The Better I am (?)

Anwari Doel Arnowo

 

Ini asli ungkapannya: The Older I Get, The better I Was. (= Makin tua, saya dahulu lebih hebat). Begitu bila dimaksudkan untuk melucu sedikit. Akan tetapi yang sebaliknya bukankah amat mungkin terjadi, kan? Pada hari Sabtu, 25 Januari, 2015, saya diundang via lisan, juga via email, tetapi saya datang oleh karena ada teman dari Bandung yang mengingatkan tentang acara ini, bukan karena saya teringat sendiri pagi itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Ternyata acaranya bertempat di lantai 15 Gedung Universitas Katholik Atma Jaya di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. Mobil yang saya tumpangi membawa saya langsung menanjak ke lantai 4 dan saya disilakan turun, serta menuju ke atas dengan menggunakan lift. Di situ telah seratusan lebih peserta berkumpul, semuanya dari SMA Katholik di Jalan Talang dan lebih terkenal dengan SMA Dempo, di kota Malang, Jawa Timur. Lumayan banyak yang saya kenali tetapi mereka ini adalah kaum oldies seperti halnya diri saya sendiri.

Yang kurang saya perhatikan pada awalnya, ternyata mereka ini dari macam-macam angkatan tahun belajarnya. Banyak di antara mereka yang adalah senior saya, yang telah pernah menjadi orang terpandang pada jamannya, tetapi mereka justru lebih tua dari saya dan sebagian tentu saja almarhum. Dua sudah mendahului kita dan sisanya masih ada di antara yang survived. Di antara yang saya masih ingat namanya adalah: Drs. Rachmat Saleh, Rudini, Sumarlin, Ben mBoi.

Dari celoteh yang ramai-ramai, baik teriakan gembira karena bertemu dengan yang telah lama tidak dijumpainya, maupun pada bagian acara menyanyi dan para penyelenggara mengumumkan ini dan itu, tiba- tiba bahu saya diguncang dari arah belakang. Ketika saya menoleh justru saya ditunjukkan agar mau melihat  ke arah depan dan mendengarkan seseorang yang berbicara menggunakan microphone.

Terdengar oleh saya: “Siapa yang usianya paling tua dari sekolah kita ini, yang sekarang hadir?? Terdengar teriakan yang bermacam-macam dan dari arah belakang saya sekali lagi malah terdengar: “Kamu itu Anwari. Kamu!!” Saya kurang yakin, tetapi suara bertambah lantang mengatakan yang sama. Didorong dan ditariklah saya berjalan ke depan ke arah si pembawa acara. Wah dunia sempit! Dia si Nyonya Manis ini, pembawa acara itu, ternyata telah saya kenal beberapa tahun yang silam. Kita sering bertemu di dalam acara reuni juga dari para pelajar di Kota Malang tetapi dari SMA Negeri 3 B, yang menggelar lelucon sandiwara Ludruk, yang saya pernah ikut serta juga menjadi figuran pemain untuk pelengkap saja. Memang saya juga bisa melucu dan membuat orang lain tertawa. Akan tetapi di atas panggung?? Bila untuk melucu apalagi untuk melawak di atas panggung, jelas amat terbatas kemampuan saya. Waktu itu di acara Ludruk di panggung telah ada beberapa orang yang memang pelawak.

Nama-nama masyhur seperti Kadir, Polo, Eko, semuanya berasal dari gerombolan Srimoelat. Melihat mukanya saja para penonton bisa bersiap untuk tertawa. Jadi ringanlah tugas saya karena adanya mereka bertiga. Memori yang seperti itulah, — eh — kali ini terpaksa saya malah akan  diarahkan untuk ber”pidato”.  Untuk hanya beberapa detik saja saya bisa menata diri menyiapkan mental tidak akan melawak apalagi berpidato. Saya hanya berbicara normative, mengatakan umur saya 76 dan akan menjadi 77 pada bulan Mei nanti.

