[Enief & Adhara] Cinema 21

Dewi Aichi – Brazil

 

Malam minggu ini Enief janjian sama Adhara nonton film Doraemon. Berhubung iklan film terngiang-ngiang terus di ingatan Enief, dan di kota Jogja yang baru saja ia datangi, masih buta peta. Terpaksa mengajak Adhara untuk menemaninya, walau dalam hati ia keberatan. Seumur hidup belum pernah nonton di Cinema 21, jadi ini pengalaman pertama mereka masuk mall dan nonton di Cinema 21.

Enief: “ Gon, aku kok merinding ya inget ceritanya si Murni, jebul tenan ki, lawang iku iso mbukak tutup dewe yo?” (Aku kok merinding ya, ingat ceritanya si Murni, ternyata benar ini, pintu itu bisa buka tutup sendiri ya?)

Adhara: “emang aku yo wis dicritani, nek mall iki ana penunggune, jarene gendruwo. Pendak lawang dijaga satu genderuwo.” (Memang aku juga sudah diceritakan kalau mall ini ada penunggunya, katanya gendruwo. Tiap pintu dijaga satu gendruwo)

Mereka berdua menuju Ambarrukmo Premiere dan masuk ke dalam antrian pembeli tiket masuk. Bingung lokasinya di mana, muter-muter ke sana-sini tidak menemukan lokasi, akhirnya dapat antrian paling belakang.

Enief: “waduh adem banget neng kene, aku sampe nruthuk tenan, kowe nggowo sarung ora Gon?” (Dingin sekali di sini, sampai gemetaran, kamu bawa sarung tidak?)

Adhara: “Ora je, iki mamakku malah nggawani termos, ana ki wedang jahe panas-panas”, Adhara langsung membuka tas kresek, membuka termos dan menuang wedang jahe ke tutup termos, lalu menyodorkan ke Enief. (Tidak tuh, ibuku malah membawakan termos, ini ada wedang jahe panas)

Enief: “Maju sithik Gon, galo kae wis rada lancer antriane, aku tak ngombe dilute, ben anget awakku”. (Maju sedikit, itu lho, sudah lancar antrinya, aku mau minum sebentar, biar hangat badanku)

Adhara ambil posisi agak maju karena sudah mendekati loket pembelian tiket. Dan akhirnya nyampe juga giliran mereka membeli tiket.

Adhara: “Mbak, badhe tumbas tiket rong lembar mbak, film Doraemon nggih! (Beli tiket 2 lembar mbak)

Petugas loket memberikan 2 lembar tiket ke Adhara. Lalu mereka berdua menuju pintu masuk. Pas di plang masuk, ada petugas yang meminta tiket.

Enief dan Adhara bingung, kok petugasnya menyobek tiketnya.

Enief: “Kowe goblok kok Gon, salah lehmu tuku tiket ki!” (Kamu bodoh, salah beli tiketnya tuh)

Adhara: “Lha mbak’e ra omong apa-apa kok, aku nembung tiket, njur diwenehi rong lembar iki. (Mbaknya tidak bilang apa-apa, aku minta tiket, dikasih hanya 2 lembar ini)

Enief jengkel soale Adhara salah beli tiket, njur Enief nginthik neng loket penjualan tiket. (Enief, jengkel karena Adhara salah beli tiket, kemudian Enief mengintip loket penjualan tiket)

Enief: “Mbak, beli tiket 2 lembar ya, untuk nonton Doraemon, jangan salah.”

Dan setelah menerima tiket, Enief kembali menuju di pintu masuk, di mana Adhara sedang menunggunya.

Enief: “ Ini mbak, saya beli tiket lagi, biar bisa nonton.”

Adhara: “Lho..mbak piye to..beli tiket barusan, tidak salah lagi, kok disobek lagi?”

Keduanya meradang menahan emosi, dan kembali ke loket penjualan tiket, penjual tiket heran kok kedua orang kampung ini beli lagi tiketnya.

Petugas loket: “Mas..kan sudah beli tiket dua kali kok beli lagi, emang untuk siapa?”

Adhara: “itu lho..petugas di sana itu kayaknya stress to mbak, tiket saya disobek melulu!”

Petugas: “Wooo…ya memang begitu mas, itu tanda checking saja, ngga apa-apa, sekarang boleh masuk!”

Enief dan Adhara saling pandang seakan saling menuduh atas kendesoannya. Hahahahaha…(keduanya ketawa girang)

Di depan pintu masuk, mbak-mbak memberikan kaca mata kepada Enief dan Adhara.

Adhara: “Aku ora butuh kacamata mbak….emang arep neng laut, bengi-bengi adol kacamata, ganggu wae.” (Aku tidak butuh kacamata, memang mau ke laut, malam-malam jualan kacamata, ganggu saja)

Enief: “Iki nggo kacamata nggo ndelok layar telu D lho Gon, gratis iki…wong kok ra up to date..makane sering-sering online…!” (Ini pakai kacamata untuk lihat layar 3D, gratis ini, orang kok tidak up to date, makanya sering-sering online)

Adhara: “Ohh…tak kira mbak’e kae adol kacamata …ngapa bengi-bengi nganggo kacamata, batinku.” (Aku kira mbaknya jualan kacamata, kenapa malam-malam pakai kacamata)

Mereka buru-buru masuk dan nyari-nyari nomer tempat duduk yang diberitahu oleh mbak petugas, Enief menyalakan lampu senter karena di dalam sudah gelap, beberapa thriller film baru sedang tayang. Akhirnya mereka duduk.

Enief: “Kacamatane lek dinggo Gon, ben gambare tambah apik.” (kacamatanya dipakai, biar gambarnya tambah apik)

Adhara menuruti perintah Enief dan langsung menggunakan kacamata. Adhara berlagak kayak orang buta yang meraba-raba Enief. Enief secara kilat melempar tangan Adhara dengan keras.

Adhara: “Aduh hiyung…kowe ki ngapa lho kok nampel tanganku?”

Enief: “Stttttt..brisik kowe yooo..!”

Enief dan Adhara mulai menyimak thriller di layar. Kebetulan thriller film Anaconda. Pas adegan kelompok ekspedisi pencari anggrek berdarah menyeberangi sungai, tiba-tiba salah satunya dimakan anaconda. Karena efek dari 3D, seolah-olah kepala anaconda itu berada tepat beberapa centi di muka Adhara.

Adhara: “Tulungggggggggggggggggg…. ada ular!” (Adhara bengok-bengok kenceng banget hingga seluruh penonton menyarankan untuk diam).

Enief: “Nek wedi ulo yo kacamatane dicopot, ulane mesti lungo adoh, jal dicopot!” (Kalau takut ular, kacamatanya dicopot, ularnya pasti pergi)

Lagi-lagi Adhara nurut omongan Enief. Adhara tampak gemetaran saking takutnya dimakan anaconda.

cinema

Thriller Anaconda selesai dan ganti dengan thriller berikutnya, yaitu film Alligator. Kini giliran Enief yang bikin heboh satu gedung bioskop. Begitu tampak buaya raksasa mangap-mangap Enief menjerit tidak tanggung-tanggung.

Enief: “Mbokkkkkkkkkkkk..pakkkkkkkk…(blekkkkkkkkk….semaput)

Adhara bingung bagaimana mau mengangkat Enief, pasti ngga kuat karena harus bawa macam-macam bekal dan termosnya. Akhirnya, karena keributan itu, petugas satpam masuk dan menggotong Enief keluar gedung bioskop.

Enief ditidurkan di lantai, Adhara segera mengambil PPO dari tasnya dan dioles-oleskan ke hidung Enief. Dan tak berapa lama Enief siuman, dan bingung tidak ingat apa yang terjadi.

 

 

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.