Rm Daradjadi yang Aku Kenal

Handoko Widagdo – Solo

 

Mengapa Grobogan masuk wilayah Kasultanan Ngayogjokarto Hadiningrat? Mengapa tidak masuk Kasunanan Surakarta atau Mangukenaran yang lebih dekat? Mengapa Belanda tidak berminat mengambil Grobogan sebagai wilayahnya? Padahal hampir semua wilayah pesisir Jawa Tengah diambil Belanda saat Perjanjian Giyanti? Sebagai putra Grobogan, pertanyaan itu terus mengganggu saya, sampai suatu saat saya mendapatkan buku yang membahas sebuah penjelasan yang sangat gamblang. Buku tersebut berjudul “Geger Pacinan”(http://baltyra.com/2013/05/24/geger-pacinan-1740-1743-persekutuan-tionghoa-jawa-melawan-voc/). Dari buku tersebutlah saya berkenalan dengan penulisnya yaitu Kangmas Rm Daradjadi.

rm-daradjadiKelengkapan informasi dan renyahnya cara bertutur Rm Daradjadi membuat saya melahap Buku “Geger Pacinan” bagai seorang yang kelaparan. Saya baca sekaligus tanpa jeda. Meski membaca bagai tikus yang dikejar kucing, namun saya tidak kehilangan fokus. Sebab Rm Daradjadi menyusun bukunya sedemikian logis dan runtut. Ketika membaca buku ini, saya merasa menjadi cucu yang sedang berhadapan dengan kakek yang bercerita. Sang kakek bercerita dengan cara yang sangat menarik, sehingga si cucu tidak jadi tertidur. Dari perkenalan melalui buku, saya memandang Rm Daradjadi adalah seorang ahli sejarah Jawa yang mumpuni dan ahli bercerita yang sangat hebat. Beliau berhasil mengungkap sebuah fakta sejarah yang selama ini ‘dihilangkan’, yaitu perang antara Belanda dengan persekutuan laskar Tionghoa-Jawa yang berlangsung lebih lama dan jangkauannya lebih luas dari perang Diponegoro. Perang ini juga menguras brankas VOC. Perang yang menjadi salah satu pemicu terpecahnya Kerajaan Mataram Islam di Jawa.

Perkenalan melalui buku itu berlanjut menjadi pertemanan di face book. Dari pertemanan melalui face book saya lebih mengenal pribadi sosok Rm Daradjadi. Seorang yang hidupnya bahagia, menikmati rahmad Allah yang dilimpahkan kepadanya. Rahmad berupa keluarga, kawan-kawannya, perjalanannya dan alam raya yang dijumpainya. Melalui postingan di face book dan saling bertukar komentar, saya menemukan seorang Jawa ‘Wong Jawa’ yang sudah menep dan paripurna; orang yang merasa bahwa hidupnya telah lengkap. Spiritualitas beliau melampaui ritual agama. Beliau memandang semua hal secara positif, kritis dan konstruktif. Tutur bahasanya lembut namun tegas. Tidak pernah menyibir apalagi menista pihak lain. Seorang yang mengamalkan ajaran mulat sarira hangrasa wani’ (menilai diri sendiri sebelum menerapkan kepada orang lain). Gagasan-gagasan solusi tentang suatu masalah dari beliau selalu dipenuhi dengan landasan kasih. Selalu mencari cara ‘win-win solution’.

Anugerah itu akhirnya sampai juga kepada saya. Saya bisa bertemu muka dengan beliau di awal tahun 2014. Saya dan istri diundang untuk makan siang di sebuah restoran di Solo. Sambil menikmati sop buntut goreng kesukaannya, beliau menggali ketertarikan saya akan sejarah Grobogan. Saya heran, mana mungkin seorang empu sejarah sekaligus penulis buku mau bertanya kepada seorang awam dan berselisih umur setengah abad dengannya? Saya merasa bahwa saya tidak memiliki informasi yang bebarti untuk beliau. Keheranan saya bertambah-tambah ketika beliau menyebut beberapa nama anak muda sebagai ‘kawan’.

happybirthday75

Rm Daradjadi adalah orang yang berupaya mencari kesamaan dengan ‘teman-temannya’ dan tidak suka mencari perbedaan. Dengan saya beliau menemukan Grobogan sebagai sebuah kesamaan. Dengan istri saya yang masa kecilnya di Solo, beliau bercerita tentang tempat lahirnya yang hanya berjarak 200 meter saja dari tempat asal istri saya, meski dari segi masa berbeda hampir 40 tahun. Beliau berupaya berteman dengan istri saya melalui tempat-tempat yang mereka kenal bersama. Dengan Iwan Satyanegara Kamah, beliau mencapai kesamaan tentang pasangan beda agama. Dengan Osa Kurniawan Ilham, beliau mendapatkan kesamaan tentang pasangan beda suku. Beliau bercerita tentang ‘kesamaan’ nasip tersebut, dari sisi keindahan perbedaan.

birthday-75th

Sugeng tanggap wiyosan kaping 75 Kangmas Rm Daradjadi. Sedaya karahayon, kasantosan saha mulya basuki saking Hyang Wenang mugi tansah sumrambah kagem Panjenengan.

 

 

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *