Sandakan – Kinabangan Journey (2)

Christiana Budi

 

Dari kota pelabuhan ke Riparian, seafood, kelapa sawit, orang hutan, kuburan kuno, festival burung sampai ke pacet

 

Cerita kali ini melanjutkan cerita di bagian pertama dari perjalanan di wilayah Sandakan dan Kinabatangan Malaysia.

Orang Hutan salah satu binatang yang menghuni wilayah Riparian sungai Kinabatangan

Orang Hutan salah satu binatang yang menghuni wilayah Riparian sungai Kinabatangan

Setelah meninggalkan wilayah pacet…”Puji Tuhan” akhirnya terbebas dalam hatiku. Perjalanan dilanjutkan dan tiba-tiba berhenti di tempat wisata, aku menengok ke Kertijah, “dimana kita ni”

“Aku bawa kamu ke tempat dimana kita bisa melihat sungai Kinabatangan dari ketinggian,” kata Kertijah (aduh maaf saya sudah lupa pun logat Malaysia yang diucapkan temanku ini jadi saya tulis pakai Bahasa Indonesia saja)

Aku memandang Kertijah dengan curiga “No pacet” kataku,

Jawabnya “No pacet lah…tenang.”

Masih dengan ragu-ragu kutengok Dean dan kulihat wajahnya yang gembira “why you look so happy”

Because “No Leech in here” Jawab Dean…

Oops OK mataku berbinar mendengarnya karena tidak ada binatang yang kutakuti di sini.

Wajah bahagia Dean karena tak ada pacet di sekitar wilayah ini

Wajah bahagia Dean karena tak ada pacet di sekitar wilayah ini

 

Agop Batu Tulug

Sambil menunggu jam pertemuan kita mampir ke daerah yang disebut dengan AGOP Batu Tulug yang disebutkan oleh Kertijah di atas dimana kita bisa melihat keindahan aliran sungai dari ketinggian. Agop Batu Tulug merupakan daerah cagar budaya di wilayah Sabah dan di sana terdapat goa-goa peninggalan jaman purbakala dan dilindungi oleh pemerintah kerajaan Malaysia.

Pintu masuk wisata Agop Batu Tulug

Pintu masuk wisata Agop Batu Tulug

Papan Informasi tentang Agop Batu Tulug

Papan Informasi tentang Agop Batu Tulug

Kita harus menaiki anak tangga dari kayu dan batuan terjal untuk bisa masuk ke goa-goa dan untuk melihat pemandangan yang menarik dari ketinggian. Anak tangga yang kita lewati dibuat dari kayu tebelian yang sangat terkenal dengan kualitasnya.

Anak Tangga dari kayu tebelian

Anak Tangga dari kayu tebelian

Goa-goa ini berisi keranda dari jaman dahulu, Jika teman-teman sudah pernah ke Tanah Toraja sebenarnya hampir mirip system pemakamannya di sana dengan menaruh peti di goa-goa batu. Keranda-keranda ini juga menunjukkan siapa yang dikuburkan di sana, keranda dengan banyak ukiran berarti orang yang meninggal merupakan orang dari kalangan bangsawan. Ada dua agop di Batu Tulug ini yaitu Agop Lintanga dan Agop Sawat.

sandakan-kinabatangan (6) sandakan-kinabatangan (7)

Posisi Agop Lintanga adalah saat kita sudah berada di tengah-tengah dari ketinggian dari Agop Batu Tulug ini sedangkan untuk Agop Sawat kita harus mendaki sampai puncak dan turun lagi ke tebing sisi yang lain.

Angop Lintanga, merupakan makam rakyat biasa ditandai dengan tidak adanya hiasan dalam keranda. Berikut foto-foto Agop Lintanga yang terdapat di Agop Batu Tulug.

sandakan-kinabatangan (8)

Salah satu keranda di dalam goa

Salah satu keranda di dalam goa

Posisi penempatan keranda

Posisi penempatan keranda

Kayu yang didirikan dengan tanda-tanda goresan parang/pisau menunjukkan banyaknya orang yang dimakamkan di sini, serta gua-gua ini dihuni juga oleh kelelawar sehingga bau khas amoniak sangat tercium tajam.

