[Menjelajahi Kota Solo] Pasar Gede

Pratiwi Setyaningrum

 

Hai gaes (jowoane guys). Libur 3 hari di tahun baru 2015 saya pulkam. Pulang Kampung. Ke kota Solo. Haa.. nyebut kota Solo mesti yang kepikir soal jajanannya yang aneka rupa ya. Memang. Hihi. Tapi hari pertama ke Solo saya malah mampir ke Pasar Besar. Lokasinya mantap di tempat yang terhormat yaitu di pusat kota, yaitu di perempatan berhadap-hadapan dengan komplek pertokoan jaman dulu yang sekarang jadi komplek pertokoan khusus buah dan ikan hias, dan Kantor walikota di ujung jembatan.

pasargede01

Sebelum lanjut ceritanya, sejarah dulu ya: Menurut info Wikipedia Indonesia, Pada zaman kolonial Belanda, Pasar Gede mulanya merupakan sebuah pasar kecil yang didirikan di area seluas 10.421 hektare, berlokasi di persimpangan jalan dari kantor gubernur yang sekarang berubah fungsi menjadi Balaikota Surakarta. Bangunan ini dirancang oleh seorang arsitek Belanda bernama Ir. Thomas Karsten. Bangunan pasar selesai pembangunannya pada 1930 dan diberi nama Pasar Gedhé Hardjanagara. Pasar ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar terbesar dan termegah di Surakarta. Pasar gede terdiri dari dua bangunan yang terpisahkan jalan yang sekarang disebut sebagai Jalan Sudirman. Masing-masing dari kedua bangunan ini terdiri dari dua lantai. Pintu gerbang di bangunan utama terlihat seperti atap singgasana yang kemudian diberi nama Pasar Gedhé dalam bahasa Jawa.

pasargede02

Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Pada 1947, Pasar Gede mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik Indonesia yang kemudian mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta kemudian merenovasi kembali pada 1949. Namun perbaikan atap baru selesai pada 1981. Pemerintah Indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah dan ikan hias.

Pasar Gede terletak di seberang Balaikota Surakarta pada jalan Jendral Sudirman yang disambung dengan jembatan kerna adanya sebuah aliran sungai kecil yang memotong jalan.

By the way setiap ngelewatin jembatan ini selalu ingat kejadian jaman misik TK dulu. Pagi-pagi dijemput dari rumah eyang naik sepeda –aku sering berakhir minggu di rumah Eyang– kerna Senin hari sekolah. Masih ngantuk berat. Kriyat-kriyut.. gowees-goweess.. angin jam 6 pagi dingin semribit. Sampai di tanjakan naik ke jembatan tubuhku oleng, trus slow motion jatuh sendiri… kakiku nyungsep di jeruji.. mak plekutik.. gubrak. Sakit. Well gaes, itu menjelaskan mengapa tidur di boncengan sepeda itu dilarang. *isin pol

pasargede03

Yak. Selesai sejarahnya ya, lanjut masuk pasar. Kami masuk dari depan gak pakai tengok kiri-kanan langsung njujuk ke bagian belakang pasar, ngincer es dawet. Terkenalnya dengan nama Es Dawet Mbak Darmi. Antriannya selalu panjang, tapi tak ada yang keberatan. Bisa dibungkus atau dimakan di tempat. Satu mangkok 6.000 IDR nek ndak salah. Aimaaak Huenyake pol. Saking enaknya sampai gak kepikiran untuk fotoin. Hihi.

Pasar Besar ini terbagi dalam beberapa section/pembagian wilayah yang memudahkan pembeli dalam mencari barang belanjaan. Ada bagian basah semacam ayam mentah, daging dsb. itu di lantai atas, bagian buah-buahan ada di sisi kiri tengah, penganan cemilan dan goreng-gorengan menguasai jalur tengah sampai ke belakang, kemudian bagian bumbu-bumbu, dan lain-lain semuanya ada, gak hapal saya, kapan-kapan saya bahas lagi deh kalau pulkam lagi.

Nah lokasi es dawet adalah lokasi makanan yang serba digoreng, maksud saya bener-bener digoreng di tempat. Mereka menggoreng mulai dari Ayam kampung utuh, ayam negeri dalam potongan-potongan, kemudian ada goreng kulit ceker ayam, usus, dan juga paru-paru sapi, kulit sapi, dan sebagainya. Kalian akan mendapatkan gorengan yang benar-benar fresh from the wajan, gaes. Wajan-wajan hitam jaman dulu itu deh yang segede-gede gaban.

