[Mangole] Tantangan

Imam Dairoby

 

Sebulan lebih aku mengikuti pelatihan di suatu villa di daerah Cisarua Bogor. Ada sebanyak 10 orang dari berbagai perusahaan mengikuti pelatihan tersebut. Dan yang paling muda usia adalah diriku. Sementara teman yang lain berusia di atas 30 tahun. Banyak yang diajarkan dalam pelatihan tersebut, beberapa teori yang tak kudapat selama bekerja menambah pengetahuanku yang nanti dapat kugunakan untuk pengembangan produk kami.

Sesampainya di tempat kerja aku segera dihadapkan dengan beberapa pekerjaan yang membutuhkan beberapa penelitian. Aku diberi tugas untuk menaikkan kualitas export produk kami. Dan itu bukan perkara yang mudah sebab sejak berdiri pabrik ini sejak 3 tahun yang lalu belum pernah juga dapat menghasilkan keuntungan untuk perusahaan. Selama ini pabrik yang didirikan tahun 1990 dan beroperasi tahun 1991 hanya dijadikan proyek uji coba untuk menampung limbah kayu dari produksi Plywood dan Sawmill.

Success and achievement business concept

Dan divisi kami sering dilecehkan dalam beberapa meeting akhir tahun sebab tak ada keuntungan yang diraih malah bisa dikatakan merugi. Aku bersama Mr. Chen kadang berdiskusi sampai malam untuk mendapatkan kualitas yang bener-benar dapat dijual dengan nilai yang lebih. Aku kagum dengan Mr. Chen karena sebagai Manager misi ke depannya sangat besar kadang mengalahkan akal sehat.

Dan yang paling dia tidak suka jika aku berdiskusi dengannya adalah kataku “Aku tidak bisa.” Dengan wajah memerah dia akan berkata “Jangan bilang begitu, bilang saja aku akan berusaha.”

Kalimat itu memecut diriku untuk memberikan yang terbaik. Aku akan berkutat di dalam Laboratorium seharian penuh dengan sering badanku dipenuhi dengan serbuk kayu karena aku keluar masuk ke tempat pengolahan serbuk basah maupun kering.

Aku dibantu oleh David sebagai pelaksana di lapangan. Dan aku akui kami yaitu Mr. Chen, aku dan David adalah satu tim yang sangat hebat. Mr. Chen memiliki misi yang kuat dan aku dapat mewujudkan misinya dalam skala laboratorium sedangkan aku dan David bersama-sama mewujudkan di lapangan.

Tak sampai setengah tahun produk kami mencapai 95 persen untuk kualitas export, kuantitas kami mencapai target dan berpengaruh bagi semangat seluruh karyawan karena kami mendapat beberapa bonus yang diberikan perusahaan. Saat Meeting akhir tahun pun kami memang belum mendapatkan keuntungan tetapi kami pun tidak mengalami kerugian.

Keberhasilan tersebut membawa diriku pada promosi untuk menjadi seorang Kepala Laboratorium. Dan kadang aku merasa tidak enak dengan beberapa rekan yang telah bekerja lebih lama denganku. Tapi dengan semangat jiwaku yang masih muda ditambah ambisiku untuk melakukan yang terbaik aku tak pernah memikirkan hal tersebut. Mungkin aku terlalu arogan juga. Hingga hal tersebut merugikan aku secara sosial. Aku tak memiliki teman akrab satupun.

Misi Mr. Chen tak pernah berhenti sampai di situ. Dalam kunjungan ke Jepang bersama tim Marketing dia menerima beberapa tawaran yang diajukan beberapa perusahaan dari Jepang. Saat kembali ke pabrik, diperkenalkan aku dengan beberapa sampel yang diambil dari Jepang dan produk itu berasal dari Eropa.

Mr. Chen mengatakan belum ada produk particle board dari Indonesia yang bisa menembus pasaran Jepang karena beberapa persyaratan dengan standar yang sangat tinggi. Salah satunya adalah yang menyangkut keamanan lingkungan yaitu emisi dari formaldehyde produk harus di bawah 5 ppm.

Aku terperanjat sebab setahuku emisi rata-rata kami adalah 20 ppm. Jadi aku berpikir akan betapa sulitnya mencapai standar itu, sebab untuk kualitas pengujian laboratorium pun harus sangat bagus. Mr. Chen tahu mengenai kesulitan itu .

Dia hanya berkata padaku bahwa dia akan memberi kesempatan seluas-luasnya padaku untuk membuat produk dengan kualifikasi seperti itu, walaupun dengan konsekuensi produk kami tiap bulan akan turun kualitas dan kuantitasnya.

Atas jaminan dari Mr. Chen aku bersama tim Laboratorium dan beberapa operator melaksanakan pengujian untuk mendapatkan produk yang dimaksud. Tak semudah yang dibayangkan, bermandi peluh, tatapan curiga dan sering luapan kata yang tak mengenakan dari teman kerja yang lain.

Standar yang sangat tinggi membuat diriku harus melakukan pengujian dalam laboratorium seharian penuh. Bergulat dengan bahan-bahan kimia yang sering membuat pernafasanku terganggu. Kadang letih mendera jiwa dan raga, hanya karena suntikan semangat dari Mr. Chen sehingga aku masih bisa lepas mengendalikan otakku yang kadang telah ke tahap yang sangat rendah.

Selain tantangan dari diri sendiri, teman-temanku juga menjadi tantangan tersendiri pula. Saat akhir bulan kami melakukan meeting dan saat itu akan terjadi adu mulut yang memperjuangkan posisi masing-masing agar dilihat siapa yang paling benar. Saat produksi kami sedang dalam keadaan tidak bagus, semua bagian ujung-ujungnya adalah menyalahkan bagian ku karena seringnya kami melaksanakan uji lapangan yang berpengaruh pada hasil produksi.

Suatu saat selesai meeting akhir bulan, temanku dari bagian mekanik mendatangiku dengan wajah memerah. Aku tahu dia tadi diserang habis-habisan oleh Mr. Chen.

“Imam,” dia memanggil dengan agak keras.

“Ya Dra, ada apa,” kataku. Temanku bernama hendra

“Kamu adalah orang yang paling aku tidak suka di sini, kamu penjilat, kamu tak pernah memikirkan orang lain, kamu egois dan kamu seperti sampah!” luapan kemarahan Hendra membuat aku tercekat tak dapat mengeluarkan kata sepatah kata pun. Aku hanya berdiri terdiam. Kupandangi matanya, kulihat sorot kemarahan yang sangat dalam.

“Sudahlah Ndra, jangan berkata seperti itu sama Imam,” Adi seakan melerai kami. Dia menarik tangan Hendra untuk menjauhkannya dari diriku.

“Pantas saja kamu tidak memiliki kawan, karena dirimu sangat egois hanya memikirkan diri sendiri, tanpa pernah merasa ada orang lain yang membantu segala yang kamu kerjakan. Kamu tak pernah berpikir bahwa kamu tidak bisa untuk hidup sendiri,” Hendra masih mengeluarkan kata-kata yang pedas saat dia digelandang Adi menuju ke ruangan lain.

Aku terdiam dan sangat terkejut. Kudalami samua kata-kata yang diucapkan Hendra. Benarkah aku seperti itu. Aku memutar kembali sagala apa yang aku lakukan, kudapati diriku memang seperti apa yang dikatakan oleh Hendra. Aku telah berubah menjadi sosok yang sangat egois dan arogan. Apakah hanya karena aku dipercaya oleh atasan sehingga aku menjadi pribadi yang sangat berbeda dari diriku sebenarnya.

Perlahan air mataku bergulir, aku tersadar ada yang harus diubah dalam diriku. Ketidak pedulianku, kearogananku, serta keegoisan ku telah menjadikan aku sebuah mesin bukan lagi sebagai manusia yang mengerti akan perasaan orang lain. Aku tak sanggup untuk bekerja pada hari itu, pikiranku telah membawa pada jiwa dan ragaku ke tahap yang paling dasar. Aku sangat terpukul. Aku memutuskan untuk pulang ke Mess untuk menenangkan pikiranku karena bila dipaksakan pun aku akan tidak konsentrasi dalam bekerja.

Rentang panjang waktu telah ku habiskan
Jatuh bangun dalam kehidupan
Mengisi dan menuai apa yang ku citakan
Tapi masih ada sekat dalam jiwa
Aku coba menata
Walau

Terkadang terjerembab dalam lubang yang sama

Terdengar ringkikan cemooh dari sesama

Serta sunggingan sarkasme yang menusuk

Sering jiwa terpuruk melihat dan merasakan

Hingga Tuhan memberi sesuatu

Yang tak pernah terbayang daam ingatan

Semangat
Pelajaran
Motivasi
Hingga diri terkuak

Sesuatu yang sudah lama terpendam

Tergali
Tersibak
Dan seketika ku tegakkan ragaku

Saatnya ku bangkit

Berjalan walau masih dalam temaram

Tapi ku yakin Tuhan berada di sampingku

Membimbingku bersama orang-orang yang peduli

Untuk menghantarkan diriku

Menapak LANGKAH BARU

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.