatan Muda). Lalu di Ordo ya, masih ada tugas-tugas. Jadi itu (jabatan Pastor Mahasiswa) tidak memungkinkan, ya, padahal ini yang paling menarik untuk saya. Tapi saya harus lepaskan, saya fokus mengajar dan ini..

6 7

L : Keputusan yang sangat berat, pasti, ya.

MA : Ya.

 

L : Setelah Anda dipilih menjadi uskup, sebelum ditahbiskan, apa, rasanya ketika Anda dulunya bukan seorang pastor yang cukup dikenal (banyak) umat, dan tiba-tiba Anda jadi uskup. Semua umat ingin dekat dengan Anda. Adakah gegar budaya, atau perubahan situasi?

MA : Tidak, dalam arti begini, ya. Sebetulnya saya tidak asing dengan umat, karena saya banyak diminta untuk memberikan ceramah, rekoleksi. Praktis banyak (umat) yang kenal. Dalam musyawarah-musyawarah pastoral, itu pasti, saya ada di situ. Entah sebagai tim perumus, entah sebagai steering comittee, ya. Di peristiwa-peristiwa Keuskupan, selalu (saya) ada, dan dulu juga memang saya di DKP (Dewan Karya Pastoral), tapi saya mundur, yah, setelah diangkat (sebagai ketua) Provinsial, saya mengatakan, lebih arif kalo saya mundur.

Lalu dalam pertemuan para imam, walaupun saya (ketua) Provinsial, itu saya selalu hadir, kalau sedang tidak ada di luar kota, ya. Padahal, tidak harus hadir. Tapi saya selalu hadir karena…saya bagian dari keuskupan.

 

L : Tapi ini ada yang menarik yang saya dengar dari sambutan Anda di (gereja) St. Mikael waktu itu, ketika waktu dulu Anda di Katedral, Anda mungkin bukan siapa-siapa, karena mungkin umat tidak banyak yang kenal Anda di saat itu.

MA : Oh…

 

L : Kemudian ketika Anda memimpin satu sakramen (Krisma), umatnya mencari-cari, mana ini, uskupnya?

MA : Oh, sekarang juga, kalo saya pakai pakaian ini, masih banyak yang belum kenal, tapi kalau pakai pakaian Uskup, pasti, kan, sudah jelas, walaupun orang tidak kenal. Memang mungkin potongannya….

 

L : Potongan? *) (kami tertawa)

*) Umumnya para Uskup itu berperawakan tubuh tinggi, besar, selain ganteng tentunya. Uskup Bandung yang sekarang ini, memang berparas ganteng, tapi postur tubuhnya kecil, pendek, sudah begitu, orangnya unyu-unyu dan masih suka cengengesan pula. J

MA : Potongan, ya, potongannya belum Uskup (MA tertawa), gitu, ya. Sekarang juga kalo saya, selesai jalan, kan, saya sering jalan, ya, ke Sultan Agung (ke Biara OSC atau kapel)

 

L: Kukurusukan? (blusukan)

MA : Situ, gitu, ya. Iya, eh, eu, jalan, ke kuliah (FF UNPAR), lokasinya cukup berjalan kaki dari Wisma Keuskupan Bandung), ke Gramedia, itu saya jalan, atau ke Katedral, itu, orang yang nggak kenal, ya nggak kenal.

 

L : Berarti enak, dong, ya, situasi seperti itu? Maksudnya tak harus banyak orang kenal.

MA : Memang saya agak sungkan, bahkan kalau orang terlalu memperlihatkan sikap-sikap hormat yang berlebihan itu, saya malah sungkan.

 

L : The people treat you like you are a demigod!

MA : Iya, ya, itu saya sungkan, ya. Kadang-kadang, juga misalnya, hal mencium cincin, ya, orang-orang (para umat) itu mencium cincin, memang, ada makna religiusnya, tapi saya kadang-kadang, agak menarik (tangan saya), itu, karena saya masih sungkan, ya.

14

L : Saya juga nggak mau cium cincin Anda itu! (kami tertawa lagi).

Hal Menarik, melihat Anda di beberapa pertemuan dengan umat. Para umat itu, berebutan ingin menemui Anda, bahkan ketika selesai acara tahbisan itu, Anda dikelilingi banyak ibu-ibu, dan saya lihat, Anda saat itu pasrah. Anda pasrah karena mungkin postur tubuh kecil, mungkin?

MA : Ya, dan saya itu (sebenarnya) tidak suka difoto. Mungkin masanya sudah hilang, ya. Dulu, ke mana-mana suka bawa kamera, ya, sewaktu di seminari, menjadi frater, bahkan sebagai seksi dokumentasi. Ada masanya, ya. Kemudian setelah mernjadi imam itu, sudah tidak lagi, karena hidup saya sudah makin jelas. Saya berpikir, fokus saya kepada bidang yang lain.

Maka saya waktu saya mau ditahbiskan jadi uskup, mencari foto saya itu, susah. Itu lagi, itu lagi gambarnya! Tidak ada yang lain. Sekarang pun sampai minta ke orang-orang, untuk foto itu.

 

L : Foto resmi Anda juga, kan, sekarang belum ada?

MA : Belum.

 

L : Dalam jubah uskup resmi.

MA : Iya. Sebentar lagi akan resmi, akan dibuat foto.

Nah, Sekarang itu bagi saya, difoto dengan orang lain, adalah pelayanan, itu kesediaan saya berbagi, dengan yang lain.

 

L : Dan Anda tampaknya, cukup juga bisa menikmati anak-anak muda selfie dengan Anda.

MA : Ya, kalo Pausnya saja dengan rendah hati, mau melayani, ya, itu adalah pelayanan, dan……. kadang… melelahkan…

 

L : Pastilah

MA : Iya, betul, kadang melelahkan, itu, tapi saya tahu. Seperti ini, misalnya, saya kalo ke Roma, juga ingin bertemu dengan Paus, ya, ada keinginan itu, kan, maka ini juga saya membayangkan umat juga ingin bersalaman dan berfoto dengan Uskup, ya, maka saya layani.

 

L : Sekarang setelah Anda menjadi uskup, apa masih ada waktu luang, untuk, ya, hobi, begitu? Libur?

MA : Sekarang, sih, belum, ya. Memang, setahun pertama ini kunjungan, ya, kunjungan dan pertemuan itu menjadi prioritas, belum acara-acara yang berskala nasional seperti KWI, Legio, itu juga yang harus dihadiri. Yayasan-yayasan, itu juga banyak. Jadi praktis, sejak ditahbiskan itu, sejak diangkat, tidak pernah berenang, tidak pernah olah raga.

4 5

L : Hobinya dilewat dulu?

MA : Iya, jadi, ya, sudah, tapi, jalan, kan, saya (masih bisa) berjalan-jalan

 

L : Hobinya Anda itu apa?

MA : Olah raga.

 

L : Olah raga apa? Renangkah?

MA : Iya, renang.

 

L : Tak ada waktu lagi, ya, sekarang?

MA : Sekarang-sekarang….. tidak selalu juga. Di atas (di Lantai 3 Wisma Keuskupan Bandung) ada threadmill tapi tidak selalu (digunakan) karena waktu.

 

L : Menulis, mungkin? Maksudnya, menulis di luar kapasitasnya sebagai pengajar, ya

MA : Iya, menulis harus, sekarang! Lebih banyak, menulis kecil-kecil itu. Sambutan, kata pengantar. Saya kalo menulis itu harus coba, apa yang akan saya katakan, jadi harus, selalu sebelum menulis… I have something to say. Jadi apa? Mau pendek, mau panjang? Harus! Intinya, mau apa?

 

L : Itu, kan, dalam gereja. Anda menulis supaya dibaca oleh masyarakat luas, bagaimana?

MA : Belum.

 

L : Belum ada kesempatan?

MA : Belum ada kesempatan. Seperti kemarin saya sudah ada ide menarik, saya mau menulis di PR *), saya…. tapi waktunya tidak ada. Ada, saya mau kasih judul “Palu na di mana?”

*) Pikiran Rakyat, koran daerah Jawa Barat

16 Palu na di mana 17 Palu na di mana 18 Palu na di mana

 

L : (tertawa) Ceu Popong… *)

*) Ibu Popong Otje Djundjunan, anggota DPR tertua yang menjadi ketua sidang DPR beberapa waktu lalu sebelum terbentuk pimpinan DPR

MA : “Palu na di mana, euy!” begitu, yah! Bagus, itu! Itu, simbol otoritas, wewenang……..hilang! Maka kacau! Oh, itu bagus sekali! Saya, aduh, ingin sekali itu, saya menulis, entah di Kompas, entah di PR, tapi waktu untuk duduk itu… Saya mau kasih judul itu langsung, “Palu na di mana, euy!” begitu, yah.. Pakai Basa Sunda, walaupun nasional, tapi itu, kan, menarik, karena itu berita yang menarik. Nah, saya ingin masukkan pembahasannya filsafat. Itu sangat menarik. Itu simbol wewenang. Ketika simbol wewenang itu berani dicuri, disembunyikan……kacau! Orang tidak menghargai lagi.

 

L : Kami tunggu, ya, tulisan Anda itu.

MA : Euh, itu masih…, orang Pak Bambang*) saja, minta saya untuk menulis buku berkali-kali, sampai sekarang, belum (sempat), ya, karena itu, ketika belum menjadi uskup, terlalu banyak ceramah. Iya. Itu tulisan-tulisan saya di media, kalo dikumpulkan tulisan-tulisan artikel itu, banyak.

*) Prof. Bambang Sugiharto, guru besar dan pengajar di Fakulktas Filsafat UNPAR

 

L : Ya, karena Anda, kan, menulis di (majalah) Melintas yang di UNPAR itu

MA : Iya.

 

L : Saya ingin tahu kapan Anda bisa menulis untuk masyarakat banyak, karena mungkin Anda seorang filsuf, maka

MA : Biasa sekarang, kan, wartawan yang menulis komentar, ucapan-ucapan saya itu.

19 Hobi

 

L : Membumikan filsafat, lah, seperti saya yang kebetulan karena waktu banyak, saya bisa ikut kuliah di ECF *), tetapi masyarakat yang tidak ada waktu, perlu filsufnya yang datang, sih.
*) Extension Course Filsafat di FF UNPAR

MA : Biar umat saja, sebetulnya yang menulis. Kan, mereka banyak (menulis), saya lihat di majalah, di, blog, di beberapa media apa, menulis, tentang yang saya katakan, ya.

 

L : Dan termasuk saya juga

MA : Dan, itu, iya, jadi ada banyak sebetulnya kalo mau perhatikan. Statement-statement saya. Seperti yang tadi, ya, saya inginkan, semua sejahtera,.. ya, bahwa paroki miskin pun kegiatan pastoralnya harus sama dan bukan karena alasan uang, mengatakan tidak punya uang, maka tidak bisa (mengadakan kegiatan), ya. Jadi harus terpenuhi.

 

Bersambung ke Wawancara Bagian 2…

Salam,

Linda Cheang

Bandung, 7 Januari 2015

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

One Response to "[Wawancara] Uskup Bandung – Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (1) – Seputar Dirinya"

  1. Linda Cheang  12 January, 2017 at 13:12

    komentar yg dulu-dulu nggak terselamatkan

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *