Informal

Anwari Doel Arnowo

 

Di Indonesia hal formal itu penting sekali bagi kebanyakan orang, sejak dari Carik di sebuah desa sampai presidennya. Saya sendiri, biarpun selalu berpakaian rapi dan serasi kalau misalnya menghadiri resepsi perkawinan, itu nomor satu bukan karena saya mau ikut-ikutan dengan masyarakat pada umumnya. Sudah biasa orang mengenakan jas dan dasi dengan susah payah, mengada-ada, berhias seperti orang mau ke persidangan di dpr.

formal informal

Dan masyarakat laki-laki pada umumnya memakai jas dan celana berwarna gelap dan dasi yang cara mengikatnya tidak rapi. Dulu, sepuluh tahun yang lalu kalau saya berdasi, saya menggunakan double knot, artinya melingkarkan ikatannya (front apron dan rear apron) dua kali, dengan demikian ikatan jadinya, bisa rapi jadi terlihat berbentuk segitiga yang bagus. Tetapi bentuk yang paling saya sukai justru dasi kupu-kupu (bow tie) dan ascot tie. Tidak banyak orang mamakainya apalagi sekarang. Mungkin saya tertular oleh kebiasaan ayah saya yang juga menyukai bow tie. Ascot tie adalah bow tie yang diikat sendiri, yang dengan sendirinya harus belajar dulu berkali-kali. Sejak jaman sekolah sampai saya berumur enam puluh hampir setiap hari dalam bekerja kantor saya mengenakan dasi.

Saya lepas dari dasi kalau tidak ada masalah bisnis, hari libur dan bekerja di hutan dan tinggal di camp di hutan Kalimantan. Hanya kalau bersilaturahmi dengan pejabat: gubernur, bupati atau kepala Polisi biasanya saya memakainya di Kalimantan. Mengapa saya berbicara dasi?  Itu tidak lain karena ada hubungannya dengan masalah formalitas yang disukai masyarakat umum Indonesia.

Contohnya pada awal 1970an saya yang menjadi salesman encyclopaedia, kalau ingin bertemu dengan boss sebuah kantor atau sebuah instansi, “halangan” awal yang saya temui biasanya adalah sang sekretaris, sang ajudan atau bahkan opas yang tugasnya seperti concierge. Mereka ini pada tahun 1971 an hanya mau minggir dengan sendirinya kalau melihat dasi. Biasanya malah takut. Bukannya saya mau ditakuti, akan tetapi saya tidak mau dilecehkan karena hanya tidak mengenakan dasi. Dasi berapa sih harganya?

Ternyata bukan harga dasi yang ditakuti sang sekretaris atau sang ajudan, akan tetapi dasi mempunyai wibawa yang besar. Aneh? Saya yang mengalaminya sendiri berpuluh kali bahkan beratus kali, merasa masih belum bisa menerangkan apa hubungannya dasi dan wibawa. Padahal terus terang saja, saya merasa amat risi (tidak comfortable) kalau hanya karena memakai dasi justru mendapat label: patut dihormati. Kalau mau jelas lagi, yang paling risi adalah leher saya, tidak dapat secara bebas menoleh sembilan puluh derajat. Bola mata saya dulu yang bergerak, melirik, baru leher menoleh secukupnya.

Hampir seperti cèlèng (babi hutan), susah menengok.

Dengan mengenakan dasi untuk keperluan bisnis, untuk keperluan menyenangkan orang lain yang saya temui, telah sering memicu pertanyaan dalam diri saya, apa sih gunanya dasi yang harus dengan susah payah mengenakannya?

Saya mulai berkampanye secara pribadi, bertanya kepada siapa saja, terutama kalau pergi ke negara-negara lain. Orang Australia, India dan Amerika atau siapa saja yang saya rasa mau menjawabnya. Banyak jawaban saya terima, akan tetapi lebih dari delapan puluh persen menjawab secara bercanda, lelucon dan lain-lain yang tidak serius. Hampir sembilan belas persen mengaku terus terang: tidak tahu apa jawabnya.

Hanya satu persen yang tidak mau menjawab.

Akhirnya setelah mendekati masanya saya berhenti bekerja, saya memutuskan untuk tidak akan lagi memakai dasi setelah saya berumur enam puluh tahun. Dan itulah yang terjadi, sampai hari ini sudah sembilan tahun tidak ada lagi dasi panjang yang merepotkan leher saya.

Leher saya tidak mempunyai beban lagi yang diakibatkan oleh sebuah benda, yang pernah tidak diketahui gunanya selama ini, yaitu dasi. Hanya satu kali saja saya, sesudah berumur enam puluh, memakai dasi kupu-kupu, yang terjadi pada waktu seorang teman saya dilantik menjadi Duta Besar di Istana Negara di Jalan Veteran, Jakarta. Terpaksa tampak berdasi lagi demi memenuhi aturan protokol.

Semua dasi saya bagikan dan saya berikan kepada siapa saja yang saya rasa perlu berdasi, tanpa memperhatikan berapa harganya dulu waktu saya beli, baik karena suka atau karena menyesuaikan dengan warna setelan jas. Susah carinya dan harganyapun ada yang seratus USDollar sebuahnya, saya berikan kepada siapapun saja. Saya merasa ringan.

Pergi undangan pengantin? Saya memakai jas satu setel berkemeja tetapi tanpa dasi. Karena saya suka memakai jas satu setel yang warna putih atau cream, bersepatu warna putih juga, tanpa dasi dan kadang-kadang saya tidak mengenakan kemeja tetapi mengenakan baju kaos berleher atau tidak. Itu membuat suasana malah menjadi santai/relax. Sering sekali di antara tamu yang ratusan mendekati seribu undangan, hanya saya yang mengenakan setelan jas berwarna seperti itu, putih. Itu sudah puluhan kali, sering juga saya pakai bukan di upacara/undangan perkawinan, malah baju kaosnya hitam. Jadi pada suatu saat, di sebuah restoran di sebuah hotel mewah, yang berjas putih, tidak ada yang menyamai di antara tamu-tamunya, akan tetapi disamai oleh pelayan-pelayannya saja. Karena sepatu saya juga berwarna putih maka tidak sama persis dengan pelayannya!!

Selain masalah jas dan dasi banyak upacara perkawinan juga ditandai dengan pakaian ala daerah yang menunjukkan asal daerah keluarga para mempelai.

Karena saya berasal dari Jawa Timur, kalau saya mantu ataupun ngunduh mantu, maka saya menolak untuk berpakaian secara adat Jawa seperti biasanya: cara berpakaian orang Jawa Tengah. Saya selalu ingin menggunakan pakaian orang Surabaya dari mana kakek dan ayah saya berasal. Memang pakaiannya seperti cara orang Madura akan tetapi saya yakin itu dari Surabaya, bukan Madura.

Dari situlah saya selalu bisa mengemukakan nalar saya yang menurut saya tidak meniru orang lain, karena takut kalau menjadi pembicaraan orang lain, hanya karena tidak biasa.

Dalam mengenakan satu setelan jas tanpa dasi saya teringat sewaktu ayah saya menjadi Walikota Surabaya menjemput Wakil Presiden Mohammad Hatta di Lapangan terbang Morokrembangan. Dalam album photo keluarga tampak mereka berdua sama-sama berjas abu-abu dan sama-sama berkemeja putih tanpa dasi dan tanpa kopiah. Itu bukan pemandangan biasa, karena pak Hatta ini selalu tampil rapi dan mengenakan dasi. Bahkan menurut desas desus beliau mengenakan dasi juga bersepatu, waktu berbuka puasa dan makan sahur (?). Namanya saja desas desus, saya tidak berani menjamin kebenarannya. Tetapi yang jelas beliau selalu berpakaian lengkap dan amat rapi.

Pertama kali saya datang di Kanada setelah menerima kepastian status Permanent Resident, saya harus mulai mengurus semua surat-surat lain dari Kartu Kesehatan, sampai masalah Perpajakan dan segala sesuatu yang bersangkutan dengan itu semua. Saya sudah dibekali pengetahuan bahwa di Kanada semua serba bertentangan dengan Indonesia dalam masalah formalitas sehari-harinya.

Saya mengalami sendiri bahwa mengurus segala sesuatu itu, sudah hampir sempurna semua peraturannya berikut undang-undangnya, sehingga saya sama sekali tidak kikuk dalam mengikuti prosesnya.

Dalam berhubungan dengan hampir semua kantor pemerintah di Kanada, saya tidak usah mengusir “wibawa” seseorang dengan memakai dasi, tidak memakai jas dan setelan jas yang bagus, apalagi mencolok. Pegawai negeri di Kanada boleh dijabat oleh orang yang bukan warga negara Kanada. Pegawai negeri ada yang berpenampilan muka ras China, India atau bahkan berkulit hitam asal Afrika. Bukankah ada sekitar dua ratus bahasa digunakan di kota Toronto setiap harinya??

Mereka ini dalam menjalankan tugasnya, boleh memakai blue jean dan baju kaos, tidak rapi juga tidak apa-apa. Yang “berwibawa”, artinya mereka yang menonjol, adalah justru bagian keamanan berseragam dengan alat komunikasi di pinggangnya. Pegawai bea dan cukai juga berbaju sesukanya, hanya yang di pintu Bandar Udara atau mungkin di Pelabuhan, mengenakan seragam. Tentara hampir tidak kelihatan malah kadang-kadang saya merasakan bahwa Kanada itu tidak mempunyai tentara. Saya melihat tentara hanya di televisi kalau ada upacara pemakaman prajurit yang gugur dari medan perang di Timur Tengah.

Polisi berseragam? Tentu saja, itu adalah keharusan bagi yang sedang bertugas di jalan-jalan umum. Mereka malah mengenakan seragam celana pendek waktu musim dingin sudah berlalu. Bahkan di banyak tempat strategis mereka ini menunggang kereta angin alias sepeda roda dua.

Bagaimana wibawanya? Ya tentu saja berwibawa, meskipun jauh lebih banyak bermuka senyum simpulnya daripada yang bermuka biasa. Tidak pernah bemuka seram atau tidak ramah.

Seperti halnya pegawai negeri, anggota polisi juga dibolehkan bagi siapa saja yang lulus test, meskipun dia hanya seorang seperti saya, berstatus Permanent Resident. Gajinya setahun sungguh angka yang bagus, lebih dari seratus ribu Canadian Dollar. Itu sudah mendekati angka satu milyard Rupiah setahun. Bahkan bila seorang keturunan Sikh yang diharuskan memakai sorban India oleh karena kepercayaannya, dibolehkan berseragam Polisi lengkap dengan mengenakan turban (sorban). Saya sudah berhasil mengabadikan yang seperti ini, seorang Polisi yang bersorban India. Waktu saya minta ijin memotret dia, dia bertanya mengapa, yang saya jawab: “Because you look different!” Dia tersenyum dan langsung mèjèng bergaya, badannya yang tinggi dan besar itu tambah terlihat gagah.

Saya tidak pernah merasa gentar menghadap ke kantor secara dinas, kantor urusan pemerintah, masuk restoran yang bagus dan mahal, tempat manapun, biarpun saya hanya mengenakan blue jean saja. Malah ada orang berkulit putih yang bercelana pendek dan berbaju kaos tanpa lengan.

Dia itu sudah seperti orang kurang waras, baju kaosnya tidak bersih dan ada sobeknya, bersandal sembarangan, tetapi duduk di warung kopi Starbuck, setengah botak dan dikuncir di belakang, tetapi tetap tamu terhormat dan membayar dengan benar. Mereka ini kebanyakan sopan santun, baik dia tamu, waiter maupun mereka yang lalu lalang. Tidak ada yang bersuara berlebihan keras volumenya. Orang Indonesia yang belum biasa dengan seperti itu, pasti akan berprasangka buruk dan mengatakan: jorok amat sih!!

Hari ini adalah Canada Day, memperingati berdirinya negara Kanada 140 tahun yang lalu yakni pada tanggal 1 Juli 1867. Pada tanggal tersebut disatukanlah tiga Koloni Inggris Raya dengan British North America Act. Ketiga Propinsi ini adalah Propinsi Nova Scotia, Propinsi New Brunswick dan Propinsi Canada. Pembentukan pemerintahan Negara Canada dimulai dengan sebanyak empat propinsi yakni: Propinsi Canada yang dipecah menjadi Propinsi Ontario dan Propinsi Quebec. Bekas tiga Koloni ini adalah cikal bakal dari negara Kanada.

