[Di Ujung Dunia – Xiexie Ni de Ai] Terima Kasih untuk Cintamu – End

Liana Safitri

 

TIAN YA bertanya tanpa ekspresi, “Di udara sedingin ini kenapa masih berada di luar?”

“Aku hanya…” Lydia kesulitan mencari jawaban yang tepat.

Franklin memandang mereka berdua dengan khawatir. Jangan sampai Lydia bermasalah dengan Tian Ya hanya karena dirinya! “Aku memberi tahu Lydia kalau minggu depan akan pulang ke Indonesia!”

Lydia langsung menatap Franklin dengan mata terbelalak. Tian Ya juga kebingungan, “Apa? Mendadak sekali! Kukira kau akan tinggal di Taiwan satu atau dua bulan lagi?”

“Sebenarnya ini tidak mendadak. Aku pergi ke Taiwan kan rencananya hanya sebentar. Tapi karena ada banyak masalah… ditambah lagi harus menunggu sampai kalian menikah, jadi tertahan sampai berbulan-bulan. Sekarang semua sudah beres… aku harus pulang.” Franklin mengakhiri kalimatnya dengan senyum.

“Seminggu lagi, ya?”

Tian Ya menganggap kepulangan Franklin sebagai sesuatu yang wajar. Orangtua Lydia pasti sedang murka sekarang, karena putrinya kawin lari dengan pria Taiwan. Dan Franklin sebagai anak angkat yang terang-terangan mendukung pemberontakan ini, harus memintakan pengampunan. Tian Ya juga berharap agar suatu hari bisa diterima oleh keluarga Lydia dengan Franklin sebagai perantara.

Lydia tidak mengerti bagaimana mereka yang awalnya membicarakan tentang dongeng, tiba-tiba dihadapkan pada keharusan mempersiapkan diri menghadapi perpisahan. Franklin pernah berjanji pada Lydia jika akan menetap di Taiwan! Apa Franklin mengambil keputusan tersebut untuk melindunginya, agar ia tidak bertengkar dengan Tian Ya? Atau Franklin memang sengaja membohongi Lydia agar dirinya tidak punya kesempatan untuk mencegah Franklin pergi? Selama berhari-hari Lydia tidak mau berbicara dengan Franklin. Ia lebih sering mengurung diri di kamar ketika berada di rumah. Tian Ya mengira Lydia sedang marah padanya dan berulang kali memikirkan apa kesalahan yang sudah ia perbuat.

Akhir-akhir ini Franklin sering kehilangan barang. Pulpen, buku agenda, dasi, sampai pisau cukur. Semula Franklin mengira itu hanya keteledorannya, sering lupa menaruh sesuatu. Tapi kemudian barang-barang lain yang lebih penting seperti kacamata, dompet, dan jam tangan juga ikut hilang. Franklin pun tahu apa yang terjadi. Lydia menyembunyikan barang-barang miliknya agar Franklin tidak jadi pulang, minimal mengulur-ulur waktu. Franklin memilih diam dan pura-pura tidak tahu. Franklin senang karena Lydia masih membutuhkannya, ingin agar dirinya selalu ada di sisi adik yang manja itu, sekaligus sedih karena menyadari jika hal sangat tersebut tidak mungkin.

 

Franklin baru saja bertemu dengan Tuan Wang, memberitahukan jika besok ia akan kembali ke Indonesia. Dari kaca jendela taksi Franklin melihat Lydia sedang duduk di halte menunggu bus, entah dari mana. Alisnya bertaut. Franklin segera menyuruh sopir berhenti. Ia keluar dan berjalan menghampiri Lydia.

“Lydia! Kenapa malam-malam begini berada di luar sendirian? Di mana Tian Ya? Berbahaya sekali! Bagaimana kalau bertemu dengan orang jahat? Ayo kita pulang sama-sama!”

Lydia melihat Franklin sekilas, di luar dugaan ia menolak. “Tidak mau!”

“Kenapa?”

Lydia tidak menjawab, berdiri menjauhi Franklin. Franklin heran karena Lydia belum pernah bersikap begini. Ia buru-buru membayar taksi lalu mengikuti Lydia. “Kalau mau naik bus tunggu saja, sebentar lagi pasti datang.” Lydia tidak mau mendengar dan mempercepat langkahnya. Beberapa menit kemudian Franklin bertanya lagi, “Kau tidak bermaksud pulang dengan jalan kaki, kan? Rumah masih sangat jauh…”

Lydia tidak sadar jika saat itu ia berjalan terlalu ke tengah. Ada mobil melaju dengan kecepatan tinggi dari belakang. Franklin lebih dulu sadar, secepat kilat ia memeluk Lydia dan setengah mengangkatnya ke pinggir. Si pemilik mobil meneriakkan sesuatu seperti makian sambil lewat. Lydia dan Franklin sama-sama terkejut, merasa jantung mereka hampir copot. Sedikit saja terlambat habislah sudah! Franklin memelototi Lydia dan berteriak, “Apa sih yang sedang kau pikirkan? Ini jalan raya, jangan melamun!”

“Kenapa kau membentakku?” Lydia belas berteriak.

