Uneg-Uneg (Outburst)

Anwari Doel Arnowo

 

Pada beberapa tulisan-tulisan yang lalu saya mengulangi sebuah ungkapan beberapa kali yang bunyinya: When I look back, I never regret (Bila aku menengok ke belakang aku tidak pernah menyesali). Apa benar tidak menyesali? Makin saya renungkan maka saya menjadi kurang yakin bahwa saya tidak pernah menyesali. Tidak yakin itu adalah oleh karena bertambahnya pengalaman pribadi saya yang bertambah dan bertambah setiap saat. Makin kaya mengalami perubahan pengalaman maka makin tau bahwa masukan ke dalam hati sanubari dan memori tak bisa saya tolak dengan serta merta, demikian pula dalam kemampuan mencerna sejarah diri sendiri.

Barangkali bila klarifikasinya yang masuk di akal adalah: ungkapan itu tidak berlaku untuk semua hal dan untuk semua dimensi waktu. Begitu sebaiknya, agar bisa mendapat rasa yang  nyaman di hati saya. Mungkin sekali pikiran seperti ini amat mendorong saya untuk terus menerus menulis, apa dan mengapa sebab dan akibat hampir tidak pernah saya risaukan. Sudah ratusan judul, malah saya kirakan sudah lebih dari seribu judul. Tersebar melalui internet, melalui Milis atau karena komunikasi percakapan chatting  biasa dan akhirnya akan bermetamorf menjadi tulisan. Meskipun saya amat rajin menulis, belum pernah saya mengarahkan tulisan saya untuk lomba karya tulis atau ingin mendapat uang jerih payah atau honorarium.

Satu senpun belum apalagi satu juta sen Rupiah. Semua gratis saya bagikan dan dibagikan oleh orang lain kepada orang yang lain-lain lagi dalam bentuk apapun. Saya ikhlas kok. Tulis saja, tulis saja. Sampai di baris inipun saya belum memikirkan apa judul tulisan ini, nanti saja kalau sampai pada waktunya. Santai saja. Sesungguhnya sudah ada konsep samar-samar apa tujuan saya menulis semua kalimat-kalimat saya di atas. BEGINI: saya ini hanya akan mau mencoba menginventarisasi apa saja telah saya tuliskan di dalam semua seribu judul lebih itu. Omelan apa, keluhan, kritik, keluaran keras atau outburst atau uneg-uneg yang daya ledaknya kadang luar biasa. Meledak atau halus seperti priyayi bersopan dan bersantun.

wallpaperstock.net

wallpaperstock.net

Saya menggebu-gebu menulis untuk banyak hal dengan harapan tinggi agar  diperhatikan oleh para birokrat di pemerintahan NKRI. Banyak yang dilihat saja, tidak diperhatikan, itu terlihat jelas oleh “mata” saya. Saya bosan? Marah? Kecewa?  Iya dan tidak. Macam-macamlah. Baik, saya mulai saja yang ada di ingatan saya:

