Freedom (1)

Anik

 

Suara gemericik air membuatku memaksakan membuka mata yang sedari tadi kupejamkan. Mata ini masih berat untuk kubuka, kuusap dengan tangan berulang kali dan kulihat sekeliling yang gelap. Aku bangun dari tempat tidur dan menyalakan lampu. Kulihat tetesan air yang menghujam tanah itu dari jendela. Kuusap jendelanya dan terasa sangat dingin. Senang sekali rasanya bisa melihat hujan seperti ini. Suara gemericik, tetesan air dan dingin yang menghujamku terasa amat menenangkan. Asalkan tidak ada petir yang menyambar-nyambar. Aku menoleh ke tempat tidur yang berantakan dengan banyak buku yang berserakan. Aku membuang nafas dan memusatkan pandanganku lagi ke jendela. Aku sudah lelah dengan rutinitasku hari ini yang berkutat dengan buku-buku.

Aku melonjak kaget ke tempat tidur mencari-cari ponsel kecilku. Aku teringat dari tadi siang belum mengirimkan pesan singkat kepada Dino. Aku buru-buru mencari ponselku. Nah, ketemu juga di sebelah bantal. Aku meraihnya dengan cepat. Mataku terbelalak melihat 10 missed call dan 5 messages dengan isi yang sama.

From: Dino

Kamu di mana sayang?

 

Dengan cepat aku membalas pesannya.

 

To: Dino

Maaf sayang, aku baru bangun tidur. Baru bisa bales sms mu.

Pliiisss maaf banged ya!

Ada ketakutan yang menyusupiku. Selama ini Dino memang belum pernah marah denganku, aku selalu berusaha menjaga setiap kata dan tindakanku agar tidak memancing emosinya. Aku paling tidak suka sering ada pertengkaran di hubunganku. Beberapa menit kemudian dia membalas pesannya.

From: Dino

Iya sayang, nggak apa-apa :)

Aku tersenyum membaca pesannya. Untunglah kalau dia tidak marah dan percaya kalau aku benar-benar tidur.

***

“Gimana Lis? Jadi kan nanti sore nganter aku ke kos teman?” Diva berdiri di depan kamarku.

“Em… Jadi kok Div, aku lagi kosong.” Aku tersenyum memandangnya namun ada kebimbangan yang menghantui. Bagaimana kalau Dino tidak mengizinkan aku keluar? Kalimat itu yang selalu terngiang-ngiang di benakku. Padahal aku sudah bilang ke Diva kalau aku bisa mengantarnya. Aku mengambil ponselku dan mengiriminya pesan.

To: Dino

Sayang, aku pergi dulu ya sama temen.

Semoga dia mengizinkan, pekikku dalam hati. Rasanya tidak nyaman sekali jika terus seperti ini. Kemana-mana harus izin, serasa dia bukan pacarku tapi satpam. Dino selama ini tidak pernah mengharuskanku untuk izin dan dia juga tidak pernah menuntutku untuk menghabiskan waktu seharian dengannya. Dia bisa mengerti tentang keadaanku yang selalu sibuk dengan kuliah dan kegiatan lainnya. Tapi aku takut. Takut jika Dino seperti Haris. Ya, Haris yang dulu pernah singgah di hatiku, namun tidak lagi untuk saat ini.

Freedom

Aku berani memutuskan untuk tidak lagi menyimpan cintanya karena aku sudah lelah dengan serentetan peraturan yang membuatku seperti napi dalam jeruji besi yang tidak bisa bebas melakukan apa yang kusuka. Kemana pun aku pergi aku harus izin, jika dia bilang tidak maka aku juga harus membatalkan acaraku., jika dia bilang iya pun juga ada durasi waktu yang sangat singkat. Terlambat sedikit saja dia pasti akan meluapkan amarahnya dengan kata-kata kasar. Dia juga selalu mencurigaiku bersama pria lain jika aku terlambat. Ah, sudahlah, itu hanya serentetan cerita kelam yang selalu saja membuatku takut untuk berhubungan dengan pria lain.

Aku membuka hati untuk Dino pun butuh waktu panjang dan proses yang lama untuk bisa percaya bahwa dia bisa lebih baik dari pada yang lain. Tapi perasaan ketakutan ini masih saja mengendap di hatiku. Mungkin itu karena aku sudah terlalu lama di kekang. Aku yang sekarang berbeda dengan aku 3 tahun yang lalu. Aku yang dulu selalu murah senyum, ceria dan lembut. Namun tidak untuk sekarang. Memang aku masih saja bisa berucap halus tapi tidak sehalus dulu. Sekarang aku lebih sering menggunakan bahasa kasar, mudah emosi dan curiga. Itu karena aku sering dibentak dan dimarahi, sehingga aku terbiasa memberontak. Apalagi Haris yang selama bertahun-tahun aku percaya kesetiaannya, ternyata mendua di belakangku. Semenjak saat itu aku sulit untuk percaya bahwa masih ada pria yang setia.

Aneh mungkin. Dengan hati yang sulit percaya kepada pria lain, aku sudah bisa menjalin hubungan yang masih seumuran jagung dengan Dino. Ya, aku menjalin hubungan dengannya pun belum sepenuhnya percaya. Tapi rasanya aku tak pantas untuk tidak mempercayai Dino, dia selama ini begitu baik dan tidak sensitif seperti Haris. Semoga sifat baiknya bisa bertahan sampai nanti. Dan kebaikannya bukanlah sebuah topeng yang jika nanti akan tiba saatnya dia membuka akan terlihat sifat aslinya itu seperti apa. Dret..Drett..Getaran ponselku membuyarkan lamunanku.

From: Dino

Iya sayang, hati-hati ya!

Beginilah kami, pesan-pesan singkat yang selalu menyatukan jarak yang terbentang antara kami. Meskipun aku sering dilanda ketakutan tapi hubunganku dengan Dino terbilang lebih baik dari pada hubungan teman-temanku dengan pacarnya. Mereka sering bertengkar bahkan sampai menangis. Aku sampai tidak tega melihatnya. Aku merasa lebih beruntung dari pada mereka.

***

From: Dino

Sayang, belum pulang?

Kubaca pesan darinya. Takut itu mengendap-ngendap lagi masuk dalam diriku. Aku takut jika Dino marah kalau tahu aku terlalu lama keluar.

To: Dino

Belum sayang, maaf membuatmu menunggu terlalu lama

Aku mencoba memperhalus setiap kata yang kukirim untuknya.

From: Dino

Nggak apa-apa, Sayang.

Aku cuma mau bilang kalau aku sudah pulang.

Aku tersenyum tipis membaca balasannya. Kurasa aku tak perlu menghantui diriku sendiri dengan rasa takut yang tidak beralasan. Seharusnya aku menyadari bahwa Dino bukanlah pria yang selama ini menghantuiku dengan over protektifnya. Dino mempunyai sisi dewasa sendiri yang membuatku lebih nyaman dari pada sebelumnya.

To: Dino

Iya sayang.

Nanti aku hubungi lagi setelah aku pulang.

Selamat istirahat :)

 

Dengan cepat dia membalas pesanku.

From: Dino

Iya sayang. Jangan pulang terlalu malam!

Ini pribadi yang aku rindukan dari dulu. Sesosok pria yang seharusnya membebaskan aku untuk kemana saja, karena dia tahu aku sudah dewasa. Sudah saatnya aku dipercaya untuk melakukan apa kehendakku. Membebaskan tapi juga mengingatkan. Sungguh nyaman bukan rasanya.

“Kenapa Lis? Dino marah?” Diva memandangiku yang sedari tadi sibuk melihati ponsel.

“Nggak lah Div, nggak ada alasan untuk dia marah.” Aku tersenyum melihatnya.

“Mungkin. Tapi kamu terlihat lebih bebas daripada anak-anak yang lain.” Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya.

“Bebas bagaimana yang kamu maksud, Div?”

“Kalau anak-anak yang lain punya pacar yang over protektif, sejauh ini aku melihat Dino tidak seperti pria-pria itu.”

“Semoga dia tetap baik seperti ini, Div.” Aku tersenyum memandang Diva yang sedari tadi sibuk dengan temannya mengotak-ngatik tugasnya.

***

To: Dino

Sayang, aku baru pulang :)

Aku segera mengirimkan pesan itu setibanya di kos. Dengan cepat hp ku bergetar dan kulihat dia membalas pesannya.

From: Dino

Iya sayang.

Tugasmu sudah selesai?

Lagi-lagi pertanyaannya hampir sama setiap harinya. Dia tidak hanya mencintaiku tapi juga mencintai setiap tugas-tugas yang membanjiri kamarku. Dia selalu rajin menanyakan tugasku, dia selalu saja rela dinomorduakan karena tugas. Itulah kenapa aku merasa nyaman sampai saat ini, karena aku tidak diposisikan untuk memilih antara tugas dan pacar. Tapi dia dengan sifat dewasanya menempatkan aku untuk bisa memiliki semuanya. Hubungan kami baik-baik saja tanpa sedikitpun mengganggu kuliah dan kerjanya. Setiap hari kita selalu menyempatkan waktu untuk mengirimkan pesan singkat di tengah-tengah kesibukan kami. Walaupun hanya sesekali itu tak menjadi bumerang dalam hubungan kami. Setidaknya kami menunjukkan perhatian satu sama lain.

To: Dino

Tadi siang sudah aku kerjakan, Sayang.

Setelah pesanku berhasil terkirim, dengan cepat dia langsung menelfonku.

“Hallo.” Terdengar suara pria di seberang sana.

“Hallo.” Aku membalas sapaannya. Dia diam beberapa menit lalu terdengar suara petikan gitar seperti biasanya. Dia memang sering menyanyikan lagu untukku. Aku selalu tersenyum mendengar petikan gitarnya. Selalu saja ada kesejukan tersendiri yang tiba-tiba menyapa saat mendengar suaranya mengalunkan nada-nada cinta.

“Request lagu apa, Sayang?”

“Aku kangen sama lagu yang pertama kali kamu nyanyiin buat aku.”

“Oh, yang itu.”

Selang beberapa lama lagu yang ku request sudah terdengar.

 

Ku pejamkan mata ini

Mencoba tuk melupakan

Segala kenangan indah tentang dirimu

Tentang mimpiku

Semakin aku mencoba

Bayangmu semakin nyata merasuk hingga ke jiwa

Tuhan

Tolonglah diriku

Entah dimana dirimu berada

Hampa terasa hidupku tanpa dirimu

Apakah di sana kau rindukan aku?

Seperti diriku yang selalu merindukanmu

Selalu merindukanmu

Tak bisa aku ingkari

Engkaulah satu-satunya

Yang bisa membuat jiwaku yang pernah mati menjadi berarti

namun kini kau menghilang bagaikan di telan bumi

Tak pernahkah kau sadari

Arti cintaku untukmu

~Hampa, Ari Lasso~

Setelah pertama kali dia menyanyikan lagu itu untukku aku suka mendengarkannya.

“Gimana?” Tanyanya setelah berhenti bersenandung.

“2 jempol buat kamu.” Terdengar suara tawanya renyah setelah aku mengucapkan pujian itu.

“Terima kasih, sayang. Besok kuliah pagi kan? Cepat tidur ya. Selamat malam.”

“Iya, terima kasih juga untuk lagunya. Selamat malam.”

Obrolan singkat dan sederhana tapi tetap bisa berkesan. Memang seperti itulah kebiasaan kami setiap malam. Jika kami sama-sama lelah, hanya mengucapkan selamat malam lewat pesan saja sudah cukup untuk menggantikan suaranya di telfon.

“Lisa.” Terdengar suara Vina di depan kamarku.

“Iya Vin, sebentar. Ada ap….?” Ucapanku terhenti setelah melihat matanya basah.

“Vin.” Dia berhambur ke pelukanku.

“Kamu kenapa Vin?” Aku kebingungan dengan sikap aneh Vina.

“Yoga Lis, Yogaa.” Dia menyebut-nyebut nama pacarnya.

“Dia dari tadi marah sama aku.” Tangisnya semakin menjadi. Sampai-sampai Diva dan Diana keluar kamar dan menghampiri kami.

“Kenapa Vin?” Ucap Diva dan Diana bersamaan. Tidak ada jawaban yang kami dapat. Malah tangis Vina membludak.

“Masuk dulu, tenangin dirimu!” Aku menuntun Vina masuk kamarku. Dia duduk di pinggiran tempat tidurku. Aku dan Diva duduk di sebelahnya dan Diana mengambil kursi duduk di depan Vina.

“Kamu nangis aja kalau itu yang buat kamu puas, setelah itu cerita ke kita apa yang terjadi dengan kamu.” Diana menenangkan Vina sambil memegangi tangannya.

“Yoga Di, Yogaa….” Hanya kalimat menggantung itulah yang mampu keluar dari mulut Vina.

“Iya, kenapa dengan Yoga, Vin?” Tanyaku. Aku sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka. Vina memang sering bertengkar dengan Yoga tapi tidak sampai sehisteris ini tangisnya. Paling-paling dia hanya banyak diam dan menyendiri di kamar.

“Dia keterlaluan, dia menuduhku selingkuh.” Ucap Vina yang terhenti karena tangisnya yang belum juga selesai.

“Bagaimana bisa? Setahuku kamu selama ini jarang keluar dengan pria lain, bahkan menghubungi pria lain pun juga jarang.” Kami bertiga mengerutkan kening mendengarkan ceritanya yang tak masuk akal.

“Kemarin aku ada acara organisasi di kampus, kamu tahu sendiri kan kemarin aku sangat sibuk. Tak ada satupun sms dari kalian yang kubalas. Dia marah karena seharian aku tidak menghubunginya. Dia bilang aku sibuk dengan pria lain. Saat aku bilang pulangku malam dia balik bertanya siapa yang mengantarku ke kos, aku bilang temanku pria, dia lebih marah lagi.” Perlahan-lahan Vina menceritakan semuanya. Kami manggut-manggut mendengarnya. Kami bertiga bingung harus berkata apa. Susah memang menghadapi tipe cowok seperti Yoga.

“Kamu sudah menjelaskan semuanya, Vin?” Aku balik bertanya dengan Vina.

“Sudah, Lis. Aku sudah bilang seharian aku sibuk dengan acaraku. Saat pulang aku terpaksa diantar teman priaku, karena kamu tahu sendiri kan aku pulang dari acara itu pukul 1 malam. Mana mungkin aku berani pulang sendiri, dan temanku wanita lain pun pasti juga akan sama takutnya denganku.” Vina mencoba membela dirinya. Tapi itu hanya di depan kami. Pasti di depan Yoga dia tak mampu berkata-kata. Semua kesempatan bicara hanyalah milik Yoga. Itulah yang pernah aku dengar saat Yoga dan Vina bertengkar, Vina hanya diam dan Yoga berbicara panjang lebar memarahi Vina.

“Kenapa Yoga jadi berubah gini ya, Vin? Dia kan tahu kalau kamu ikut organisasi jadi seharusnya dia mengerti kalau kamu pasti sibuk dengan kegiatan-kegiatan kampus.” Diana ikut bicara.

“Aku nggak tahu, Di. Dia mengkhawatirkanku terlalu berlebihan, padahal kalian tahu sendiri aku di sini selalu menjaga hati untuknya. Untuk membuatnya percaya aku sempat mengirimkan softcopy izin pulang malam dari organisasi ke e-mailnya, tapi dia tetap saja tidak percaya.” Terdengar suara Vina yang putus asa. Dia terlihat lelah menghadapi Yoga.

“Aku capek kalau gini trus-trusan. Aku capek dikekang, dimarahi, dan dicurigai. Aku butuh angin untuk bisa bernafas.” Vina menyandarkan kepalanya dibahuku. Ada butiran yang menetes di bahuku dan lama-lama bahuku basah. Aku mengabaikannya. Asalkan dia nyaman dan merasa bahuku adalah tempat yang tepat untuk membuang lelahnya aku akan membiarkannya.

“Sabar ya, Vin. Mungkin dia sedang ada masalah trus kamu yang jadi pelampiasannya.” Diva memandang Vina dengan tatapan iba. Wajah Vina sayu, mungkin sedari tadi dia tidak menjejalkan makanan sedikit pun ke perutnya.

“Dia hampir setiap hari memperlakukan seperti itu, apa itu berarti dia juga setiap hari mempunyai masalah? Tidak kan?” Vina memandang Diva dengan tatapan serius dan penuh harapan. Ada harapan Vina pada kami agar kami bisa membantunya menyelesaikan masalah ini.

“Kamu belum makan, Vin? Aku ambilin makan, kamu mau?” Diva menawarkan diri. Dia sedari tadi tidak tega melihat wajah temannya yang pucat. Namun, Vina hanya menggeleng.

“Ayolah Vin, jangan menyiksa dirimu seperti itu.” Diva mencoba membujuknya.

“Aku tidak apa-apa.” Suaranya terdengar sangat lemah. Dia masih saja bersandar di bahuku.

“Apa yang kamu inginkan, Vin? Jujur saja kepada kami.” Aku mencoba membujuknya.

“Aku ingin putus, Lis.” Air matanya tumpah lagi.

“Jika memang itu yang terbaik, lakukan saja. Aku rasa Yoga memang tidak perlu dipertahankan. Kamu sering dibuat pusing dengan kelakuannya.”

“Tapi rasanya berat untuk bisa mengatakan putus, aku masih mencintainya.” Air mata yang selalu mengiringi setiap kalimat-kalimat yang keluar dari bibirnya.

“Vin, itu wajar. Karena kamu sudah sangat lama berhubungan dengan dia. Aku tahu dia pasti juga sangat mencintaimu, dan itulah yang membuat dia over protektif karena dia takut kehilanganmu. Tapi sayangnya, dia mencintaimu dengan cara yang salah. Aku tahu setiap orang mempunyai cara sendiri untuk mencintai orang lain, tapi apa kamu tetap ingin bertahan dengan cara yang salah seperti ini? Caranya yang malah membelenggumu.” Diana menggenggam tangan Vina. Dia dengan tegas mengucapkan kalimat-kalimat itu.

“Kita akan menemani kamu, Vin. Jika kamu merasa sepi karena sudah tidak ada lagi yang menghubungi dan memperhatikan kamu seperti biasanya, kita di sini akan selalu ada buat kamu. Menemani dan menghiburmu setiap kamu kesepian. Bukankah selama ini kita yang lebih sering ada buat kamu di setiap ada masalah? Yoga bahkan sering mengabaikanmu.” Ucap Diva yang membuat kita terdiam. Kalimat-kalimatnya menyentuh relung-relung hati kami. Ya, sejauh perjalanan di kota orang ini memang kita selalu bersama. Menemani dan mengulurkan tangan untuk bisa berjalan bersama dalam keadaan apapun.

“Melupakan orang yang pernah ada di hati kita itu memang tidak mudah, tapi tetap bisa kan? Meskipun itu butuh proses yang lama dan waktu yang panjang kita akan tetap menguatkanmu, Vin. Jangan biarkan hatimu dimiliki oleh orang yang salah. Seharusnya kamu berhak mendapatkan orang yang lebih baik, orang yang bisa percaya dan menjaga hatimu. Tidak membiarkan kamu seperti ini, melewati hari dengan banyak tetesan air mata. Simpan air matamu, pria yang bisanya hanya menuduh dan memarahimu tidak pantas untuk kamu tangisi.” Setelah mendengar ucapan-ucapan kami, dia mengangkat kepalanya dari bahuku dan memandangi kami satu persatu. Bibirnya bergetar mengucapkan sesuatu, meskipun lirih tapi kami masih bisa mendengarnya.

“Terima kasih, Teman.” Dia memejamkan mata dan menangis lagi. Entahlah, kami bertiga tidak bisa menebak apa yang dirasakannya. Entah dia bahagia karena ada kami di sini yang selalu setia menemaninya ataukah kecewa karena harus berpisah dengan Yoga.

 

bersambung…

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.