Tidak bisa dibiarkan lagi! Franklin menyeret Lydia masuk ke sebuah gang yang sepi. ditatapnya Lydia dalam-dalam, “Kau marah karena aku akan pulang ke Indonesia, benar kan?”

“Kau sudah janji padaku tidak akan pulang! Kau bilang mau tinggal di sini!” kata Lydia emosional.

“Itu tidak mungkin!”

“Kenapa tidak mungkin?’

“Ayolah, kau harus sadar! Kau sudah menikah dan tidak mungkin mengikutiku terus!”

“Tian Ya tidak apa-apa…”

“Jangan bilang tidak apa-apa!” Suara Franklin meninggi. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha bersabar dan mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan. “Aku tidak tahu kau benar-benar tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti… Tapi sekarang, kita tidak bisa seperti dulu lagi. Kalau kita terlalu dekat kau akan jatuh pada posisi yang lebih tidak menguntungkan daripada aku! Tian Ya mengatakan tidak apa-apa itu kan sekarang, tapi kalau dia terlalu sering melihat kita berdua…” Franklin menghentikan kalimatnya melihat reaksi Lydia, “Semua orang sudah tahu kita bukan saudara kandung, dan aku tidak mau kau mendapat masalah…”

Lydia menundukkan kepala, air matanya menetes. “Kenapa harus pedulikan kata orang? Kita kan tidak membuat masalah dan aku benar-benar hanya menganggapmu sebagai kakak…”

Harus bagaimana, ya?

Sebenarnya apa yang dikatakan Lydia merupakan isi hati Franklin juga, ia ingin terus berada di samping Lydia. Tidak adakah orang yang bisa membantunya menjelaskan perasaan yang rumit ini? Selama beberapa saat Franklin hanya membiarkan Lydia menangis, karena dirinya sendiri sedang bingung. Untung tidak ada orang yang lewat. “Seharusnya setelah menemukanmu di tempat itu aku tidak perlu menunda-nunda mengajakmu ke bandara dan membawamu pulang!”

“Kau baru sadar sekarang?” tanya Lydia di sela sedu-sedannya.

“Aku sengaja membiarkanmu kembali ke apartemen bersama Tian Ya agar kau bisa memastikan bagaimana perasaanmu! Apa kau masih mencintainya? Apa mungkin kalian bersatu lagi? Jangan sampai setelah tiba di Indonesia lalu menyesal dan kabur lagi ke Taiwan…” Franklin merasa kesal sekali, “Sebenarnya kau menyukai Tian Ya atau tidak?”

“Tentu saja aku menyukainya! Aku mencintainya!” Setelah berteriak, Lydia menambahkan dengan suara lirih, “Tapi aku mau kau tetap di sini!”

“Ah! Benar-benar… sudah besar, masih seperti anak kecil!” Franklin kehilangan kata-kata. Sungguh tidak tahan melihat Lydia seperti ini… Franklin menunggu sampai Lydia lebih tenang.

“Tian Ya pernah menanyakan pendapatku tentang kemungkinannya pergi ke Indonesia. Tapi aku melarang karena ayah dan ibu belum menyetujui pernikahan kalian. Daripada kena masalah lebih baik tinggal di Taiwan. Tian Ya akan membeli rumah dan dia mengundangku berkunjung ke istana baru kalian. Mungkin tidak lama lagi…” Franklin menggenggam tangan Lydia, mengusap cincin yang melingkar di jari manisnya, “Kalau kau rindu padaku lihat saja cincin ini, kau akan tahu kalau aku tidak pernah meninggalkanmu…”

Untuk itulah aku memberikannya sebagai hadiah pernikahan.

Lydia mengangguk.

Franklin memeluk Lydia erat-erat, sangat erat dan lama, karena ia tahu mungkin ini akan menjadi pelukan terakhir mereka. Hati Franklin serasa luluh lantak.

Seandainya aku yang bertemu denganmu lebih dulu…

Franklin melirik jam tangannya dan tersadar. Ia mengangkat wajah Lydia, menghapus air mata Lydia dengan jarinya. Franklin berjongkok, “Ayo kugendong!”

Lydia ragu sejenak, tapi akhirnya naik ke punggung Franklin. Franklin berjalan perlahan-lahan, teringat di malam yang lain ketika ia menggendong Lydia pulang dari rumah Tian Ya, setelah Lydia terkejut karena Franklin tiba-tiba mengajaknya menikah.

“Lydia, ketika seseorang pergi meninggalkan rumah, sejauh apa pun, selama apa pun, suatu saat nanti… ia pasti punya keinginan pulang. Itulah sebabnya, mengapa aku memilih mundur dan mengambil jarak darimu. Agar jika sewaktu-waktu kau merasa jenuh dan lelah, kau selalu punya tempat untuk pulang.”

Tempat untuk pulang…

“Kalau Kakak tidak ada jangan manja, jangan cengeng… Jangan bertengkar dengan Tian Ya…”

“Aku tahu.”

“Mmm… kembalikan barang-barangku yang sudah kau ambil, ya!”

“Bagaimana Kakak bisa tahu?”

