Mempertahankan Sebuah Tradisi

Luigi Pralangga

 

Lepas 1 tahun berjalan, Kuwait perlahan menjadi sebuah negeri yang perlahan menjadi sahabat, bagi si Ondel-ondel ini, dan keluarganya. Nggak kerasa ya, 1 tahun itu tempo yang relatif sangat singkat, hitungan mudah-nya adalah sudah 2 kali mengalami kepanasan pada suhu di atas 50ºC dan dua kali pula kedinginan di suhu 4ºC, hanya saja nggak pernah menemukan salju barang segumpal pun (kecuali di freezer dapur itu), dan sempat merasakan bagaimana terjebak di tengah badai pasir.

combro (1) combro (2)

Ya, badai pasir…dari jepretan di atas sekilas seperti selimut kabut tipis yang menyejukkan, namun jelas beda jauuuh banget!

Seperti apa sih berada di tengah badai pasir itu? Untuk memahami bagaimana badai pasir itu seperti apa dari dekat – tanpa harus berada di Timur Tengah ini, mudah sebenarnya. Ikuti instruksi di bawah ini:

Masukkan satu gelas pasir pantai yang kering.. ke dalam wadah blender, tanpa air ya, inget!! ..lalu nyalakan baling-baling blender pada kecepatan paling mentok.

Nah, gemuruh butiran pasir yang dihempas baling-baling blender dan kekacauan yang berada pada tabung gelas dinding blender itu akan memberikan sensasi tersendiri. Bilamana masih penasaran seperti apa rasanya di kulit tubuh ini, mintakan kawanmu untuk melemparkan segenggam pasir itu sekuat tenaganya ke arah wajahmu.

Nah, persis begitu rasanya :D – mohon instruksi di atas tadi JANGAN DITIRU di rumah, ya adik-adik…cukup dalam benakmu saja. Si Ondel-ondel ini tidak bertanggungjawab akan resiko yang terjadi bila nekat dicoba sorangan atau melemparkan segenggam pasir itu terhadap si Bleki.

Ok, kembali ke Kuwait..

Sungguh beruntung benar si Ondel-ondel ini, sudah setahun lebih berjalan tinggal menetap di Kuwait, meski sesekali harus berangkat tugas ke Iraq dan Jordan, namun demikian Kuwait adalah penugasan primer dimana kantor dan kerabat kolega sejawat hampir tiap hari ketemu dan berinteraksi.

combro (3) combro (4)

Kembali berada dalam satu atap bersama keluarga adalah sebuah anugerah ‘stadium lanjut’ yang harus terus disyukuri.. apalagi lengkap dengan hadirnya ‘Pejabat Kuliner & Tatalaksana Rumah Tangga’ yang dijabat berdaulat penuh atas manajemen dapur serta kesejahteraan selera perut Nusantara penghuni di rumah, tiada lain oleh Bibi.

Harus diakui bahwa kedaulatan penuh urusan dapur ini cukup ampuh untuk menggerakkan si Ondel-ondel ini dari zona nyaman-nya suasana hangat heater di dalam apartment, untuk keluar mencari ‘bumbu dapur’ yang masih belum tersedia.

Ibarat tender proyek besar yang permintaan barang dengan spesifikasi dan mutu bahan bangunan yang tidak bisa ditawar sedikitpun.

Bicara soal ketersediaan bahan pangan untuk sajian kuliner khas Nusantara, racikan bumbu ala Bibi dan kiprahnya di dapur tidak satupun dari penghuni di rumah yang komplain.

Soal rasa, boleh diadu.. soal ketersediaan bahan masakan itu mah kudu! (Baca: Mutlak).

Tidaklah mengherankan kalau jadwal tetap Bibi tiap bulan adalah ikut berbelanja bahan makanan bulanan, dari mulai pergi ke Supermarket terdekat persis di seberang apartment ini, lalu ke hypermarket langganan tiap bulan, dan terus ke pasar induk sayur-mayur yang jaraknya bisa memakan waktu 2 hari perjalanan!! (Maksudnya: 2 hari perjalanan kalau naik onta!).

