[Cerita Rakyat Buttasalewangang] Toakala

Hajrah Kadir

 

Kata Toakala secara etimologi terdiri dari dua kata yakni Toa yang berarti yang dituakan, sedangkan Kala berarti hutan. Jadi Toakala adalah orang yang dituakan yang ada di dalam hutan. Ada juga yang mengartirkan bahwa Toakala berasal dari kata Toakaleng yang berarti memiliki akal (banyak akal) atau pintar.

Konon pada zaman dahulu di lereng gunung Bulusaraung tepatnya ri Abbo terdapat sebuah kerajaan. Kerajaan itu bernama kerajaan Abbo. Kerajaan tersebut diperintah oleh seekor kera yang bernama Marakondang. Di bawah pemerintahan Raja Marakondang, Kerajaan Abbo aman dan tenteram. Dalam melaksanakan pemerintahannya, I Marakondang dibantu oleh penasihat-penasihatnya yaitu: I Toakala ri Bantimurung, I Toa ri Tamanggura (Tamanggura termasuk dalam kompleks pabrik semen Bosowa sekarang). Selain itu, juga dibantu oleh para panglima-panglima perangnya yakni: Pasollekna MoncongloE, Dampang Cece ri Boro-boro Boro-boro termasuk dalam Kecamatan Bantimurung sekarang).

Ketenangan Kerajaan Abbo berubah menjadi kisruh adalah bermula timbulnya hasrat sang Raja Marakondang yang ingin mendapatkan permaisuri. Sudah beberapa yang telah ditunjukkan namun belum ada yang berkenan di hati.

Ketika I Toakala menceritakan bahwa ada seorang putri cantik dari Kerajaan Pattiro (terletak di lereng gunung Bulusaraung) yang bernama Bissu Daeng, maka I Marakondang langsung jatuh hati. Meskipun I Marakondang belum melihatnya.

Maka diutuslah I Toakala dan beberapa orang untuk meminang. Sesampai di Kerajaan Pattiro, para utusan menyampaikan niatnya kepada Raja Pattiro. Raja Pattiro menolak menta-mentah pinangan tersebut. Mereka mendapat hinaan. ”Tea annangga dare, ammintuang tau romang (aku tak sudi menerima pinangan seekor kera, bermantukan monyet).

Para utusan pulang hati yang sangat terluka menerima perlakuan tersebut. Karena cintanya kepada I Bissu Daeng, maka I Marakondang memerintahkan kera suruhannya untuk menculiknya. I Bissu Daeng berhasil diculik ketika dia sedang mandi-mandi di permandian istana kerajaan Pattiro.

Saat dalam istana I Marakondang, I Bissu Daeng selalu berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman I Marakaondang. Namun, akhirnya I Bissu Daeng berhasil melepaskan diri setelah mendapat pertolongan dari seekor ular piton yang besar dan dikembalikan ke Istana Kerajaan Pattiro. Ketika I Marakondang mengetahui bakhwa I Bissu Daeng berhasil meloloskan diri, maka marahlah Maharaja I Marakondang. I Marakondang lalu memerintahkan untuk menyerang istana Kerajaan Pattiro dan merebut kembali wanita idamannya I Bissu Daeng.

Berbagai alasan telah disampaikan oleh Raja Pattiro agar mengembalikan Putrinya, namun I Marakondang tidak mau melepaskan kembali I Bissu Daeng jika dia tidak mau memenuhi syarat yang ditentukan yakni menikahkannya dengan Bissu Daeng.

Akhirnya, salah seorang panglima kerajaan Pattiro yang berasal dari Bulo-bulo memberikan harapan kepada I Marakondang bahwa akan dilaksanakan pernikahan yang meriah dan besar-besaran asal Bissu Daeng dikembalikan ke Kerajaan Pattiro, akhirnya I Marakondang pun setuju dan melepaskan I Bissu Daeng.