“Kalau bukan kau memangnya siapa lagi?” dengus Franklin. “Aku juga minta beberapa lembar foto pernikahan untuk ditunjukkan pada ayah dan ibu.”

“Mereka tidak akan suka!” Lydia memprotes.

“Lalu kau bermaksud menyembunyikannya? Sampai kapan? Lebih baik berterus terang sekarang daripada nanti, kalau akhirnya tetap akan ketahuan. Membujuk ayah dan ibu merestui kalian adalah tugasku. Seandainya mereka mengamuk, tidak akan terlalu berpengaruh untukku.”

“Kalau seperti ini kesannya aku jadi sangat jahat pada Kakak…”

“Oya… barang-barangmu yang ada di rumah… maksudku di Indonesia… Sebutkan saja yang kau butuhkan. Nanti akan Kakak paketkan ke Taiwan.”

“Tidak usah,” kata Lydia. “Semuanya kuberikan padamu. Kalau kau rindu padaku, kau bisa datang ke kamar untuk mengenangku…”

“Bolehkah aku membaca bukumu dan… tidur di kamarmu?”

“Ya, tapi kau harus mengurusnya. Semua harus rajin dibersihkan dan tidak boleh berantakan. Buku-buku di rak jangan sampai berdebu, apalagi dimakan rayap. Boneka-boneka harus dicuci kalau sudah bau, jangan dijadikan bantalan. Seprei dan tirai harus rajin diganti. Jangan membawa makanan ke dalam, nanti banyak semut. Jangan menaruh kaset dan DVD di tempat lembap atau di dekat ponsel, dan harus diputar paling tidak sebulan sekali. Jadi jika pulang nanti aku masih bisa menempatinya. Kalau sampai ada barang yang rusak aku akan marah padamu.”

Lydia pernah bertengkar dengan Franklin karena masalah buku dongeng. Pertengkaran mereka cukup serius dan lama. Keduanya berbaikan setelah Lydia pergi mengikuti kemah Pramuka.

Pagi-pagi sekali Lydia sibuk mempersiapkan berbagai barang yang akan dibawa berkemah selama tiga hari. Selain pakaian dan perlengkapan pribadi, tentu tongkat, tali, serta atribut seragam jangan sampai lupa jika tidak ingin mendapat hukuman dari kakak pembina. Biasanya dalam keadaan seperti itu Franklin ikut dibuat repot. Namun karena mereka berdua sedang bertengkar Lydia tidak mau meminta bantuan Franklin.

“Bu! Ibu tahu ke mana topi Pramuka-ku?”

Bu Yudha menjawab dari arah dapur, “Coba cari di ruang tengah atau tanya ayahmu, barangkali tahu! Salah sendiri menaruh barang sembarangan!”

Lydia berjalan ke ruang keluarga dan melihat topi Pramuka miliknya tergantung di paku yang digunakan untuk memasang kalender dinding. Tangan Lydia menggapai bermaksud meraih topi, apa daya paku itu tertancap terlalu tinggi untuk ukuran Lydia. Meski kakinya sudah berjinjit, tetap saja tidak sampai. Lydia menggerutu tidak jelas, ketika tiba-tiba ada tangan lain yang melewati kepalanya lalu mengambil topi dengan sangat mudah.

“Ayah, jangan…”

Lydia ingin protes, Ayah, jangan digantung di tempat yang tinggi! Susah mengambilnya, tidak kesampaian! Mulut gadis kecil itu langsung terkatup rapat setelah membalikkan badan dan menyadari bahwa yang mengambilkan topinya ternyata bukan Ayah, melainkan Franklin! Franklin, tentu saja dengan tubuh lebih tinggi dari Lydia, berdiri di hadapannya sambil menyodorkan topi. Lydia malu setengah mati, ia mengambil topi dari tangan Franklin tanpa mengatakan apa-apa.

Mengambilkan topi belum dapat menghapus kemarahan atas buku dongeng yang rusak. Lydia tidak berpamitan pada Franklin, ketika meninggalkan rumah, tidak juga sekedar mengucapkan kalimat, “Aku pergi ya, Kak!” Franklin jadi sangat khawatir, di samping sebenarnya merasa tidak rela Lydia pergi berkemah untuk “hidup menderita” selama beberapa hari. Apalagi adik perempuannya itu sangat cengeng dan penakut. Franklin lalu naik motor, diam-diam mengikuti bus sekolah Lydia. Ia mendirikan tenda sendiri di sekitar lokasi perkemahan yang agak tersembunyi agar bisa mengawasi Lydia.

Pada hari kedua Franklin menemukan Lydia menangis ketakutan di tengah pemakaman umum saat jerit malam karena terpisah dari kelompoknya. Kemudian Franklin membawa Lydia ke tendanya sendiri. Keesokan harinya Lydia tidak mau mengikuti kegiatan apa pun lagi. Franklin-lah yang memintakan izin pada kakak pembina agar memperbolehkan Lydia pulang bersamanya dengan alasan sakit.

