[Mangole] Cobaan

Imam Dairoby

 

Sudah sekitar enam bulan aku bekerja di pabrik, kerja dengan sistem 2 shift. Satu sift bekerja selama 11 jam dengan istirahat selama 1 jam, terkecuali bagi kami yang Muslim setiap hari Jumat kami mendapat jatah istirahat selama 2 jam. Dan waktuku ku gunakan hanya untuk bekerja dan bekerja. Saat aku mendapat gaji pertamaku tak dapat ku bayangkan betapa gembiranya diriku. Aku tak percaya bahwa aku mendapatkan uang dari hasil keringatku sendiri.

Yang ku ingat pertama adalah aku membelikan beberapa makanan untuk keluarga kang Ron, padahal mereka kadang marah bila ku belikan sesuatu untuk mereka. Tapi bagaimanapun aku harus membalas kebaikan kakakku. Kang Ron hanya memberi saran aku harus mengirim uang ke rumah untuk membantu meringankan beban keluarga. Aku memang mengirim kan melalui wesel kepada keluarga di Manado.

Aku mendapat surat dari Mbak Is yang mengatakan bahwa mama dan bapak sangat gembira saat menerima wesel dari ku dan berpesan untuk tidak berlaku boros. Kabar yang sangat baik bagiku. Bapak pun sangat bangga saat aku memberitahu bahwa aku bekerja pada bagian Laboratorium, dan mengatakan selamat karena telah mendapatkan sesuai dengan apa yang aku inginkan.

Dalam kehidupan manusia ternyata ada beberapa peristiwa yang memang harus selalu ada. Ada gembira ada sedih. Tiga bulan setelah aku bekerja aku mendapat kabar bapak sakit keras dan masuk rumah sakit. Tak terbayang oleh ku keadaan di rumah yang hanya perempuan semua. Ketabahan ibu ternyata sedang diuji. Kami tak dapat mengunjungi ke Manado, aku dan Kang Ron hanya mengirimkan uang untuk biaya berobat bapak di rumah sakit.

Dorongan semangat dari ibu dan anak-anaknya membuat bapak sembuh dalam waktu singkat dan hanya seminggu dirawat di rumah sakit. Kembali aku menerima surat dari mbak Is dan mengatakan bapak telah sembuh dan sudah kembali ke rumah. Bapak mengucapkan terima kasih karena kami telah bersama-sama memberikan dukungan saat dia sakit. Bapak mengatakan sangat bangga dengan anak-anaknya yang masih saling mendukung dan tidak ada perselisihan di antara kami.

Aku berfikir itu semua karena bapak telah mendidik kami menjadi pribadi yang saling mengasihi di antara keluarga. Ajaran Ibu dan bapak adalah pedoman kami untuk berkarya dan berkehidupan dalam masyarakat. Kemandirian dan kesabaran adalah ajaran utama dari ibu dan bapak kami.

Cobaan itu kembali datang saat aku telah 6 bulan bekerja di perusahaan. Terdengar bunyi airphone di ruangan Laboratorium, saat aku sedang melaksanakan sebuah pengujian. Aku segera mengangkatnya, takut kalau Mr. Chen yang biasanya menanyakan hasil tes yang dilakukan. Walau kadang laporan selalu ada di mejanya setelah dilakukan pengujian, tapi selalu saja dia mau mengetahuinya lebih cepat.

“Imam, kakakmu mencarimu,” Suara Rahma terdengar nyaring di telingaku.

“Sekarang dia di mana mbak?” kataku merasa heran tak biasanya kang Ron mencariku di tempat kerja. Ada apa sebenarnya ini.

“Ini ada di ruangan ku, kamu ke sini cepat ya. Dia bilang sangat penting,”

Aku segera bergegas keluar. Ku panggil Adi untuk menggantikanku melaksanakan pengujian. Dengan sedikit berlari aku menuju ruangan mbak Rahma. Dan ku dapati Kang Ron berada di situ. Wajahnya sangat sendu aku jadi khawatir dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Kang Ron menyodorkan aku sesuatu, sebuah telegram. Belum sempat ku baca semua aku telah menangis. Tertulis di situ bapak meninggal dunia dan itu telah sehari yang lalu.

Kang Ron memelukku diiringi tatapan mbak Rahma dan 2 orang staf lain di ruangan itu. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Aku menjelaskan kepada mereka dan aku memberikan telegram tersebut ke Mbak Rahma.

Aku tak akan melupakan kebaikan Mbak Rahma, setelah telegram itu dibaca segera dia memberitahukan Mr. Chen bahwa orang tuaku meninggal. Aku diijinkan untuk pergi ke Manado, walaupun ku tahu bapak telah dikuburkan. Tapi dengan bantuan Mbak Rahma aku bisa meminta ijin dan semuanya diatur oleh Mbak Rahma. Kebetulan esok hari ada kapal yang akan ke Manado.

Kang Ron tak dapat pergi bersamaku, dan akupun maklum sebab bapak pun sudah dikuburkan. Aku minta ijin ke Manado karena ingin melihat ibuku karena khawatir dengan kesehatannya setelah ditinggal pergi oleh Bapak.

Ku arungi lautan lepas menuju Manado dengan puluhan ingatan laksana layar film yang diputar di depan mata. Aku teringat bagaimana Bapak mendidik kami menjadi seseorang yang mandiri dan tidak harus bergantung kepada orang lain. Bapak sangat disiplin dengan waktu, tak kenal kompromi dengan kalimat terlambat.

Bapak pribadi yang tertutup, pendiam dan jarang mengeluarkan emosi. Berbicara seperlunya dan apabila marah Bapak hanya berbicara dengan memakai kiasan dan maknanya terasa sampai di dalam hati kami. Hingga mendidik kami menjadi manusia yang sangat perasa.

Bapak tidak pernah memakai kekerasan dalam mendidik kami, tetapi dengan ketajaman kata-katanya yang dapat membuat hati kami bisa merasakan sesal bila kami berbuat kesalahan.

Aku jadi sangat sedih, baru saja aku merasa bisa membahagiakan bapak tapi ternyata bapak harus pergi meninggalkan kami. Bagiku bapak adalah sosok pendidik yang paling bijak, tak pernah memaksakan kehendaknya kepada kami, bahkan cenderung bapak merelakan dirinya menderita daripada melihat kami menangis.

Tak ku hiraukan perjalanan laut yang jauh, tak ku rasakan lagi gelombang yang menghadang perjalananku. Pikiran ku hanya terkenang segala sesuatu tentang bapak. Hingga aku sampai di pelabuhan Manado dan sampai di rumah.

Ibuku memelukku, tak dapat ku tahan tangisku. Kami larut dalam luapan kesedihan. Tapi segalanya memang telah ditakdirkan Sang Kuasa, aku tidak melihat kepergian orang yang sangat aku banggakan. Aku hanya melihat gundukan tanah yang bersemayam di dalamnya seorang yang sangat berarti dan sangat ku hormati.

Beloved-Father

Bapak, Ku datang

            Walau tak ku pandang wajahmu saat al maut menjemput

            Tapi ku rasakan kepedihan saat aku kehilangan mu

            Di sini

            Di dalam gundukan tanah merah ini

            Bersemayam Guruku, Pelindungku, Pahlawanku

            Tak akan pernah ku lupakan ajaranmu

            Walau bukan dari kata terucap

            Prilaku keseharianmu telah menyirat

            Jadi Manusia

            Yang bisa menjadikan orang lain sebagai Manusia

            Menghormati kejujuran, kesalehan dan kekerabatan

            Jasadmu bersemayam di sini

            Tapi jiwamu bersemayam di hati kami.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.