Duka, Mengeringkan Airmata

Christiana Budi

 

Tatapan kosong, kadang dialihkan dengan bercanda dengan pengungsi lain, namun kembali tatapan kosong datang menghiasi wajah lelah para pengungsi dusun Jemblung. Tanah longsor yang meluluh lantakkan dusun mereka belum mengering, memisahkan dari orang-orang yang mereka kasihi namun serasa air mata sudah mengering.

dusunjemblung (1) dusunjemblung (2)

Dusun Jemblung saat ini sudah luluh lantak, 122 jiwa dari 38 KK yang tinggal di dusun tersebut tersisa 30 jiwa (data desa Sampang-22 Desember 2014) yang selamat dari tragedi tanah longsor. Tragedi ini tidak saja menimpa masyarakat Desa Sijemblung namun juga masyarakat yang sedang melintasi wilayah dusun tersebut.

Tanah Longsor menimbun rumah dan sawah penduduk dusun Jemblung

Tanah Longsor menimbun rumah dan sawah penduduk dusun Jemblung

Sejauh mata memandang hanya hamparan tanah merah yang meluluh lantakkan semua yang ada. Duapuluh satu rumah penduduk dan satu tempat ibadah hancur, 3 rumah rusak berat, tidak terhitung kendaraan bermotor dan ternak semuanya hanya terlihat tanah merah yang rata.

dusunjemblung (4) dusunjemblung (5) dusunjemblung (6)

Foto-foto di atas sebelum tanah longsor wilayah ini adalah rumah penduduk dusun Jemblung yang cukup padat sekarang tidak ada yang tersisa tinggal timbunan tanah merah

Dari cerita saksi mata di dusun yang posisinya di atas Siemblung, iring-iringan antrian kendaraan bermotor untuk melewati wilayah itu seperti biasa ramai karena ada sedikit longsor di bahu jalan sehingga kendaraan harus bergantian melewati, karena sore itu sudah menjelang maghrib maka masyarakat dusun Jemblung juga sudah di rumah masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara krak dan dalam hitungan menit lereng Bukit Telaga Lele longsor dengan cepatnya meluluh lantakkan dan menimbun semua yang ada di bawahnya. Rumah, kendaraan, ternak dan masyarakat dusun dan yang melintas terkubur dan terdorong bersama dengan lumpur yang menerjang mereka dengan tanpa ampun. Indonesia berduka kembali, kehilangan karena bencana yang datang kembali.

Saat mendengar cerita itu, mata saya memandang sisa gunung yang masih berdiri kokoh, dengan pemandangan di bawah kakinya rata dengan lumpur dan tanah. Hati ini miris melihat dengan mata kepala sendiri akibat kedasyatan dari amukan alam, manusia tidak berdaya jika alam sudah marah. Sepuluh Ha areal sawah, pemukiman dan jalan provinsi terkubur, diperlukan alat berat untuk membuka kembali jalan provinsi yang terkubur. Berikut adalah foto-foto yang menunjukkan kerusakan yang diakibatkan oleh tanah longsor

dusunjemblung (7) dusunjemblung (8) dusunjemblung (9) dusunjemblung (10) dusunjemblung (11) dusunjemblung (12)

Sisa bangunan dan rumah yang terdorong dan terkubur di sungai yang ada di seberang jalan besar, dan cukup jauh dari lereng bukit

Sisa bangunan dan rumah yang terdorong dan terkubur di sungai yang ada di seberang jalan besar, dan cukup jauh dari lereng bukit

Ngeri rasanya saat membaca daftar korban jiwa dan selamat dari desa, ada yang dalam satu rumah tangga tinggal satu atau dua orang atau bahkan habis sama sekali. Dari data desa Sampang per 22 Desember dari 122 jiwa penduduk, data jiwa yang masih hidup hanya 30 orang dan jumlah jiwa yang meninggal adalah 92 (63 sudah ketemu dan 29 belum ketemu). Data Korban ini masih belum termasuk korban jiwa yang melintas di jalan raya.

Pasca bencana longsor, penduduk sekitar Desa Sijemblung mengungsi, pengungsi mencapai ribuan karena begitu banyak desa yang masuk dalam zona merah dan curah hujan yang tinggi membuat mereka takut adanya longsor susulan. Saat saya datang ke wilayah Karangkobar, tanggap darurat sudah dicabut, evakuasi sudah selesai, dan para pengungsi sudah kembali ke desanya masing-masing. Posko-posko bantuan sudah mulai tutup dan hanya tersisa posko dari kecamatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan posko yang menampung masyarakat dusun Sijemblung yang memang sudah tidak mempunyai rumah.