Ini tidak mudah untuk disama-artikan dengan Hari Kemerdekaan dan Hari Proklamasi Republik Indonesia. Karena Indonesia mengumumkan kemerdekaan dari penjajahan bangsa lain.

Lain halnya dengan Negara Kanada ini yang diresmikan berdirinya dengan mengakui pembentukan Canada sebagai pemerintahan dominion (making the establishment of Canada as a self-governing dominion) pada tanggal 1 Juli tahun 1867. Mereka malah mengangkat Elizabeth II sebagai Queen of Canada. Sejak saat itu kewarga negaraan Kanada hanya diakui sebagai sebagian dari Britania Raya.

Belum dan bukan warganegara Kanada.

Kewarga Negaraan Kanada yang pertama kalinya adalah ketika diumumkan pada tanggal 1 Januari tahun 1947, ketika pada tahun 1946, Pemerintah Kanada meloloskan legislasi kewarganegaraan yang pertama kalinya, dan berlaku effective pada tanggal 1 Januari 1947 tersebut. Sebelum tahun 1947 itu tidak ada yang bisa disebut sebagai warga negara Kanada, karena masih merupakan British subjects saja. Ini berarti bahwa barang siapa dilahirkan di Kanada pada waktu sebelum tahun 1947 adalah warga Inggris Raya.

Siaran-siaran televisi mengumandangkan O Canada, lagu kebangsaan Kanada berkali-kali dalam upacara di mana-mana, baik di tingkat kelurahan dan di lingkungan tempat tinggal. Tidak ada yang melaksanakan kegiatan di tingkat Rukun Tetangga dan Rukun Warga karena RT dan RW memang tidak dikenal di Kanada. Bahkan juga hampir di seluruh negara-negara di dunia. Saya katakan hampir, oleh karena saya memang belum pernah pergi ke seluruh dunia, bahkan malah pasti tidak akan pernah!!

Semua rakyat, termasuk para immigrannya semuanya bergembira pada hari ini dan pergi menikmati panasnya matahari.

Hari ini, seperti kemarin temperatur siang hari adalah 23˚C .

Mereka berkumpul di mana-mana, merayakan istilahnya the Birthday of Canada. Berbondong-bondong dan bergerombol dengan acara yang menyenangkan masing-masing.

Dalam acara yang lain disiarkan oleh CityTV, hari ni sebanyak 60 orang warga negara Kanada baru, disumpah dan dilantik secara resmi. Mengapa 60 orang saja? Angka enam puluh adalah angka sejarah adanya hal yang disebut dan dikenal sebagai warga negara yang pertama kalinya pada 60 tahun yang lalu, diresmikan dan berlaku efektif pada tanggal 1 Januari 1947 tersebut di atas.

Pejabatnya yang mewakili pemerintah Kanada hanya sekitar enam orang dan yang lainnya para petugas Televisi. Pejabat yang berseragam hanya seorang berpakaian RCMP (Royal Canadian Mounted Police) berwarna merah menyala. Yang lain berjas dan berdasi hanya dua orang dan selebihnya wanita berpakaian sehari-hari.

Itulah gaya resmi orang Kanada pada umumnya, yang pada kenyataannya hampir tidak “resmi” sama sekali.

Hal ini diimbangi oleh para warganegara yang baru itu. Mereka ini kalau mau dikatakan dengan bahasa lugas, bisa digunakan istilah sloppy, sembarangan, meskipun ada dua atau tiga keluarga, yang bisa ditengarai dari warna kulitnya, kelihatan berasal dari Afrika dan Asia Selatan. Sang ayah berpakain lengkap berdasi dan istrinya berpakaian adat yang menarik. Kedua anak laki-lakinya yang kecil-kecil memakai jas dan juga dasi, rapi jali!! Sang ayah juga kelihatan serius dan amat menghargai jalannya upacara dengan bersikap anggun dan correct. Saya bisa membayangkan kalau saja ada orang Indonesia yang mengalami seperti ini, pasti dia seperti keluarga rapi tadi sikapnya. Di antara hadirin, yang agak membuat mata orang Indonesia menjadi agak pedih matanya, ada banyak warga negara baru ini, hadir dengan celana Jeans dan berbaju kaos seadanya dan dalam keadaannya tidak dimasukkan ke dalam celana. Bebas, bas!!