Sampai di rumah Lydia tidak pernah mengungkit-ungkit masalah buku dongeng. Namun Franklin yang merasa bersalah memborong banyak sekali buku dongeng bergambar di toko buku. Bagaimanapun usaha Franklin mencarinya, ia tidak dapat menemukan buku dongeng yang sama. Lydia menerima buku-buku dongeng itu lalu berkata sambil tersenyum, “Tidak apa-apa!”

Koleksi buku-buku, kaset, CD, serta DVD milik Lydia masih ada di Kamar Merah Jambu-nya. Semua didapatkan dengan susah payah dan juga tidak lepas dari jasa Franklin yang selalu mengantar Lydia pergi ke mana pun tanpa mengeluh. Jika bel pulang sekolah berbunyi Lydia sangat gembira. Bel, selain sebagai tanda berakhirnya jam pelajaran, juga berarti tanda bahwa Franklin sudah menunggu Lydia di luar pintu gerbang untuk pergi jalan-jalan (Kebetulan Pak Yudha dan Bu Yudha tidak pernah meributkan hal ini, karena daripada Lydia pergi bersama teman laki-laki yang tidak jelas, lebih baik pergi dengan kakak sendiri).

Biasanya Lydia mencari novel Qiong Yao di Shopping Center jalan Sriwedari, tempat yang menjual buku baru maupun bekas. Hanya di sinilah Lydia bisa berharap menemukan novel yang sudah tidak dijual lagi di toko. Butuh kesabaran ekstra menemani Lydia menyisir setiap kios di tengah tumpukan buku-buku berbau apak, sesak, dan panas itu. Ketika berhasil menemukan beberapa novel Qiong Yao terbitan belasan tahun lalu, Lydia bersorak keras sekali, membuat Franklin merasa malu dan si penjual geleng-geleng kepala. Seringkali Franklin harus menguras uang sakunya sendiri untuk tambahan membayar buku Lydia. Setelah melihat iklan kaset soundtrack drama dan album baru penyanyi idola, (hanya satu penyanyi grup idola Lydia yang masih diingat Franklin sampai sekarang karena namanya tidak sulit, hanya berupa angka, 5566) Lydia akan mengajak Franklin ke toko kaset Bulletin atau Popeye. Jika tidak mendapatkan kaset yang diinginkan, Lydia lalu memasang wajah cemberut sepanjang perjalanan pulang. Lydia berkata, ini akibat dia terlalu lama mengumpulkan uang, sehingga stok kaset di toko keburu habis. Sampai pada suatu waktu Lydia tidak pernah lagi mengajak Franklin ke toko kaset. Ternyata “kebutuhan” musik Lydia sudah terpenuhi dengan men-download MP3 dan video dari internet. Sejak itu Franklin merasa seperti ada yang hilang.

Sekarang saat berjalan sambil menggendong Lydia, Franklin merindukan saat-saat itu. Ah… kenapa ada orang seperti dirinya yang selalu terjebak di masa lalu? Padahal Lydia sudah mulai menyongsong masa depan bersama Tian Ya. Kelak setelah pulang ke Indonesia, ke Yogyakarta, setiap sudut kota itu akan mengingatkan Franklin pada Lydia.

Franklin mati-matian menahan rasa sakit di dada, berusaha bercanda, “Banyak sekali peraturannya… Kalau begitu, kapan aku punya waktu membersihkan kamarku sendiri?”

Namun Lydia tidak memperhatikan kata-kata Franklin lagi karena kepalanya sudah terkulai di bahu pemuda itu. Franklin merasakan tubuh Lydia semakin lama semakin berat, langkahnya semakin lama semakin berat, hatinya pun semakin lama semakin berat.

“Lydia, bangun… hei!”

Mereka sudah sampai di depan pintu gerbang rumah keluarga Li.

Franklin menurunkan Lydia dari punggungnya. “Masuklah! Aku akan menyusul beberapa menit lagi agar orang-orang tidak curiga.” Lydia menoleh beberapa kali menatap Franklin sebelum berjalan ke halaman. Perasaan Lydia kacau sekali sampai tidak menyadari jika pintu sudah terbuka sebelum ia menekan bel.

Tian Ya terkejut melihat Lydia. “Aku baru akan menjemputmu ke rumah Fei Yang. Kau sering sekali ke sana akhir-akhir ini.”

“Fei Yang ingin belajar bahasa Indonesia,” ujar Lydia tak bersemangat.

“Benarkah?” Tian Ya setengah tidak percaya. Tapi kemudian ia tersenyum, “Bukankah itu bagus? Mungkin dia tertarik dengan seorang pria asal Indonesia?”

“Ini sudah malam, kenapa kakakmu masih belum pulang?” Tuan dan Nyonya Li tiba-tiba turun ke lantai bawah menjumpai Lydia dan Tian Ya.

Karena Tian Ya muncul di waktu yang hampir bersamaan dengan Tuan dan Nyonya Li, Lydia langsung diliputi rasa khawatir. Jangan-jangan mereka tahu kalau ia pulang bersama Franklin! “Mungkin sebentar lagi. Ada apa, Papa?”

“Aku ingin berbicara dengannya.”

