Unclassified

djas Merahputih

 

Tuhan selalu berkorelasi dengan kebenaran. Ia absolut. Tak seorangpun mampu dan boleh memonopoli sebuah kebenaran. Kecuali, pada penafsiran bahwa kebenaran akan selalu memberi manfaat.

Manusia primitif hidup dari generasi ke generasi dengan mewariskan budayanya. Bahasa, seni, ritual, bangunan, pakaian, makanan serta norma-norma. Beratus-ratus tahun hingga suatu saat datanglah sebuah agama yang dianggap “aneh”. Ya, agama nampak aneh sebab nenek moyang mereka tak mengenalnya. Sangat jelas, agama akan selalu mendapatkan resistensi dari budaya manusia. Sekali lagi, sebab ia adalah sesuatu yang “asing” bagi kebudayaan manusia.

img01. Agama atau Tradisi?

img01. Agama atau Tradisi?

Negosiasi akhirnya terjadi. Agama melebur dalam kebudayaan. Hingga beratus-ratus tahun setelahnya, manusia tak pernah lagi meributkan tentang agama. Toh ia telah menyatu dalam budaya mereka.

Sejarah terus berjalan dan ilmu pengetahuan manusia berkembang begitu hebat. Begitu hebatnya ilmu berkembang hingga ketakjuban pada teknologi mengalahkan rasa aneh manusia saat pertama kali mengenal sebuah agama. Padahal keduanya berasal dari kondisi batin yang sama, yaitu ketidaktahuan. Agama dan ilmu pengetahuan akhirnya bermusuhan.

Keduanya memang jauh berbeda. Agama adalah sesuatu yang statis, sementara ilmu pengetahuan adalah sesuatu yang terus berkembang dan bahkan melaju sangat cepat. Kebudayaan manusia berada di antara keduanya. Ia statis, berlaku turun-tenurun. Namun di sisi lain, akibat kecerdasan manusia sendiri, kebudayaan disikapi berbeda oleh generasi yang lebih muda. Ilmu pengetahuan menyeret kebudayaan manusia, sementara agama menahannya agar tetap seperti semula. Sebuah perubahan dipandang oleh agama/kebudayaan sebagai melanggar ajaran nenek moyang yang turun-temurun mereka yakini.

Sesuai dengan penafsiran bahwa kebenaran akan selalu membawa manfaat, maka para ilmuwan dan akademisi hebat menganggap agama sebagai hal yang sia-sia. Sementara agama, yang telah lebur dalam budaya menganggap ilmu pengetahuan selalu ingin mengubah sesuatu dan pada akhirnya akan membawa manusia pada bencana. Bencana akan selalu datang saat ajaran atau petuah nenek moyang manusia dilanggar.

img02. Sains yang menakjubkan

img02. Sains yang menakjubkan

Ternyata, di luar dugaan, agama juga berkembang. Ia sesungguhnya tidak berubah, hanya menjadi semakin lengkap. Masyarakat yang telah menguasai ilmu pengetahuan tetap menyangka agama adalah sesuatu yang statis dan menyandera ilmu pengetahuan. Celakanya, ilmu pengetahuan manusia sesungguhnya belum selengkap agama terakhir yang telah ada. Para ilmuwan juga lupa bahwa manusia sangat dibatasi oleh pancaindra.

Manusia masih perlu menunggu penemuan peralatan paling mutakhir untuk mampu mengungkap hal terkecil hingga hal terbesar di dunia ini. Namun, dengan segala keterbatasan itu para ilmuwan jenius tetap sepakat bahwa Tuhan itu tak pernah ada. Paling tidak untuk saat ini. Tuhan barulah dianggap ada jika telah terdeteksi oleh pancaindra melalui peralatan yang mereka kembangkan. Itu adalah pernyataan dan hukum absolut ilmu pengetahuan. Semuanya butuh bukti. Tanpa bukti semuanya hanyalah hipotesa, belum menjadi teori.

Dalam pandangan tersebut, ajaran agama dianggap masih berada dalam tahapan hipotesa. Ia belum menjadi sesuatu yang mengikat atau telah berubah status menjadi sebuah teori. Kembali lagi, nampaknya ilmu pengetahuan memang tak akan pernah akur dengan agama. Agama yang sebenarnya masih terdefenisi dalam kebudayaan manusia. Agama dan kebudayaan belum dipandang sebagai sebuah identitas berbeda.

Membedakan agama dan kebudayaan sesungguhnya tak sulit. Agama adalah bagian integral dari sebuah kebenaran absolut. Agama adalah jalan untuk mengenal atau bahkan menyaksikan Tuhan. Ia berlaku universal dan nilai-nilainya dapat diterapkan dalam berbagai macam kebudayaan, di manapun. Sementara kebudayaan akan selalu menyatu dengan masyarakat dan tempat asalnya. Kebudayaan terikat oleh ruang, waktu dan manusia-manusia tempatnya berasal.

Interaksi manusia dalam era global telah menghapus sekat geografis manusia. Mereka bisa berinteraksi dengan siapapun dan dimanapun. Kebudayaan mau tak mau akan turut melebur. Sementara agama, yang terlanjur lebur dalam kebudayaan manusia masih kebingungan menempatkan dirinya. Dan, ilmu pengetahuan sudah terlanjur pula membagi-bagi kebudayaan manusia berdasarkan sejarah dan asal muasalnya.

img03. Di manakah letak agama?

img03. Di manakah letak agama?

Agama, sesuatu yang nilai-nilainya universal tadi, akhirnya ikut terklasifikasi berdasarkan asal-usul penyebarannya. Ilmu pengetahuan tak mampu membedakan agama dan kebudayaan yang sesungguhnya bersumber dari dua hal berbeda. Kebudayaan adalah warisan antar generasi, sementara agama bersumber dari kebenaran absolut. Sesuatu yang berada di luar diri manusia-manusia berkebudayaan ini.

Agama dan kebenaran absolut menjadi terklasifikasi. Agama dan kebenaran absolut akhirnya terabaikan oleh para ilmuwan. Sebab, dalam ilmu pengetahuan, sesuatu haruslah bersifat universal untuk dapat menjadi hukum atau teori. Mereka belum meyakini bahwa agama adalah sebuah kebenaran absolut dan juga sesuatu yang unclassified (tak dapat dikategorikan).

img04. Agama Unclassified?

img04. Agama Unclassified?

Nilai-nilai agama hanya akan mengenal kata bermanfaat. Sisanya tingallah kebudayaan. Ilmu Pengetahuan pun hanya akan berkembang jika didasari oleh nilai kebenaran, yaitu manfaat. Sayangnya, ilmu pengetahuan pula yang memecahbelah kebenaran itu. Dan lihatlah kehancuran yang ditimbulkannya. Perang adalah produk ilmu pengetahuan paling tidak bermanfaat yang bersumber dari usaha untuk mengilmiahkan nilai-nilai agama, usaha untuk memonopoli kebenaran serta usaha memecah-belah nilai-nilai keTuhanan.

 

 

About djas Merahputih

Dari nama dan profile picture'nya, sudah jelas terlihat semangat ke-Indonesia-annya. Ditambah dengan artikel-artikelnya yang mengingatkan kita semua bahwa nasionalisme itu masih ada, harapan itu masih ada untuk Indonesia tercinta. Tinggal di Sulawesi, menebar semangat Merah Putih ke dunia melalui BALTYRA.

My Facebook Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.