Sonian – Genre Sastra Baru

Emi Suyanti

 

Soni Farid Maulana – SONIAN

Sonian adalah bentuk puisi baru sepanjang empat larik dalam sastra Indonesia modern dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Bentuk baru ini dikreasi oleh penyair Soni Farid Maulana. Dalam sonian para kreator bisa menggunakan majas, simbol, metafor, imaji, apapun itu. Tema bebas, dan tidak melanggar SARA serta berbagai undang-undang yang berlaku di negeri ini. Sonian berbeda dengan Haiku yang ditulis oleh Basho.

Di samping bahasa, imajinasi merupakan kendaraan utama dalam mencipta karya sastra, dalam hal ini puisi. Imajinasi yang sering juga disebut daya bayang, dalam proses kreatif disebut sebagai kemampuan seseorang dalam membayangkan sesuatu, dan memvisualkannya dalam bentuk tulisan. Dengan demikian maka jelas menulis #‎sonian bukan soal sebuah puisi ditulis sepanjang empat baris dengan pola 6-5-4-3 suku kata per lariknya.

Itu hanya cangkang belaka. Soal terpenting dari itu adalah bagaimana mengisi cangkang tersebut dengan sebentuk penghayatan atas pengalaman hidup, yang kita jalani selama ini. #sonian adalah semacam puisi meditatif yang ringkas dan padat. Dalam penulisan puisi yang demikian itu, majas, simbol, dam metafor bisa masuk ke dalamnya sangat bergantung pada sedalam apa kita penghayati pengalaman hidup itu sendiri. Apapun itu, selamat berkarya.

Kenapa  sonian ditulis dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik? Karena semakin bawah apa yang ingin kita ekspresikan semakin runcing dan fokus pada apa yang ingin kita capai dan kita komunikasikan kepada publik, dengan kalimat yang kian ringkas, tapi makna meluas.

Untuk itu hati-hati dalam memilih diksi, dimatangkan betul bagaimana hukungan ke atas dan ke bawah, dalam membentuk makna secara keseluruhan. Berikut contoh Sonian yang ditulis oleh Pak Soni Farid Maulana.

CIBALONG
bunyi katak sawah
gerimis malam
kaligrafi
Illahi

2015

 

TAWAF 1

raung kegelapan
nyaring: diturih
cahaya. Ya
Rabbi

2015

 

Para sonian yang berkreasi di laman Group yang diasuh oleh Bapak Soni Farid Maulana. Mereka  adalah para pelopor, yang menumbuh-kembangkan sonian dengan gayanya masing-masing. Ini semakin membuktikan bawa sonian yang ringkas dan padat itu, sangat lentur diisi tema dan gaya ungkap dari bahasa apapun itu.

~Sumber : Soni Farid Maulana

 

Tentang SONIAN

Sonian menyampaikan  makna pesan yang luas dengan keterbatasan suku kata yang meruncing ke bawah tentu ini memberikan makna ketajaman dalam menulis, adalah tantangan tersendiri bagi penyair untuk mengekspresikan karyanya dengan mengayakan makna meski sedikit kata. sungguh #‎sonian ini banyak memberikan pelajaran yang saya tangkap, tidak hanya menyusun 6543 tetapi. meruncingkan kata, dengan maksud meruncingkan makna diksi, artikulasi melaui metafora.

Ketika penyair sudah terbiasa menulis puisi bergenre puisi bebas, mendapatkan tantangan tersendiri dengan menulis #‎sonian yang berpola 6-5-4-3 maka ditantang pula kecermatan dan ketangkasan untuk menulis meruncing ke bawah dan menajamkan makna di bait ke 3 dan ke 4. maka di situlah dibutuhkan kejelian, kepiawaian dan kecermatan memilih diksi sehinga bait pertama, ke dua, ke tiga, dan ke empat saling berbenang merah. salam #sonian

Berikut ini karya para kreator sonian :

Ahmadi Syarif

BETINA
mengais makanan
rebah di rumput
kenikmatan
di C. O.

Kuala lumpur, 30 Januari 2015
Roval Alanov

Suci tak Berpintu
Usap daun surga
Dihati tandus
gersang lalu
Pergi

Sumenep, 30 Januari 2015
Emi Suyanti

Sujud
1.sunyi hampir punah,
pasrahku di atas
sajadahMu,
Ya Rabbi

2.kubiarkan wajah
dibasah oleh
anak hujan
mataku.

Telapak kaki syurga

Telapak kakimu
Adalah syurga
Bagiku Bu
Tuk do’a

Jakarta, Januari 2015

 

Ibu
Engkaulah madrasah
Bagi diriku bu
Hingga tutup
Usiamu

Jakarta, Januari 2015

 

Emi Suyanti

Sujud
1.sunyi hampir punah,
pasrahku di atas
sajadahMu,
Ya Rabbi

2.kubiarkan wajah
dibasah oleh
anak hujan
mataku

 

Emi Suyanti

Telapak kaki syurga
Telapak kakimu
Adalah syurga
Doa Ibu
RestuNya

Jakarta, Januari 2015

 

Emi Suyanti

Ibu
Engkaulah madrasah
Bagi diriku bu
Hingga tutup
Usiamu

Jakarta, Januari 2015

 

Bintang Katonia

Candi
Daya peradaban
Batu bertumpuk
Karya seni
Budaya

Jakarta, Januari 2015

 

Dewi Anjani

EMBUN
Berkilau diretas
Surya, temani
Senyum pagi
Berkabut

Januari 2015

 

Esti Ismawati

AL-MULK (1)
Mahasuci Dia
yang di tangan Nya
kerajaan
abadi

30-01-2015

 

Soni Farid Maulana

CAFE DINI HARI
wajahmu membayang
di ruap kopi:
cinta tumbuh
melangit

2015

 

Soni Farid Maulana

JUMAT
hari penuh berkah
salawat nabi
dilantunkan
di hati

2015

 

Endah S. Trusthi

MENDUNG
gelap bukan kelam
semata rindu
tetes air
harapan

Jogja 30/01/15

 

Ewith Bahar:

Tentang SONIAN
Ada genre puisi baru di Indonesia, sonian namanya. Ini kabar yang bikin girang karena sudah berbilang puluh tahun, para penyair kita menulis syair dengan mengikuti puisi-puisi yang sudah ada selama ini. Penyair Soni Farid Maulana rupanya tak cukup puas hanya dengan menjadi penulis sajak saja, namun ia juga berusaha memperjuangkan dunia puisi di Indonesia dengan menjadi penggagas lahirnya genre puisi baru. Soni Farid Maulana, adalah penyair yang telah dibawa terbang oleh puisi-puisinya berkeliling ke beberapa negara, di antaranya Perancis, dimana puisi-puisi karyanya dijadikan bahan thesis oleh salah satu universitas terkenal di Paris.

Selama ini puisi-puisi dikategorikan atas dua ketentuan, yaitu berdasarkan jumlah baris, atau berdasarkan isi puisinya. Genre puisi yang berdasarkan jumlah baris adalah sbb:
Distichon (sajak 2 seuntai)
Terzina (sajak 3 seuntai)
Quatrain (sajak 4 seuntai)
Quint (sajak 5 seuntai)
Sextet (sajak 6 seuntai)
Septima (sajak 7 seuntai)
Octave atau stanza (sajak 8 seuntai)

Sedangkan yang berdasarkan isi, adalah sbb:
Ode, hymne, elegi, epigram, satire, romance, balada, dan soneta.

Dalam historis perpuisian kita juga tercatat ragam puisi yang mencakup jenis di atas dengan berbagai variasi, seperti: pantun, gurindam, seloka, dll.

Sonian, yang dilahirkan SFM pada medio Januari 2015 adalah jenis puisi yanhg penamaannya masuk dalam kelompok puisi yang dicirikan pada “baris”nya. Sonian merupakan jenis puisi terikat, berupa sajak pendek berformat 6 5 4 3. Maksudnya, hanya terdiri atas 4 baris, dan tiap baris ditentukan jumlah suku katanya. Baris pertama 6 suku kata, baris kedua 5 suku kata, baris ketiga 4 suku kata, dan baria terakhir 3 suku kata. Alasan SFM dalam menentukan format yang bentuk fisiknya mengerucut ini, karena apa yang ingin disampaikan penulis semakin kebawah akan semakin jelas fokusnya, sehingga maksud yang ingin dikomunikasikan sampai.

Ini contoh sonian buatanku:

Dalam balut saga
Kharisma senja
Masuk telak
Ke dada

 

Ewith Bahar

RUMAH
Aku ingin pulang
pada sebuah
ceruk damai:
hatimu.

Januari 2015

 

Ewith Bahar

DUSTA
Seorang lelaki
Menganyam dusta
Pada mata
Waspada!

28 Januari 2015

 

Ewith Bahar

KENANGAN
Kenangan mengambang
Pada pelupuk
Dipilukan
Gerimis.

27 Januari 2015

Untuk menyosialisasikan “sonian” SFM membuat group di fb, dan langsung disambar para pecinta puisi dengan antusias. Maklum, puisi ini memang punya daya tarik karena cukup menantang. Ia memudahkan penulis karena temanya bebas dan ringan, tapi jumlah suku kata yang mengikat terasa menantang, bagai tengah bermain puzzle.

 

 

One Response to "Sonian – Genre Sastra Baru"

  1. Gismawarni  4 December, 2018 at 20:46

    Sungguh ini cakrawala asing tuk sy
    Ilmu baru ttg puisi sonian
    Salam puisi bertubi tubi dari lubuk jiwa

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.