Dia berada di baris terdepan langkah dari rombongan belanja keluarga. Memilah sayur-mayur yang cocok untuk keperluan operasional dapur adalah sesuatu yang ‘hak’ baginya. Usai memilah-milah, barulah si Idung Pesek itu yang maju dalam urusan tawar-menawar, lalu si Ondel-ondel ini kemana??

combro (5)

Jelas dia sibuk berada di belakang lensa memastikan semua sesi negosiasi pembelanjaan sayur-mayur itu terdokumentasikan…lepas itu menjadi sopir tetap antar pasar induk dan hypermarket.

Mencari bumbu dapur (di Kuwait), adalah petualangan tersendiri, bisa dipastikan hampir 200 km lebih jarak itu ditempuh dari apartment, lalu ke hypermarket langganan ini sampai menclok ke beberapa warung atau supermarket tertentu di mana semisal ‘asem jawa’ (baca: Tamarind) biasa ditemukan dengan harga manusiawi. Lalu, sekiranya habis rempah semisal serai dan lengkuas dari hypermarket India itu mesti lompat ke hypermarket cabang lain. Belum lagi kalau acara macet di jalan ikut menghiasi alur perjalanan. Lengkap sudah.

Namun demikian, itulah kisah perjuangan dan perjalanan: Mempertahankan sebuah tradisi.

Dari serangkaian acara ritual bulanan itu, berbelanja bahan makanan tiap bulan-nya selalu ada elemen yang menyebalkan. Buat si Ondel-ondel ini, satu hal yang paling membencikan adalah membeli kelapa parut!!

Mengapa demikian?? Antri dan kuota yang diberlakukan si Hypermarket kampret ini membatasi si Ondel-ondel ini dan pembeli lainnya hanya diperbolehkan membeli 3 buah batok kelapa saja, yang kemudian harus rela antri selama 20 menit persis di depan counter kelapa parut itu, jika saja ketahuan kita sekeluarga mengantri dengan masing-masing 3 batok kelapa, asal tidak ketahuan satu konsumen maka harus bubar dan orang lain mengisi jatah antrian.  (Norak, khan?).

Memang aneh dan menyebalkan… andai saja si tukang parut kelapa itu faham seberapa banyak kelapa parut yang dikonsumsi rumah tangga si Ondel-ondel ini dalam sebulan. Itulah mengapa kemudian kita bergeser berbelanja bulanan di Al-Rai pada hypermarket yang (lebih) jauh lagi jaraknya dari rumah, yaitu hypermarket di daerah Qurain yang di sekitarnya banyak dihuni mayoritas warga setempat dan expatriat bule, dimana orang-orang India dan orang-orang Asia pemakan kelapa parut itu tidak banyak terlihat batang hidungnya di hypermarket ini.

combro (6) combro (7)

Dengan tidak adanya kuota/pembatasan jumlah berapa batok kelapa boleh dipesan dan diparutkan, adalah sebuah kegirangan tersendiri buat si Ondel-ondel ini. Maka dipesanlah 15 batok kelapa untuk diparut, sembari lanjut dengan keranjang belanja seperti biasa.

Usai itu semua, senanglah hati melihat si kulkas itu penuh sesak dengan bahan makanan. Sudah terbayang selama beberapa minggu ke depan hidangan khas Nusantara akan selalu tersedia di atas meja makan, apalagi beberapa agenda acara kumpul santap makan bersama kawan-kawan sudah dibuat dan jadwal terdekat adalah hari besoknya.

combro (8)

Kebayang dong bagaimana rasanya usai berkendara lebih dari 200 km dan berganti beberapa lokasi dari hypermarket, sampai ke pasar induk dalam hari yang sama…kalau saja ada tukang pijat keliling, dia pasti sudah menerima SMS booking untuk pijat. Lupakanlah itu…meregangkan kaki di atas sofa sembari mengurut channel acara Tv adalah sebuah pelepasan tersendiri.

Namun apa daya, saat Bibi berteriak dari ujung lorong itu di dapur ia mengabari bahwa si‘kelapa parut’ itu tidak ditemukan dalan timbunan kantong belanjaan yang usai dimasukkan ke dalam kulkas dan lemari persediaan.

Seruan lantang suara panik Bibi, ditambah lagi kicauan suara kesal si Idung Pesek, rasanya membuat kepala ini seperti mendengar sebiji petasan teko yang keburu meledak di tangan nggak sempat dilempar.

DUAAARRR!!!!! – Faham khan seperti apa rasanya? Nah, persis begitu.

Apalagi saat ditambah pidato panjang dengan suara melengking macam Burung Kakatua yang sedang berkelahi dengan ular kobra. Nah, gimana tuh? – sudahlah, tak terbayangkan riuh-nya, lantaran mereka berdua juga sudah capek seharian keluar masuk pasar, apalagi acara arisan kumpul ibu-ibu itu tinggal besok.

“Mas, urusan kelapa parut itu khan ‘departemen’ kamu.. kok bisa sampe lupa diambil sih???”

“Bunda, masak sih nggak bisa besok?? udahlah itu kelapa parut itu diganti bubuk santan aja.. toh sama juga terbuat dari kelapa, khan sama rasanya.. kecuali kalau diganti dengan jengkol, barulah kamu boleh protes.. saya capek mesti keluar lagi nyetir jauh hanya untuk 3 kantong kelapa parut itu..”

Sebuah drama? – Bener banget!!

Argumen si Idung Pesek: Besok acara ibu-ibu arisan di rumah ini, dan saya udah janji mau bikin combro. (Hah, di Kuwait ada Combro? – ada dong! – Oncomnya segar didatangkan via air cargo!).

(Mungkin) dia sudah kadung janji sama ibu-ibu bahwa (hidangan) besok: ADA COMBRO!

Nah, yang bikin si Ondel-ondel ini kemudian luluh dan menurut untuk bergegas ngibrit (Baca: Pergi cepat-cepat) adalah munculnya argumen Bibi yang berkata demikian:

“Pokoknya Bibi nggak mau tau, kalau mau masak Combro, HARUS ada kelapa parut dengan jumlah yang cukup.. nggak ada kelapa parut, nggak akan enak itu si Combro… dan kalau nggak enak, nama Bibi yang jadi rusak-sak-saaaaak!”

Busyet, nyerah deh si Ondel-ondel ini kalau udah dua-duanya ikut nyap-nyap! (Baca: Ngomel-ngomel).

Suhu dingin dan ramainya lalu lintas, serta seserabutan-nya (baca: Sembrono) kebanyakan pengendara mobil di Kuwait yang menjadi alasan malas pergi keluar lagi saat usai satu urusan nampaknya tidak lagi ampuh.

Melintas di jalur bebas hambatan 5th Ring Road, lalu manuver masuk ke jalur Interstate Highway 208 dari sebelumnya masuk jalur Highway 40, kembali ke hypermarket di bilangan Qurain yang siang tadi dikunjungi itu.

Untungnya si kantong kelapa parut tadi masih tersedia di counter-nya, lain cerita jikalau situasi seperti ini di Al-Rai, dengan banyaknya pelanggan belanja asal India, dalam hitungan kurang dari 3 menit saja parutan kelapa itu nganggur nggak ada yang klaim, maka akan segera raib disambar orang.

Mempertahankan sebuah tradisi, tidak hanya sebatas pada ritual adat dalam pernikahan atau acara protokol istiadat lain, namun juga sama pentingnya dengan tradisi membuat sajian combro baik dan benar. Memang kuatnya akar budaya tidak mengenal batas geografis dimana seseorang itu berada, tinggal dan hidup, selama ketersediaan dan akses mengupayakannya masih bisa diupayakan, maka surut seseorang untuk menyerah.

Mempertahankan sebuah tradisi adalah juga upaya seseorang atau sebuah komunitas menjejakkan panji atau bendera identitasnya, kebanggaan daerah asal serta nilai sejarah yang terkandung di dalamnya. Meskipun itu hanyalah sepiring penuh kudapan Combro yang menghiasi obrolan seru acara kumpul ibu-ibu arisan di Kuwait itu.

combro (9)

Terima kasih buat Bibi yang sudah kuat mempertahankan sebuah tradisi, sehingga sajian kuliner Combro itu terus menjadi perbincangan, rujukan dan setidaknya legenda bagi komunitas kecil ibu-ibu di Kuwait, atau paling tidak bagi keluarga si Ondel-ondel ini.

 

 

About Luigi Pralangga

Luigi Pralangga, currently serving for peace operations in Afghanistan - Previously lives and work in the Middle East, West Africa and New York - USA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.