[Cerita Rakyat Buttasalewangang] To Kessingnge

Hajrah Kadir

 

Tersebutlah sebuah kerajaan di Kabupaten Maros bernama kerajaan Pakere. Kerajaan Pakere diperintah oleh seorang raja yang sangat adil dan bijaksana, dermawan, dan sangat dekat dengan rakyatnya. Sifat sosial raja ini, sangat terkenal bukan hanya di kerajaan Pakere saja, akan tetapi juga terkenal di kerajaan tetangga.

Salah satu contoh sifat adil dan bijaksana raja adalah pada saat anak angkatnya melakukan perbuatan yang tidak terpuji kepada anak seorang pembantu, maka raja tidak segan-segan memberikan ganjaran sesuai dengan perbuatannya. Raja tidak membeda-bedakan staus sosial masyarakatnya. Siapapun yang salah akan menjalani hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku.

Selain sifat adil dan bijaksana yang dimiliki oleh raja, juga memiliki sifat dermawan. Hampir setiap bulan, raja melakukan kunjungan ke rumah-rumah rakyatnya yang dianggap kurang mampu dan memberikan bantuan langsung. Kegiatan tersebut telah dilakukannya selama masa kepemimpinannya, yakni 15 tahun. Selain memberikan bantuan, raja juga menyempatkan diri bercengkramah dengan rakyatnya. Mereka menyampaikan berbagai keluhan kepada raja yang dicintainya. Dengan ramah, raja mendengarkan dan menjawab keluhan rakyatnya. Tak pernah sekali pun raja bertutur kata menyakitkan perasaan rakyatnya. Bagi penduduk Pakere, raja adalah segala-galanya. Semua perintah raja dilaksnakan dengan senang hati. Ada kebahagiaan tersendiri yang dirasakan raja dan permaisurinya dengan kedekatan mereka dengan rakyatnya.

Kebahagiaan dan kedekatan raja dengan rakyatnya belum terasa lengkap, karena raja mereka belum dikaruniahi keturunan, meskipun telah 15 tahun berumah tangga. Hal itulah yang membuat raja dan permaisurinya gundah gulana. Oleh sebab itu, raja mengangkat tiga keponakannya menjadi anak angkat.

Meski telah 15 tahun berumahtangga, raja dan permaisuri masih saja tetap rukun dan bahagia. Untuk mendapatkan keturunan, mereka tak henti-hentinya melakukan pengobatan. Akhirnya hari bahagiapun datang juga. Setelah 15 tahun menunggu, maka permaisuri pun mengandung.

Betapa riang hati raja dan permaisuri. Hari-hari dilaluinya dengan riang gembira menanti kelahiran sang bayi yang telah lama ditunggu-tunggunya. Kandungan permaisuri sudah sembilan bulan sepuluh hari, hari kelahiran sang jabang bayipun tiba. Cikal bakal pewaris kerajaan Pakere telah lahir ke dunia. Tangisan sang bayi memecah keheningan malam. Permaisuri melahirkan dengan selamat. Anaknya perempuan. Sangat cantik, putih bersih, hidungnya mancung, rambutnya ikal, tak ada satu pun cacat dan cela yang melekat pada sang bayi. Sang bayi yang cantik molek itu diberi nama Maddutana, yang berarti orang yang diberi kepercayaan. Mengandung makna, kelak akan diberikan kepercayaan untuk memimpin Kerajaan Pakere meskipun dia seorang perempuan.

Kelahiran sang bayi seolah menjadi penerang di kala gulita dan menjadi embun penyejuk hati di kala gundah gulana. Demikianlah yang dirasakan oleh rakyat Pakere umumnya, raja dan permaisuri pada khususnya.

Hari-hari keluarga Kerajaan Pakere, dilalui dengan senda gurau, riang gembira. Mereka membesarkan Maddutana dengan penuh kasih sayang. Meskipun Maddutana adalah anak tunggal, namun kedua orang tuanya memberikan pendidikan kedisiplinan yang tinggi. Maddutana tumbuh menjadi perempuan yang cerdas, disiplin, dan memiliki prilaku dan tutur kata yang sopan.

Tak terasa Maddutana telah beranjak remaja. Wajahnya semakin memancarkan kepiawaian seorang bangsawan sejati. Hal tersebut terpancar dari wajahnya yang memancarkan pesona, tutur kata yang lembut, serta tingkah laku yang sangat bersahabat. Ia mewarisi sifat kedua orang tuanya. Maddutana juga sangat dengan rakyat.

Meskipun Ia seorang putri raja, namun dia tidak pernah menyombongkan diri. Ia lebih sering bergaul dengan masyarakat dari kelompok sosial yang lebih rendah. Meskipun demikian, Maddutana tetap mendapatkan pengawalan dari kerajaan sebagai putri raja. Selain itu dia juga mendapat pengawalan sebanyak 40 orang dayang.