Selesai sarapan es dawet, beli ayam goreng kremes di dekat situ. Untuk dibawa pulang. Harga satu dus isi ayam utuh plus 3 plastik kremesannya 60.000 IDR. Beli lagi satu plastik khusus kremesnya 15.000 IDR. Ayamnya ayam kampung. Ini menu makan kegemaran keluarga kami.

pasargede04

Belanja ayam sudah beres, kami melanjutkan langkah ke tengah pasar. Ketemu banyak jajanan tradisional. Tapi saya sejak dari Jakarta sudah berangan-angan kepingin makan grontol. Adanya ya di sini. Grontol itu jagung pipil yang dikukus dengan sedikit injet, kemudian dihidangkan dengan parutan kelapa gurih dan sedikit taburan gula pasir. Enyak sekali. Satu bungkusnya 2.000 IDR. Jaman dulu belum ada jagung impor yang manis itu. Sekarang karena selera, grontol sudah bisa divariasi. Ada yang gak suka kelapa parut, njuk diganti, dicampur dengan keju parut dan gula pasir. Enak juga, ya iya lah.

pasargede05

Lanjut jalan-jalannya saya akhirnya bertemu dengan yang namanya biji buah pohon trembesi. Dijual dalam bentuk penganan asin seperti kuaci tapi kulitnya item, dijual dalam plastik-plastik kiloan @10.000 IDR, namanya Godril. Ini produk musiman. Pahit-pahit asin gurih gitu. Hanya konon godril ini penghasil senjata kentut paling dahsyat, dengan bau yang sanggup menjajari level juaranya Pete dan Jengkol. Coba deh. Soalnya saya jadikan oleh-oleh buat temen-temen kantor kok ya pada doyan tuh? Sudah saya warning masalah bomnya juga mereka gak peduli tuh? hihihihi…

Lanjut lagi jalan makin kembali ke arah depan bagian dalam pasar, saya bertemu pedagang sambel pecel. Ada sambel pecel merah biasa yang dari kacang tanah itu –yang huenyake wis kawentar (kondang)–, ada lagi sampel pecel warna hitam, kami menyebutnya Pecel Ndeso. Bahannya dari wijen bakar campur-campur apa gitu.. ada yang tahu? Dinikmati dengan rebusan sayur terutama yang pahit-pahit seperti daun kenikir, daun pepaya, kemangi, bunga turi, mentimun, tauge dan biji kecipir. Pait manis pedes gurih enak gilak. Huehe. Seperempat kilo sambel pecel itu 10.000 IDR, sedangkan sambel pecel ndeso sedikit lebih mahal yaitu 15.000 IDR.

pasargede06 pasargede07

Ng.. penjelasan gambar ya.. Jadi yang bungkus daun itu: bongko, pelas, trus selanjutnya makin ke atas itu sambel ijo, sambel goreng krecek, oseng cumi dengan kulit mlinjo, gudeg lengkap, oseng pedas daun pepaya, aneka sayur rebus untuk pecel kacang dan pecel ndeso, trus sayur segar untuk brambang asem, terus.. yang di wadah plastik itu kentang klengkam, tempe kacang teri di klengkam juga, terusnya lagi ada dada-mentog Ayam dan ati-ampela goreng dibumbu kuning, sama itu encik-encik pedagang sebelah sana juga jual sambel pecel, yang kalau beliau sambel pecelnya untuk mie goreng, bihun goreng, gitu.. oya plus kerupuknya juga ada.

Ke sananya lagi itu aneka jajan pasar macam sosis solo, bakwan, nagasari, dll.

Kalau yang di bawah sini (di foto sebelumnya) itu jualan aneka penganan yang dipadu dengan parutan kelapa, dan atau juruh (gula jawa dicairkan), semacam Grontol, ubi parut, aneka getuk, ketan item, dan cenil.

Pokoknya perut gak muat deh kalo mau nyoba semua dalam sehari. Setidaknya butuh 5 hari untuk mencoba semua jenis penganan di sini.

Sebelum keluar pasar, kami mampir lagi. Geser ke kanan. Kali ini ke penjual minuman bersantan lainnya, namanya Gempol Pleret. Bedanya kalau Es Dawet tadi dengan gula pasir dicairkan yang dicampur vanili, kalau Gempol Pleret ini gulanya dengan gula kelapa cair, seger banget siang-siang diminum dengan es batu. Saya minta 6 bungkus untuk diminum nanti siang. Satu porsinya 5.000 IDR. Gak ada fotonya lagi. Hihihihi. Penjelasannya menyusul ya, atau cari di pencarian Google, hehehehe…

pasargede08

Puas jalan-jalan di pasar Gede yang menggiurkan itu, kami bertiga –yaitu saya, Ibu, dan kakak– pulang. Tapi saya berkunjung dulu ke Klenteng di seberang pasar. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan, yang kata si Om baju orange (lihat foto) klenteng Tri Dharma ini sudah berusia hampir 400 th. Dan pada 2014 mendapat anugerah predikat BCB : Bangunan Cagar Budaya. Jadinya untuk selanjutnya aman dari kemungkinan pembongkaran. Ini serangkaian fotonya. Penjelasan menyusul. Yang tahu tulung dijelasin yaa.. suwun.

pasargede09 pasargede10 pasargede11 pasargede12 pasargede13 pasargede14

Dewa Bumi (info dari Om Baju Orange ^.^)?

Dewa Bumi (info dari Om Baju Orange ^.^)?

Dewa Obat (info dari Om Baju Orange ^-^)?

Dewa Obat (info dari Om Baju Orange ^-^)?

pasargede17 pasargede18 pasargede19 pasargede20

 

Kalideres, 10 Januari 2015

Ini saya memberanikan diri membuat liputan, hasil dorongan tiada henti dari  mas Uki Bayu Sejati dan Yang Mulia Enief Adhara ^_^)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.