Pakailah Pikiran, Selalu!

Anwari Doel Arnowo

 

Pikiran sebaiknya positif dan masuk akal anda sekarang. Yang tidak positif, dikurangi saja. Yang jelek, cepat saja dibuang dan lupakan. Kalau memang kita tidak memakai kemampuan berpikir kita, lalu mau dikemanakan daya pikir, akal budi, logika, angan-angan, wawasan, ingatan,  idea, mindset serta lain-lain hal yang berkaitan dengan itu?

Bukankah semua kemampuan kita telah kita peroleh dengan gratis sebagai bagian dari susunan tubuh kita ini yang saya percayai telah diciptakan oleh Allah? Banyak orang di dunia ini percaya seperti saya dan demikianpun halnya oleh mereka yang beragama, agama apapun! Ada yang menyebut saya adalah vrijdenker, agnost atau apa-apapun. Peduli amat. Saya tidak mengusik siapapun dan tidak peduli pendapat orang tentang sikap saya terhadap cara saya menghargai dan mengakui adanya Allah, Sang Pencipta. Terutama dalam mengamati ciptaanNya, yang berupa diri saya atau tubuh lengkap saya. Secara pribadi, saya amat percaya kepada Allah dan telah menggunakan ajaran-ajaran yang baik bagi diri saya, dari manapun asal  dan dari ajaran atau agama manapun, sesuai dengan pola / daya pikir saya pribadi.

think

Ajaran-ajaran itupun saya yakini bisa berubah pada setiap saat. Pada setiap tahun, pada setiap abad dan pada setiap millennium. Kapanpun. Apa yang kita percayai sebagai benar pada hari ini bisa saja berubah menjadi salah, pada keesokan harinya. Saya tidak mau secara spesifik berpendapat bahwa saya benar dan juga yang tidak setuju dengan saya itu, salah. Tidak seperti itu. Sudah kuno apabila kita berpikir apalagi mengatakan usia telah lanjut atau karena sudah pensiun, maka kita berhak berhenti berpikir. Atau lebih halusnya mengurangi waktu untuk berpikir. Kalau berhenti berpikir saya yakini bahwa itu salah sama sekali. Memang ada salah satu dari  cara berpikir yang harus dihindari. Di bawah ini akan saya tuliskan mengapa demikian halnya.

Selama kurun waktu saya merawat istri saya selama hampir satu tahun lamanya sampai meninggal pada 10 Maret 2014, saya berhadapan dengan para dokter yang umum, yang ahli dan juga yang banyak menggunakan tambahan sebutan professor, sekalipun itu salah, saya telah diberi pengertian bahwa pikiran itu bisa kita kelola sendiri. Istri saya menderita kanker yang ganas di paru sebelah kanan dan telah menyebar ke seluruh tulang-tulang di seluruh tubuhnya. Ada ruas yang retak di tulang punggungnya. Bila yang retak ini patah atau remuk maka akan timbul akibat berupa kelumpuhan di seluruh tubuh bagian bawah dan tidak akan mampu membuang segala kotoran tubuhnya, baik berupa cairan maupun padatan.

Dalam kondisi seperti itu, dia mengeluhkan rasa sakit di mana-mana dan berpindah-pindah, karena tidak terasa di satu tempat yang sama. Para dokter yang tergabung dan ditunjuk sebagai Team Pain Management, berganti-ganti dan atau sendiri-sendiri memberi obat-obat painkiller  (penghilang rasa sakit) yang bermacam-macam jenisnya, mereknya dan tingkatan ke-effective-annya, demikian pun juga harganya.

Ada yang namanya Durogesic yang tidak murah, berupa seperti invisible cello tape (pita plastik perekat yang tembus pandang) panjangnya hanya sepanjang ibu jari tangan. Harganya satu jutaan lebih, waktu itu. Ditempel di tubuh bagian yang mana saja biarpun letaknya jauh dari lokasi sumber sakit, akan terasa efektif setelah enam jam dan lamanya hanya 48 jam efektif (tidak ada rasa sakit di mana-manapun di seluruh tubuh). Setelah 48 jam akan terasa sakit lagi. Rasa kasihan dan iba hati saya tidak terkira melihat dia meski sudah diberi tindakan oleh para ahli dan obat yang PALING seperti itu, masih mengeluhkan rasa sakit di mana-mana tanpa saya dapat membantu apapun.

Ternyata baru kemudian saya ketaui bahwa itu termasuk di dalam golongan obat yang mengandung narkotik. Saya memang protes sesudahnya, tetapi apa daya saya karena pengetauan dokternya memang seperti itu saja adanya. Keluhan sakit ya HANYA ITU saja jawabannya dan selalu  obat dan obat, sesuai dengan ajaran kepada para dokter yang belajar di Fakultas Kedokteran.

Apakah tidak seharusnya perlu menerangkan terlebih dahulu secara detail bahwa itu termasuk jenis narkotik kepada saya selaku suami pasien? Saya merasa belum pernah diajak berdiskusi terlebih dahulu.

Berikut ini pengalaman sendiri sewaktu pasien yang  tidak berada di dalam perawatan di rumah sakit, di sebuah apartemen yang dekat dengan rumah sakit, karena tempat tinggal kami jauh dari rumah sakit. Pada suatu malam sekitar jam dua pagi, keluhan rasa sakitnya tidak tertahankan, dan kami sedang tidak mempunyai persediaan durogesic. Istri saya ini matanya sudah terbuka lebar seperti melotot melihat ke arah saya, akan tetapi saya lihat dia “TIDAK” memperlihatkan bahwa dia itu mengenali saya ini siapa.

Sudah 40 tahun saya hidup bersama dia, terjadi apa seperti begini? Tetapi secara tiba-tiba sambil memegangi tangannya erat-erat, saya menyebut dengan suara jelas berulang-ulang kata-kata merem (memejamkan mata), lerem (menenangkan hati) dan marem (puas) tanpa saya tau bagaimana urutannya,  akan tetapi mungkin sebanyak 20an kali. Perawat pribadi yang 24 jam selalu mendampinginya mengatakan bahwa Ibu sudah 8 jam lamanya tidak bisa tidur. Tetapi setelah saya selesai mengucapkan beberapa kali ketiga kata asal dari bahasa Jawa itu, istri saya mulai  memejamkan mata  dan tertidur nyenyak selama lebih kurang 5 jam secara  terus menerus. Kami berdua, saya dan perawat, sungguh tidak terkira bersenang hati melihat yang seperti itu.

Kemudian saya diberitau bahwa apa yang saya lakukan itu adalah memang bagian dari perawatan yang biasa disebut dengan istilah hypno therapy. Inti yang utama adalah kita diajari agar mulai menghipnotis diri sendiri dengan cara meLUPAkan rasa sakit.

Harus berusaha mengalihkan segala macam memori rasa sakit serta berkonsentrasi menggantikannya dengan apa-apa atau siapapun atau dengan pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan pernah dialami di masa lalu yang telah terbukti menyenangkan. Seperti berwisata ke Kebun Bunga Buchart Garden di Vancouver, Kanada atau melihat mata hari tenggelam di pantai Kuta di Bali atau ke Danau Kuil Kinkakuji di Kyoto, Jepang, atau apapun yang telah menyenangkan hati diri sendiri di masa lalu. Ilmu itu bisa dan biasa dilakukan  terhadap rasa sakit yang tidak bisa dikelola. Karena apa? Sebab utamanya adalah tidak mampu dikelola, karena hampir pasti sebabnya adalah pola pikir para penderita yang bersangkutan sendiri.

Pola pikir? Ini ada yang sadar dan yang tidak / tanpa sadar. Dua-duanya juga karena mentalnya tidak siap dan memang rawan atau tidak mampu melawannya sendiri. Artinya kekuatan mentalnya tidak optimal. Siapa bisa membetulkan kondisi ini? Tentu saja si penderita sendiri dengan tuntunan yang ahli di bidang hypno therapy itu. Lalu dari mana atau dari siapa saya bisa menenangkan almarhumah istri saya seperti itu?

Saya tidak bisa menjawabnya, dan saya memang belum belajar hypno therapy tersebut sampai saat ini.

Tetapi saya tetap melatih diri pada tiap kesempatan lebih menata subconscious mind (bawah sadar, lubuk hati) saya, bilamana saya sedang mengalami sesuatu yang kurang menyenangkan hati sendiri. Kadang-kadang memang berhasil meskipun tidak selalu memuaskan dan permanen hasilnya.

Memang benar, terasa bertambah ringan beban, karena jumlah dendam saya menjadi amat berkurang, toleransi meningkat dan itu semua membuat beban saya menjadi bertambah … ringan sekali.

Apa sebab saya menulis yang di atas tadi? Itu dipicu oleh sebuah email yang saya terima dari kenalan baik saya B. Dorpi Parlindungan dengan judul On Second Thoughts yang berisi  50 ilustrasi bahwa yang dianggap tidak mungkin pada suatu saat, maka akan terbukti, pada suatu saat di kemudian harinya, memang bisa terjadi. Ini saya simpulkan sendiri karena pengalaman-pengalaman  saya selama ini mengelola pikiran-pikiran saya, telah membuktikan seperti itu. Berikut saya ambil 3 saja dari 50 contoh ilustrasi tersebut.

  • Seorang professor pengajar di Oxford bernama Erasmus Nelson pada tahun 1878 berkata:“Ketika Pameran di Paris ini usai, maka semua cahaya listrik ini akan hilang bersamaan dan tidak akan pernah lagi kembali”. Ternyata sampai sekarang ada listrik.

 

  • Ada penawaran untuk investasi di bidang radio pada tahun 1921 dan associates dari David Sarnoff menjawab: Kotak music tanpa kabel ini tidak mempunyai bayangan nilai komersial. Siapa sih yang mau membayar untuk menyampaikan sebuah pesan kepada seseorang yang sama sekali tidak dikenal? Ternyata siaran radio itu telah merajai dunia hiburan dan komunikasi selama hampir satu abad lamanya.

 

  • Pada tahun 1932 Albert Einstein memberikan  pendapatnya: TIDAK ada tanda-tanda sedikitpun yang mengindikasikan bahwa tenaga nuklir akan bisa didapatkan. Bukankah itu artinya bahwa atom itu harus dipecahkan dengan paksa sesuai kemauan? Ternyata Bom atom toh telah dijatuhkan dan meledak membunuh ratusan ribu manusia di Hiroshima dan Nagasaki di Jepang pada tahun 1945.

Albert Einstein pun bisa saja salah, demikianpun manusia biasa seperti saya dan anda sekalian. Tidak ada satupun di dunia ini yang tetap, karena selalu terjadi perubahan. Saya yang dahulu hanyalah sebuah janin dan lahir sebagai seorang bayi dan sekarang sudah mencapai umur 76 tahun. Tentu saja amat berbeda.

Semua makhluk di dunia selalu sebaiknya menerima bahwa perubahan adalah satu-satunya yang tidak berubah.

Setiap saat perubahan itu tetap berubah.

Yang tetap bagi makhluk adalah kita semua akan mati. Mati itu saja yang tetap dan pasti akan datang pada saatnya nanti siapapun dia .. …

 

Anwari Doel Arnowo – 13 Januari, 2015

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.