Bekisar Merah yang Menyanyi dan Gembira

Dwi Klik Santosa

 

Kemenangan yang baik itu kiranya adalah kemenangan yang sekalian dan semuanya saja merasa senang dan gembira menyambutnya. Tidak saja bagi tim terbaik yang notabene adalah sang pemenangnya dan layak digelari juara. Tapi juga bagi tim lainnya, panitia dan masyarakat yang menontonnya. Sederhana, gembira dan rukun! Begitulah, peristiwa Minggu pagi tadi, sekalipun main tegang, tidak seperti ketika bermain di babak semifinal, 2 minggu yang lalu, Bekisar Merah, mampu mengalahkan juara bertahan PBH 01, 5-2.

JUARA: hasil kerja keras semua yang terlibat emosi. Pemain, pelatih, manager dan para pendukung yang selalu hadir antusias

JUARA: hasil kerja keras semua yang terlibat emosi. Pemain, pelatih, manager dan para pendukung yang selalu hadir antusias

Menyabet Piala Silaturahmi Puri Bintaro Hijau, dan menetapkan Iyong Bakhtiar, kapten Bekisar Merah sebagai Pemain terbaik. Sayangnya, Bilal sang striker pada pertandingan Final kali ini tidak membuat gol. Sehingga perolehan koleksi 4 golnya hasil menjalani pertandingan sejak babak penyisihan, tak lantas menetapkannya sebagai pencetak gol terbanyak. Dan gelar untuk pencetak gol terbanyak diterima dari tim lain, yang hanya berselisih 1 gol, yaitu 5. Begitulah konsekwensi dari permainan Total Football, bahwa semua pemain bisa menciptakan gol. Tak kurang Imam, sang kiper pun pada pertandingan ini juga melesakkan 1 gol menambah poin kemenangan untuk Bekisar Merah.

Secara umum pertandingan dikuasai Bekisar Merah. Cuma dalam posisi menang 1-0, lalu disamakan menjadi 1-1. Lalu memasukkan lagi 2-1, lalu disamakan menjadi 2-2, cukup membuat aura pertandingan tegang. Tak kurang, para pemain Bekisar Merah tegang dan kakunya minta ampun. Operan dari kaki ke kaki yang menjadi ciri dan khasnya selama ini seperti hilang. Semata-mata banyak kesalahan secara elementer. Kontrol, drible, umpan dan shot yang tak nyaman dipandang mata. Bola liar saja seperti asal saja menggulir. Menyedihkan! Saya tak hendak bilang, secara psikologi, musuh memengaruhi ritme permainan, tapi juga harus saya akui, pemain-pemain kami tegang dan tidak bisa juga keluar untuk bermain lepas.

Namun secara umum, jika harus dinilai, Bekisar Merah berhasil dalam melakukan ball position, Iyong sang kapten yang saya minta secara khusus untuk menjaga striker utama mereka yang sangat lincah dan berbahaya gerakannya, cukup berhasil. Adapun 2 gol yang mereka ciptakan, kurang lebih adalah kepanikan Imam saja, kiper kami, yang kelewat tegang, sehingga bola sering merucut dari tangkapannya, dan bergerak liar membentur gawang lalu masuk menggetarkan jaring. Ketiga gol selebihnya, memang seperti menjawab kepastian akan kesiapan Bekisar Merah dibandingkan tim lainnya. 5-2, jumlah skor yang wajar saja. Saya bayangkan seandainya, para pemain kami tidak terkena demam final, pastilah akan lebih dari 10 gol lahir.

Ketenangan yang hilang dalam sebuah pertandingan, sangat nyata memengaruhi proses dan lantas menentukan hasil. Kepada Iyong sang kapten, meski Bekisar Merah juara dan ia dinobatkan sebagai pemain terbaik, tetap saya tekan dengan kata-kata saya seperti biasanya.

“Seorang kapten itu ibaratnya pemegang amanah dan punya peran yang vital atas peristiwa; laju dan majunya sebuah permainan,” ujarku, “jika kamunya tegang, maka semua awakmu tegang. Nah, semoga kamu mengerti kenapa saya memilihmu sebagai kapten.”

Namun, meski bernada marah sepertinya, tak dapat saya pungkiri, saya pun senang dengan capaian pada perhelatan turnamen futsal di sekaukus kompleks kampung kami di Puri Bintaro Hijau ini. Minggu pagi yang cerah dan indah.

PEMAIN TERBAIK: Iyong Bahtiar, kapten tim Bekisar Merah yang bermain bagus sebagi playmaker, memang layak dinobatkan. Nalurinya sebagai pembagi bola, adalah juga punya kesadaran untuk menjaga wilayah pertahanan gawang, sekaligus menyerang, bahkan shotingnya yang keras acap berbuah gol. setidaknya selama turnamen berlangsung sudah 4 gol di kemasnya. Begitulah playmaker modern, menurut saya, selain konsentrasi pada tugasnya, tapi juga membagi peran itu secara tim

PEMAIN TERBAIK: Iyong Bahtiar, kapten tim Bekisar Merah yang bermain bagus sebagi playmaker, memang layak dinobatkan. Nalurinya sebagai pembagi bola, adalah juga punya kesadaran untuk menjaga wilayah pertahanan gawang, sekaligus menyerang, bahkan shotingnya yang keras acap berbuah gol. setidaknya selama turnamen berlangsung sudah 4 gol di kemasnya. Begitulah playmaker modern, menurut saya, selain konsentrasi pada tugasnya, tapi juga membagi peran itu secara tim

Minggu pagi yang cerah dan indah. Sekali lagi. Lalala …. Setidaknya menutup pemikiran yang kusam, masam, pahit bahkan, merenungkan peristiwa Indonesia kita yang kental dan demam oleh arus politisasi tingkat tinggi dan tiada berakhir. Mencari kebenaran dalam level ini seperti “Menunggu Godot” yang digambarkan satrawan kondang Perancis, Samuel Beckett, sebagai ketidakpastian yang pasti. Ranah utopia yang entah, yang memungkinkan siapapun juara atau pemenangnya adalah kemusykilan terjadi secara wajar. Memuakkan belaka! Bertabur spekulasi dan komentar dari siapapun yang terlibat emosi dan ingin saling dianggap. Saling menertawakan, saling tegang dan saling apriori. Seperti benang kusut yang entah darimana caranya menjadi lagi benang yang lurus, lempang dan memanjangkan harapan.

TOTAL FOOTBALL: permainan yang merata, artinya tidak berfokus pada striker saja, gol itu niscaya diharapkan bisa lahir. Bahkan kiper pun jika taktis dan cermat dalam bertanding juga bisa membuat gol. Memberi bukti pada pertandingan Final ini, Imam sang kiper membuat gol yang bagus dari tendangan kerasnya. Dan bahkan 5 gol terlahir, justru 4 di antaranya dilesakkan pemain belakang. Karena ketatnya diberlakukan tim PBH 01 untuk menjaga pergerakan 2 striker kembar kami

TOTAL FOOTBALL: permainan yang merata, artinya tidak berfokus pada striker saja, gol itu niscaya diharapkan bisa lahir. Bahkan kiper pun jika taktis dan cermat dalam bertanding juga bisa membuat gol. Memberi bukti pada pertandingan Final ini, Imam sang kiper membuat gol yang bagus dari tendangan kerasnya. Dan bahkan 5 gol terlahir, justru 4 di antaranya dilesakkan pemain belakang. Karena ketatnya diberlakukan tim PBH 01 untuk menjaga pergerakan 2 striker kembar kami

STRATEGI PERATURAN: Bahwa setiap pemain harus tahu dan paham aturan main, sehingga menanamkan pengertian ketika bertanding apa yang seharusnya dan sepantasnya dilakukan. Tidak boleh seorang pemain pun dungu!

STRATEGI PERATURAN: Bahwa setiap pemain harus tahu dan paham aturan main, sehingga menanamkan pengertian ketika bertanding apa yang seharusnya dan sepantasnya dilakukan. Tidak boleh seorang pemain pun dungu!

Ah, ya, ya … begini pusing ikut memikirkan arus politisasi itu. Bekisar Merah! Bekisar Merah! Sekalipun hanya kabar dari sudut kampung, tapi setidaknya ini fragmen yang nyata, membawa kesenangan dan kegembiraan. Semoga mampu memercik apinya membakar kemalasan yang menerpa dan menerkamku akhir-akhir ini.

Salam optimis dari kampung!

Pondokaren 25 Januari 2015 : 11.oo

HURAAAAAAAA: Semuanya menyambut gembira!

HURAAAAAAAA: Semuanya menyambut gembira!

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.