Naik Mulut Kepala Singa

Henky Honggo

 

Petualangan Pulau Temasek

Menjelang akhir tahun 2014, Henky Honggo bersama dua sahabatnya Muhammad Al Amin dan Muhammad Rizky Adrima melakukan perjalanan backpacker ke negeri Singapura. Perjalanan yang dilakukan melalui rute Palembang ke Batam, setelah itu dilanjutkan ke Singapura dengan kapal ferry. Berhubung ini adalah akhir tahun, maka kapal ferry cukup ramai dan padat dengan wisatawan dari tanah air yang berlibur ke Singapura dan Malaysia. Pada saat di Batam, kami berkesempatan berkunjung ke Tribun Batam dan bertemu dengan Mas Ginda Alamsyah selaku manager iklan. Rombongan pun disambut hangat oleh Mas Ginda, sambil bercerita tentang perkembangan Tribun di Batam. Setelah itu diajak juga untuk melihat dan berkeliling di ruang percetakan yang berada di komplek kantor Tribun Batam.

20141230_153730

Setelah dari kantor Tribun Batam, rombongan langsung menuju ke pelabuhan di Batam Center dan menaiki kapal Sindoferry untuk menyeberang ke Singapura. Keluar dari imigrasi, rombongan menuju ke loket MRT (Mass Rapid Transit) untuk membeli EZ-Link Card. Ini adalah kartu yang dapat membayar seluruh transportasi dan akomodasi lainnya, sehingga kemana pun pergi, hanya satu EZ-Link Card yang digunakan. Kartu ini merupakan fasilitas yang mudah dimiliki seluruh turis yang berkunjung ke Singapore.

Berhubung sistem perjalanan dengan cara backpacker, maka tempat menginap pun yang dicari adalah hostel (tempat penginapan murah untuk para traveller). Lokasi hostel berada di wilayah Lavender yang dekat MRT, sehingga tidak terlalu jauh untuk berjalan ke station-nya.

Pada hari pertama sampai, rombongan berkunjung ke Orchard Road, salah satu jalan protokol di Singapure. Sepanjang jalan Orchard Road tersebut sudah dihiasi lampu-lampu dekorasi untuk menyambut malam tahun baru. Inilah yang menarik para turis untuk ber-selfie ria di sepanjang Orchard Road. Malam pun bertambah larut, perjalanan diteruskan ke Clarke Quay dengan menggunakan MRT. Saat sampai di Clarke Quay, rombongan sempat salah jalan saat menuju ke Singapore River, sehingga harus kembali dengan menumpang bus. Saat itulah, baru merasakan bahwa EZ-Link Card digunakan untuk membayar bus dengan dua kali tap, yaitu sekali tap untuk masuk dan sekali tap untuk keluar.

Kehidupan di tepi Singapore River sangat ramai dan tertata rapi, tidak hanya turis dari Asia saja, tapi dari berbagai negara. Di sana juga terdapat kapal kecil yang disewakan kepada para pelancong untuk menelusuri keindahan Singapura melalui Singapore River. Malam pun semakin larut, rombongan juga berkeliling melihat atraksi bungee jumping yang cukup membuat jantung berdebar kencang dan atraksi ini tidak terlewatkan untuk direkam.

Pada hari kedua, kunjungan ke Chinese Garden, sebuah taman kota yang cukup luas dan asri. Chinese Garden ini berisi pagoda, patung-patung pahlawan, replika jembatan romantis serta berbagai macam jenis tanaman. Taman ini biasa digunakan oleh penduduk Singapore untuk jogging pada pagi hari. Setelah dari Chinese Garden, rombongan menuju ke Bugis Junction, suatu kawasan yang mirip dengan pasar tradisional di nusantara. Wisatawan pun dapat berbelanja barang kebutuhan dan oleh-oleh yang murah.