Orang televisi penyelenggara juga membiarkannya, tidak seperti biasanya seperti di Indonesia di Siaran Tembang Kenangannya Bob Tutupoli, semua berjas dan berdasi. Pasangannya pakai kebaya bagus dan banyak yang mengenakan jilbab.

Di negara kita sudah menjadi terbiasa untuk terlalu amat menghargai pejabat, malah agak berlebihan.

Dengan tidak bermaksud melecehkan, saya berpendapat bahwa menghormati pejabat berlebihan di Indonesia, telah menyebabkan banyak kita menjadi berlaku formal secara berlebihan pula. Hal-hal itu jelas sekali telah dibuat-buat sendiri.

Saya bisa memberi beberapa conto: Kalau pejabat beribadah sembahyang di masjid atau di gereja, pasti akan duduk di deretan paling depan dan di tengah. Apakah mereka sendiri lupa bahwa semua manusia di hadapan Tuhannya adalah sederajat? Kok di tempat ibadah saja mereka justru diperlakukan lain?

Bagaimana dengan Ibu Megawati Soekarnoputri? Dalam dunia Islam, bukankah kaum perempuan selalu diberi tempat di bagian belakang dari bagian di mana kaum laki-laki pada waktu bersembahyang?

Yang tidak lucu adalah mereka sendiri, para presiden dan wakilnya atau menteri sekalipun suka sekali dipuja dan dipuji dengan cara seperti itu.

Kalau saja, saya ini SBY, maka saya akan duduk dimana saya datang masuk ke dalam masjid, tanpa perduli itu di belakang atau di manapun. Saya akan biarkan bagian keamanan diri presiden bergentayangan, dan morat marit dalam menjaga keselamatan seorang presiden. Itu sudah menjadi tugas mereka untuk bingung dan panik. Mereka mendapat tugas dan dibayar sudah seperti itu rinciannya. Anda ingat Presiden Soekarno pernah ditembak sampai pistolnya kehabisan peluru, ketika sedang salat di dalam kompleks istana di Merdeka Utara??

Tidak ada satu pelurupun datang menghampiri dan mengena, padahal jarak tembaknya amat dekat kurang dari beberapa meter saja. Presiden-presiden setelah itu tidak ada satu orangpun yang mengalami “kekerasan” seperti itu. Bung Karno juga digeranat beberapa buah dan lebih dari 50 orang cedera, tidak sedikitpun beliau lecet.

Demikianlah beberapa kejadian serupa yang terjadi selama pemerintahan beliau. Pengawal beliau juga cukup baik, akan tetapi memang belum secanggih yang sekarang.

Saya jamin masalah seperti yang SBY perbuat di dalam masjid akan mendapat liputan yang menggemparkan dan menaikkan rating presiden di dalam masyarakat ramai. Urusan salat berikutnya pasti akan mendatangkan crew televisi dan media lain ke dalam area masjid untuk melakukan peliputan.

Tetapi kalau hal ini dikaitkan dengan masalah keamanan, saya tidak berani komentar. Bisa sekali saya akan dimarahi oleh orang keamanan. Kan mereka kuasa sekali, malah bertindak sebagai bumper pejabat, justru yang membatasi jarak antara pejabat dengan rakyat.

Banyak yang masih ingat bahwa wakil presiden dengan rombongan circusnya pernah menggunakan jalur khusus Bus Trans Jakarta yang terkenal dengan Bus Way, hanya karena jalan sedang dalam keadaan macet?

Saya juga ingin menekankan di sini bahwa banyak masalah Protokol yang menyebabkan biaya tinggi.

Ini conto yang paling kecil. Yang paling kecil saja.