  1. Pindahkan Markas Perserikatan Bangsa Bangsa dari New York ke Asia, atau Republik kita mem”beri”kan sebuah atau lebih Pulau Khusus untuk semua kegiatan PBB saja, supaya jauh dari Amerika Serikat.
  1. Eropa itu bukan benua, jadi jangan lagi menyebut begitu. Eropa adalah bagian Barat dari Benua Asia. Eropa tidak dikelilingi oleh Laut apalagi Lautan. Apakah masih layak disebut benua?
  1. Negara Maladewa atau Maldives itu hampir tenggelam,  mengapa kita tidak menyewakan beberapa ratus pulau kita yang sekarang toh tidak berpenghuni kepada orang-orang Maldives untuk seratus tahun? Itu kan seperti halnya Hong Kong yang disewa oleh Inggris dari China. Bisa dihentikan sewanya dengan aman dan damai kok.
  1. Di dalam birokrasi pemerintahan dan kepartaian serta organisasi di NKRI terlalu banyak dan terlalu sering terjadi keributan internal, yang sesungguhnya disebabkan oleh dan ulah para petingginya sendiri  dalam “tidak sesuai berpendapat”  tentang banyak soal. Buatlah undang-undang yang menghukum para petinggi itu bilamana konflik internalnya meluas ke masyakat luar yang bukan terkait dengan badan, partai atau organisasi dan sebagainya itu. Undang-undangnya yang tegas setingkat seperti menumpas huru hara dan terrorisme atau garis keras agama. Juga kepercayaan. Perseteruan SBY dengan Megawati adalah sebuah contoh nyata.
  1. Mengurangi bahaya banjir, saya usulkan agar dibuat lubang-lubang resapan air yang tepat benar, ukuran  sesuai keperluan dan lingkungan tertentu. Sebar saja dengan teratur di dasar: saluran-saluran, got-got, sungai-sungai dalam jumlah jutaan. Disebar saja di seluruh daerah banjir di DKI dan lain-lain daerah di seluruh Indonesia. Dengan meresapkan air kembali ke dalam tanah maka akan mengurangi pembuangan air ke laut. Yang seperti itu sudah saya buat banyak di halaman rumah tinggal saya.
  1. Meributkan pelanggaran pemakaian jalur Trans Jakarta, jalankan yang berikut: Dibalik arah saja perjalanan semua bisnya, dan tetap menggunakan jalur yang ada. Tiap Bis sudah mempunyai pintu ke luar di kedua sisi bis, hingga akan tidak memerlukan perubahan konstruksi apapun. Termasuk bangunan untuk para penumpang yang naik dan turun, semua tetap tanpa anggaran baru. Tidak akan ada mobil jenderal sekalipun, yang berani masuk ke jalur Trans Jakarta karena akan berhadapan dengan arah jalan bis Trans Jakarta. Perlu sosialisasi saja  mungkin hanya dua bulan, lalu bisa mulai dikawal oleh polisi. Arah yang berlawanan ini, bila masih perlu,  secara acak terlebih dahulu untuk beberapa waktu lamanya. Masyarakat pengguna pasti akan segera terbiasa.
  1. Agar melarang membuat bangunan di atas tanah-tanah yang ada di sudut-sudut persimpangan jalan. Persimpangan, baik yang simpang-3,  simpang-4 atau lebih, seluruhnya akan menambah sebuah persimpangan areanya meluas sehingga arus lalu lintas akan jauh lebih lancar. Di mana dirasa  perlu tanah-tanah dan bangunan-bangunan yang berada di sudut-sudut jalan itu dibeli paksa oleh pemerintah biar semua persimpangan menjadi longgar. Undang-undang soal beli paksa itu sudah diundangkan kira-kira kurang dari satu tahun yang lalu.
  1. Semua jembatan layang dan flyoverpass yang ada di bagian bawahnya, yang biasa dipakai oleh mereka, para pengendara roda dua dan lebih, untuk berteduh waktu hujan lebat ataupun gerimis yang biasa menumpuk mengganggu dan mengurangi jumlah lajur jalan lalu lintas, diberi kucuran air seperti hujan. Air bisa berasal dari air yang dicurahkan oleh hujan yang sedang turun. Atau khusus dipompa dari air tanah di sekitarnya dan disiramkan ke arah mereka yang berteduh di situ.
  1. Kartu penduduk itu isinya selain nama dan alamat  bukankah bisa ditambahi ‘chip’ atau apapun saja namanya, yang mampu mencantumkan hal-hal lain mengenai yang bersangkutan. Ada penyakit ataukah kondisi khusus gawat seperti ayan (epilepsi) dan juga tata cara bagaimana menanganinya.
  1. Juga data mengenai golongan darah dan masih banyak hal lain. Bahkan pada suatu saat nanti di kemudian hari sebuah chip yang isinya adalah seluruh lema /entri PASPOR, yang seluruhnya bisa  ditanam di bawah kulit sang Warga Negara yang bersangkutan. Janganlah kita meributkan lagi soal agama segala, karena itu adalah seratus persen urusan pribadi setiap orang. Menghabiskan waktu tenaga dan biaya saja soal yang satu ini terbukti  sudah tidak bisa dilaksanakan di planet Bumi yang jumlah penduduknya di sekitar angka 8.000.000.000 (delapan miliar) orang  jumlahnya. Buang masalah agama dari kartu identitas apapun termasuk Kartu Tanda Penduduk. Bukankah Paspor Republik Indonesia itu, meskipun peringkatnya lebih tinggi dari Kartu Tanda Penduduk, kan belum pernah mencantumkan agama?
  1. Mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya? Para pembeli mobil baru harus dilelang dulu untuk mendapatkan hak membeli. Mobil baru boleh dibeli oleh pemenang lelang bilamana disertai penyerahan satu nomor mobil lama. Ini akan mengurangi laju pertambahan mobil di tiap daerah. Pembeli harus melampirkan bukti bahwa dia memiliki garasi untuk mobil barunya. Dan lain-lain ketentuan ketat dengan tujuan mengurangi populasi kendaran pribadi.
  1. Bilamana transportasi publik bisa memadai dan memungut tarif yang rendah, pasti penggunaan kendaraan pribadi akan berkurang. Di banyak Negara yang sudah mapan, seseorang memiliki kendaraan pribadi sendiri akan tetapi biasa hanya menggunakan bilamana perlu saja atau di hari-hari libur saja, mengingat biaya bahan bakar dan biaya parkir jauh lebih mahal, mau naik kendaraan umum. Praktek seperti ini sudah puluhan tahun lamanya berlangsung. Tidak pernah mereka merasakan bahwa gengsinya akan turun bilamana berjalan kaki.

 

Sekarang baru timbul apa judul bagi tulisan ini seperti saya cantumkan di atas.

Anwari Doel Arnowo

17 Januari, 2015

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.