Menjelang sore hari, perjalanan dilanjutkan ke Sentosa Island, sebuah pulau yang dibuat khusus untuk berwisata. Ada tiga alternatif akses untuk menuju ke sana yaitu cable car, monorail train dan jalan kaki, tetapi rombongan memilih berjalan kaki (boardwalk). Sampai di pintu gerbang Sentosa Island, masuk menggunakan pintu otomatis dengan tiket masuk S$ 1, dan kembali membayarnya menggunakan EZ-Link Card, praktis sekali. Di arena Sentosa Island, rombongan masuk ke patung Merlion, di dalamnya ada pertunjukkan film kisah asal mula terbentuknya negara Singapura, kemudian menaiki mulut serta kepala Merlion untuk melihat keindahan di sekitarnya.

Pada malam harinya, melihat atraksi yang cukup unik yaitu Wings of Time. Pertunjukkan yang menggabungkan sinar laser, api, air, asap, dan tokoh yang diperankan oleh manusia serta animasinya. Cerita dari pertunjukkan ini adalah petualangan sepasang kekasih bersama seekor burung yang terbang mengarungi samudra dengan berbagai rintangan yang sempat terpisah dan bersatu kembali.

Pada hari ketiga, rombongan menuju ke Raffles Place yang merupakan pusat kota dari Singapura. Di daerah tersebut, sebagian sedang direnovasi, namun untuk patung Merlion yang mengeluarkan semburan air dari mulutnya, masih terbuka untuk umum. Hari itu tepat tanggal 31 Desember 2014, yang merupakan malam tahun baru, sehingga banyak sekali pekerja yang mempersiapkan untuk acara malam tahun baru. Beberapa ruas jalan ditutup dengan pagar besi untuk menjaga alat-alat elektronik yang digunakan pada malam harinya. Tapi, rombongan masih berkesempatan untuk berfoto di sekitar patung Merlion dengan pemandangan berlatar Esplanade Concert Hall, Marina Bay Sands juga sungai yang berisi balon-balon dengan tulisan doa dan harapan untuk tahun 2015.

Setelah dari Raffles Place, tujuan selanjutnya adalah ke kawasan China Town, salah satu kota tua yang ada di Singapura. Wilayah ini sudah menjadi pusat perdagangan antar kerajaan sejak berabad-abad silam. Di sana juga terdapat pasar tradisional yang berisi kebutuhan sehari-hari dan berbagai pernak pernik untuk cinderamata. Saat di China Town, Muhammad Al Amin dan Muhammad Rizky Adrima melakukan sholat di Mesjid Jamae. Konon menurut sejarah, mesjid ini dibangun oleh pedagang dari India Selatan pada abad ke 18.

Menjelang sore, dari China Town menuju ke Changi Airport untuk melihat salah satu bandara terbaik di dunia. Di dalam Changi Airport terdapat tiga terminal, dan antar terminal tersebut disediakan transport gratis dengan skytrain, dan inipun dicoba oleh rombongan.

Pada malam harinya, rombongan melewati pergantian tahun di Marina Bay Sands. Saat masuk ke Marina Bay Sands Mall, banyak sekali pengunjung yang ingin menikmati pergantian tahun tersebut, sehingga membuat arus ke sana menjadi lautan manusia yang sangat padat. Namun, begitu penuh sesaknya manusia di sana, tetap bisa tertib berjalan dari awal sampai tempat tujuan. Akhirnya, rombongan dapat menikmati pesta kembang api pada detik-detik pergantian tahun. Setelah selesai, semua pengunjung pun membubarkan diri, juga dengan kondisi yang tertib dan terkendali. Tepat keesokkan harinya tanggal 1 Januari 2015, rombongan kembali ke Batam dan menyempatkan diri untuk keliling kota yang sedang berkembang saat ini. Pada sore harinya, dari bandara Hang Nadim kembali ke Palembang sebagai akhir dari perjalanan. Sebuah petualangan backpacker sederhana yang menyenangkan. (henky honggo)

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *