[Mangole] Meloncat

Imam Dairoby

 

Setahun lebih ku habiskan dan ku benamkan diriku di Desa Falabisahaya. Waktuku hanya untuk bekerja dan bekerja. Sejak kematian bapak, diriku terpacu untuk menggunakan waktuku semaksimal mungkin untuk bekerja. Tak terpikir oleh ku untuk meluangkan waktu sedikit untuk bersenang-senang. Seharian bekerja membuat aku sangat lelah dan aku menghibur diri hanya dengan tumpukan buku dan lagu yang setia menghiburku saat dalam kondisi apapun.

Bekerja di laboratorium sangat membantuku untuk mempelajari secara detail proses yang menyangkut teknis di dalam produksi kami. Selama setahun bekerja pendapatku sering diakui oleh teman sekerja yang telah lebih dahulu bekerja dibanding diriku. Bahkan atasanku tak pernah malu untuk menanyakan sesuatu padaku. Tapi tak ada kebanggaan sebab aku bekerja dengan kepolosan sebagai seorang yang masih sangat muda. Usia ku baru 22 tahun.

Bekerja dengan atasan orang asing sangat aku sukai sebab mereka sangat menghargai keahlian dan pengetahuan yang dimiliki oleh karyawannya, tanpa harus melihat latar belakang pendidikan. Berbeda dengan atasan bangsa sendiri yang kadang berkutat dengan latar belakang pendidikan, padahal tak memiliki keahlian sama sekali.

Aku bersyukur memiliki atasan yang melihat kami dari kemampuan di lapangan, daripada sekedar kemampuan berbicara tetapi tidak terlihat hasilnya.

Sampai suatu hari, seorang teman kerjaku mengatakan aku di panggil oleh Mr. Chen

“Mam, di panggil Mr. Chen ke Kantor.”

“Aduh, si Adi saja, aku lagi sibuk ngurus sampel nih.” Kataku padanya sebab saat itu aku sedang mengambil sampel dan aku berpikir pasti Mr. Chen hanya akan menanyakan hasil uji produk kemarin saja. Dia paling hanya ingin bertanya mengapa kualitas untuk export hanya 80 persen dari total produksi kami kemarin.

“Yang dipanggil bukan Adi, tapi kamu.”

“Tidak biasanya, kan kalau ada apa-apa Adi yang dipanggil.”

“Sudah, pergi sana sudah ditunggu.”

Aku bangkit dari tempat mengambil sampelku. Tiba-tiba dari ruangan pengendali operasi Adi berteriak memanggilku di tengah kebisingan suara Mesin.

“Mam, di panggil Rahma, katanya bos mau ketemu dengan kamu.”

“Iya aku sudah tahu, kamu gantikan ya urus sampelnya.”

Aku bergegas ke arah kantor, sebab aku tak ingin Rahma memperlihatkan muka cemberutnya, sebab dia paling anti untuk datang ke dalam pabrik. Takut kena debu katanya. Apa boleh buat kami memang berkutat dengan debu kayu. Baru saja terpikir seperti itu, ku lihat Rahma telah berada di pintu pabrik dengan wajah yang sangat kusut, aku ingin tertawa sebab dia sibuk mengibas kesana kemari serbuk yang berterbangan.

“Kok lama sih, Mam. Mr. Chen sudah ngomel tadi, kenapa kamu belum datang.”

“Ada apa sih Mbak, kok seperti serius sekali, aku tak melakukan kesalahan kan?”

“Sudah pergi sana, nanti juga kamu tahu sendiri.”

Aku memasuki ruangan Mr. Chen dan aku segera disuruh masuk. Dalam hatiku aku bertanya ada apa sebenarnya dia memanggilku.

“You duduk, Mam,” Katanya dengan logat khas orang Asing.

“Iya mister,”

“You aku mau kasih kesempatan, you mau kan,”

“Kesempatan apa Mister?”

“Ini ada undangan sekolah, you mau sekolah?” katanya sambil menyodorkan sebuah surat dari Departeman Kehutanan.

Aku membacanya dan itu adalah undangan untuk pelatihan yang diadakan oleh Departemen Kehutanan bekerjasama dengan Departemen Perdagangan. Dan dari isi surat itu pelatihan akan dilaksanakan selam 1 bulan bertempat di Bogor.

“Bagaimana, you mau ikut,”

“Kalau memang saya dipercaya untuk mengikutinya saya bersedia,”

“Ok kalau you mau, Rahma ………..!”

opportunity

Mister Chen memanggil Rahma untuk memberiku formulir pendaftaran yang nantinya akan difax ke kantor pusat di Jakarta. Aku ke ruangan Rahma dan mengisi data yang diperlukan untuk pelatihan tersebut. Aku merasa senang berarti aku bisa menambah pengalaman baru dengan mengikuti pelatihan tersebut. Yang tak habis ku pikir adalah mengapa aku yang di utus bukan teman-teman seperti Kiswo, Adi, David atau Zabur yang lebih lama bekerja dibandingkan dengan diriku.

Kesempatan yang diberikan padaku tak akan aku sia-siakan bagaimanapun juga kesempatan seperti ini tak akan datang kedua kali. Aku mempersiapkan diri untuk mengikuti pelatihan tersebut, dan aku bertekad untuk memberikan yang terbaik setelah sekembalinya aku dari pelatihan tersebut.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.