Keranda-keranda yang diatur dengan rapi

Keranda-keranda yang diatur dengan rapi

Goresan dalam kayu menandakan banyaknya orang yang dikubur di dalam Goa ini

Goresan dalam kayu menandakan banyaknya orang yang dikubur di dalam Goa ini

Kondisi Goa yang digunakan untuk makam dan di atasnya dihuni banyak kelelawar

Kondisi Goa yang digunakan untuk makam dan di atasnya dihuni banyak kelelawar

Kelelawar yang banyak menghuni di atap-atap goa

Kelelawar yang banyak menghuni di atap-atap goa

Agop kedua yang dikunjungi adalah Agop Sawat yang merupakan pemakaman para bangsawan, dapat dilihat dari peti-peti mati yang berukiran lagi. Agop ini berada di sisi tebing yang lain dan harus menuruni tebing yang terjal setelah mencapai puncak bukit kapurnya. Di Agop ini terlihat jelas tanda kayu berapa orang yang telah dikuburkan di sini dengan ditandai goresan parang di kayu.

sandakan-kinabatangan (15)

Ukiran kepala kerbau yang membedakan kasta bangsawan dan rakyat biasa di dalam keranda

Ukiran kepala kerbau yang membedakan kasta bangsawan dan rakyat biasa di dalam keranda

Penempatan keranda dan kayu yang berdiri menandakan berapa banyaknya orang yang dikuburkan di makam ini

Penempatan keranda dan kayu yang berdiri menandakan berapa banyaknya orang yang dikuburkan di makam ini

Setelah melihat kondisi goa, tak lupa kita sempatkan untuk berfoto ria sebelum kembali untung tidak ada yang nimbrung di foto kami ini.

sandakan-kinabatangan (18) sandakan-kinabatangan (19)

Selain dari gua yang merupakan makam kuno kita dimanjakan oleh pemandangan yang cantik di ketinggian dari puncak Agop Batu Tulug ini. Dari puncak kita bisa memandang sepanjang aliran sungai Kinabatangan dari ketinggian.

sandakan-kinabatangan (20) sandakan-kinabatangan (21) sandakan-kinabatangan (22) sandakan-kinabatangan (23)

Setelah kita merasa cukup istirahat kita turun dan melanjutkan perjalanan kita menuju tempat yang lain untuk berinteraksi dengan petani kelapa sawit.

Agop batu Tulug dilihat dari kejauhan

Agop batu Tulug dilihat dari kejauhan

 

 

Orangutan

Dalam perjalanan pulang dari wawancara dan diskusi dengan petani saat melewati pinggiran sungai Kinabatangan ada sesuatu yang menarik dimana kita melihat dua orang hutan sedang di atas pohon kelapa, mungkin mempersiapkan tempat tidurnya karena sebentar lagi sudah gelap. Dua orang hutan ini cukup besar, untung saya masih bisa mengambil fotonya dari bawah, sambil berdoa mereka tidak turun ke bawah karena melihat salah satu dari orang hutan itu mulai mengayun ke pohon yang lain di dekat situ mau turun ke bawah, karena pernah merasakan tarikan dan cakaran orangutan waktu di Kalimantan barat dan mereka sangat kuat dan cukup membuat goresan dan memar di tangan sampai seminggu baru sembuh. Foto di bawah adalah pose orangutan yang bisa diambil…

“Langit makin gelap ya, matahari juga sudah mau tidur…bagusnya aku juga tidur saja .. tapi aku harus nyiapin tempat tidur dan makan malam dulu”

“Langit makin gelap ya, matahari juga sudah mau tidur…bagusnya aku juga tidur saja .. tapi aku harus nyiapin tempat tidur dan makan malam dulu”

“Siapin tempat tidur dulu yang nyaman sambil olah raga"

“Siapin tempat tidur dulu yang nyaman sambil olah raga”

“Mana ya buah kelapa yang bisa buat makan malam….cari dulu ah..”

“Mana ya buah kelapa yang bisa buat makan malam….cari dulu ah..”

“Cicip satu dulu deh enak ndak ya…”

“Cicip satu dulu deh enak ndak ya…”

“Nyam-nyam…ternyata enaknya buah kelapa muda ni lumayan untuk makan malam”

“Nyam-nyam…ternyata enaknya buah kelapa muda ni lumayan untuk makan malam”

 

Selamat makan dan tidur orangutan nyaman nyaman kamu di atas pohon kelapa ya…

 

 

Festival Burung

Setelah menikmati dua malam di Sukau dan kegiatan selesai, walaupun melewatkan cruise di sungai Kinabatangan (mungkin disimpan untuk kunjungan berikutnya, karena Kertijah bilang ‘belum sah datang jika belum ikut cruise di sungai Kinabatangan) akhirnya kami menuju ke Sandakan kembali. Di hari itu ada acara pembukaan festival burung di daerah sepilok,

“Kita bisa mampir untuk melihatnya karena kita akan melewatinya” kata Kertijah

Oke asik sip dah kataku dan dalam hatiku hmm asik juga nih lihat jenis burung-burung endemic Borneo.

Dalam pikiranku adalah festival ini kita bisa melihat berbagai burung yang dipamerkan ternyata aku salah 100 % hehehehehe….dalam festival ini kita bisa melihat burung di alam bebas dan menggunakan peralatan kamera yang cuanggih…alias modern. Jadi selama festival akan dilakukan grup-grup untuk melihat burung di alam bebas dan ada perlombaan untuk itu sehingga kita hanya bisa melihat acara pembukaan dan pameran alat-alat yang digunakan. Ya tidak apa-apa walaupun tidak melihat burung tapi suasana wilayah yang digunakan cukup indah dan sekalian ajang narsis dikit di acara itu hehehehe, berikut foto-foto di acara pembukaan festival burung di Sepilok.

“Nyam-nyam…ternyata enaknya buah kelapa muda ni lumayan untuk makan malam”

“Nyam-nyam…ternyata enaknya buah kelapa muda ni lumayan untuk makan malam”

Salah satu spanduk yang terpancang

Salah satu spanduk yang terpancang

Salah satu stan yang ada di festival

Salah satu stan yang ada di festival

Salah satu sudut pemandangan yang ada di lokasi festival

Salah satu sudut pemandangan yang ada di lokasi festival

Jenis-jenis alat yang digunanakan untuk melihat burung di alam bebas

Jenis-jenis alat yang digunanakan untuk melihat burung di alam bebas

Paduan suara anak yang akan tampil di acara pembukaan festival burung

Paduan suara anak yang akan tampil di acara pembukaan festival burung

Alat yang digunakan dalam festival

Alat yang digunakan dalam festival

Stan dalam festival

Stan dalam festival

sandakan-kinabatangan (38)

Selama jalan-jalan tak lupa kita berfoto dulu di festival itu

Selama jalan-jalan tak lupa kita berfoto dulu di festival itu

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah puas melihat-lihat dan karena tak ada burung yang bisa dilihat akhirnya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Kota Sandakan kembali. Namun saat akan turun keparkiran kita dilarang meninggalkan tempat karena ada mantan perdana menteri Malaysia (Datuk Seri Abdullah ahmad Badawi) sedang memasuki tempat acara dan kita harus menunggu sampai mantan PM Malaysia sudah melewati tempat dimana kita berada. Sandakan masih memakan waktu sekitar satu jam perjalanan dengan mobil.

Datuk seri Abdullah Ahmad Badawi (yang berambut putih)

Datuk seri Abdullah Ahmad Badawi (yang berambut putih)

 

 

Seafood

Sesampainya di kota Sandakan kembali, cuaca masih cerah namun saat mau makan malam kita disambut oleh hujan yang cukup lebat dan sayang sekali tidak bisa mengambil foto-foto rumah di pinggiran pantai yang terkenal dengan daerah perkampungan sim-sim, tempat makan seafood yang yummy. Walaupun tak bisa ke Sim-sim namun kita tetap makan malam dengan seafood yang yummy seperti ikan asam manis, udang goreng, ikan kukus serta sup perut ikan. Seafood juga sebagai penutup kunjungan yang singkat di Sandakan dan Kinabatangan.

Ikan goreng asam manis

Ikan goreng asam manis

Udang Goreng

Udang Goreng

Ikan kukus

Ikan kukus

Sup perut ikan

Sup perut ikan

Berfoto ria dengan teman-teman dari Kota Kinabalu

Berfoto ria dengan teman-teman dari Kota Kinabalu

 

Demikian sekilas cerita dari Sandakan dan Kinabatangan-Sabah-Malaysia, cerita yang lain mungkin akan muncul ketika kunjungan berikutnya di tahun depan, goodbye Sandakan for now.

 

Christiana Budi

September 2014, Sandakan-Kinabatangan-Sabah Malaysia

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.