Maddutana tumbuh menjadi perempuan yang sangat cantik, bukan hanya cantik lahir, namun lebih dari itu, kecantikannya terpancar dari dalam. Tak mengherankan jika banyak kumbang yang menghampirinya. Baik dari kalangan kerabat, maupun dari kerajaan tetangga. Mereka ingin menjadikannya permaisuri. Lamaran datang silih berganti, namun tak satupun yang diterimanya. Dengan alasan Maddutana masih terlalu muda untuk berkeluarga.

Sampai suatu saat terjadilah peristiwa itu. Datang lamaran dari pihak keluarga. Baik dari keluarga permaisuri, maupun dari pihak raja sendiri. Tak mungkin memilih salah satunya. Tak mungkin juga memilih kedua-duanya. Raja sangat sulit menentukan pilihan.

”Jika ada yang dipilih salah satunya, maka akan terjadi pertumpahan darah”!, kata pelamar dari pihak permaisuri. Demikian juga pendapat dari keluarga pilah raja. Raja, permaisuri, dan Maddutana, melakukan musyawarah. ”Daripada terjadi pertumpahan darah sesama keluarga, yang akan berakibat adanya korban dari orang-orang yang tak berdosa, maka lebih baik sayalah yang dikorbankan”, Kata Maddutana kepada Ayahandanya. Bagai petir di siang bolong mendengar perkataan Maddutana.

Raja sangat bangga mendengar ketegaran hati anaknya. Tidak ada alasan untuk tidak menerima putusan itu, meskipun hatinya hancur. Harus menerima kenyataan kehilangan anak semata wayangnya. Akhirnya dengan sangat terpaksa diputuskan bahwa Maddutana akan dipotong menjadi dua bagian.

Putusan tersebut adalah putusan akhir yang tak bisa diganggu. Para dayang atau dalam bahasa Bugis disebut dengan joa’ (hamba sahaya) yang berjumlah 40 orang juga ingin ikut serta dengan tuannya. Akhirnya, Maddutana pun dipotong menjadi dua bagian. Demikian juga dengan para dayang, masing-masing dipotong menjadi dua bagian.

Jenasah para dayang dimakamkan dalam satu lubang. Jenazah Maddutana dimakamkan terpisah, namun masih dalam satu kompleks. Selain jenazah Maddutana yang dimakamkan, juga turut disimpan emas, dan berlian, dan semua perlengkapan dan perlengkapan yang terbuat dari emas dalam jumlah yang tak terhitung jumlahnya milik Maddutana dan para dayang diletakkan di samping jenazah Maddutana.

Sungguh suatu pemandangan yang sangat memilukan hati. Putri semata wayang, yang dipersiapkan menjadi penerus tahta singgasana, harus mengalami nasib yang sangat tragis. Namun, semua telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa penentu hidup dan mati makhluk di dunia ini.

Raja dan Permaisurinya harus melepaskan dengan ikhlas pengorbanan anak yang dicintainya dan menjadi permata hatinya. Mereka mengembalikan kepada Yang Maha Kuasa.

Beberapa tahun setelah kematian Maddutana beserta 40 dayangnya, muncul suatu peristiwa yang tidak masuk akal. Harta benda yang turut dimakamkan bersama jenazah Maddutana dan para dayang, bisa diambil dan terbuka jika mengorbankan ”to buleng” dan mengucapkan mantra-mantra. Mantra-mantra tersebut hanya dapat diucapkan oleh seorang pinati atau orang yang pandai. ”Ambillah sebagian harta tersebut, lalu bagikan kepada masyarakat miskin”, Kata Raja.

Dengan mantra-mantra yang dibaca oleh pinati, akhirnya tempat penyimpanan emas dan perlengkapan yang terbuat dari emas milik Maddutana dan para dayang bisa terbuka. Muncullah sebuah kejadian yang aneh. ”Sendok ini tak akan kuberikan kepada siapapun, lebih baik saya yang menjualnya”, Kata pinati ketika melihat sendok emas milik Maddutana dan para dayang. Setelah berpikir demikian, tiba-tiba pinati tersebut terpental jauh dan pingsang.

Dengan kejadian tersebut, masyarakat berpendapat bahwa jika benda tersebut akan digunakan untuk kesejahteraan masyarakat, maka jangn sekali-kali menyalahgunakannya, karena akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Hal tersebut sesuai dengan sifat dari Maddutana yang selalu mau membantu rakyat dan selalu mau membantu masyarakat.

kind-person

Sampai saat ini masyarakat Pakere, masih dapat melihat makam dari dari Maddutana. Mereka menjulukinya ”To Kessingnge” artinya orang yang baik hati.

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.