Menua dalam Sepi, Merenta dalam Luka

Emi Suyanti

 

Pada keheningan, ia bicara sendiri. Tubuhnya yang lunglai dimakan alkohol. Pada kerapuhan ia bicara, tak ada kawan yang karip selain sepi yang menua.

Langkahnya gontai, dan sesaat kulihat ia roboh tersungkur. Alangkah tragis, ketika diri tak mampu menata hati, tak mampu mengalahkan frustasi.

chailette.deviantart.com

chailette.deviantart.com

Aku sendiri tak kuasa berbuat apa-apa. Berulang kali sudah kuingatkan, namun ia memilih jalannya sendiri. Aku hanya kasihan meratapi ketiada berdayaannya menghalau luka apalagi mengobati sakitnya.

Tubuh renta terbalut sayatan sembilu, mungkin juga paru-parunya telah terbakar oleh guyuran crystal vodka 40 persen.

Ah, kasihan dia. Tapi ini jalannya jalan yang ia pilih. Jalan yang ia mau. Uangnya segunung, pun tak mampu membeli bahagia. Kini untuk senyumpun dia teramat sulit.

Lantas apakah yang akan terjadi berikutnya. Hanya Tuhan yang tahu. Selama dia gak merubah cara hidupnya, maka tak akan ada perbaikan selanjutnya.

Sedih dan menangis, tapi hanya dalam hati. Karena aku tak mampu untuk berbuat banyak. Aku hanya berdoa dalam hati, semoga dia baik-baik saja.

Andai dia bapakku, maka aku ingin merawatnya terhalang sesuatu, aku tidak bisa berbuat lebih dari itu. Andai dia sadar, apa yang dilakukannya salah. Aku yakin dia tidak akan serapuh itu.

Semoga Tuhan selalu bersamanya. Lekaslah bangkit dari keterpurukan, bangunlah dari lumpur yang kau ciptakan sendiri.

Embun masih sejuk, matahari kan bersinar, dan malam melantunkan senandung yang merdu. Ada saja wanita yang selalu membuatmu terkubur dalam luka dan sakit terlalu sering.

Ia punya lampu pijar yang sangat terang, namun ia hanya menyalakan pelita redup di dalam ruangan berdinding sepi.

Ia mampu meraih gemintang, namun ia memilih menapaki lembah curam, jurang penuh kegelapan. Ia sendiri memeluk sepi nan  abadi di dadanya.

Pada mata yang nanar
terpancar semburat luka memar
terlalu lama menghuni dadamu
miris kau berkutat pada telaga duka
yang kau cipta sendiri
raga rentamu hanya berteman hujan
berarak lalu jatuh berkejaran dari matamu
kini waktu telah menguburmu
dalam sumur kepedihan
semoga tak lama lagi
kau bangun dan menggenggam matahari
semoga dan semoga
Sebenarnya aku geram, aku ingin memperingati perempuan tak berhati itu. Tapi apa kapasitasku. Aku bukan siapa-siapa, tak berhak berbuat apa-apa.

Tapi sisi kemanusiaan, aku ingin dia menyudahi kebodohannya sendiri menyia-nyiakan hidupnya.

Malam telah tiba. Dan ia berselimut duka.

Malam

Malam pekat
dunia dalam syurga lekat
sekarat dengan hujat

Malam sunyi
Seperti bayi
Lelap dalam pangkuan ibu

Malam hitam
menyamarkan rona dan aroma
Menjadi pekam

Malam hening
Catatan lelah dalam kerutan kening
mencari tenang dalam bening

Malam bisu
Serupa batu
Pada dada sebongkah pilu

Malammu paling temaram
Larut dalam ingatan
Kenang yang menggenang

Oh Tuhan sadarkanlah dia, tunjukkan jalan yang lurus dalam kegelapan malam.

Pada suatu waktu Tuhan memberinya lebih, bahkan melimpah. Tetapi dia tidak mampu mengelolanya dengan semestinya.

Hartanya tak mampu membeli kebahagiaan, bahkan tak mampu membeli sebuah senyuman untuk dirinya sendiri. Padahal untuk orang lain ia kerap kali berbagi, bahkan membelikan mimpi untuk orang yang ia sukai.

Namun ia tak memikirkan kebahagiaannya sendiri. Ia terkapar dalam sepi yang semakin menjeratnya ke dalam luka. Banyak orang berharap pemberiannya. Mereka datang meminta sejumlah uang.

Tapi, kenapa ia sangat tidak peduli dengan raganya, dengan jiwanya. Semestinya ia tak begitu. Bahkan orang lainpun menikmati kemewahan dan bahagia di atas penderitaannya. Tragis.

Ia

Ia mampu meraih gemintang
namun ia memilih
menapaki lembah yang curam
jurang yang penuh kegelapan
Ia sendiri memeluk sepi
abadi di dada kiri

Ia punya lampu pijar
bersinar  terang
namun ia memilih
menyalakan pelita redup
dalam ruangan berdinding sunyi

Ia sendiri karib dengan kebisuan
bersahabat dengan hujan
menari dengan kegelisahan
menutup pintu dan jendela
dalam ruang hampa

Harapaku, ia memadamkan lenteranya sebab ia butuh sinar lebih terang dari lampu pijar yang ia punya. Begitulah seharusnya tak menyia-nyiakan apa yang diberikan Tuhan…

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.