Lydia benar-benar mengira bahwa mereka tertangkap basah. Demikian pula Franklin, ia curiga ketika datang beberapa menit kemudian dan melihat semua orang duduk ruang tamu. Diam-diam Franklin melemparkan pandangan pada Lydia.

“Franklin, kemarilah! Ada hal yang ingin kubicarakan.”

“Ya, Paman.” Franklin duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Tuan dan Nyonya Li. Lydia dan Tian Ya duduk bersebelahan di sampingnya. Kenapa seluruh keluarga dikumpulkan begini?

Tuan Li belum juga berbicara sampai Nyonya Li mengingatkan, “Suamiku, kukira Franklin ingin segera beristirahat. Jangan biarkan dia menunggu terlalu lama.”

“Oh… ya, aku tahu!” Sedetik kemudian Tuan Li memasang wajah serius. “Ini soal… orangtuamu, Franklin!”

Franklin terkesiap. “Ayah dan ibu kandungku?”

“Benar.”

“Mereka berdua sudah meninggal… Sebaiknya tidak usah diungkit-ungkit. Aku juga pernah mengatakan sebelumnya…” Wajah Franklin berubah muram, “tidak ingin balas dendam! Lydia…”

“Tidak ada hubungannya dengan Lydia dan Tian Ya.” Tuan Li menenangkan Franklin. “Aku hanya meminta mereka mendengarkan. Maaf kalau luka lamamu harus terbuka lagi, tapi apakah kau tidak ingin tahu kejadian yang sesungguhnya?’

“Kejadian yang sesungguhnya?”

“Yang membakar gedung ayahmu adalah asistenku.”

“Apa?”

“Benar. Mungkin kau tidak tahu kalau aku dan ayahmu pada awalnya adalah sahabat baik. Tapi ada orang dari pihakku yang tidak suka dengan kedekatan kami dan berusaha menjauhkan kami. Aku termakan kata-katanya… dalam hal ini aku memang salah.” Tuan Li berkata penuh penyesalan. “Aku menganggap ayahmu sebagai ancaman dalam bisnis, apa pun aku lakukan agar perusahaanku menjadi nomor satu. Asistenku diam-diam menyuruh orang untuk membakar pabrik ayahmu. Saat aku mengetahui semuanya sudah terlambat. Walau tidak setuju, tak ada yang dapat aku lakukan. Aku juga tidak bisa membiarkan asisten yang begitu setia masuk penjara. Jadi aku menyuap hakim untuk membebaskan kami dari segala tuntutan dan memutarbalikkan keadaan. Itulah yang membuat… ayahmu harus menanggung kesalahan serta kerugian yang tidak pada tempatnya.”

Meskipun Franklin berkali-kali berkata pada diri sendiri untuk melupakan bayangan gelap di masa lalunya, namun kini ketika Tuan Li menceritakan dengan lebih jelas, ia tidak bisa tidak merasakan sakit.

“Berbagai surat kabar memberitakan bahwa ayah dan ibumu meninggal dalam kecelakaan setelah pulang dari rumahku dan membuat anak laki-lakinya hidup sebatang kara. Rasa bersalah terus menghantui walau aku sudah membawa seluruh keluarga pulang ke Taiwan. Selama bertahun-tahun aku mempercayai berita bohong itu. Dan ketika mengetahui jika kenyataannya lebih mengerikan…” Tuan Li menatap Franklin sedih sekali, “Katakan padaku, Nak… Apa yang harus aku lakukan untuk menyembuhkan lukamu?”

Franklin memalingkan wajah ke arah lain, “Mereka sudah pergi, tidak mungkin kembali lagi. Ayah, ibu, dan adik bunuh diri… Meski marah dan selalu bertanya-tanya kenapa mereka meninggalkanku sendirian… Tapi diberi kesempatan hidup juga bukan sesuatu yang harus disesali. Paman tidak perlu melakukan apa-apa.”

“Beri aku kesempatan untuk menebusnya. Franklin, aku memberikan tempat kursus SKY School padamu.”

Franklin sangat terkejut dan tidak mempercayai apa yang baru saja didengarnya. “Maksud Paman?”

“Tempat kursus bahasa asing yang ada di Indonesia, sekarang menjadi milikmu.”

“Tapi…

“Kau tidak boleh menolak! Apa yang aku berikan adalah sebagai pertanda bahwa kita sudah sepakat untuk saling memaafkan. Kau harus membantuku untuk mengurangi rasa bersalah…”

“Jangan bimbang Franklin!” sahut Nyonya Li.

“Sebenarnya kami berencana mendirikan sekolah umum dari SD, SMP, sampai SMA. Tapi hanya tempat kursus bahasa asing yang baru terlaksana. Lydia sangat menyukai tempat kursus itu. Karena kami sudah menikah, otomatis SKY School juga menjadi miliknya. Anggap saja Lydia yang memberikan padamu.” Tian Ya memandang Lydia meminta dukungan.

“Kak… diterima saja ya? Sekalian membantu meneruskan cita-cita yang belum terwujud, mendirikan sekolah. Kakak pasti bisa!”

“Kalau begitu… aku terima niat baik kalian.”

Tuan dan Nyonya Li sangat lega. “Baik, sudah diputuskan! Tempat kursus SKY School diberikan pada Franklin.”

 

Sekarang adalah malam terakhir Franklin di Taiwan karena besok ia akan pulang ke Indonesia. Franklin sengaja mencari waktu untuk berbicara berdua dengan Tian Ya. Mereka duduk di beranda samping sambil meminum bergelas-gelas kopi.

“Kalau dipikir-pikir semua salahku. Dari kecil aku terlalu memanjakan Lydia. Mungkin atas pertimbangan tersebut ayah dan ibu akhirnya menjodohkan kami, meski dariku sendiri tidak ada penolakan. Aku sering merasa khawatir jika membayangkan Lydia menikah dengan orang lain. Apa ada laki-laki yang tahan terhadapnya selain aku?”

“Karena kami pernah tinggal bersama di apartemen, sedikit-sedikit aku mulai memahami Lydia. Yah… walau belum sebaik dirimu,” kata Tian Ya.

“Sebenarnya Lydia agak tertekan karena ayah dan ibu terlalu banyak menuntut. Aku sering melihatnya dimarahi setelah ulangan atau terima rapor. Karena nilai Matematika nya selalu jelek. Lydia juga agak malas belajar.”

“Di SMA dia masih begitu? Tidak berubah, ya? Dulu waktu SMP saat guru menerangkan dia malah membaca novel di balik buku pelajaran. Pura-pura mencatat, padahal mengarang!”

“Semakin kami beranjak dewasa ayah dan ibu semakin terlihat pilih kasih, sering membanding-bandingkan aku dengan Lydia. Sepertinya mereka lebih menginginkan anak laki-laki. Sampai sekarang aku kasihan pada Lydia kalau teringat itu,” kenang Franklin. “Tapi aku dan Lydia tidak saling iri, sebaliknya hubungan kami sangat baik. Aku sering membela Lydia kalau dia dimarahi ayah dan ibu. Kemudian kalau ada apa-apa Lydia pasti mencariku.”

“Untung kau tidak punya niat jahat merebut posisi dan hak Lydia sebagai anak kandung,” Tian Ya tertawa menggoda Franklin.

Setelah meraba sebelah tempat tidurnya dan tidak menemukan Tian Ya, Lydia keluar kamar. Ia mendengar pembicaraan antara Tian Ya dengan Franklin.

“Sungguh, aku meminta tolong padamu…” ujar Franklin serius, “Kau sudah tahu Lydia seperti apa. Kalau dia marah jangan anggap serius yang dikatakan, setelah emosinya mereda dia pasti segera menyesal. Kalau dia ingin menangis biarkan dia menangis, jangan melarangnya. Jangan memaksanya melakukan sesuatu yang tidak dia sukai, karena itu akan membuatnya semakin benci. Jangan menyepelekan masalah yang menurutnya berat, karena bisa membuatnya merasa tidak penting dan terluka. Jangan berpura-pura di depannya, jangan membohonginya, karena dia tidak akan pernah mempercayaimu lagi. Dia lebih suka kau jujur meskipun pahit, daripada berkata manis hanya untuk menyenangkannya.”

“Aku akan mengingatnya baik-baik.”

“Kalau sampai kudengar kau menyakiti Lydia, aku takkan pernah memaafkanmu. Kau tahu, aku bisa berbuat apa saja demi dia.”

“Ya, kau boleh memberiku pelajaran jika itu sampai terjadi.”

Lydia berdiri terpaku. Dia tidak tahu apakah harus merasa senang atau sedih.

 

Lydia, Tian Ya, Fei Yang, dan Xing Wang bersama-sama mengantar Franklin ke bandara. Nyonya Li dan Tuan Li tidak bisa ikut, tapi mereka membawakan banyak oleh-oleh untuk dibawa pulang. Fei Yang menyodorkan sebuah hadiah kecil pada Franklin, mengejutkan semua orang.

“Apa ini?” tanya Franklin.

Fei Yang tersenyum lalu berkata, “Di pesawat…”

“Maksudmu… aku harus membukanya di pesawat?”

“Ya.”

Franklin menganggukkan kepala. “Terima kasih! Terima kasih!”

“Bersama… bersama…”

“Seharusnya ‘sama-sama’. Itu yang benar,” tegur Lydia.

Wajah Fei Yang memerah dan segera meralat, “Mmm… sama-sama.”

“Tidak apa-apa! Siapa tahu dengan berkata begitu mereka lalu menjadi ‘bersama’.” Tian Ya menggoda Franklin dan Fei Yang.

“Bicara apa kau!” Franklin meninju lengan Tian Ya sambil tertawa.

Tian Ya menyalami Franklin. Katanya tulus, “Sering-seringlah berkunjung ke Taiwan, Lydia pasti merindukanmu.”

“Jaga Lydia baik-baik!” Franklin berkata dengan suara parau.

“Tidak usah khawatir!”

Xing Wang, karena tidak tahu harus berbicara apa hanya menyalami Franklin sambil mengatakan, “Bye bye!”

Franklin berhenti di hadapan Lydia. Mereka bertatapan lama sekali. “Apakah… tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku?”

Lydia melirik sekilas kepada semua orang lalu mengangguk, “Ada!” Ditariknya Franklin menjauh. Tian Ya agak curiga, tapi berusaha menahan diri untuk tetap diam di tempat.

Terlalu banyak hal yang ingin disampaikan namun tak terucapkan. Lydia tidak tahu bagaimana caranya memberikan salam perpisahan yang terbaik pada Franklin. Ia menarik napas dalam-dalam. Setelah yakin tak ada yang melihat, Lydia melambaikan tangan. “Mendekatlah!”

Franklin merasa heran, tapi lalu mencondongkan tubuhnya lebih rendah ke arah Lydia. Dengan gerakan cepat Lydia meraih leher Franklin dan mencium pipinya. Pemuda itu sangat terkejut. Ia membelalakkan mata lebar-lebar sambil mengusap bekas ciuman Lydia. Sebelum Franklin benar-benar sadar apa yang terjadi, Lydia berkata dengan suara parau, “Xiexie ni de ai!” (谢谢你的爱!)

“Haa? Apa? Apa itu artinya?” tanya Franklin kebingungan.

“Sudah kukatakan kau harus belajar bahasa Mandarin!” Meski bibir Lydia tersenyum tapi ada air yang menggenang di matanya.

Kau akan tahu nanti!

Franklin berjalan meninggalkan Lydia bersama Tian Ya, Fei Yang, dan Xing Wang. Ia mengeraskan hati agar jangan sampai menoleh ke belakang.

Selamat tinggal Lydia…

 

“Ayo kita pulang!” Tian Ya menggandeng tangan Lydia menyusul Fei Yang dan Xing Wang yang sudah pergi lebih dulu. Lydia merasa seolah ada sesuatu yang diambil dari dirinya dan hanya membisu sepanjang perjalanan pulang.

“Menurutmu… apa kira-kira hadiah yang diberikan Fei Yang pada Franklin?” Tian Ya menebak-nebak.

“Apa saja, asal jangan sapu tangan, jam tangan, dan sepatu!” ujar Lydia.

“Kau percaya?” Dahi Tian Ya berkerut. “Ketika melihat Fei Yang memberi hadiah pada Franklin, aku juga seperti melihat diri kita sendiri. Kau memberiku sapu tangan, tapi bukankah akhirnya kita menikah? Jadi anggapan bahwa ketiga benda itu terlarang untuk diberikan sebagai hadiah benar-benar hanya mitos buatan orang pelit! Aku hanya berharap satu hal…”

Lydia menatap Tian Ya penuh tanda tanya.

“Semoga tidak ada ‘F-F’ yang lain dalam kehidupan kita.”

Lydia terpana sejenak. F-F? Barulah kemudian ia tertawa. Tentu saja, karena semua orang ketiga yang menjadi pengganggu hubungan mereka, namanya selalu diawali dengan huruf F. Frida, Fei Yang, dan Franklin! Tapi… kehilangan F yang terakhir sungguh membuat Lydia sedih. Lydia merasa seperti ada sesuatu yang diambil dari dirinya. Ia tak berkata apa-apa lagi. Ditengadahkannya kepala, berharap dapat melihat pesawat yang dinaiki si F. Semua manusia hidup bernaung di bawah langit yang sama dan berpijak di atas bumi yang sama pula. Lalu mengapa harus ada batas-batas yang membuat orang saling terpisah jauh satu dengan yang lain dan sulit untuk bertemu?

 

Franklin duduk di dalam pesawat menunggu take off. Sesaat sebelum mematikan ponsel ia mengirim pesan pada James.

Apa artinya “Se-se ni the ai”?

James menjawab dengan cepat,

Tidak ada kalimat Se-se ni the ai, mungkin maksudmu Xiexie ni de ai (谢谢你的爱). Jika benar, maka artinya adalah: Terima kasih untuk cintamu.

Mata Franklin terasa panas. Ia tidak punya waktu berlama-lama hanyut dalam keharuan karena seorang pramugari berjalan ke arahnya. Franklin buru-buru mematikan ponsel. Selang beberapa menit kemudian Franklin membuka hadiah kecil yang diberikan Fei Yang dan terpana melihat isinya. Sebuah jam tangan. Ada catatan kecil yang disertakan.

Mr. Frank, jam tangan ini untukmu. Dari Xu Fei Yang.

Sudah begitu saja. Pasti Fei Yang kesulitan kalau harus menulis berpanjang-panjang. Franklin melirik jam tangan pemberian Lydia sepuluh tahun lalu. Sudah sering rusak, mungkin perlu diganti.

Kakak, kau menikah saja dengan orang Taiwan dan tinggal di sini!

Kata-kata Lydia kembali terngiang di telinga Franklin. Franklin melemparkan pandangan ke luar jendela pesawat yang mulai lepas landas. Dalam hati terus bertanya-tanya, suatu saat, untuk siapakah ia kembali ke Taiwan?

