Guess Who?

Wesiati Setyaningsih

 

Hari mulai gelap, adzan Maghrib baru saja berkumandang. Pengumuman di stasiun memberitahukan bahwa kereta Kaligung Mas jurusan Semarang akan segera datang.  Sebuah roti ‘O’ segera kudesakkan ke dalam tas. Satu roti lainnya sudah menyesaki perut tadi hingga aku kenyang. Tak lama kereta datang, selisih sedikit dengan jadwal yang tertera, 17.56 WIB.

Kulangkahkan kakiku mendekati rel menanti kereta benar-benar berhenti. Tiket dengan nomor bangku 20A mestinya akan sangat menyenangkan kalau kudapat untuk perjalanan pagi tadi. Di malam begini apa yang bisa kulihat meski aku duduk di sebelah jendela?

Sampai di atas, kulihat tempat dudukku diduduki seorang Bapak.

“Itu tempat duduk saya,” kataku.

Bapak yang tadinya sedang asyik dengan hapenya ini tersenyum  dan menggeser membiarkanku berusaha melewati orang-orang yang sudah duduk di situ. Karena datang dari Brebes, kereta sudah terisi separuh. Dengan empat orang yang sudah menduduki dua bangku berhadapan, aku tak sengaja menginjak ujung kaki Ibu yang duduk di ujung. Aku minta maaf dan Ibu itu menjawab dengan senyuman.

“Nggak pa-pa, Mbak..  Memang tempatnya kaya gini. Gimana lagi?” kata Ibu sepuh yang berkebaya dan kain itu maklum.

Kereta mulai berjalan. Dan aku baru saja membenahi dudukku agar nyaman ketika gadis muda yang duduk di sebelah Ibu sepuh tadi berseru,

“Itu ada air, AC-nya bocor!”

Aku mengikuti arah telunjuknya. Tepat di atas Bapak yang duduk di sebelahku ada air mengalir dari atas cukup deras, menimpa ujung sandaran lalu mengalir ke tempat duduk. Bapak di sebelahku segera berdiri agar tidak kebasahan. Sejenak kegaduhan kecil terjadi.

Orang di belakangku menggerutu, “Tissue-nya mesti diganti, tuh.”

Sepertinya sejak dari Brebes AC di atasku sudah bocor. Beberapa petugas datang membawa gulungan tissue toilet. Aku minta tissu untuk membantu membersihkan bangku teman sampingku dan menyadari bahwa Bapak itu hanya berdiri dan tetap saya asyik dengan hapenya. Sama sekali tak peduli pada situasi yang terjadi di sekitarnya. Gayanya benar-benar mengingatkanku pada anak-anak yang kecanduan gadget.

Masalah selesai ketika tissue yang mengganjal AC diambil dan diganti tissue baru. Para petugas pergi dan Bapak tadi duduk begitu saja dengan mata yang tetap lekat pada hapenya. Aku mulai bertanya-tanya, urusan apa sih yang sedang dilakukannya sampai matanya tak lepas dari hape?

Aku belum sempat menemukan pilihan-pilihan jawaban ketika Bapak itu tiba-tiba menelpon. Tanpa mengawali dengan salam atau basa-basi apapun, malah tertawa-tawa di sela bicaranya.

“Itu nanti kalo sampai Banyumanik statusnya tak ganti..” katanya.

Status diganti? Status apa?

Orang di seberang menjawab, entah apa. Bapak itu berkata lagi,

“Enggak, itu statusnya cuma buat sekarang aja. Nanti tak hapus, tak ganti.”

Ngapain status diganti? Kan status juga nanti bakal lewat kalau kita membuat yang baru? Lagian ngapain bikin status kalo nanti dihapus dan diganti lagi? Diganti sama status kaya gimana?

Aku jadi penasaran. Tapi Bapak itu hanya bicara begitu lalu menutup teleponnya dan mulai asyik menulis pesan di BBM. Kulihat orang di sekitarku, kalau tidak tidur maka mereka sedang asyik dengan hapenya. Sepertinya hape sudah menjadi satu-satunya hal penting dalam hidup manusia sekarang. BBM, Facebook, Twitter, SMS, games, entah apa lagi, memenuhi hidup kita.

Aku sendiri tidak memegang hape karena sedang ku-charge di stop kontak yang ada di sampingku, berjaga-jaga kalau-kalau perlu memberi tahu keluarga saat sampai Semarang nanti. Dari kami berenam, hanya Ibu tua di depanku yang tidak memegang hape. Dia terkantuk-kantuk dengan menyandar sandaran yang tegak hampir 45 derajat ini.

Iri dengan keasyikan Bapak di sebelahku, kulirik apa yang sedang dilakukannya. Aku yakin penumpang lain tidak melihat kalau aku melirik layar hape penumpang sebelah karena mereka semua menunduk asyik dengan hape mereka sendiri-sendiri. Maka diam-diam aku mencuri tahu apa yang dia tulis di kolom chat BBM-nya.

‘Tenang aja, Mama tetap istri terbaik’

Cuma itu yang tertangkap mataku. Kulempar pandangan ke luar. Gelap. Benakku mulai menganalisa.

Oh, jadi dia tadi nelpon istrinya?

Penasaran, aku melirik lagi. Saking asyiknya dia, sepertinya dia tidak tahu kalau aku melihat dia mencari nama kontak lain. Di nama lain itu kulihat dia menulis ‘Mama’. Aku jadi bertanya-tanya, siapa yang dia maksud Mama. Atau mungkin istrinya ada beberapa.

