Penyesalan

Dewi Aichi – Brazil

 

Setelah melewati 25 hari di rumah sakit dan sempat masuk ruang ICU beberapa hari, Andressa bisa melewati malam tahun baru bersama keluarga di sebuah pantai. Namun keadaaan tidak juga membaik. Rasa sakit luar biasa kembali menyerangnya.

“Aku sedang membayar harga kebodohanku. Semua itu atas nama sempurna, tetapi bukannya membuat tubuhku indah dan cantik, justru ini merusak tubuhku, menyakitiku. Tidak pernah berpikir dua kali untuk memasukkan pisau-pisau itu menyayat tubuhku. Pergi ke dokter bagaikan pergi ke shopping dan ingin ini, ini, dan itu tiada henti. Aku ingin orang-orang melihatku dan mengatakan: ‘wooooowwwww, cantik sekali’.”

“Operasi plastik telah menjadi candu bagiku, meskipun hidrogel mulai bermasalah untuk yang pertama kalinya, saat itu aku sedang di ruang operasi dan sudah memikirkan operasi plastik apa lagi yang akan aku lakukan selanjutnya. Berencana untuk mencabut satu tulang rusukku agar tampak lebih ramping, dan juga memotong salah satu jari kaki agar tampak lebih tipis. Percayakah anda dengan kelakuanku? Aku telah berada di luar kendali. Untuk itu,semua apa yang kualami saat ini seakan-akan Tuhan berkata: STOP!”

Beberapa waktu lalu, saat di pantai, biasa berbikini, kini ia mengenakan long dress dan menyembunyikan bekas-bekas lubang dan sayatan pisau di pahanya. “Malu kelihatan bekas di pahaku” katanya. Bekas itu akan ia bawa sepanjang hidupnya. Dia anggap itu juga merupakan sebuah kemenangan bahwa kini ia masih bisa bernafas. Ia berangan seandainya waktu bisa diputar kembali. Ia akan melakukan hal hal yang sama sekali berbeda.

Memohon kepada Tuhan, memberikan kesempatan sekali lagi. Dan kini yang terpikirkan adalah merawat anaknya.

Penyesalan memang datangnya belakangan. Berada dalam situasi menyesal, serasa ingin kembali terlahir dan mengulangi hidup, tidak akan melakukan hak hal yang bodoh yang berakibat fatal. Namun semua tinggal penyesalan, semua sudah terjadi, kini mau tidak mau harus menerima akibatnya.

http://baltyra.com/2014/12/09/hidrogel/

 

Menangis sampai kecapekan

Masih ingat postinganku dulu tentang Ken (pacarnya Barbie), yaitu seorang remaja Brasil yang melakukan beberapa operasi plastik dan aplikasi hidrogel di beberapa bagian tubuhnya agar bisa mirip Ken? Nama aslinya Celso Santebãnes.

celso

“Aku baru 20 tahun, masih sangat muda, perjalanan hidupku masih sangat panjang, aku masih punya banyak keinginan, tapi kini aku terkulai tak berdaya”, menangis tersedu.

Ketika kasus pertama beredar di media, Celso sudah lemas, sebab menyadari bahwa dirinya berada pada situasi yang sama dengan kasus pertama. Ia merasakan kram yang terus menerus, dan terkadang kaki seakan mati rasa. Kedua pahanya penuh bercak hitam berlubang. Rasanya sakit sekali.

Tidak menunda waktu lagi, ia langsung menemui dokternya, dan menceritakan apa yang ia rasakan. Sungguh kejutan luar biasa, dari hasil pemeriksaan laboratorium, selain akibat hidrogel, ternyata ia dinyatakan positif leukemia.

Ia begitu ketakutan menghadapi semua itu, seakan memusnahkan semua harapan dan cita-citanya. Ia mengatakan bahwa, ia melakukan semua itu, agar kariernya sebagai model bisa lancar. Kesadarannya bahwa kesehatan adalah hal yang paling penting dalam hidup ini dibanding apa yang tampak dari luar, sudah terlambat. Ia telah juga telah melakukan hal bodoh bahkan sejak Ia usia 17 tahun. Usia yang begitu muda bagi tubuh manusia untuk dipermak sana-sini. 17 tahun bagi manusia adalah waktu yang begitu muda, sempurna dalam kekuatan penampilan. Kenapa juga bisa sampai seberani itu melakukannya.

http://g1.globo.com/minas-gerais/triangulo-mineiro/noticia/2015/01/ken-humano-e-internado-para-tratar-infeccoes-antes-de-retirar-hidrogel.html

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona.

Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *