Apa dan Apa

Anwari Doel Arnowo

 

Apa yang saya dapat setelah mencapai 70 plus?

Rasanya lumayan banyak juga sih, sehingga mungkin saja saya tidak akan mampu untuk menuliskan semuanya. Sejak waktu yang lama, saya sudah membuat pertanyaan yang dasar: Untuk apa sebenarnya manusia hidup, apa tujuannya dan akan ke mana setelah ‘saya’ mati? Saya dalam tanda kutip memang ditulis dengan sengaja, karena ‘saya’ dengan saya, sudah tidak sama. Saya masih lengkap dengan tubuh dan kelengkapannya, sedang ‘saya’ tidak bisa saya gambarkan kepada pembaca, karena saya yang lengkap dengan tubuh dan kelengkapannya, telah berganti menjadi ‘saya’ yang tanpa tubuh, apalagi kelengkapannya.

Memang mereka yang mendalami dunia lain dari dunia nyata, atau alam lain setelah kehidupan, dengan cepat menunjukkan istilah yang lazim dipakai: nyawa, sukma atau ruh dan lain-lain istilah semacam. Tetapi dalam dunia kedokteran hal ini belum dikenal oleh saya, apa istilah medisnya. Untuk ini saya sudah pernah melayangkan pertanyaan ke Ask Yahoo:  Apakah dalam istilah medisnya, yang meninggalkan tubuh manusia setelah tubuh itu tidak dapat lagi melakukan fungsinya seperti sebelumnya?

Karena pertanyaannya saya ajukan di dalam bahasa Inggris, kebanyakan jawaban yang saya terima dari mereka adalah yang menggunakan bahasa Inggris. Ada lima jawaban yang mereka ini adalah dokter-dokter dan saya pilih yang paling mendekati seperti apa yang saya pikirkan sendiri sebelumnya. Jawabannya adalah: «There is no medical term for your question». Saya teruskan pengembaraan jalan pikir yang ada di kepala saya.

apa-kapan-siapa

*Iya, kita semua paham apa yang telah  dimaksud, akan tetapi saya menggunakan dimensi waktu seperti berikut*. Sekarang, tahun 2009, memang sebatas itulah pengetauan manusia. Tetapi bukankah di dunia ini semuanya berubah dan itu termasuk pengetauan manusia, akal manusia dan juga kebudayaan serta mindsetnya juga. Kembali ke dimensi waktu: bukankah cerdik cendekia pada seribu tahun yang lalu mungkin saja batas pengetauannya, tidak bisa melawan apa yang diketaui seorang dewasa muda, semuda yang berumur 25 tahun yang hidup saat ini, tahun 2009??  Saat ini, tahun 2009, bukankah sudah ada lembaga-lembaga research yang penuh dengan informasi yang mutakhir menggunakan alat-alat amat canggih yang belum terpikirkan meski sejak seratusan tahun yang telah lalu?

Dengan demikian data apapun yang telah dijejalkan ke dalam otak saya ini, selama ini, yang saya terima baik dengan sengaja maupun tidak sengaja, patut disesuaikan dengan pola dan jenis semua pembaruan pengetauan yang ada, karena adanya perubahan pengetauan yang berkelanjutan itu. Waktu saya lahir dahulu pada tahun 1938, pengetauan manusia mengenai biologi masih amat terbatas. Manusia bisa mati, tetapi semua orang yang hidup waktu itu hanya menerima nasib atas meninggalnya si mati tadi.

Seorang yang muda seperti Paman saya yang meninggal pada usia 37, tidak pernah ada yang melakukan elaborasi sebab yang lebih mendalam. Nenek saya kalau ditanya, jawabnya juga tidak tau dan tidak ada keinginan untuk tau. Tetapi sekarang orang akan membicarakan gagal jantung, gagal ginjal dan lain-lain yang menyebabkan hal yang mendasar bagi manusia, yaitu kegagalan untuk  seterusnya bisa hidup.

Apa selanjutnya ke depan?

Iya benar, masa depan!

Karena saat ini kita belum bisa mendefinisikan secara medis: apa itu yang disebut nyawa, sukma dan ruh, hal ini tidak membuat manusia bisa dikatakan sebagai manusia yang “bodoh” oleh anak cucu serta cicit kita yang hidup pada era dua ratus tahun sejak sekarang, misalnya pada tahun 2209? Kita misalkan saja pada tahun 2209 sudah bisa diterangkan apa yang disebut dengan nyawa, sukma atau ruh itu secara medis.

Saya juga mulai terikut berpendapat, oleh beberapa orang yang berpendapat bahwa apa yang disebut Tuhan adalah sesuatu yang, pada saat ini tahun 2009, kita tidak bisa mengerti. Tidak mampu menjangkau dengan pengetauan yang ada. Jadi dengan pengetahuan yang dimisalkan sudah jelas: apa itu yang disebut dengan nyawa, sukma atau ruh itu pada tahun 2209, apakah kita akan mengetaui serta mengerti apa itu Tuhan yang sebenarnya? Saya pikir bukan semudah itu. Apa yang dipercaya oleh semua agama, yang Islam menggunakan bahasa Arab dengan kata Allah, yang Kristen menggunakan Allah Bapa dan yang lain menggunakan Sang Hyang Widi, saya duga masih tetap akan menyembah Sang Pencipta Alam yang satu ini, yang selama ini kita kenal sebagai Tuhan.

Bayangkan saja betapa besar alam itu. Yang disebut dengan Jagad Raya, Bima Sakti itu adalah sebuah kumpulan bintang planet dan benda-benda angkasa (ada 100 s/d 400 miliar atau 1 s/d 4 kali 10 pangkat 11 buah) yang amat luas cakupannya. Konon jarak kedua tepinya sampai sekitar 100.000  tahun cahaya. Berapa satu tahun cahaya itu jaraknya?

Ini kita dapat dari Wikipedia:   Tahun cahaya (bahasa Inggris: light year) adalah satuan panjang yang definisinya adalah jarak yang ditempuh oleh cahaya dalam satu tahun melewati  ruang hampa udara. Istilah tahun yang digunakan untuk perhitungan adalah tahun Julian yang mempunyai 365,25 hari atau 31.557.600 detik. Kadang kala rata-rata tahun tropis 31.556.925,9747 detik digunakan. Karena cahaya menempuh kecepatan 299.792.458 meter per detik di  dalam ruang hampa udara, maka dengan menggunakan tahun Julian, satu tahun cahaya angkanya sama dengan 9.460.730.472.580.800 kilometer (5.878.625.373.184 mil). Bila angka ini dikalikan 100.000 maka akan menghasilkan angka yang dimulai dengan 9.460 dan di belakangnya ada total jenderal: 900.460.730.472.580.800.000. Itu adalah jarak garis lurus dari tepi yang satu ke sebuah tepi lainnya yang terletak berseberangan.

Sebuah angka yang saya kehabisan kata sebutannya, karena diikuti oleh dua puluh buah angka di belakangnya, hanya untuk mengucapkannya, dengan satuan kilometer. Bagaimana kalau satuannya sentimeter?? Angka dalam kilometer akan menjadi 27 (duapuluh tujuh) angka dalam sentimeter. Upaya kita mendapatkan data seperti di atas adalah hanya ingin membuktikan bahwa kita ini hanya ibarat sebuah neutron di dalam sebuah atom.

Laksana sebuah titik kecil, malah keciiiilll sekali di jagad raya, di dalam Bima Sakti atau Galaxy yang juga dikenal dengan kata Milky Way. Dari gambaran di atas, maka saya menggambarkan Milky Way ini seperti kueh yang mendekati bentuk doughnut atau donat tetapi di dalamnya seperti spiral dengan bentuk yang tidak teratur. Ukurannya: panjang diameternya: 100.000 tahun cahaya, dan tebalnya 1000 tahun cahaya.

Tuhan dalam benak saya ketika saya masih anak-anak dan Tuhan di dalam benak saya setelah menjadi kakek 71 tahun, sungguh berbeda kebesarannya. Mau pakai ukuran fisik seperti kita pahami saat ini, baru 27 angka saja, saya sudah pusing tujuh keliling. Padahal yang paling mengejutkan saya bahwa di alam ini ada miliaran, ya benar ada bermiliar-miliar, Bima Sakti atau Galaxi atau Milky Way. Sekarang anda akan setuju kan kalau apa yang kita sebut sebagai Tuhan  itu  Tuhan Yang Maha Besar, Allahu Akbar, God Almighty?

Di Planet Bumi ini, saat ini, 2009, ada sekitar enam miliar manusia. Kalau 70% dari mereka memeluk agama atau mempercayai adanya kekuatan Illahi, tentunya sisanya adalah kaum Atheis dan Agnostik. Masihkah perlu kita, manusia ini, membela atau mempertahankan kebesaran Tuhan dan untuk itu berarti bersikap yang mempunyai potensi konflik dengan sesama manusia yang memang berlainan agama dan kepercayaan, dan hidup bersama di Planet Bumi? Mampukah kita membela Tuhan?

Si manusia yang seperti neutron itu?

Marilah kita terima kodrat kita yang memang berlainan itu, lain kodratnya dan lain pula daya dan pola pikirnya. Apabila manusia menghayati betapa kecilnya manusia,  maka tidak ada satu orangpun yang boleh serta pantas bertindak apapun atas nama Tuhan.

Membela Tuhan?

Itu absurd, karena bukankah Tuhan Yang Maha Kuasa?

Adalah perbuatan yang keblinger dan kurang patut kalau ada seseorang yang memaksakan kehendaknya kepada siapapun orang lain, yang menyangkut kepercayaan yang dianut, oleh siapapun, yang tidak sama dengan yang selama ini dipercayai olehnya.

Saya meyakini bahwa apa yang saya dapat di atas, adalah sesuatu yang tidak mungkin bisa saya tuliskan pada tujuh tahun yang lalu. Saya yang saat ini masih lengkap dengan isi ‘saya’ di dalamnya, sudah lain, sudah menua, dan segera serta cepat bertindak menuliskan ini semuanya agar tidak terlupakan pada keesokan harinya.

Saya terkesan dengan sebagian isi email yang berisi kata-kata seorang manula yang umurnya sudah melebihi 90 tahun, bernama Regina Brett dari Cleveland, Ohio, Amerika Serikat:

Life is too short, to waste time hating anyone …

Hidup itu terlalu singkat, menghabiskan waktu dengan membenci seseorang lain …

 

Anwari Doel Arnowo

24/10/2009 –  21:25:13

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.