[Wawancara] Uskup Bandung – Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC (2) – Seputar Kebijakan dan Pandangannya

Linda Cheang

 

Pengantar:

Perlu waktu cukup lama untuk menyunting 22 halaman transkrip tulisan tangan, rekaman wawancara saya dengan Bapa Uskup Bandung. itu pun diselingi kejadian saya harus membagi waktu untuk tugas luar kota dan bersama keluarga, mengurus perawatan Papa saya yang drastis jatuh sakit, akhirnya memang saya putuskan, artikel wawancara harus dibagi, karena setelah penyuntingan pun, artikel masih terlalu panjang. Ini dimaksudkan agar lebih enak dibaca, lebih menarik dan lebih enak dilihat sesuai 2 tema utamanya agar alurnya nyambung.

Saat wawancara berlangsung, suasananya rileks. Monsi Antonius banyak celetukan spontan, membuat wawancara berlangsung makin menyenangkan, tapi akan kurang bagus bila ditampilkan menjadi artikel. Pula beberapa kali jeda yang cukup lama sebelum Beliau lanjut bertutur. Ada tawa spontan kami bersama ketika dalam paparannya Beliau menjawab pertanyaan, terucap hal-hal lucu. Hingga ke jawaban nggak nyambung atas tujuan sebenarnya satu pertanyaan saya. Saya bertanya dengan tujuan dapat jawaban apa, eh, Monsi Antonius jawabnya lain, yang bukan tujuan utama pertanyaannya. Hebatnya Monsinyur satu ini, jawaban yang mulanya berkesan nggak nyambung tsb, justru secara tak sengaja, malah menjawab beberapa pertanyaan lain yang sedianya akan ditanyakan.

Hal-hal itu yang memberi warna ketika saya melakukan proses penyuntingan, termasuk pemilihan gambar-gambar pendukungnya. Maka, setelah semuanya itu, atas berbagai pertimbangan, wawancara ini disajikan menjadi artikel yang semi formal.

Semakin menegaskan bahwa Uskup yang satu ini di usia belum 50 tahun, tidak heran disebut “masih kecil”, masih unyu-unyu dan masih (sepertinya akan selalu) cengengesan, walaupun ngakunya, dirinya sudah tua. Biarpun pribadinya unyu-unyu, dalam hal penerapan kebijakannya, Beliau sangat tegas bahkan bisa keras juga.

Silakan simak lanjutan wawancaranya berikut ini.

L : Setelah sekian bulan ini menjadi uskup, apakah Anda sudah membuat kebijakan yang, katakanlah, tidak populer untuk gereja dan umat?

MA : Pertama adalah menegaskan bahwa yang diputuskan oleh pendahulu saya, Mgr. Suharyo *), itu diberlakukan! Yaitu penyatuan (institusi yang) disebutnya PGAK & DPP. PGAK adalah Pengurus Gereja dan Amal (Katolik), itu bagian harta karun gereja, yang kedua ini, Dewan Pastoral Paroki, ya, dua institusi berbeda kegiatan. Yang satu merencanakan kegiatan, yang lain yang membayar, urusan uangnya, mengumpul, menghitung dan lain sebagainya.

Oleh Mgr. Suharyo disatukan, supaya tidak ada banyak konflik, jadi pejabatnya sama di hadapan umat. Nah, ini, kebijakan yang tidak populer, sebetulnya. Sudah ada suratnya, sudah diputuskan, tapi belum dilaksanakan. Maksudnya belum sepenuhnya dilaksanakan, maka saya menetapkan, karena umat menunggu uskup yang baru, maka saya mengatakan, saya menegaskan untuk dilaksanakan.

*) Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta. Menjabat Administratur Apostolik Keuskupan Bandung selama Keuskupan Bandung belum ada uskup definitif.

Bagian 2- 1 Utama Bagian 2-2

L : Sudahkah itu?

