Keriuhan Informasi dan ‘Ingatan Kerja’ Otak Manusia

Desi Sommalia Gustina

 

it is not private          Hari ini informasi laksana air bah yang menyerbu kehidupan kita. Setiap saat kita bisa mengikuti dan memperbarui informasi apapun sesuai kebutuhan. Media massa seperti koran, tabloid, majalah, hingga televisi telah memberi kemudahan pada siapapun untuk mendapatkan informasi yang diinginkan. Melalui gadget—dengan jaringan internet yang terus menyala, yang kita miliki kian membuat semarak ragam pilihan yang ditawarkan. Sehingga, tidak mengherankan di tengah kehidupan yang semakin mengglobal seperti hari ini setiap inci kehidupan dari berbagai pelosok dunia sekalipun bisa berpindah ke dalam ruang-ruang pribadi kita. Ia bisa dijelajah dengan sebuah perangkat elektronik di genggaman. Dengan kata lain, beragam sarana yang hadir pada kehidupan kita hari ini telah mempermudah siapa saja menembus batas geografis, membuat kehidupan nyaris tak ada lagi batas antara timur dan barat.

Di sisi lain, gemuruh informasi yang kita rasakan kian hari kian kencang juga disebabkan setiap orang hari ini bisa menjadi sumber informasi ataupun menjadi penyampai informasi yang ia ketahui kepada publik. Sehingga, dengan segala fasilitas yang telah terbentang dalam kehidupan kita sebagaimana hari membuat setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan informasi, atau sebaliknya menjadi pusat informasi dan menyampaikan informasi apa saja kepada publik melalui beragam pilihan media yang ada. Dampak dari semua itu tentunya membuat seluruh peristiwa menjadi terbuka seperti tubuh telanjang tanpa rahasia. Dengan beragam informasi yang hilir mudik itu, setiap orang hari ini bisa dikatakan tak lagi memiliki jarak dengan belahan dunia manapun. Melalui arus informasi yang semakin tak bisa dibendung ini, tidak mengherankan kita bisa begitu mudah memotret kehidupan masyarakat dari segala penjuru dunia.

Too-Much-Information

Hari ini misalnya, kita bisa dengan mudah mengikuti perkembangan perekonomian Cina yang sedemikian pesat, mengikuti kisah James Holmes yang menembak secara brutal kerumunan penonton saat premiere film Batman di bioskop Aurora, Colorado, Amerika Serikat, yang disebut-sebut merupakan akibat dari begitu mudahnya seseorang memiliki senjata api di negeri Abang Sam itu, atau melihat sejumlah negara di Timur Tengah yang terus memanas, menengok konflik di Syuriah yang tak kunjung sudah, menyaksikan bagaimana sadisnya pembunuhan rakyat sipil di jalur Gaza oleh militer Israel dalam rentang waktu yang tak sebentar sambil mencuatkan tanya di kepala; bilakah waktunya perang Gaza akan usai, menengok demokrasi di Mesir yang kata sejumlah pengamat adalah demokrasi yang masih bayi, atau mengikuti perkembangan pemberitaan mengenai hilangnya pesawat MH370 yang terus menunculkan tanya, dan lain sebagainya.

Dari dalam negeri kita pun bisa menyaksikan beragam peristiwa. Misalnya megikuti perkembangan sejumlah kasus korupsi dengan beragam ‘aktor’ dengan rajutan alur ceritanya yang seolah terus berpacu. Mengikuti kasus bank Century yang hingga kini belum diketahui ujungnya, kasus korupsi proyek Hambalang yang menyeret banyak nama, kasus pelecehan seksual pada anak yang terjadi di sekolah mahal, menyaksikan kisah dua anak kandung sang Ratu dari ‘dinasti Banten’ yang dikabarkan lolos ke Senayan, menilik sejumlah pesohor yang diprediksi akan menduduki kursi anggota dewan, mengikuti perkembangan pemberitaan di media massa yang menyoroti jam tangan mewah salah seorang Panglima TNI, mengikuti hiruk pikuk perbincangan terkait koalisi yang akan dilakukan partai politik dalam pemilihan presiden mendatang, menyimak pemberitaan mengenai rencana sejumlah anggota DPR yang dikabarkan akan melakukan studi banding ke Selandia Baru pada akhir masa jabatannya, dan masih banyak informasi lainnya yang terus menerus menyeruak.

information-overload

Dalam ranah perbukuan, kita juga bisa memantau buku-buku terbaru yang diterbitkan oleh sejumlah penerbit, membaca karya para pengarang dalam dan luar negeri melalui e-book, dan lain sebagainya. Bahkan, dari sejumlah media massa yang berperan sebagai penyampai informasi kita pun akan dengan mudah mengetahui betapa sejumlah konglomerat dalam dan luar negeri memilih bergerak dalam bisnis media dengan beragam tujuan. Umpamanya demi mencicipi rasa kekuasaan, menangkap kesempatan finansial, hingga untuk ‘membeli’ sebuah pengaruh. Dan tidak ketinggalan melalui media yang ada pula, kita bisa menyaksikan betapa menjamurnya shopping mall, budaya K-Pop, melongok sejumlah ajang pencarian bakat yang bertujuan mengorbitkan idola baru secara instan, menilik kehidupan pribadi selebriti, hingga mungkin menjadi bagian dan ikut mendengungkan adagium ‘kecil disuka, muda terkenal, tua kaya raya, mati masuk surga’.

Namun, di tengah keriuhan-keriuhan informasi yang ada, manusia dengan segala keterbatasan yang dipunyainya seperti keterbatasan perhatian, keluangan waktu, kemampuan berpikir, dan sejumlah kekurangan lainnya yang dimiliki makhluk bernama manusia, maka menyaring informasi yang datang laksana tsunami pada kehidupan kita hari ini sudah menjadi  kemestian. Hal ini dikarenakan apabila menilik jumlah informasi yang disajikan dari waktu ke waktu dari seluruh dunia, maka waktu hidup seseorang tidak akan cukup untuk membaca keseluruhan informasi yang disuguhkan.

Di samping itu, mengutip Sindunata, serbuan informasi akan membahayakan organ syaraf yang menurut para ahli disebut “ingatan kerja”. Ingatan kerja adalah bagaian dari otak, yang bisa diibaratkan sebagai CPU komputer. Dimana kecepatan berpikir manusia, kemampuan berkonsentrasi, semuanya tergantung pada “ingatan kerja”. Tetapi sebagai CPU otak, ingatan kerja manusia memiliki kapasitas yang terbatas, yang tidak bisa dipaksakan untuk menyerap semua informasi yang disuguhkan. Maka dalam kaitan inilah diperlukan kemampuan seseorang menyeleksi ribuan informasi yang menghampar di sekelilingnya. Memilih dan memilah informasi yang benar-benar dibutuhkan untuk dibaca ataupun sebaliknya. Begitu.

 

Desi Sommalia Gustina, alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang.

 

Dipublikasikan di harian Rakyat Sumbar, 11 Mei 2014

 

 

About Dessi Sommalia

Desi Sommalia Gustina, Alumnus Pascasarjana Jurusan Ilmu Hukum Universitas Andalas, Padang. Saat ini menggerakkan komunitas menulis Rumahkayu Pekanbaru. Menetap di Pekanbaru. Bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Riau.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.