Berikut adalah foto-foto suasana pengungsian untuk korban tanah longsor di dusun Ngaliyan

dusunjemblung (14) dusunjemblung (15) dusunjemblung (16) dusunjemblung (17) dusunjemblung (18)

Ada satu spanduk yang menarik perhatian saya yaitu:

dusunjemblung (19)

Saya setuju sekali dengan kalimat ”Jadilah Relawan bukan wisatawan”, karena saat saya datang kesana suasana memang sudah sepi karena relawan sudah banyak yang pergi, namun banyak wisatawan yang datang ke wilayah itu. Walaupun mereka hanya sekedar datang untuk melihat namun mereka juga membawa keluarga dan anak-anak kecil untuk melihat, walaupun hanya untuk sekedar berselfie.

Ada yang membuat saya trenyuh adalah ada sekelompok orang yang berfoto-ria di wilayah itu dengan memakai pakaian yang cocoknya untuk berkunjung ke mall atau tempat wisata lainnya, karena iseng saya minta teman saya untuk mencoba meminta mereka berfoto lagi dengan kamera saya, dan amazing mereka mau…tepok jidat. Inilah hasil bidikan teman untuk mereka yang befoto-ria di wilayah bencana. Kontras sekali dengan foto di pengungsian bukan?

dusunjemblung (20)

Sebelum saya datang ke wilayah bencana saya sudah berkoordinasi dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu berada di sana dan ternyata logistic sudah lebih dari cukup, bahkan sudah berlebih. Bantuan yang datang membludak ke wilayah tersebut sampai sudah seperti tidak tepat sasaran, siapa saja bisa mengambil bantuan di posko-posko bencana. Jika kita melihat dan melintasi wilayah tersebut di mana-mana ada posko bantuan didirikan ini terjadi karena posko utama sudah kewalahan dengan bantuan yang ada dan mereka sudah tidak mau menerima bantuan dalam bentuk barang lagi.

Berikut adalah beberapa tempat posko-posko yang sempat saya ambil gambarnya, sebagian sudah tidak ada kegiatan lagi.

dusunjemblung (21) dusunjemblung (22) dusunjemblung (23) dusunjemblung (24) dusunjemblung (25) dusunjemblung (26) dusunjemblung (27) dusunjemblung (28) dusunjemblung (29) dusunjemblung (30)

Begitu menjamurnya posko menandakan banyaknya pihak yang peduli dengan bencana ini, namun miris juga karena kemudian menjadi ajang show up kepedulian dan saingan antar posko untuk menunjukkan kepedulian kepada pengungsi dan korban.

Logistic menumpuk di posko-posko utama yang masih berjalan kegiatannya, bahkan ada yang sudah tutup namun barang masih banyak hanya ditinggalkan di rumah warga yang pernah menjadi tempat posko pengungsian, dan hanya berpesan jika masih ada yang membutuhkan silahkan untuk diberikan saja. Berikut adalah foto-foto logistic yang masih tertimbun di posko-posko belum disalurkan.

dusunjemblung (31) dusunjemblung (32) dusunjemblung (33)

Dari keterangan yang saya dapatkan dan setelah datang sendiri ke wilayah, dan melihat kondisi bahkan teman-teman di kecamatan sudah kewalahan menyalurkan logistic yang menumpuk dan juga masih ada datang lagi yang masih sampau di kabupaten, tidak tepat rasanya membelanjakan uang donasi yang masuk di rekening saya saat ini dengan barang-barang yang sudah tidak dibutuhkan lagi. Berikut adalah donasi yang masuk di rekening Mandiri saya:

Daftar Donatur untuk dusun Sijemblung
NoTanggalNamaJumlah
116-12-2014Anonim500,000
216-12-2014Anonim200,000
317-12-2014Anonim300,000
418-12-2014Anonim300,000
518-12-2014Anonim500,000
618-12-2014Anonim350,000
718-12-2014Anonim500,000
819-12-2014Anonim485,450
919-12-2014Anonim10,000,000
Total13,135,450

Pemerintah akan merelokasi 30 jiwa yang selamat dari bencana di wilayah yang aman yaitu di sekitar dusun Karangkobar. Wilayah ini sudah dinyatakan aman dan sdh teliti oleh ahli Geologi, pemerintah akan merelokasi semua 30 Jiwa yang dari dusun si Jemblung dan juga dari wilayah dusun Ngrakal-Slatri yang termasuk di wilayah merah. Bantuan di atas karena bantuan logistic yang sudah membludak, saya akan rencanakan untuk pasca bencana untuk recovery dan beberapa donator menyarankan untuk membelikan peralatan atau barang setelah pasca relokasi untuk kebutuhan sehari-hari, saya akan berkoordinasi dengan beberapa teman yang memang standby di sana membantu para pengungsi. Atau mungkin jika pembaca Baltyra bisa memberikan saran atau usulan sebaiknya dana tersebut digunakan untuk apa, saya terbuka untuk masukannya.

Walaupun duka sudah mengeringkan air mata, namun 30 Jiwa yang selamat akan berjuang untuk bangkit kembali.

 

Christiana Budi

Banjarnegara, Desember 2014

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.