MA : Sudah. Sudah saya nyatakan dilaksanakan! Sudah diputuskan, harus dilaksanakan dan sudah bicara dengan para pastor dengan para imam.

Kemudian pemikiran yang kedua, itu bermula dari gagasan gereja perdana, yang berhimpun dalam perayaan ekaristi, lalu dari semangat itu persaudaraan memiliki semangat berbagi, orang menyerahkan (harta) miliknya, lalu para rasul, membagikan kepada yang kekurangan, sehingga tidak ada 1 orang pun kekurangan. Nah, maka saya bercita-cita, berharap, berdoa, supaya semua umat di Keuskupan Bandung, mengalami kesejahteraan yang sama, baik gembala maupun umatnya. Tidak ada perbedaan kesejahteraan spiritual, pastoral, material.

Paroki kecil yang kontribusinya sedikit pun harus mengalami kesejahteraan pastoral, kegiatan-kegiatannya terpenuhi. Bukan alasan tidak ada dana. Maka Keuskupan harus mengatur caranya, adalah dengan cara mengubah manajemen pengaturan keuangan di Keuskupan dengan paroki-paroki dan kebijakan ini tidak populer untuk beberapa paroki besar.

 

L : Termasuk para klerusnya?

MA : Iya, tapi tidak semua. Ini saya sudah putuskan. Dulu diomongkan tanpa dasar…banyak yang kaget, tapi setelah saya bertemu dengan mereka ketika dijelaskan dasarnya….ya, ada persetujuan. Saya lalu menjelaskan, di balik itu, tuh, apa, lalu, rupanya tidak ada yang protes.

 

L : That’s nice!

MA : Iya. Itu yang pertama, ya, tidak ada yang protes. Berikutnya adalah pendekatan personal yang lebih banyak. Maka hari-hari ini saya lebih banyak itu lebih banyak ketemu dengan orang. Seperti nanti pertemuan hanya dengan pastor paroki. Jadi ada 24 pastor paroki, saya bertemu secara pribadi.

 

L : Perlu untuk konsolidasi, ya?

MA : Iya. Lalu setelah itu, setelah itu siang saya bertemu dengan hanya para imam keuskupan Bandung, (dari) Projo. Lalu setelah itu bertemu dengan seluruh imam yang ada di Keuskupan Bandung, lalu setelah kemudian dengan Dewan Imam, lalu setelah itu bertemu dengan Dewan Penasehat. Dan untuk para imam Projo, saya saya berkunjung, tidak memanggil mereka, tetapi saya berkunjung, satu-persatu, ke tempat mereka berbicara secara pribadi dengan 3 pertanyaan :

  1. Kesejahteraan spiritualnya bagaimana sebagai imam?
  2. Sebagai imam, kesejahteraan material, kebutuhan apa ada yang kurang?
  3. Lalu kesejahteraan pastoral, apakah pekerjaan cukup atau terlalu banyak?

bagian 2-3

Itu semua sudah saya kunjungi semua lengkap, selesai sebelum tahbisan. Tadinya saya mau memanggil, tapi lebih bijaksana kalau saya datang ke tempatnya sekaligus, maka keliling….

Nah, berikutnya saya memang, saya ingin berbicara dengan semua frater keuskupan, (dari) Projo. Maka hari ini akan ada 3 orang frater mulai jam 10, 11, 12 nanti (sebentar lagi) sampai. Lalu dengan seluruh komisi, ya, juga, hari ini, itu saya bertemu pribadi, komisi-komisi di keuskupan itu. Maka hari-hari ini terus penuh, pertemuan itu, ke mana tatap muka, & kemarin dengan Pak Ipung, meminta supaya Pak Ipung *) mengaturkan jadwal saya, saya harus bertemu dengan siapa saja, dengan tokoh masyarakat dan tokoh pemerintah. Kemarin itu, ya, kemarin malam, Pak Ipong akan segera mengajukan… Jadi itu lebih ke arah, saya (yang) mau datang. Jadi pastoral murah hati itu ada sebelum saya jadi uskup, ya, saya jalankan.

