Dunia Kedua – The Sequel (1)

Anik

 

Dunia kedua part 2 ini adalah lanjutan dari cerpen dunia kedua yang sudah pernah di post di sini (http://baltyra.com/2014/03/20/dunia-kedua-1/­) dan (http://baltyra.com/2014/03/21/dunia-kedua-2-habis/) yang menceritakan tentang kisah cinta seorang gadis SMA yaitu Dinda dan teman sekolahnya yang bernama Dirga karena mimpi.

Apapun yang hadir dalam mimpi Dinda akan menjadi kenyataan. Hampir setahun memendam perasaannya, namun Dinda tidak ingin berpacaran dengan Dirga karena takut merusak persahabatannya. Dinda mempunyai adik sepupu yang bernama John. Pada cerita ini Dinda memanggilnya dengan Jojo (Hanya Dinda dan ibunya yang memanggil dengan sapaan ini).

Keterangan:

  • Jojelek adalah nama kontak John di hp Dinda
  • John pradana dan Dirga Frandika adalah nama akun facebook John dan Dirga

 

Dinginnya kota Malang menusuk tulang. Sweater yang kugunakan tidak berhasil menghadang dingin yang menyerbu. Tanganku mendekap erat secangkir teh hangat. Dret..Dret.. Hp di sebelahku bergetar. Aku tersenyum tipis membaca siapa yang mengirimkan pesan singkat itu.

From: Jojelek

Lagi apa jelek?

Segera kubalas pesannya.

To: Jojelek

Lagi kedinginan di Malang :D

Lama kutunggu tak ada balasan lagi. Ah, Jojo…. Baru sebulan tak bertemu dengannya, hasrat kerinduan sudah menggebu-gebu untuk bertemu. Lagu Avril Lavigne When Your Gone menggema dari hp ku. Aku memincingkan mata, tersentak saat tahu Jojo menelponku.

“Ngapain telepon?” tanyaku ketus.

“Iiih, sewot banget. Nggak kangen sama aku? Hahaha.” Tawanya terdengar renyah.

“Biasa aja Jo.” Aku menahan tawa. Aku rindu denganmu Jo. Ingin sekali aku mengatakan itu, tapi selalu saja gengsi, padahal kami sudah terbiasa hidup bersama.

“Ah, yang bener?” Jojo meledek.

“Ngapain juga bohong. Gimana hubunganmu dengan Nina?” Aku teringat dengan cewek manis itu.

“Ah jangan bicara tentang Nina, Mbak.”

Aku mengerutkan kening. Ada apa dengan anak ini? Padahal dulu mengejar-ngejar Nina. “Hahaha.. Ada masalah apa Jo?” Aku tertawa mendengar ucapan anehnya.

“Dia sudah punya cowok,” jawabnya datar.

“Oh… Cari lagi yang lain!” kataku sekenanya.

“Nggak ah, masih trauma sama cewek.”

“Kamu jangan lebay Jo. Kamu sih, kelamaan nembak.”

“Nggak tahu kenapa aku memang suka dengan Nina Mbak, tapi nggak mau pacaran.”

“Itu konsekuensi dari pilihanmu Jo. Sudahlah! Kamu sudah kelas 3 harus lebih konsen lagi.” Baru kali ini aku menasihatinya.

“Iya juga sih Mbak. Mbak,nanti liburan semester aku ke Malang.” Ucapan Jojo membuat aku kaget.

“Haa? Ngapain Jo?” tanyaku heran.

“Pengen main aja.” jawabnya datar.

“Oh, ya sudah kalau gitu. Aku titip salam rindu buat ibu.” Aku tersenyum, bayangan ibu berkelebatan di benakku. Oh, ibu. Aku begitu merindukanmu.

“Iya Mbak.” Ucap Jojo lalu mematikan telfonnya.

Aku mengambil napas berkali-kali. Melihat sekeliling kamar kos. Sepi. Semua sudah lenyap tidur di kamar masing-masing. Aku mengambil laptop dan meletakkannya di meja dekat jendela. Kubuka perlahan jendela kamar. Wusss.. angin malam menerpa rambut panjangku. Sangat dingin namun aku sangat menyukai dinginnya kota ini. Tempat kos ini berada di lantai 3, membuatku bisa melihat gemerlap lampu jalanan di bawah. Aku menyalakan laptop dan segera berselancar di dunia maya seperti biasanya. Ada 2 pesan masuk di Facebook’ku.