Ada yang menyeletuk bicara bagaimana caranya saya bisa sanggup berpenampilan sesehat seperti itu, saya hanya menjawab sederhana saja: Ada dua hal. Satu: saya ini selalu memakai sepatu olah raga seperti ini, sambil menunjuk ke arah sepatu saya. Dua: kemudian juga sambil saya tunjuk gigi saya yang lengkap dan teratur, saya berkata: “Meskipun sudah banyak gigi palsunya dan sudah saya pasangkan sebanyak 4 (empat) buah implant, di antara sebanyak 29 buah gigi saya sekarang. Saya merawat gigi saya dengan baik, karena dengan gigi seperti inilah, segala makanan bisa saya kunyah dengan kelembutan yang cukup sesuai dengan kemampuan daya hancur dan kunyah makanan yang bisa di”saji”kan oleh mulut saya. Semuanya bagi perangkat pencernaan yang tersedia di dalam tubuh saya. Singkatnya adalah sepatu olah raga dan gigi yang fungsional. Salah seorang dokter gigi yang merawat gigi saya pernah berkata: “Gigi-gigi Bapak adalah gigi seorang tua yang paling banyak jumlahnya, yang pernah saya lihat.”

Tubuh saya memang biasanya sehat. Sudah lebih tiga tahun saya tidak berkonsultasi mengenai tubuh saya ke dokter, kecuali ke dokter gigi pada dua minggu yang lalu. Dokter ini bilang bahwa harga pemasangan implant yang buatan USA saat ini adalah sekitar 30 jutaan Rupiah sebuahnya. Biayanya mungkin terasa mahal merawat gigi, karena keihatannya kecil dan sepele.

Marilah kita renungkan hal itu.

Di dalam upaya kita merawat alat-alat pencernaan di dalam tubuh, bilamana ada yang manapun yang sakit atau berpenyakit, akan memakan biaya amat besar sekali. Biaya mungkin akan meliputi puluhan kali lebih besar bila ada gangguan pencernaan bersamaan dengan konsekwensi perluasan sakitnya. Semua itu akibat alat pencernaan di dalam tubuh kita, bisa saja tidak mampu melaksanakan tugasnya dengan lebih sempurna atau harus bekerja lebih luar biasa keras dari kemampuannya karena kurangmya kunyahan gigi kita sendiri.

Jangan biarkan gigi ompong di sana dan di sini. Isilah dengan gigi palsu segera. Ingatlah dengan bertambahnya umur maka gusi yang biasa menahan bebannya gigi dalam melumat makanan, juga ikut menjadi tua dan melunak seperti bagian tubuh kita yang lain. Seorang pemuda bertubuh tinggi besar yang duduk di samping saya bertanya kepada saya: “Bapak dulu pada tahun berapa menyelesaikan belajar di sekolah kita?”

Saya jawab: “1958”.

Dia membelalakkan matanya dan berkata: “Wah itu tahun lahirnya Ibu saya, bukan tahun ibu lulus sekolah!!” Saya jawab: “Iyaa hampir setengah abad, ya??” Begitulah waktu berlalu, membuat saya sering bertanya mengapa saya meskipun sudah tidak lagi bekerja sejak tahun 1998, saya masih merasakan kekurangan waktu.

Bila saya menganggur secara fisik, otak saya selalu mendesak-desak ingin menuliskan hal-hal yang terasa dan terlihat “sepele” seperti di atas.

Bagi saya, sudah saya latih tubuh dan mental agar tidak terlalu menganggap sepele apapun jua, sebelum saya melibatkan diri terhadap sesuatu. yang kelihatan sepele untuk dituliskan. Keluar dari pikiran di otak saya, itu saja sudah saya syukuri dan pasti saya segera laksanakan dan kerjakan. Tak saya biarkan mengendap  di dalam benak, secepatnya saya lepas dan lemparkan. Bila saya tunda, akan menjadi terlupakan topiknya. Begitulah umur manusia itu amat mempengaruhi kemampuannya dalam banyak hal.  Bila kemampuan memang tidak bisa ditingkatkan lagi, maka pertahankan dan jaga sajalah di peringkat yang sekarang, jangan anda biarkan apabila menurun arah geraknya.

 

Anwari Doel Arnowo 

26 Januari, 2015

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.