*)Bapak Ipong Witono–, Ketua Sub Komisi Sosial Politik Dewan Karya Pastoral di Keuskupan Bandung

 

L : Melanjutkan apa yang sudah ada?

MA : Ya, jadi sebelum jadi uskup itu saya berpastoralnya murah hati karena mengalami Allah itu baik, ya. Maka kemarin ketika ada persoalan Sakramen Krisma, Sakramen Penguatan di Buah Batu. Ada umat yang tidak bisa datang ke gereja, ya, karena penyakit. Lalu dia bertanya, bagaimana ini, lalu saya bilang, saya datang ke mereka. Saya dianter aja, entah pake motor, entah jalan kaki, saya bersedia. Ya, saya jalan.

Ada sebenarnya 7 orang direncanakan di rumah. Selesai upacara di gereja, kami malam datang ke rumah. Dan, baru pertama ini, pelaksanaan sakramen (ke rumah) bagi umat yang sakit. Dan lalu akhirnya yang 5 orang bisa datang dengan kursi roda, tapi yang 2 orang tetap tidak bisa, saya datang, lalu saya diantar dengan mobil, jauh mobil saya harus berhenti, harus jalan masuk ke gang-gang. Dan itu menurut saya…. bagaimana tidak begitu, Paus Fransiskusnya saja begitu, ya.

 

L : Buat terobosan?

MA : Apakah saya lebih besar dari Beliau, (lalu) saya tidak mau melaksanakannya?

Bagian 2-5

L : Ada 1 hal yang mau saya tanyakan. Ada kalanya para klerus berbeda pendapat dengan Uskup, kan, contoh, kemarin saya dapatkan ada satu dokumen gereja yang mengenai peran perempuan lebih besar dalam Gereja Katolik, tetapi di beberapa paroki tidak dipublikasikan.

MA : Peran perempuan di dalam Gereja Katolik, lebih besar, itu betul. Sebenarnya di dalam sejarah gereja, ya, sejarah gereja abad pertama dan abad kedua yang tidak banyak dipublikasikan, tapi ada, di dalam sejarah gereja, banyak kaum perempuan yang sebenarnya nabiah, dalam abad ke satu, ke dua itu banyak membantu kehidupan menggereja, itu entah mengapa, kekuatan… dari mereka tradisi patriark, ya, itu peran perempuan tidak pernah dicatat. Tapi ada clue dari beberapa Bapa Gereja, akan kehadiran peran perempuan dalam gereja, ya, itu yang pertama. Jadi para kaum perempuan, harus ditingkatkan peran perempuan itu, setara dengan peran laki-laki, hanya memang Gereja Katolik itu, berkeyakinan, untuk imam, hanya, ya, alasan apa, adalah alasan teologis, ada alasan praktis, hanya berkata tidak, saja. Maka, saya kalau ditanya juga, termasuk saya (pernah) ditanya, saya katakan, saya tidak setuju, tapi saya akan saya mengatakan, peran wanita dan pria dalam gereja itu setara, harkat dan martabatnya. Tapi fungsi yang ini …..

 

L : Fungsi hierarki, jabatan dalam gereja, jabatan imam dalam gereja tapi di luar itu…

MA : Iya, fungsi sebagai imam. Di luar itu, Ketua Dewan, wakil ketuanya pastur, ya, itu saya setuju, ya dan banyak juga yang wanita, kan, ya, banyak yang wanita di beberapa tempat.

 

L : Karena ini menarik, ya, banyak yang titip pada saya bertanya, sedangkan teman-teman di Gereja Protestan, kan, sudah punya pendeta perempuan, lalu kabar terbaru bahwa Gereja Anglikan Inggris, akan menahbiskan Uskup perempuan.

MA : Iya.

Bagian 2-6

L : Jadi kapan di Katolik akan ada? Mungkin di Vatikannya harus direformasi lebih dulu, ya?

MA : Saya kira harus ada pembicaraan lebih…

 

L : lebih intens lagi?

MA : Hal yang menarik, di (Gereja) Anglikan, karena rencana ini dan kasus ini, banyak yang minta menjadi imam Katolik, kan, ada yang dari Anglikan, lalu Paus Benediktus *), membuat dispensasi dan membuat kelompok khusus para imam Anglikan yang tadinya sudah beristri, ya, lalu pindah menjadi imam Katolik dalam suatu komunitas khusus, ya.

*) Paus Benediktus XVI, paus sebelum Paus Fransiskus. Sekarang menjadi Paus Emeritus Benediktus XVI

Nah, itu kenapa pindah, salah satu alasannya, artinya yang diungkapkan, ya, mungkin banyak alasan yang saya tidak tahu, tapi (alasan) yang diungkapkan salah satunya adalah ditahbiskannya uskup wanita. Jadi biarkan mereka yang mengungkapkan. Saya juga tidak tahu, kenapa mereka tidak setuju. Kalau imam (perempuan) setuju, kenapa Uskup (perempuan) mereka tidak setuju.

Bagian 2-4

L : Apa Anda ada sempat baca tulisan saya, yang di Baltyra itu, tapi saya ada tulis…

MA : Bener, baca!

 

L : Termasuk yang empat tulisan itu?

MA : Iya! 1, 2 ,3, 4!

 

L : Terima kasih. Ada mungkin kritik apa yang diperbaiki, tulisan saya itu?

MA : Ah, tidak.

 

L : Tidak? Mungkin cukup, ya, mewartakan kepada awam?

MA : Ya, cukup. Makanya setelah lihat 4, kenapa masih mau wawancara? Saya bilang, di situ sudah banyak, sebetulnya bisa juga yang belum ada di situ, tuh, di majalah-majalah itu, kan…

 

L : Sebenarnya saya sudah berikan beberapa tautan berita, tetapi ada beberapa orang yang penasaran dengan Anda itu, maka ada juga yang memberikan pertanyaannya, yang Anda bilang, susah-susah. Saya tanya, sebetulnya susah mana, pertanyaan-pertanyaan ini dengan soal-soal ujian Filsafat?

MA : Kalau filsafat, kan, menguasai, kalau ini, kan, pertanyaan tidak terduga (tertawa).

 

L : Tapi sudah dibaca, kan?

MA : Iya.

 

L: Saya bacakan ulang, ya. Apa pandangan Anda terhadap makin maraknya radikalisme dan fundamentalisme yang sekarang, ISIS, terus yang lokal, penolakan terhadap Ahok?

MA : Oh, ya, yang pertama itu adalah persoalan radikalisme tadi, ya, yang pertama radikalisme. Itu kesadaran atau pemahaman orang tidak terlalu luas, ya. Artinya bukan salah mereka. Tapi ada suatu kondisi tertentu yang mengatakan, ini, lho, yang benar. Ini yang penting. Konsep kebenaran yang diajarkan kepada mereka, yang dipahamkan kepada mereka itu tidak bersifat universal, tapi parsial, sehingga mereka berkeyakinan seperti itu.

Orang boleh yakin, tapi orang juga boleh terbuka sehingga makanya menjadi sangat bisa tertutup, Jadi melalui perjumpaan dengan banyak orang, itu yang menyebabkan orang sebetulnya mempunyai pengalaman kaitan tadi, mengubah pengalaman.

Contoh Yudi Latief*), berasal dari Cianjur.

*) Cendekiawan Muslim, Ketua Pusat Studi Islam dan Kenegaraan-Indonesia

Dia katakan, ”Saya dari lingkup Islam yang sangat fanatik, tapi sejak saya sekolah keluar (negeri), saya berbenturan dengan banyak orang, budaya, terbuka! Sampai sekarang saya masih sangat Islam.”