Dirga Frandika

Dinda, apa kabar? Bagaimana dengan kota Malang? :)

Aku tersenyum membaca pesan singkat darinya. Dirga sekarang begitu perhatian. Sering menanyakan kabarku.

Din Dinda

Baik Ga. Malang begitu dingin, sedingin hatiku malam ini :) Bagaimana dengan Solo?

Setelah membalasnya aku beralih pada pesan kedua.

John Pradana                                      

Yang lagi di Malang semoga tidak menjadi kriuk seperti krupuk apel :D

Din Dinda

Hahaha :D Yang lagi di Kediri semoga tidak menjadi kotak seperti tahu :P Tahu kuning seperti Spongebob :P     

Aku tertawa terkekeh-kekeh membaca pesan dari Jojo. Dia selalu saja membuatku tertawa. Cowok konyol seperti dia ternyata juga bisa merasakan galau. Status-status galaunya membanjiri berandaku.

“Remaja labil,” gumamku. Dulu aku menangisi Dirga seperti itu, galau. Ah, masa-masa remaja. Aku terkekeh mengingatnya.

***

From: Dirga

Liburan semester aku main ke Malang. Sekalian mau ajak kamu jalan. Mau?

Sepagi ini dia sudah mengirimkan pesan singkat itu. Dia sudah berubah. Dia bukan Dirga yang cuek seperti dulu. Sekarang perhatiannya berbondong-bondong menyerbuku. Dengan cepat aku memencet-mencet keypad hp ku lalu membalas.

To: Dirga

Mauuu :D

Aku membalas singkat. Akankah mimpi telah menjadi kenyataan? Dirga memang menyukaiku. Tapi aku harus bisa menjaga komitmen. Aku tak mau menjalin hubungan dengannya karena dia adalah temanku. Aku tidak mau perasaan ini menodai pertemanan kami. Ah entahlah. Biarkan semua mengalir seperti air, pasti ada waktunya dia akan bermuara di tempat yang lebih baik.

“Dinda.” Panggil Elsa didepan pintu kamarku.

“Iya El. Ada apa?” Teriakku yang tetap duduk termangu duduk di dekat jendela.

“Pinjam laptopmu.” Teriaknya lagi.

Aku membuka pintu kamar.

“Dari tadi kek buka pintunya, jadi nggak perlu teriak-teriak deh.” Elsa manyun masuk ke kamar.

“Hehehe, sorry.” Aku nyengir melihat ekspresinya.

“Din, pinjam laptopmu dong! Laptopku masih di tukang servis. Tugas tinggal sedikit, belum aku kerjain.” Elsa memohon.

“Iya. Noh ambil aja di meja!” Ucapku sambil menunjuk meja yang tak jauh dari tempat tidur. Elsa diam begitu lama. Kulirik beberapa kali, dia sedang mengetik mengerjakan tugas. Aku mengabaikannya dan kembali serius dengan buku yang kubaca.

“Din, ini cowokmu ya? Unyu deh.”

Ucapan Elsa mengagetkanku. Aku segera beranjak mendekatinya. Siapa? Batinku. Setahuku foto cowok di laptop hanya Jojo. Ah, masa sih Jojo unyu? Setelah aku berada di belakang Elsa ternyata memang benar dia membuka folder yang berisi fotoku bersama Jojo.

“Oh, itu sepupuku.” Ucapku ringan.

“Kenalin dong Din!” Elsa melirikku.

“Dia masih SMA kelas 3. Emang kamu mau?” tanyaku.

“Nggak apa-apa deh, cuma jarak setahun.” Elsa memandang foto Jojo.

“Ada tuh nomor hp-nya kalau kamu mau.”

Pandangannya masih berkutat di foto-foto Jojo dan aku. “Kalian mesra banget, aku kira cowokmu.” Elsa tiba-tiba mengucapkan hal itu.

“Mesra apaan sih? Foto duduk berdua gitu aja masa mesra?” Aku mengikuti Elsa mengamati satu-persatu fotoku dengan Jojo.

***

“Temenmu cantik juga Mbak. Hahaha.” Ucap Jojo saat menelponku.

“Iya dong. Pilihanku kan selalu tepat.”

“Haha.. iya deh percaya.”

“Gimana? Masih galau?”

“Kalau kenalan sama cewek cantik gini nggak bakalan galau lagi, Mbak.” Suara tawa Jojo masih terdengar di telingaku.

“Ah kamu Jo. Eits, ingat! Aku nggak mau kalau sampai sekolahmu berantakan cuma gara-gara cewek.” Nasihatku kutujukan lagi untuknya.

“Iya Mbak. Aku tahu.” Jojo menjawabnya dengan pelan.

“Les yang rajin, belajar yang rajin. Jangan suka bolos!” ucapku lagi.

“Iya cereweeeet.” Ejekan Jojo yang lama tak kudengar kini bermunculan lagi.

“Heh, aku serius! Awas kalau sampai nilai ujianmu jeblok!” Aku mengancamnya.

“Kalau nilai ujianku ada yang nilai 100 emang Mbak Dinda mau ngasih hadiah?” Ledek Jojo.

“Gampang deh, emang kamu mau hadiah apa?”

“Hadiahnya apa ya? Emmm…” Jojo mengulur-ngulur jawabannya.

“Apaan?” desakku tak sabar.

“Em… jadian sama Mbak Dinda, hahahaha.” Jojo tertawa keras memekakkan telinga.

“Yeee.. Asal aja kalau ngomong. Pokoknya ada deh nanti hadiahnya.” Pipiku merona merah. Merasa malu saat Jojo mengucapkan hal itu.

“Aku tunggu deh.” Beberapa menit kemudian aku mengakhiri obrolan dengan Jojo. Aku merebahkan diri di tempat tidur, melepaskan penat setelah duduk berjam-jam di kelas karena ada jam kuliah.

Jadian dengan Jojo? Ah, apa itu mungkin. Aku memang sangat menyayangi dan merindukannya, namun itu hanya sebagai adik sepupu. Perhatianku selama ini untuk Jojo juga karena dia adalah saudaraku. Itu saja, tidak lebih. Aku sudah mengenalnya sejak kecil apalagi dua tahun terakhir kami tinggal seatap. Sifat baik, konyol, bahkan buruknya aku sudah tahu. Pantas saja jika aku sangat merindukannya di saat jarak terbentang memisahkan kami seperti ini. Aku sudah terlalu terbiasa hidup dengannya. Aku adalah anak tunggal. Sebelum ada Jojo suasana rumah sunyi, hanya aku, ibu dan ayah. Setelah ada Jojo kesunyian itu lenyap. Aku sudah sering berbagi cerita dengan Jojo tentang hal sekecil apapun. Kubuang jauh-jauh pemikiran konyol tentang jadian dengan Jojo. Jojo hanya bercanda, pikirku.

***

“Apa Mbak Dinda nggak sadar dengan perhatianku selama ini? Aku selama ini menemani Mbak Dinda saat menangis atau pun tertawa, karena aku sangat menyayangi kamu, Mbak.”

“Sayang sebagai kakak kan, Jo?”

“Bukan Mbak, aku ingin lebih dari itu. Aku ingin Mbak Dinda menjadi kekasihku bahkan menjadi….”

HAAAA…

Aku terbangun dari tidurku dengan keringat bercucuran.

“Ada apa, Din?” Elsa berlari menuju kamarku yang tak terkunci.

“Nggak apa-apa, El.” jawabku dengan napas terengah-engah.

“Kamu mimpi buruk?” Elsa duduk di dekatku.

Aku menggeleng.

Elsa mengambil sebotol air mineral di meja . “Ini minum!” Dia menyodorkan botol itu.

Aku meneguknya pelan.

“Sepertinya kamu mimpi buruk.” Elsa berbicara itu lagi.

Tak mungkin aku menceritakan mimpiku pada Elsa, dia pasti tertawa. Aku tetap diam meski Elsa menunggui di sebelah.

“Gimana? Sudah tenang?” tanyanya.

“Iya El, aku nggak apa-apa kok.” Aku memaksakan diri tersenyum pada Elsa.

“Ya sudah, aku balik ke kamar. Kalau ada apa-apa jangan sungkan memanggilku.” Elsa tersenyum lalu berjalan keluar dari kamarku.

“El.” Panggilku setelah beberapa detik punggungnya tak kulihat lagi.

“Hey, ada apa?” Dia melongokkan kepalanya di depan pintu kamarku.

“Terima kasih.” Aku tersenyum memandangnya.

“Ah, kamu. Aku kira ada apa. Sama-sama Din.” Dia tersenyum. Terlihat cantik seperti apa yang Jojo katakan.

“El, gimana sama Jojo?” Aku keluar kamar dan berjalan ke arahnya.

“Maksudmu John? Dia anaknya baik, seru, dan nggak bosenin.” Lagi-lagi dia tersenyum. Aku hampir lupa, panggilan Jojo itu hanya untukku.

“Liburan semester dia mau kesini.” ucapku.

“Iya, dia juga cerita. Rencananya sih mau ngajak jalan aku.”

“Ooh.” Aku menanggapi dengan ekspresi datar.

arti-sebuah-mimpi

Elsa kembali lagi ke kamarnya. Aku masih syok dengan mimpi barusan. Setiap sesuatu yang datang di mimpiku akan menjadi kenyataan. Apa mungkin? Itu konyol. Aku berjalan cepat menuju kamar mandi dan membasuh wajah. Aku segera ganti baju dan turun ke bawah. Aku tidak tahu akan ke mana. Aku hanya berjalan lurus melupakan segala kegalauan. Kakiku sangat lelah. Jojo. Andai saja kamu berada di sini, pasti kamu yang akan mengantarkanku kemana pun. Aku berhenti sejenak di Indomaret membeli beberapa makanan dan minuman dingin. Aku duduk sendirian di depan Indomaret, menghabiskan makanan.

Drett.. Drett.. Drett.. Hp di kantong celana panjangku bergetar. Kulihat Jojo mengirim pesan singkat.

From: Jojelek

Cuma Mbak Dinda. Nggak ada lagi selain dia, entah sampai kapan.

Mataku terbelalak setelah membacanya. Apa maksud Jojo? Dengan segera aku menelponnya. Setelah diangkat, langsung terdengar suara cowok di seberang sana.

Sorry Mbak, salah kirim. Hehehe.” Ucapnya langsung sambil cengengesan. Aku mengerutkan kening. Salah kirim? Lantas kenapa di pesan itu ada namaku?

“Lagi SMS-an sama siapa?” tanyaku langsung.

“Elsa! Eh, temenku ding.” Dia keceplosan.

Aku menahan tawa mendengarnya.

“Alaaah… ngapain sih pakai rahasia segala?” Aku menenggak minuman dinginku.

“Nggak apa-apa Mbak. Lagi di mana? Kok ramai?”

“Di depan Indomaret.

“Ngapain?”

“Nggak tahu, jalan-jalan aja.”

“Jalan kaki?”

“Iyee.. kamu kira naik motor? Mau setor nyawa?” Aku meledeknya.

“Hahhaha.” Jojo tertawa.

“Aku pulang dulu Jo. Aku tutup dulu telponnya.”

Aku berinisiatif ke toko buku di samping Indomaret ini. Lama sekali berada di sini, memilih-milih buku untuk tugasku. Pandanganku menangkap sebuah buku, Lupus. Lagi-lagi mengingatkanku pada Jojo. Dia sangat suka dengan buku yang kocak ini. Aku ingin membelikannya, namun hampir semua buku Lupus dia sudah punya.

***

“Din, nggak pulang?” Tanya Elsa saat melihatku tetap duduk di kelas.

“Nggak El.” Aku tersenyum kecut melihat Elsa.

“Kenapa? Kelihatannya ada masalah.” Dia duduk di sebelahku.

“Nggak kok.” Ucapku sambil menggeleng.

“Din, si John boleh juga tuh!”

Deg. Apakah Elsa mulai suka dengan Jojo? Tapi kenapa hati ini terasa teriris?

“Kamu kenapa Din? Wajahmu seperti orang bingung.” Ucap Elsa.

Aku segera menguasai diri. “Bingung? Ah nggak kok Sa. Eh, tadi kenapa sama John? Kamu suka ya?” Aku pura-pura meledeknya.

“Haha.. nggak sih, cuma nyaman saja berhubungan dengan dia.” Elsa tersenyum malu. Entah kenapa aku merasa lega saat dia mengatakan “nggak” tapi aku merasa dia menutupi perasaan yang sebenarnya. Ah Jojo, apakah kamu juga akan sama dengan Dirga di saat itu? Muncul di mimpiku dengan maksud yang sama seperti Dirga hanya saja ucapanmu berbeda.

“Gimana hubunganmu sama Dirga?” tanya Elsa kemudian. Elsa memang tahu akhir-akhir ini aku dekat dengan Dirga, namun dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku datang di sini.

“Biasa El, aku hanya sekadar berteman dengannya.” jawabku pelan.

“Iya aku tahu, sepertinya kalian cocok.” Senyumnya mengembang.

 

bersambung…

 

 

About Anik

Seorang penulis lepas berasal dari Kediri, yang sharing tulisan-tulisannya melalui BALTYRA.com. Sekarang menetap di Jember.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.