Di dalam sebuah rumah tangga biasa.

Ibu saya sepanjang saya ingat tidak pernah ke salon. Bukan masalah mahal murahnya. Itu semua hanyalah kebiasaan dan kesederhanaan beliau. Biarpun ayah saya menjabat sebuah jabatan di dalam pemerintahan, ibu saya selalu berdandan sendiri, pergi ke acara resmi mendampingi ayah.

Juga waktu pergi bersilahturahim dengan teman ayah saya yang bernama Soekarno di Jalan Merdeka Utara, pergi ke perkawinan anak tetangga, ataupun ke tempat orang berduka cita sekalipun, beliau berdandan sendiri.

Anda akan terkejut kalau anda pergi ke sebuah desa yang terpencil sekalipun, termasuk yang letaknya di luar kota Putussibau (penduduk sekitar 5000 orang) di Kalimantan Barat/Tengah. Ada tempat-tempat untuk berdandan yang lebih kecil dari warung tegal, yang untuk dua manusia saja terlalu sempit, mendandani perempuan agar lebih cantik dan lebih aduhai.

Saya tahu bahwa ini menciptakan lapangan kerja bagi sang pemilik dan “technician” salon yang beauty parlour itu. Tetapi bagaimana bagi si pelanggan? Bukankah dengan “amat terpaksa” dia harus menyisihkan biaya tertentu hanya untuk keperluan beberapa jam saja, dan untuk keperluan siapa? Bukankah berdandan model seperti itu sebagian besar adalah untuk keperluan orang lain, untuk suami agar bisa dibanggakan mempunyai istri yang cantik? Itu saja? Mungkin juga untuk diri sendiri, agar kelihatan cantik, untuk kepuasan maya, yang orang lain juga belum tentu akan menghargai atau tidaknya?

Secara ilmu ekonomi mungkin expense seperti ini akan dikategorikan sebagai ambigu (kata ini sekarang sudah akan menjadi bahasa Indonesia?) alias ambiguous. Suaminya sami mawon.

Bekas pengemudi mobil saya yang namanya Yatno, dan ketika bekerja menjalankan mobil saya berganti nama menjadi Rudi, sebelum dia berhenti saya beri beberapa pasang jas saya dan diberikan kepada ayahnya di desa dekat Metro di Lampung. Nah pada waktu dia menjadi pengantin dia juga mengenakan jas entah bagaimana jadinya, yang jelas tentu menyebabkan beban tertentu bagi dirinya selain beban hawa yang menjadi panas.

Jadi kalau negara Kanada yang GDP per Capitanya 35,600 US Dollar, sedang Indonesia hanya 3,900 US Dollar, yang berarti hanya sepersembilannya, mengapa kita tidak bisa menghemat dalam tata cara dan penghormatan pejabat serta siapapun yang merasa memimpin orang banyak?? Agar hidup ini lebih sederhana. Kalau pejabat pemerintah yang makan gaji dari uang rakyat, masih melakukan kecurangan keuangan milik rakyat, apakah itu tidak bisa disebut sebagai sebuah tindakan kurang ajar karena tidak menghormati majikannya. Siapa majikannya? RAKYAT!! Tirulah sikap hidup yang baik dari manapun dan salah satunya dalam masalah formal-formal, protokol dan resmi-resmi ini, adalah negara Kanada. Jadilah manusia seutuhnya, tanpa perlu terlalu banyak mengenakan topeng yang menutupi muka yang asli.

Kalau ada kata-kata yang biasanya menggunakan huruf besar, tetapi saya tulis dengan huruf kecil, itu memang sengaja saya lakukan. Hal iu sebagai sikap cermin saya dalam berlaku normal, tidak pejabat sentris. Mereka semua adalah manusia biasa, bahkan sebagian besar telah menentang kodratnya untuk melayani dan hormat kepada majikannya: RAKYAT. Saya tidak bermaksud menghina dengan berbuat seperti itu, karena saya sejak dahulu kala tidak pernah mau menaruh pejabat di atas harga diri saya.

 

Created by Anwari Doel Arnowo

Monday, July 03, 2007

20,881 caharacters with spaces; 3007 words

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.