Kata dia, yah, “Tapi saya bisa bicara ke mana-mana dan bisa menerima, karena saya bertemu dengan manusia.”

Nah, itu jadi menarik, jadi saya tidak menyalahkan mereka. Tapi ada suatu kondisi yang mereka juga mungkin hasil dari suatu kebudayaan, dan pendidikan. Dan itulah perjuangan kita, bagaimana memperbaiki, bukan hanya menyalahkan mereka. Membantu tokoh-tokoh. Kalau bertemu dengan tokoh-tokoh, rata-rata tokoh-tokoh itu pemikirannya luar biasa. Oh, luar biasa! Misalnya, yang baru saja meninggal, tokoh, Ketua MUI **). Oh, ketika saya berbicara dengan Beliau, Beliau luar biasa,

“Bapa Uskup, saya itu kalo mau ada yang minta izin gereja, saya, tuh, maunya tanda tangan langsung, nggak masalah, dengan gereja.”

**) Tokoh dimaksud adalah Kyai Hafizh Utsman, Ketua MUI dan FKUB Jawa Barat. FKUB = Forum Kerukunan Umat Beragama. Meninggal pada 20 Oktober 2014 lalu. Wawancara ini berlangsung 26 November 2014.

“Cuma saya takut apa? Kalo begitu saya izinkan, emosi rakyat menggeradak, menyerang ke gereja, kan, kasihan gerejanya jadi diserang! Akan keputusan ini (setuju izin gereja), makanya alon-alon…., ya.”

Jadi sebetulnya kepada pemimpin-pemimpin, yang terbuka. ini, kan.. yang banyak. Jadi pertama, harta. Lalu yang kedua, itu itu proses pendidikan. Yang berikutnya, ada oknum-oknum tertentu yang memiliki kepentingan entah posisi, entah materi, itu dua, ya! Maka untuk mendapatkan jabatan tertentu dalam suatu masyarakat atau pemerintahan atau agama, maka dia perlu meradikalisasikan sesuatu.

 

L : Apalagi kaum fundies..

MA : Ya, itu atau materi. Untuk mendapatkan sesuatu keuntungan material atau fasilitas, maka dia harus berjuang mati-matian. Jangankan di kelompok radikal yang ini. Kelompok di suatu yayasan pun, ada orang-orang radikal macam begini. Saya amat-amati, itu posisi atau materi. Belum nanti, kaitan-kaitan yang lain. Maka godaan-godaan itu, sesekali disebut dengan tahta, harta, ya, lalu tubuh…

 

L : Harta, tahta, cinta?

MA : Buat kebutuhan badani, gitu, ya. Ya, cinta, atau apa. Nah, itu. Jadi persoalannya, tuh, seperti itu. Memang harus lewat pendekatan akan budaya. Maka kemarin, saya mengatakan di pertemuan itu, Sosial Budaya, saya ini dibilang, tidak ada pekerjaan, saya bilang, Sosial Budaya itu adalah pintu masuk pertama gereja kepada masyarakat, sedangkan Sosial Politik, itu adalah pintu masuk ini untuk menghasilkan relasi yang baik, dengan Sosial Politik, pintu masuk kepada pejabat pemerintah untuk berbicara soal policy. Ini relasi yang perlu (dibangun), tapi pertama sebelum ke ranah policy, relasi dulu.

 

L : Relasinya diperbaiki dulu, ya?

MA : Ya, relasi dulu, jangan masuk dulu ke policy. Maka dibutuhkan sebetulnya, kerendahan hati, ya, itulah … kenapa saya tidak mau mengadakan perkenalan seperti di 2008, di mana Keuskupan (Bandung) mengundang para tokoh masyarakat dan tokoh pemerintah, ke UNPAR untuk berkenalan dengan Uskupnya. Saya yang ingin ke sana.

 

L : Tapi Anda yang pergi?

MA : Karena saya tidak mau, sepertinya kita (yang) di atas, nih! Tidak! Saya mengatakan saya ini bagian dari masyarakat Jawa Barat yang memperjuangkan kemanusiaan dan kesejahteraan, bersama-sama, lahan, wilayah.

 

L : Ini sudah cukup menjawab beberapa pertanyaan (yang sedianya akan diajukan)

MA : Iya.

 

L : Toleransi sekarang dibandingkan dengan zaman Soeharto dulu? Menurut Anda?

MA : Toleransi, nah, toleransi, sekarang dan dahulu sebetulnya, toleransinya berkembang lebih baik. Jadi setiap toleransinya, tuh, tumbuh karena perjumpaan dengan budaya-budaya universal itu lebih terbuka. Jadi toleransinya tumbuh. Tapi dulu… ditekannya (represi) sangat kuat, ya. Bukan berarti dulu, lebih tolerir. Tidak! Justru toleransinya itu lebih berkembang sekarang. Tapi sekarang lebih bebas. Orang lebih bebas mengekspresikan. Sehingga tampaklah, bahwa toleransi, menurun. Tidak. Toleransi jauh lebih berkembang (sekarang). Represi yang dulu, ditekan oleh militer, oleh kekuatan senjata, sekarang sudah dilepas, ya, dengan pendekatan manusiawi… orang menjadi lebih berani berekspresi.

 

L : Termasuk di radikal juga, ya?

MA : Termasuk kelompok radikal.

Sedangkan berkaitan dengan etnik dan lain sebagainya, saya sendiri menganjurkan kepada orang-orang, jangan pernah merasa minder, entah itu dia Flores, ya, dengan paras wajah seperti itu, entah itu dari Sumatra, entah dari Papua, entah Orang Cina, entah orangnya agamanya, apa, tidak usah minder, sejauh mempunyai niat baik untuk dekat sebagai manusia.

Orang minder itu asumsi dari diri sendiri duluTakut orang lain begini karena apa? Mengganggap orang lain seperti itu… ya. Maka jawaban, pertanyaan Ahok pada Megawati dalam Mata Najwa itu, dia mengatakan,

”Bu, bagaimana pendapat Ibu? Ini gubernurnya ini, pertama minoritas, kedua dari etnik Cina, memimpin Ibu Kota. Bagaimana, ini? Kan, saya ditentang, nih, banyak orang.”

Dia bilang,” Kembalilah ke The Founding Fathers, yang sudah mengatakan, ini, lho, dasar negara Indonesia, yaitu bukan etnik, bukan agama, (melainkan) Pancasila. Maka siapapun yang punya jiwa kebangsaan Indonesia, berhak untuk memimpin.

L : Siapapun?

MA : Siapapun. Juga dibidang, masyarakat, agama, perusahaan, kualitas, yang ditekankan. Nah, sejak dulu saya juga tidak merasa etnik-etnik, gitu, maka saya berkata, bahkan saya sangat keras, sebelum menjadi uskup, provinsial, waktu imam juga,

”Tokoh agama yang sudah rasialis, bukan lagi tokoh agama, karena, apa? Sudah ke kemanusiaan, karena makin dekat dengan Tuhan, (seharusnya) makin universal, mengatasi berbagai segmen kecil-kecil itu.

 

L : Jadi seharusnya tak boleh ada pengkotak-kotakan masyarakat, ya?

MA : Iya! Justru saya khawatir, kalau ada tokoh agama yang masih rasialis, saya hanya berkata, baiklah direfleksikan relasinya dengan Allahnya, dengan Tuhannya.