Selesai menulis di kolom pembicaraan, dia pindah lagi mencari kontak lain, sepertinya perempuan. Kembali aku melihat dia menulis ‘Mama’ di situ. Jadi ada tiga perempuan yang dia kirim percakapan dengan kata mama.

Merasa bersalah aku melihat ke luar. Di malam hari begini semua tampak gelap. Pikiranku melayang ke teman yang membuatku pergi ke Pekalongan ini. Kepekatan itulah yang sekarang dilihat teman yang kutengok di Pekalongan ini. Setelah mengalami kanker otak sejak dua tahun lalu, dia sempat sembuh total. Rambutnya yang rontok sudah tumbuh lebat. Sayang Oktober lalu dia tiba-tiba mengalami pusing di antara ke dua mata, lalu tak lama kemudian sudah buta total.

Malam sebelumnya aku mendapat kabar itu dari suaminya mengenai kondisi teman saya itu. Segera detik itu juga aku memutuskan berkunjung. Suami memberi tahu kalau aku bisa pesan tiket ke Indomaret atau Alfamart, jadi aku bergegas ke Indomaret terdekat.  Dengan kereta pukul 9 pagi, aku memulai perjalananku ke Pekalongan. Tak banyak yang bisa aku bicarakan dengan temanku itu karena banyak hal yang dia sudah lupa.

Akhirnya aku banyak bicara dengan Ibunya yang sehari-hari merawatnya selama 24 jam. Karena dokter sudah angkat tangan, suaminya memutuskan untuk merawatnya di rumah. Setiap hari dia minum jus buah dan sayur berganti-ganti sesuai jadwal. Ibunya yang merawatnya, suaminya mengurus dua anak mereka dibantu seorang baby sitter.

Aku bisa melihat sendiri seorang suami yang sangat peduli pada istrinya yang sakit. Segala cara dia lakukan agar si istri bisa sembuh. Aku terharu melihat dukungan keluarga yang luar biasa untuk temanku itu. Tidak semua orang seberuntung dia.

” Mama lagi apa?”

Lamunanku buyar karena suara di sebelahku. Bapak tadi menelpon lagi.

Terdengar suara perempuan di seberang sana. Kebetulan teleponnya tepat di samping telinga kiriku.

Oh, Bapak ini romantis juga, sudah di kereta saja menelpon istrinya. Rasa malu merayapiku, karena sudah berpikir buruk tentang dia sebelumnya. Jangan-jangan dia sebenarnya suami yang setia. Aku saja yang sudah salah sangka.

“Aku ingin liat Mami pake yang itu..”

Aku tersenyum. Imajinasiku mengembara. Seorang suami yang pulang tugas, mungkin sedang merindukan istrinya karena berhari-hari tak bisa bertemu. Jadi dia membayangkan istrinya memakai baju tidur atau lingerie seksi. Cuma… kok bicaranya sambil tertawa-tawa begini. Tiap kali selesai bicara dia tertawa. Masak sama istrinya masih canggung begini?

Suara perempuan di telepon bicara agak panjang dan Bapak itu tertawa-tawa lagi. Lalu katanya,

“Habis ini aku masih ke kampus dulu. Soalnya ada janji dengan mahasiswa. Kasian kalo nggak jadi ketemu. Tasnya aku tinggal di kantor saja ya.. Masak dibawa pulang, nanti gimana?”

Tas oleh-olehnya tidak dibawa pulang? Pikiran jelekku kembali melintas.

“Ntar Senin deh tak kasiin Mami…”

Itu hari Rabu, jadi Senin masih lama. Buat apa menunggu beberapa hari kalau dia membawakan oleh-oleh untuk istri?

Pembicaraan mereka berakhir beberapa saat kemudian. Kusandarkan kepala ke dinding kereta berusaha tidur, takut kalau Bapak itu tiba-tiba menoleh ke arahku dan melihatku sedang melirik hapenya. Bisa malu nanti.

Tapi aku tak bisa tidur. Aku iri dengan Ibu di depanku yang tampak nyenyak sekali. Kulirik lagi teman sebelahku, tak sedetik pun dia menghentikan kegiatan dengan hapenya. Dari hape yang satu ganti ke hape lainnya.

Sudahlah, bukan urusanku, pikirku.

Hampir satu jam perjalanan kereta sampai di stasiun Poncol. Tepat seperti yang dijadwalkan. Hari ini aku benar-benar menikmati perjalananan dengan kereta. Selain pembelian tiket yang dipermudah dengan bisa membeli di Indomaret,  jadwal kedatangan dan keberangkatan juga tepat waktu. Sudah begitu Semarang-Pekalongan ditempuh hanya dalam waktu kurang lebih 50 menit. Bandingkan kalau naik mobil atau bis!

img_GuessWhoLogo

Setelah terdengar pengumuman sentral untuk menyiapkan barang bawaan kami, kereta benar-benar berhenti. Orang-orang yang ingin bergegas turun segera berdiri dan berdesakan. Aku duduk menunggu antrian berkurang sambil mengamati penumpang di sekitarku bersiap turun. Bapak di sebelahku menenteng tas kertas warna hitam yang distaples ujungnya, dengan tulisan besar warna putih, ‘GUESS’.

 

 

About Wesiati Setyaningsih

Seorang guru yang tinggal di Semarang. Awalnya tidak ada niat untuk menjadi guru, tapi kemudian "kesasar" menjadi guru. Mencoba mendobrak "pakem baku" proses pengajaran, juga mendobrak ketidaklogisan pencekokan agama membabibuta di sekolah dan keseharian murid-muridnya. Sering dianggap "off-track" bahkan tidak jarang mendapat cap sesat karena sikapnya yang tidak seperti kebanyakan mainstream.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *