Adventures of the Kenthirs in Switzerland: My Perspective

Nonik

 

Haloooo para pembaca Baltyra budiman…. Lama tak bersua. Pada ngangenin saya gak ya #halah.

Setelah mengalami banyak badai dan air mata di tahun 2014, akhirnya saya punya waktu juga untuk nulis artikel. Kali ini saya mau nulis lanjutan kisah petualangan saya dan Sasayu, sepasang sepupu kenthir, saat jalan-jalan di Swiss hampir setahun yang lalu. (Ya oloh…. udah hampir setahun aja. Cepet banget ya waktu berlalu). Tapi tulisan ini ditulis dengan menggunakan perspektif saya.

 

Rabu, 29 Januari 2014

Saya bangun dalam keadaan senang tapi juga loyo. Senang karena Sasayu mau datang, tapi juga loyo karena flu. Malam sebelumnya saya jadi pembicara di acara Indonesian Night dan pulang malem sampe jam 12. Udara dingin, en saya pake dress batik tipis kliwir-kliwir…. Walhasil, kena flu deh. Dengan sedikit malas2an, saya memaksa diri bangkit dari tempat tidur, bersiap2 pergi ke airport untuk njemput Sasayu.

Di airport, akhirnya Sasayu muncul. Kopernya segede gaban, sosok Sasayu bagaikan hampir tenggelam ‘ditelan’ koper, yang ternyata isinya penuh peralatan dapur -.- Dasar anak food scientist.

Di hari kedatangan Sasayu itu, salju turun untuk pertama kalinya di Geneva. Padahal sudah lama banget salju gak turun. Dan memang, musim dingin tahun lalu itu hanya ada kira-kira 2 hari bersalju di Geneva. Saya cukup terbengong-bengong bahwa salju kok memilih turun di hari Sasayu datang. Pak Handoko (Pak Han) sampai komentar di facebook, betapa Sasayu sungguh diberkati karena salju turun. Dan air bah akan menyambutnya saat dia kembali ke Jakarta. (Ndilalah momennya juga pas Sasayu hendak kembali ke tanah air for good setelah ngunjungin saya di Swiss lalu pesta perpisahan di Finland). Membaca komentar Pak Han, kami tertawa tergelak-gelak. Saya tepiskan pikiran, “Kebetulan amat salju turun…. Jangan-jangan bakalan ada apa-apa nih.”

Hari pertama dihabiskan dengan istirahat, jalan-jalan di flea market dekat kos-kosan, ke kampus, dan seputaran kota Geneva. Saya ajak Sasayu keliling lihat-lihat headquarter (HQ)nya organisasi-organisasi internasional di Geneva, seperti Palang Merah, markas PBB, gedung PBB yang nanganin pengungsi, dll.

 

Kamis, 30 Januari 2014

Masih hari bebas dan di Geneva. Ternyata saya tepar, flu, dan kecapean. Terpaksa harus istirahat, rebahan di kasur. Nyesel banget kenapa saya ga pake baju yang lebih anget di malam Indonesian Night. Yah, untuk tampil cantik memang harus menderita…. Dengan terpaksa saya ga bisa ngajak Sasayu jalan-jalan keliling kota Geneva lagi. Untungnya, Sasayu berjiwa petualang dan dia berani jalan-jalan sendirian.

Waktu jalan berdua di kota tua, Sasayu sempat pergi ke kios penukaran uang, buat nuker duit dari Euro ke Swiss Franc (CHF). Saya kaget liat dompet Sasayu yang segede gaban, dan isinya penuh dengan uang dan kartu-kartu penting: kartu kredit, kartu pelajar, residence permit, tiket pesawat, kartu nama orang penting, bahkan passport pun disimpan dalam dompet. Saya nyeletuk dan jadi wanti-wanti ke Sasayu, ini kalau dompet raib, raib pula nyawamu. Sasayu bilang, semuanya dia taruh di dompet karena dia orangnya ribet dan pelupa. Jadi biar simple, semua ditaruh di satu wadah. Yo wis.

 

Jumat, 31 Januari 2014

Pagi dan siang hari kami jalan-jalan di Botanical Garden. Sasayu seneng banget di sana karena liat banyak tanaman. Ada rumah kaca dan kebun binatang kecil di sana, yang penuh dengan bebek-bebek Peking yang gemuk dan lucu-lucu… Ginak-ginuk, so funny. Hihihi…

Siang dan sorenya, tanpa direncanakan kami ngloyor pergi ke CERN, pusat ilmiah or apaan gitu deh, yang jadi tempat shootingnya film The Da Vinci Code juga kalau ga salah. Sasayu bener-bener excited banget untuk liat-liat pameran di sana yang terbuka untuk publik. Tak dinyana, sekeluar dari CERN, kami ketemu temen saya, cewek Korea cantik bernama Ji Eun yang pacarnya kerja di CERN. Seperti kata Sasayu, pacar Ji Eun ini mengadakan tur private gratis buat liat-liat ruang bawah tanah CERN dengan segala peralatan ilmiahnya yang kueren…. Masih ada tempat untuk 1 orang lagi di mobilnya. Karena saya ga tertarik liat-liat pameran ilmiah gitu, plus badan masih meriang, saya putuskan untuk pulang dan istirahat saja, biar Sasayu yang ikut. What a lucky day for her….

Malamnya, kami ikut acara persekutuan doa (PD) orang-orang Indonesia (yang juga jadi teman-teman dekat dan keluarga kedua saya di Geneva). It was a great night, full of love, laughter, and delicious food :9 We sang and shared stories and testimonies. Bisa ditebak, Sasayu langsung cepat akrab dengan semua orang. Hahahah.

Dan ketika kami pulang ke rumah, terjadilah “bencana” itu….. Bencana yang menggegerkan 3 negara sekaligus: Finland, Swiss, dan Indonesia. Ketika hendak bersiap-siap tidur, Sasayu ngambil tasnya untuk melakukan pembayaran secara transfer. Saya sudah kemulan dan siap terbang ke alam mimpi. Dan saat itulah saya mendengar teriakan Sasayu, “Lho, dompetku kemana????!”

Seperti disamber gledek, saya langsung mlompat dari kasur. “Apaaaa??!” teriak saya balik.

“Dompetku kemana???”

……….

Kira-kira 90 menit berikutnya dihabiskan dengan saya menginterogasi Sasayu dan Sasayu berusaha mengingat-ngingat kejadian sepanjang hari itu. Saya juga telpon teman-teman PD, kalo-kalo dompetnya jatuh di sana.

Ternyata hasilnya nihil. Kacau kacau kacau….. semua rencana saya buat ngajak Sasayu jalan-jalan ke sini dan ke sana bubrah semua. Ambyar. Jujur saya sempat nyalahin Sasayu and going cranky, kenapa kok semuanya disimpen di dompet. Beneran kejadian kan, itu dompet raib digondol orang. By losing the wallet, Sasayu literally “lost” her life because her life is in the wallet. Bahkan tiket untuk jalan-jalan keliling ke Swiss juga raib!! Duit mungkin ga seberapa, tapi kartu dan dokumen sakral seperti passport, kartu pelajar, dan residence permit raib semua. Ternyata turunnya salju di hari Sasayu tiba benar-benar merupakan suatu “pertanda” jiakakakakak…

There was not much we could do that night, so we decided to go to sleep with a very troubled mind.

 

Sabtu, 1 Februari 2014

Misi pencarian dan penelusuran segera dimulai. Kami menelusuri satu persatu semua tempat yang Sasayu datangi kemarin. Cilakanya, hari itu hari Sabtu, yang mana beberapa kantor pemerintahan tidak buka atau cuma buka sebentar sampe siang. Dengan ngedumel dalam hati tapi menguatkan diri agar tetap kuat (karena Sasayu sudah nangis semalaman), kami pun berjalan bersama-sama. It was early in the morning about 6.30 am.

Tempat pertama yang kami datangi adalah kantor polisi buat bikin laporan kehilangan. Cilaka, rata-rata polisinya gak bisa bahasa Inggris. Thankfully, saya habis aja selesai kerja magang di 2 restoran Chinese yang bossnya juga ga bisa bahasa Inggris. Jadilah saya terpaksa ngomong pake bahasa Prancis (dan setengah Mandarin), demi perut :p Tak disangka bahwa keterampilan bahasa karena kepepet berguna juga di saat-saat genting seperti saat itu. Plus ditambah suasana yang panik karena hari kepulangan Sasayu semakin mendekat dan Sasayu ga bisa kemana-mana tanpa dompet itu, adrenalin saya memuncak dong *halaaaah….* Dan omongan Prancis pun cas-cis-cus keluar dari mulut saya, jelasin semua kronologis yang terjadi sama si Ibu Polisi yang bermuka suram dan galak…. (I was shocked and happy knowing that I was able to spoke French all the time :D). Sama si Bu Polisi kami segera dibuatkan surat kehilangan dan disarankan untuk ke Kedubes Indonesia di Bern hari Senin. Mak jiaaang….. mau gak mau deh nunggu 2 hari lagi. Bener-bener kacau kalau ngalamin musibah di Swiss pas weekend T___T Ya sudah, apa boleh buat.

Ada kejadian lucu di kantor polisi. Si polwan tanya, apa kami bisa bahasa Indonesia untuk ngurus-ngurus di KBRI nanti. Saya jawab dengan rada sinis, ya jelas bisa lah! Kenapa pula itu ditanyain? Ternyata, dulu pernah ada kasus dimana ada orang Portugis yang kecopetan, tapi orang itu ga bisa berbahasa Portugis. Hahaha…

Dari kantor polisi, kami melacak tempat-tempat lain yang Sasayu kunjungi, termasuk cafe dan apartemen temennya pacar Eun Soo (sebut saja namanya Joni), karena ternyata mereka sempat mampir di situ. Saya kagum dengan ingatan fotografis Sasayu yang bisa mengingat dengan jelas rute, jalan, gedung apartemen, lantai, bahkan nomor kamarnya. Edaaaan…. kali ini ingatan Sasayulah yang berfungsi sebagai penyelamat kami wkwkwkwk. Kami ketok-ketok pintu kamar si Joni, dan Joni keluar dengan tampang kusut (pagi itu kira-kira jam 9). Sasayu menjelaskan semua kronologisnya, dan dengan berbaik hati Joni mengantarkan Sasayu ke parkiran mobil untuk nge-cek kalau-kalau dompetnya tertinggal di situ. Hasilnya…. nihil.

Sepanjang proses pencarian itu, setiap kali ketemu polisi saya biasanya tanya ke mereka untuk berkonsultasi soal dompet yang hilang ini: apakah prosesnya sudah benar, berapa lama biasanya ketemu, apa yang harus kami lakukan berikutnya, dsb. Thanx God apa yang kami lakukan sudah benar. Pak Polisi menyarankan agar kami coba pergi ke kantor lost & found-nya transportasi publik Geneva. Beberapa orang dari mereka sempat bercanda, biasanya dompet-dompet curian dibuang pencurinya ke Danau Leman untuk menghilangkan jejak. Sasayu yang sudah desperate, sampe kepikiran buat njegur ke danau demi mencari dompet yang hilang. Hwarakadah….

Nihil… nihil… nihil. Kami semakin yakin bahwa Sasayu memang kecopetan di bus, apalagi tampang Sasayu itu turis banget bawa-bawa tustel kamera yang dikalungin di leher. Plus, Sasayu bawa tas punggung kecil yang gampang dibuka. Plus lagi, bus yang ditumpangi Sasayu saat itu sedang penuh karena pas jam kantor. Lengkap sudah. What a good opportunity for the thief to act!

Pulang dari apartemen Joni dengan kecewa, kami menyusuri sepanjang jalan sambil ngorek-ngorek setiap bak sampah yang ada (bayangin sendiri deh kayak apa pemandangannya ahuehauehoehaueo). Siapa tahu si pencopet buang dompetnya di bak sampah sekitar situ, karena pencopet di Geneva biasanya cuma ngambil duit, terus dompetnya dibuang. Ternyata, kantong-kantong sampah itu sudah diganti yang baru…. jadi kemungkinan besar dompet besar yang dibuang di kantong sampah lama sudah dibawa ke TPA. Makin nangis kejer deh.

Sambil menenangkan diri, kami lalu pergi ke stasiun untuk beli tiket jalan-jalan ke Swiss yang baru buat Sasayu (semacam Eurail Pass yang bisa dipakai untuk jalan-jalan naik transportasi publik gratis di seluruh Swiss). Biar bagaimanapun, tujuan Sasayu ke Swiss kan untuk jalan-jalan, and heck no will not let this theft incident ruin our holiday. Terpaksa Sasayu beli tiket lagi. Indeed it was the priciest trip ever for her. Udah kecopetan dan masih harus keluarin duit lagi buat jalan-jalan pula T.T  Tapi selain buat jalan-jalan, tiket ini memang diperlukan karena kami harus pergi ke KBRI di Bern, yang 2 jam perjalanan jauhnya dari Geneva dengan kereta.

Malamnya, kami merayakan Chinese New Year alias Imlekan dengan teman-teman Indonesia lain di kost saya. Sasayu yang masak: babi kecap, ayam dan nasi tim, dan salad pomegranate atau salad delima. So yummy. Enak banget deh…. Sasayu masih sempat-sempatnya dengan ceria menceritakan kesialannya kepada teman-teman saya, yang semuanya tertawa terbahak-bahak. Yah, kalau gak sudrun, bukan Sasayu namanya :p

 

Minggu, 2 Februari 2014

Hari Minggu, kami ke gereja. di sana Sasayu didoakan sama pastor agar tenang dan dompetnya cepet balik. Habis dari gereja, jalan-jalan di flea market lagi sambil beli falafel yang enak milik pasangan Israel-Palestinian. Seorang teman Indonesia yang kerja di Indonesian Permanent Mission to the UN (Perwakilan tetap Republik Indonesia untuk PBB) dengan berbaik hati memberikan saya nomor kontak orang yang kerja di KBRI. Saya dan Sasayu segera menghubungi beliau untuk janji ketemuan besoknya, yang langsung disambut dengan senang hati. Kagum juga karena birokrasi Indonesia di negara maju itu termasuk cepat, terutama di Swiss (karena penduduk Indonesia di sini termasuk sedikit dibanding di negara Eropa barat lainnya, “hanya” sekitar 2000 jiwa). Hari sebelumnya Sasayu juga langsung menghubungi dubes di KBRI Helsinki, yang segera mengontak KBRI Bern.

Sisa hari dihabiskan dengan ngaso di rumah sambil terus mikir-mikir rencana selanjutnya.

 

Senin, 3 Februari 2014

Hari Senin, pagi-pagi sekali, kami berangkat ke Bern. Thank God sistim transportasi publik di Swiss itu sudah sangat maju sekali, efisien, dan super on-time. Sampai di Bern, langsung melesat ke KBRI. Untung tempatnya mudah dijangkau dari stasiun, again thanks to the super awesome of Swiss transport system. Sesampai di KBRI, kami diterima dengan baik dan menjelaskan duduk perkaranya, sembari memberikan fotokopi surat keterangan dari polisi Geneva. Kasus Sasayu ternyata termasuk kasus “darurat” karena Sasayu sudah harus balik ke Finland tanggal 7. Kurang dari setengah jam, passport baru pun jadilah…. Sembah sujud syukur kami sudah tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Sasayu sudah lega karena sudah mengantongi passport baru. Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih, kami pun meninggalkan KBRI untuk menuju Kedutaan Finlandia di Bern.

***

Di Kedutaan Finlandia, Sasayu menjelaskan kronologis peristiwa seperti yang sudah-sudah, dan menanyakan kemungkinan apakah bisa naik pesawat untuk balik ke Finland, karena tiket pesawat dan residence permitnya hilang. Pihak Kedubes memberikan Sasayu nomor kontak maskapai Finn Air untuk menanyakan hal ini, tapi sayang ga ada yang ngangkat. Untungnya, dari konsultasi dengan pihak Kedubes disimpulkan bahwa Sasayu tetap bisa kembali ke Finland karena sudah punya passport.

Setelah merasa sudah melakukan usaha semaksimal mungkin dan daripada stress melulu, kami pun memutuskan untuk pergi jalan-jalan di kota tua Bern. Kami mengunjungi museum Einstein Haus dimana kami mengalami mujizat melalui Ibu Verena, penjaga Einstein Haus yang memberi Sasayu uang dan menggratiskan karcis masuk. Habis dari Einstein Haus, kami jalan-jalan naik bus melihat-lihat kota Bern. Hari itu Sasayu ga begitu stress karena sudah dapat passport baru :p dan terhibur dengan keeksotis-an kota Bern.

 

Selasa, 4 Februari 2014

Karena passport baru sudah di tangan, setidaknya kami bisa melanjutkan acara jalan-jalan dengan hati tenang. Begitu banyaknya tempat di Swiss yang harus dikunjungi dan ingin saya pamerkan ke Sasayu, sehingga semuanya harus dikebut dalam waktu 3 hari sebelum Sasayu balik ke Finland. Saya tergoda untuk misuh-misuh, karena gara-gara peristiwa kecopetan ini itinerary yang sudah saya buat jadi terganggu :(( Waktu untuk jalan-jalan jelas terganggu. Tapi karena misuh-misuh ga ada gunanya, lebih baik tetap jalan saja sambil have fun!!! Hahahaha…

Hari itu kami pergi ke Lichtenstein, negara kecil ketiga di dunia setelah Vatikan dan Monaco, yang diapit oleh Swiss di sebelah kiri dan Austria di kanan. Negara mini itu juga dikepung oleh Pegunungan Alpen. Saking kecilnya, mata uangnya nginduk ke Swiss, pelabuhan udara dan lautnya juga nebeng ke Swiss dan Austria. Perjalanan dari Geneva-Lichtenstein membutuhkan kurang lebih 4 jam sekali jalan, tapi kita ga akan bosan karena mata kita dimanjakan dengan heavenly panorama (I swear, I’m not making this up!) di sepanjang perjalanan. Hal ini terbukti dengan polah Sasayu yang melongo sepanjang jalan di kaca kereta…

sasayu-and-nonik (1) sasayu-and-nonik (2)

Pemandangan kota/negara Lichtenstein dari atas - Photo by Sasayu

Pemandangan kota/negara Lichtenstein dari atas – Photo by Sasayu

Di belakang saya dan Sasayu adalah foto perkebunan anggur - Photo by Sasayu

Di belakang saya dan Sasayu adalah foto perkebunan anggur – Photo by Sasayu

Pemandangan

Pemandangan

Latar suasana kota Luzern - Photo by Sasayu

Latar suasana kota Luzern – Photo by Sasayu

 

Rabu, 5 Februari 2014

Jalan-jalan ke kota Luzern yang 3 jam jalan dari Geneva, dilanjutkan dengan naik kereta gantung ke Gunung Rigi. Rencana awal, saya pingin ngajak Sasayu jalan ke kota Interlaken yang merupakan Hobbit Land-nya Swiss. Apa daya karena waktu mepet, maka ga jadi deh….

Luzern adalah kota Swiss yang memiliki banyak gunung-gunung indah dan selalu jadi destinasi turis mancanegara, misalnya Gunung Pilatus dan Rigi. Sayang, kalau mau ke Pilatus harus bayar lagi. Akhirnya kami putuskan untuk ke Gunung Rigi karena gratis (mental mahasiswa….) dan sudah termasuk dalam tiket Eurail Pass. Dan terbukti, pergi ke Gunung Rigi ga sia-sia…. Di tengah-tengah kereta, Sasayu menangis saking terharunya :D

Pemandangan kota Luzern dari puncak Gunung Rigi - Photo by Sasayu

Pemandangan kota Luzern dari puncak Gunung Rigi – Photo by Sasayu

Berpose sebelum berangkat di depan kereta gantung menuju ke atas Gunung Rigi - Photo by Sasayu

Berpose sebelum berangkat di depan kereta gantung menuju ke atas Gunung Rigi – Photo by Sasayu

Di check point Rigi Kulm - Photo by Sasayu

Di check point Rigi Kulm – Photo by Sasayu

 

 

Kamis, 6 Februari 2014

Sebelum pergi jalan-jalan, saya memutuskan untuk pergi ke kantor lost and found dulu di Geneva, siapa tahu dompet Sasayu ketemu di sana. Sebenarnya sejak hari Sabtu, saya sudah menghubungi kantor itu untuk tanya kalau-kalau dompet Sasayu ada di sana. Tapi kata petugasnya kami kecepetan, biasanya barang hilang itu baru ditemukan 1 minggu kemudian. Mak jiaaaaannng…. kami benar-benar kejar-kejaran dengan waktu, kalau Sasayu sampai sudah harus pulang ke Finland tapi dompetnya belum ketemu, tamat sudah. Sama mas-mas petugasnya, kami disarankan untuk terus aktif tanya dan telepon ke kantor mereka (karena mereka ga mau telpon ke kita. What the…. [email protected]#$%! ). Hampir setiap hari saya telepon, tapi ga pernah diangkat. Akhirnya hari itu saya putuskan untuk langsung samperin mereka di tempat. Saya tanya-tanya…. terus tanya…. dan tanya…. dengan bahasa Prancis tentunya….

Dan dompetnya ternyata ketemuuuuu!!!

Hahaha sembah sujud lagi deh. Haleluyaaaaa :D

Ekspresi ketika menemukan dompet, sungguh tak terperikan!! Langsung dijepret untuk diabadikan heheheh...

Ekspresi ketika menemukan dompet, sungguh tak terperikan!! Langsung dijepret untuk diabadikan heheheh…

Puji Tuhan, kartu-kartu penting Sasayu masih ada, seperti kartu pelajar, residence permit di Finland, kartu kredit Finland dan Belanda, dan kartu-kartu nama. Yang hilang “hanya” duit sebesar 200 Euro; kartu kredit BCA, yang langsung segera diblokir; dan tiket Eurail Passnya Sasayu yang asli.

Dengan dompet di tangan, kami berpetualang hari itu dengan hati yang sungguh senang dan riang….. Kami pergi ke kota Sion, 2 jam perjalanan dari Geneva, tempat orang-orang pada main ski. Di Swiss, Sasayu bilang kalau itu pertama kalinya dia liat orang main ski tapi tetap gosong, karena musim dingin di Swiss memang gak sebeku di Finland, dan matahari kerap bersinar terik.

Nonik & Sasayu in action

Nonik & Sasayu in action

In front of restaurant

In front of restaurant

Action...

Action…

Turu...

Turu…

Puncak tempat main ski di Sion, Valais - Photos by Sasayu and Nonik

Puncak tempat main ski di Sion, Valais – Photos by Sasayu and Nonik

Puncak tempat main ski di Sion, Valais - Photos by Sasayu and Nonik

Puncak tempat main ski di Sion, Valais – Photos by Sasayu and Nonik

Setelah puas bermain-main dengan salju, kami kembali turun dengan cable car dan jalan-jalan di kota tua Sion. di sana kami mengunjungi satu di antara dua kastil karena waktu yang terbatas, namanya Kastil Valère.

Château Valére di Sion, Valais - Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais – Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais - Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais – Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais - Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais – Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais - Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais – Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais - Photos by Sasayu

Château Valére di Sion, Valais – Photos by Sasayu

 

 

Jumat, 7 Februari 2014

Pagi hari, saya mengantar Sasayu ke airport untuk kembali ke Finland. Setelah puas berpeluk-pelukan dan bercanda tawa mengenai apa yang terjadi, saya pun melepas Sasayu….. dan langsung merasa kehilangan dia :(

Petualangan kami selama seminggu pun selesai sudah. What an adventure…. Belum pernah saya mengalami petualangan yang sebegitu mendebarkan, mendebarkan, tapi juga sangat berkesan, edan, dan bersama sepupu sendiri yang sudrun. Saya rasa inilah puncak dari kesialan-kesialan atau the series of unfortunate events-nya Sasayu selama dia tinggal di Eropa yang, sayangnya, dia juga menyeret si sepupu tercinta sendiri -.-

But now looking back, I am happy to be a part of that crazy adventure :D That was definitely an unforgettable moment that I could never erase.

sasayu-and-nonik (25)

Yah, demikianlah reportase kami kawan-kawan Baltyra… Mohon maaf karena lama sekali baru jadi. Semoga bisa menghibur dan dijadikan pelajaran bagi kita semua :)

 

 

About Louisa Hartono

Nonik – cewek kelahiran Semarang dan besar di Purworejo. Setelah menamatkan studi masternya di Swiss, dia kembali ke Indonesia. Saat ini bekerja sebagai CSR Field Coordinator & Donor Liaison Officer di salah satu perusahaan ternama di Surabaya. Hobinya masih sama: jalan-jalan, membaca, dan belajar bahasa asing. Walaupun tulisannya banyak mengkritik Indonesia, tapi mimpi dan hatinya tetap bagi Indonesia. Suatu saat ingin bisa kerja di UNESCO sambil membawa nama Indonesia di kancah internasional, lalu pulang dan bikin perpustakaan dan learning center di Purworejo, kampung halamannya.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.