L : Nah, ini yang jadi pertanyaan gongnya. Yang clash of civilization, Samuel P Huntington, yang intinya The West and The Rest. Yang the West and The Rest. Pandangan Anda? Clash of Civilization, khususnya yang The West and The Rest, karena pada akhirnya, menurut Kishore Mahbubani, seperti itu, The West versus The Rest.

MA : Iya, Nah, sebetulnya, ini dikotomi-dikotomi juga. Sebetulnya itu produk dari filsafat Barat. Descartes *) yang menyatakan Mind and Body. Selama pikiran kita masih dikotomis, akan selalu ada dan korbannya adalah perlakuan pada manusia. Jangankan antara yang besar yang kecil, Timur, Barat, kapital dan proletariat. Selama dikotomis, dalam suatu kelompok, pun dalam agama, (misalnya) dalam Kristen, akan ada yang seperti itu, ya. Jadi Kristen aja udah macam-macam. Jangankan Kristen, (dalam) Katolik saja bisa terjadi begitu, gesekan karena apa, dikotomis, ya. Dikotomis, seolah-olah, bahwa saya yang paling benar, yang paling absolut …. Pikiran absolutisme itu yang berbahaya. Clash of civilization itu terjadi karena pertama, dikotomis, lalu yang kedua, mau mengabsolutkan kebenaran dirinya, sehingga terjadi pertentangan, ya, dan kalau clash itu, mintanya (harus) menang, ya.

*) René Descartes, filsuf dan matematikawan Prancis, 1569 – 1650.

 

L : Ini menarik karena kalo antara Katolik mungkin dengan agama non Katolik, ya, mungkin relasinya lebih baik. Tapi kalo dengan Kristen, itu yang berbeda denominasi, mungkin lebih gampang ributnya, ya?

MA : Iya, iya, betul, karena ini, ya, makanya yang saya katakan juga, kemarin di pertemuan, kita juga sebagai pemimpin agama dan tokoh-tokoh agama Katolik, harus rendah hati Ya, harus rendah hati, mau bahwa kita ini bagian dari masyarakat Jawa Barat. Eco Camp *), tau, ya. Dan saya pernah bertemu dengan seluruh tokoh beberapa bulan yang lalu, seluruh tokoh Eco Camp, lalu dikatakan ini wajib menjadikan karya gereja. Saya mengoreksi, ini adalah karya masyarakat Jawa Barat. Gereja Katolik berperan ikut ambil bagian dalam karya, tetapi mohon untuk Eco Camp ini, dikembangkan sebagai karya masyarakat Jawa Barat.

*) Eco Learning Camp, atau Yayasan Sahabat Lingkungan Hidup, berlokasi di Dago Pakar, Bandung

 

L : Bukan Kristenisasi, itu yang harus dipahami?

MA : Dan yang kemarin juga yang saya katakan, saya berpikir, saya belum menemukan bangunan Gereja Katolik, yang bernuansa budaya Sunda.

 

L : Mungkin suatu saat akan dibuat?

MA : Ya, saya menyatakan, coba pikirkan itu. Lalu yang kedua, pikirkan juga konservasi Budaya Sunda.

Bagian 2-10

L : Kalau (Gereja Katolik) yang di Karawang *), tempo hari yang baru diresmikan?

*) Gereja Santa Maria Kota Bukit Indah, Purwakarta – Paroki Karawang, ditahbiskan awal Oktober 2014

MA : Bukan.

 

L : Beda juga?

MA : Beda, yah. Kemarin ada pertanyaan, kami dari Batak, bagaimana bilangnya. Saya bilang, boleh, silakan ada hidup, yang penting, kita sadar betul bahwa kita itu hidup di Jawa Barat, ya. Jadi kita harus juga berakar di sini. Jangan sampai, kita berkata, mau mengembangkan nilai-nilai luhur dari Jawa Barat, Tanah Parahyangan ini, sedangkan produknya saja diabaikan.

 

Tamat.

 

Penutup:

Ketika saya sudah datang untuk wawancara, si juru foto belum tiba, sementara wawancara tidak bisa ditunda mengingat waktu yang diberikan tepat hanya 1 jam, mesti dimanfaatkan sebaik mungkin karena kesibukan uskup (dan saya juga). Akhirnya ada 2 gambar yang saya ambil sendiri, 2 gambar ketika Monsi Antonius memegang kotak berisi manisan sanca bulat. Saat ambil gambarnya pun, saya hanya mengandalkan hati saya untuk melihat. Faktor arah datangnya cahaya membuat mata saya tidak bisa melihat jelas ke arah layar kamera saya. Maka 2 gambar itu menjadi gambar-gambar yang paling menarik dan paling berkesan buat saya.

Sepanjang wawancara, berbicara dengan Monsinyur Antonius itu layaknya kita berbicara dengan seorang kawan yang akrab. Sesekali ada juga Beliau bicaranya canthas (tegas), tapi tetap saja kesan lucunya tidak bisa hilang, karena aksen Sunda lekoh (kental) tidak bisa lepas sepanjang Beliau bertutur. Bagi saya, Monsi Antonius memang layaknya orang biasa saja dan saya sepakat bila Beliau sungkan dengan penghormatan yang berlebihan. Pasti tak nyaman rasanya.

Hasil wawancara ini pun sukses membuat saya berjibaku, mencari informasi tambahan dari berbagai sumber karena kadang informasi dari jawaban Monsi Antonius, berupa info yang kurang lengkap dan saya pun entah, malah tidak bertanya lebih jauh.. saya ini akan dibahas di artikel tersendiri tentang apa saja kisah yang ada di balik wawancara ini. Itu pun jika saya ada kesempatan untuk duduk, menuliskannya.

Di akhir wawancara, saya memang sengaja minta tanda tangan Beliau di gambar karikatur tentang dirinya, dari buku “Daya Doa, Rahmat Salib” yang jadi buku yang dibagikan saat tahbisan Beliau beberapa waktu lalu. Sebuah pena dengan tinta emas selalu siap di tas saya. Benar, gambar karikatur itu sungguh menggambarkan perasaan campur aduk Beliau ketika resmi terpilih menjadi seorang uskup.

Bagian 2-11

Bagian 2-12

Bagian 2-15

Nah, saat sesi foto bersama kami bertiga, rupanya si juru foto lupa mengaktifkan lampu kilat kameranya sebelum kami minta orang lain mengambil gambar kami dan anehnya, saya juga lupa membuat back up dengan kamera saya. Jadilah foto kami bertiga ini cukup resolusinya kecil saja, ya. Itupun sudah saya proses photo editing dulu berkali-kali. Toh, yang jadi fokus utama wawancara ini adalah Si Bapa Uskupnya.

Bagian 2-13 Bagian 2-14

 

Terima kasih kepada Mgr. Antonius S Bunjamin, OSC atas kesediaannya menerima saya untuk memenuhi rasa penasaran banyak orang (rata-rata para silent reader). Bisa lebih mengenal Beliau itu adalah pengalaman yang luar biasa, bagi saya dan tentu juga buatnya, apalagi setelah saya berhasil “bongkar sebuah rahasia” di akhir wawancara. Kiranya Monsi Antonius senantiasa diberkati Tuhan dengan kesehatan yang prima, karena dalam tugasnya sebagai gembala, masih akan selalu jalan-jalan berkeliling ke setiap paroki di wilayah Keuskupan Bandung, dan agar Monsi Antonius, teruslah unyu-unyu….

 

Salam,

Linda Cheang

Bandung, 7 Januari 2015

 

 

About Linda Cheang

Seorang perempuan biasa asal Bandung, suka menulis tentang tema apa saja, senang membaca, jalan-jalan, menjelajah dan makan-makan. Berlatar pendidikan sains, berminat pada fotografi, seni, budaya, sastra dan filsafat

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.