***

 

Setelah melepas kepergian Franklin, malam itu Lydia duduk memeluk lutut di lantai kamar sambil mendengarkan lagu Chi Xin Jue Dui (痴心绝对)

Tiba-tiba Tian Ya memeluk Lydia dari belakang, membuatnya terkejut. “Mengapa sekarang kau sering mendengarkan lagu ini?”

“Tidak apa-apa. Liriknya sangat menyentuh.”

“Mana lagu yang lebih kau suka? Chi Xin Jue Dui (痴心绝对) atau… Tong Hua (童话) ?”

“Aku suka dua-duanya.”

Menyuruhku memilih antara lagu Chi Xin Jue Dui dengan Tong Hua, sama seperti menyuruhku memilih antara kau dengan kakak.

Tapi tentu saja alasannya tak sesederhana itu. Hanya dengan sekilas mendengarkan lirik lagu tersebut, Tian Ya langsung tahu kalau Lydia sedang memikirkan Franklin. Bagaimanapun ia tidak bisa menyuruh Lydia melupakan Franklin, atau menghapus Franklin dari hati Lydia. Tapi Tian Ya harus membuat dirinya selalu menjadi yang pertama di hati Lydia.

Tidak usah menyembunyikannya dariku… Aku tahu… berpisah dari dia pasti sangat menyakitkan, bukan? Tapi kau bersedia menanggung semuanya demi aku. Terima kasih karena kau begitu mencintaiku…

Tian Ya menunjuk ke luar jendela. “Lihat! Malam ini langit indah sekali, penuh bintang.”

Lydia turut melihat ke langit. “Kau tahu, di mana bintang tempat tinggal Niu Lang dan Zhi Nu?” Kemarin Franklin menanyakannya dan Lydia tak bisa menjawab.

“Tidak. Tapi kita bisa mencarinya bersama-sama. Jika tidak menemukannya malam ini, kita akan mencari lagi besok atau lusa.”

“Bagaimana kalau langit mendung dan bintang tidak terlihat?”

Tian Ya menatap Lydia dalam-dalam. “Kita akan terus melewati malam bersama-sama seperti ini, kan?”

Langit memunculkan bintang tidak hanya ketika ada Franklin. Seorang Li Tian Ya sudah cukup bagi Lydia, dan Lydia hanya untuk Li Tian Ya! Aku pasti akan membuatmu melihat bintang setiap malam.

Lydia tidak menjawab. Ia memeluk Tian Ya dan bersandar di tubuh pemuda itu. Rasanya ingin menangis. Sekarang saja Lydia sudah merasa takut kalau kebahagiaan ini akan menghilang seiring berjalannya waktu. Apakah dirinya dan Tian Ya dapat melihat bintang setiap malam dengan perasaan yang selalu sama?

“Mau mendengarku mendongeng?”

“Apa?”

“Niu Lang-Zhi Nu.”

“Ah, tidak. Aku sudah bosan dengan dongeng itu. Lagi pula akhir ceritanya sangat tragis.”

“Ini kisah Niu Lang dan Zhi Nu versiku sendiri.”

“Bagaimana ceritanya?”

“Zhi Nu bertemu dengan Niu Lang di pinggir sungai. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Pada awalnya Kaisar Langit dan Permaisuri Kaisar Langit tidak menyetujui hubungan mereka. Tapi teman-teman Niu Lang, yaitu sapi ajaib, dan burung murai membantu pasangan ini dengan mengumpulkan dukungan dari seluruh makhluk hidup. Suara tangisan dari anak Niu Lang dan Zhi Nu yang baru lahir menggetarkan hari penghuni langit dan bumi. Mereka berbondong-bondong mendatangi Kaisar Langit dan Permaisuri untuk memohon doa restu bagi Niu Lang dan Zhi Nu. Akhirnya Niu Lang dan Zhi Nu dapat hidup bahagia di dunia. Semua orang bernyanyi untuk merayakan kebahagiaan mereka.”

“Itu bukan kisah Niu Lang dan Zhi Nu! Itu kisah kita sendiri!” protes Lydia. “Aku tahu lagu apa yang dinyanyikan penghuni langit dan bumi untuk merayakan bersatunya Niu Lang dan Zhi Nu.” Lagu Chi Xin Jue Dui (痴心绝对) usai dan berganti dengan Tong Hua (童话). Mereka berdua tanpa sadar ikut menyanyikannya.

 

“Wo yuan biancheng tonghua li

ni ai de nage tianshi

zhangkai shuangshou

biancheng chibang shouhu ni

ni yao xiangxin,

xiangxin women hui xiang tonghua gushi li”

 

我要变成 童话里

你爱的 那个天使

张开双手

变成翅膀守护你

你要相信

相信我们会像童话故事里

 

Aku rela menjadi

malaikat seperti dalam dongeng yang kau sukai

merentangkan kedua belah tangan

menjadi sayap yang melindungimu

Kau harus percaya,

percaya bahwa kita dapat seperti kisah di dalam dongeng

 

Lydia dan Tian Ya saling berpandangan.

 

幸 福 和 快 乐 是 结 局

Xing fu he kuai le shi jie ju

Kebahagiaan dan kegembiraan adalah akhirnya

谢谢

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.