Persiapan pernikahan antara Bissu Daeng dan I Marakondang pun dipersiapkan. Namun, ada syarat yang diajukan oleh Raja Pattiro, yakni sebelum mempelai I Marakondang sampai di Istana Pattiro, maka rombongan akan dijamu di sebuah baruga yang telah dibuatnya. Namun baruga tersebut harus memenuhi syarat yang telah ditentukan oleh Gallarang Bulo-bulo(Gallaran=Makassar adalah sesepuh adat), yakni baruga tersebut hanya memiliki satu pintu, tidak berjendela, atapnya dari daun rumbia, dindingnya terbuat dari bambu. Syarat itupun disetujui oleh Raja Marakondang.

Hari pernikahan pun tiba. Mempelai laki-laki diarak ke istana kerajaan Pattiro. Para pengantar pengantin telah tiba di baruga yang relah dibuatnya. Satu per satu mereka memasuki baruga. Pada saat mereka telah masuk semua ke Baruga, maka secepat kilat Gallarang Bulo-bulo memerintahkan kepada warga Pattiro untuk menyulut api dan membakar Baruga tersebut.

Api telah membumbung tinggi, Baruga telah terbakar. Karena semua bahan membuat baruga itu terbuat dari kayu, maka dengan cepat dilahap api. Mereka tak dapat meloloskan diri, karena pintu hanya satu dan tertutup, jendela tidak ada. Mereka terkurung oleh api, tak ada yang dapat meloloskan diri, kecuali I Toakala. Karena kesaktiannya, I Toakala dapat menembus atap Baruga yang hanya terbuat dari daun nipa. I Toakala meloloskan diri dengan membawa seekor kera yang sedang bunting (hamil). Namun, pantat I Toakala sendiri tersulut api oleh Gallarang Bulo-bulo.

Itulah konon kera-kera yang ada di Kabupaten Maros, pantatnya tidak ditumbuhi bulu.

Baruga telah hancur termakan api. Yang tertinggal hanya puing-puing. Seluruh penghuni Baruga habis termakan api. Karena malu, I Toakala akhirnya masuk ke gua dan bertapa. Karena terlalu lama bertapa, maka seluruh raga I Toakala melebur dan menyatu menjadi batu.

Sampai sekarang jasad I Toakala yang telah berubah menjadi batu, masih dapat disaksikan pada sebuah gua yang diberi nama Gua Toakala. Pada dinding gua tersebut, tampak jelas seekor kera. Dan menurut narasumber (H. Saleh Karfa) yang telah menyaksikan sendiri wujud I Toakala yang menyatu dengan batu, semakin ditatap, maka semakin terasa hidup. Gua Toakala terletak pada sisi kanan air terjun, yang berada di dekat tangga. Untuk masuk ke gua tersebut, maka diperlukan lampu karena kondisi gua yang gelap gulita.

Konon menurut penduduk di sekitar permandian Bantimurung, pada saat-saat tertentu, muncul kera yang berwarna

keabu-abuan. Kera itu mirip Hanoman dalam cerita Ramayana. Kera itu adalah jelmaan dari Maharaja Marakondang.

Berdasarkan cerita itulah sehingga, Permandian Alam Bantimurung diberikan simbol seekor kera. Kera itu adalah penasihat Raja Marakondang yaitu I Toakala.

Tempat kolam permandian I Bissu Daeng masih dapat disaksikan sampai sekarang. Yaitu terletak di atas air terjun kedua pada permandian alam Bantimurung.

bantimurung

Kata Bantimurung berdasarkan etimologi bahasa daerah di sekitar permandian alam Bantimurung terdiri dari dua kata yakni Bunting dan Morong. Bunting berarti pengantin, sedangkan Morong adalah duduk. Jadi Buntingmorong adalah pengantin yang sedang duduk. Kerena perkembangan bahasa yang terjadi, maka Buntingmorong berubah menjadi Bantimurung.

Konon, pengantin yang sedang duduk berdampingan tersebut juga masih dapat disaksikan di sebuah gua yang terdapat di sekitar air terjun kedua.

Pelaku-pelaku utama yang terdapat dalam cerita ini, konon adalah manusia yang dikutuk menjadi kera.

 

~sekian~

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.